Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Suara dari Gaza

Suara dari Gaza

Diposting pada 9 Agustus 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 428 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah kamar sempit berukuran 3×4 meter, pada sudut kampung yang sunyi dari suara berita dunia, Umar menatap layar ponselnya yang retak. Video yang baru saja ia tonton masih membekas di benaknya seorang gadis kecil menggenggam tubuh ibunya yang telah membeku, sementara langit Gaza dibelah oleh deru pesawat-pesawat tanpa awak.

Tak ada suara. Tak ada tangis. Tapi Umar merasakan gempa di dadanya.

Ini bukan kali pertama ia menyaksikan tragedi semacam itu. Sudah berbulan-bulan ia mengikuti perkembangan Gaza. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia membaca sebuah komentar yang menghantam batinnya:

“Berbicaralah. Tulislah tentang Gaza. Agar kelak ucapanmu dan tulisanmu hari ini bisa menjadi pembelamu di hari kiamat.”

Umar membaca kalimat itu berulang-ulang. Bukan karena ia tidak paham, tapi karena dadanya seakan baru saja diketuk oleh palu langit.

Ia menoleh ke arah rak bukunya yang berdebu. Puluhan buku filsafat, tafsir, sejarah peradaban Islam, dan sekumpulan makalah hasil diskusi kampusnya dulu berserakan tanpa arah. Ia pernah menjadi aktivis mahasiswa, orator tangguh, penulis artikel pedas yang berani mengkritik sistem kampus dan ketidakadilan birokrasi. Tapi sejak lulus, sejak bekerja di tempat seadanya, ia lebih sering diam. Lebih sering menjadi pengamat, bukan pelaku.

“Untuk apa?” gumamnya suatu malam, ketika ingin menulis tentang Palestina. “Tulisanku takkan mengubah dunia.”

Tapi hari ini berbeda.

Ia merasa, keheningannya selama ini adalah bagian dari kejahatan yang lebih besar: kebungkaman.

Malam itu, Umar duduk di depan laptop butut yang baterainya harus terus dicolok. Tangan kanannya menggenggam mouse, tangan kirinya menopang kepala yang berat oleh pikiran. Ia membuka lembar kosong, dan mengetikkan judul: “Suara yang Dibungkam: Catatan dari Negeri yang Terluka.”

Kata demi kata mengalir. Tentang anak-anak yang tidur tanpa selimut, ibu-ibu yang mengubur bayinya dengan tangan sendiri, ayah-ayah yang kehilangan istri dan pekerjaan dalam satu ledakan. Ia menulis bukan sekadar kabar—tapi luka. Bukan sekadar opini—tapi jeritan nurani.

Dan di sela tulisannya, Umar menyelipkan kritik yang selama ini ia tahan.

“Dunia Islam menjadi penonton. Kita memadati stadion-stadion sepak bola, bersorak hingga langit retak, tapi diam saat mendengar tangisan anak Gaza. Kita ramai-ramai menyerbu diskon elektronik, tapi tak punya waktu membuka donasi kemanusiaan. Kita posting makanan mewah di media sosial, tapi enggan menyebut satu kata untuk Palestina. Diam kita adalah pembiaran. Dan pembiaran kita adalah pengkhianatan.”

Ia berhenti. Tangannya gemetar. Takut? Mungkin. Tapi bukan pada manusia. Ia takut kepada Rabbnya.

“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (QS Ibrahim: 42)

Ayat itu terlintas dalam pikirannya. Ia tahu, diamnya hari ini bisa menjeratnya esok. Dan ia tak mau datang ke hadapan Tuhan dengan tangan kosong, tanpa satu pun suara untuk membela para syuhada.

Dua minggu kemudian, tulisannya tersebar. Tak viral, tapi cukup untuk membuat beberapa teman lamanya menghubungi. Ada yang memuji, ada yang bertanya, ada juga yang mengejek, “Kau pikir tulisanmu bisa hentikan perang?”

Umar hanya tersenyum getir. Ia tak sedang mencoba menjadi pahlawan. Ia hanya ingin menjadi saksi agar kelak, di hadapan Allah, ia bisa berkata:

“Aku pernah bersuara, Ya Rabb. Meskipun kecil. Tapi aku tidak diam.”

Ia tahu, setiap huruf yang ia tulis akan menjadi saksi. Setiap kalimat, akan bersaksi apakah ia tulus atau hanya ikut-ikutan. Tapi ia yakin, Tuhan Maha Tahu isi hati manusia.

Suatu malam, seorang pemuda bernama Fadli bekas kawan organisasinya dulu datang menemuinya. Wajahnya gelisah.

“Gue baca tulisan lo, Mar. Keras banget.”

Umar menatap Fadli tanpa banyak reaksi.

Fadli melanjutkan, “Gue malu, Mar. Kita dulu bareng-bareng demo soal keadilan. Tapi sekarang? Gue sibuk jualan online, mikirin konten. Lo masih sempat mikirin Gaza…”

Umar hanya tersenyum. “Kita semua sibuk, Li. Tapi kalau sampai nurani kita ikut sibuk dan hilang arah, itulah bencana sebenarnya.”

