● online
Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Keberhasilan seseorang dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah, atau mencapai tujuan tergantung tindakan atau keputusannya sendiri. Namun, banyak orang yang asal bertindak sehingga tidak menghasilkan apa-apa. Hal tersebut disebabkan karena tidak mencermati dan memikirkan terlebih dahulu tindakan yang akan dilakukannya. Oleh karena itu, salah satu cara agar tindakan kita terukur adalah dimulai dengan merenung. Loh, bagaimana hubungannya bertindak dengan merenung? Simak penjelasan berikut.
Tahun Terburuk di Sepanjang Sejarah Makhluk Hidup
Dunia, pernah mengalami tahun terburuk dalam sejarahnya, yaitu pada tahun 536 M. Tahun tersebut menjadi penanda awal kegelapan karena terjadi beberapa bencana yang sangat dahsyat. Salah satunya gunung-gunung meletus, wabah virus, penurunan suhu dingin di wilayah Eropa secara ekstrem, dan lain-lain. Tak pelak dari rentetan musibah tersebut menghasilkan kegagalan panen di berbagai negara. Tidak hanya secara langsung berdampak pada tahun tersebut, bahkan 60 sampai 70 tahun ke depan dunia pun harus menghadapi masa-masa penceklik.
Puluhan tahun berikutnya─pada tahun 571 M atau 36 tahun setelah peristiwa mengerikan di atas─kita mengenal sejarah agung, yaitu kelahiran seorang manusia istimewa Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Dengan demikian, dikatakan bahwa Nabi Muhammad lahir di saat dunia sedang dalam keadaan panceklik.
Banyak orang dan telah menjadi suatu tradisi, terutama di kalangan bangsa Arab zaman dahulu, bahwa orang-orang saat itu sering mengubur anak-anaknya sendiri hidup-hidup. Hal itu tiada lain karena mereka para orang tuanya tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan anaknya─bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya, sedangkan untuk sekadar bertahan hidup untuk dirinya sendiri saja kesusahan─kalau tidak dikarenakan sebuah aib karena memiliki anak yang berjenis kelamin perempuan. Selain itu, berbagai keburukan merajalela pada waktu itu. Munculnya riba di mana-mana, pencurian dan perampokan tak kenal hukum, dan lain sebagainya.
Merenung dan Refleksi Adalah Pekerjaan para Nabi
Singkatnya, setelah Rasulullah beranjak dewasa, dan mendapati segala keburukan yang terjadi di sekitarnya, maka kemudian yang dilakukan Rasulullah adalah dengan khalwat (menyendiri) ke sebuah tempat yang dinamakan Gua Hira. Di sana beliau merenungkan dirinya atas segala hiruk pikuk yang terjadi pada kaumnya; meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.
Merenung atau juga termasuk merefleksikan diri yang demikian itu, juga sangat relevan untuk dilakukan oleh kita semua yang disebut sebagai manusia modern. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, yang berarti pula banyak hal-hal yang berubah dan baru, kita perlu menepi sejenak untuk mengambil jeda dan melakukan perenungan atas apa yang telah dan yang akan kita lakukan. Tidak sedikit, perilaku, tindakan, atau keputusan yang dibuat tidak berdasarkan atau tidak melalui proses merenung akan menelurkan hasil yang tidak maksimal. Hal ini barangkali disebabkan karena luput dari satu tahapan yang terkesan sepele tapi dampaknya sangat besar, yaitu tahap merenung sebelum berbuat.
Melalui merenung dan refleksi, kita bisa mendapatkan perspektif yang lebih luas. Kita bisa memetakan permasalahan lebih luas. Kita bisa memiliki opsi atau alternatif solusi dengan lebih variatif. Sesuatu hal yang dirasa abu-abu, melalu proses merenung, setelahnya hal tersebut menjadi lebih terang benderang. Seperti halnya Rasulullah yang melakukan perenungan di atas bukit, secara geografis di atas sana beliau dapat melihat Kota Makkah secara lebih luas untuk kemudian secara filosofis dapat melihat permasalahan dengan pola pikir yang lebih luas.
Merenung dan refleksi dapat dilakukan dalam berbagai konteks, disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan. Proses refleksi tidak hanya dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi juga hampir dilakukan oleh semua Nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jeda atau fase kepada nabi-nabinya untuk melakukan perenungan dan refleksi tatkala mereka diutus kepada kaum-kaumnya. Dengan demikian, sekembalinya melakukan perenungan dan refleksi─ada yang melalui perjalanan, khalwat di sebuah tempat, dan lain-lain─lebih matang dan siap lagi menghadapai persoalan yang ada di kaumnya. Sebab, taraf berpikirnya menjadi meningkat.
Bersambung…
Penulis: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sejak 7 Oktober 2023, perang Palestina-Israel kian memanas. Hingga Jum’at (27/10), serangan Israel terhadap Palestina telah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Komunikasi harus senantiasa dilakukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena tidak sedikit permasalahan berawal dari buruknya komunikasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan suci Ramadan akan segera tiba. Bulan mulia yang membawa banyak keberkahan, rahmat, pengampunan, dan kebaikan yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada akhir tahun 2023 ini, SMAIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon kembali meraih prestasi gemilang pada acara Ekspose... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mengadakan perayaan dengan suara keras yang dihasilkan dari sepiker berdaya tinggi seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan... selengkapnya
PELUANG BERKHIDMAH DALAM DAKWAH BERSAMA PUSTAKA AL-BAHJAH Assalamu’alaikum Bagi kalian yang memiliki kemampuan dalam bidang Public Relations atau Editor Bahasa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah pagi yang syahdu, saat matahari masih malu-malu menyingkapkan sinarnya, halaman di sekolah PAUD Terpadu Al-Bahjah itu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya
Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.