Fadli mengangguk pelan. Lalu berkata, “Ajarin gue nulis kayak lo, Mar. Biar suara kita banyak.”

Hari-hari berlalu. Umar terus menulis. Kadang satu artikel, kadang puisi, kadang hanya caption pendek di media sosial. Tapi satu hal tak pernah ia tinggalkan: membela mereka yang dibungkam.

Ia sadar, Gaza bukan sekadar wilayah konflik. Gaza adalah cermin. Ia mencerminkan ketidakadilan global, keberpihakan media, kemunafikan politik, dan kebekuan hati manusia. Dan yang paling menyakitkan adalah: kebungkaman umat Islam sendiri.

Ia pernah menulis:

“Bukan hanya bom yang membunuh Gaza, tapi juga diam kita yang terlalu nyaman.”

“Gaza tak butuh simpati kosong. Mereka butuh suara. Suara yang menyuarakan kebenaran meski retak, meski kecil, meski sendiri.”

Pada suatu malam, setelah shalat tahajud yang membuat matanya sembab, Umar duduk menatap langit. Ia berbicara pelan.

“Ya Rabb… aku bukan siapa-siapa. Tapi aku ingin jadi bagian dari orang-orang yang Engkau saksikan bersuara. Sekecil apa pun. Serendah apapun. Tapi bukan diam…”

Air matanya jatuh. Ia teringat kalimat itu lagi:

“Berbicaralah. Tulislah tentang Gaza. Agar kelak ucapanmu dan tulisanmu hari ini bisa menjadi pembelamu di hari kiamat.”

Ia tahu, Gaza bukan hanya tempat di peta. Tapi juga tempat di hati bagi siapa saja yang masih punya nurani. Dan tugasnya hanya satu: JANGAN DIAM.

“Yaa Allah, Dzat Yang Maha Melihat. Engkau yang menyaksikan darah anak-anak Gaza mengalir di tengah diamnya dunia. Engkau yang Maha Mendengar tangis para ibu yang kehilangan buah hati mereka. Jangan biarkan suara-suara yang membela mereka terhapus sia-sia. Catat setiap ucapan, setiap tulisan, setiap doa dari mereka yang mencoba menjadi saksi. Yaa Allah, kuatkan mereka yang terdzalimi, luaskan surga bagi syuhada Gaza, dan sembuhkan luka tanah suciMu dari tangan-tangan penjajah. Jadikan kami bagian dari mereka yang membela kebenaran, walau hanya dengan kata, walau hanya dengan doa. Karena kami tahu, di hari kiamat nanti, suara kami akan bersaksi apakah kami pernah berdiri di sisi yang benar, atau justru memilih diam saat kebenaran dipijak-pijak.” Aamiin

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Bagikan ke

Suara dari Gaza

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya I Oleh Buya Yahya
19 Maret 2026

Pada tahun-tahun tertentu, kita menemukan hari raya bertepatan dengan hari Jumat. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan apakah melaksanakan shalat Jumat... selengkapnya

Rebo Wekasan: Hukum Memercayai dan Tidak Memercayainya
12 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Istilah Rebo Wekasan sudah familiar pada sebagian kalangan masyarakat. Rebo Wekasan ialah istilah untuk hari Rabu... selengkapnya

Muncul Keyakinan di Masyarakat Bulan Dzulqa’dah (Kapit) adalah Bulan Sial, Benarkah?
24 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah. Bulan Dzulqa’dah yang merupakan bulan ke-11 dalam kalender Islam... selengkapnya

Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa?
22 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka dan Idealisasinya Menurut Para Ulama
16 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini mengucapkan kata paling sakral dalam sejarahnya: merdeka. Kata itu lahir dari rahim... selengkapnya

Buya Yahya Menjawab: Bagaimana Menyikapi Adanya Dugaan Kecurangan Hasil Pemilu?
19 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masyarakat Indonesia telah melangsungkan Pesta Demokrasi 5 tahun sekali yang digelar pada tanggal 14 Februari 2023. Setelah... selengkapnya

Solusi Buya Yahya untuk Mengurangi Kasus Kekerasan dan Pelecehan pada Wanita
10 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada era sekarang ini, banyak sekali kasus kekerasan dan pelecehan yang menimpa kaum wanita, dimulai dari pemerkosaan,... selengkapnya

Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)
27 Januari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sesekali, kita secara tidak sengaja bisa melihat layar handphone orang lain yang tergeletak atau layar smartphone-nya yang... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah (3)
29 September 2024

  Menunggu   Barangkali tap tip jiwa sama-sama lupa Barangkali tap tip jiwa sama-sama tuli Barangkali tap tip jiwa sama-sama... selengkapnya

Seruan Kemanusiaan untuk Palestina
21 Oktober 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sejak 7 Oktober 2023, perang Palestina-Israel kian memanas. Hingga Jum’at  (27/10), serangan Israel terhadap Palestina telah... selengkapnya

Suara dari Gaza

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: