● online
Pejuang Rasulullah: Sebuah Intropeksi Diri

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua orang bisa mengajak orang lain kepada kebaikan dengan apa pun yang mereka miliki. Karena itu, setiap orang yang bisa mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebenarnya termasuk sebagai pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam.
Pejuang Rasulullah bukan saja mereka yang jihad di medan perang. Pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam tidak hanya mereka yang memakai peci, imamah, gamis, dan koko saja. Bisa saja pejuang Rasulullah adalah orang yang hanya sekadar memakai pakaian sederhana, tetapi bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam bukan hanya mereka yang sedang berjuang di tempat kebaikan atau yang menuju tempat kebaikan. Akan tetapi pejuang Rasulullah juga bisa ada di tempat yang jauh dari kebaikan.
Mari kita lihat hikmah diutusnya para nabi dan rasul di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengutus para nabi dan rasul di tengah-tengah umat yang jauh dari kebaikan dan berada dalam kesesatan. Karenanya, semua orang di mana pun dia berada bisa menjadi pejuang Rasulullah dengan mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya.
Selain itu, pernahkah terbesit di hati dan pikiran kita tentang sikap kita saat berhadapan dengan orang-orang yang masih berada dalam lembah kesalahan dan dosa? Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki rencana yang Maha Baik dan Maha Sempurna saat mengajari manusia inti dari kebaikan Islam itu sendiri.
Di antara kita pasti mengetahui tentang kesalahan dan dosa orang lain. Lalu pernahkah terpikirkan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbolehkan kita mengetahui kesalahan orang lain? Padahal bisa saja Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembunyikan semua aib manusia dari sesamanya. Hal itu tiada lain agar kita tidak berperilaku seperti itu. Di lain sisi, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga ingin menjadikan kita sebagai orang yang bisa mengajak dan membimbing mereka kembali kepada-Nya. Pernahkah kita bertanya kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan orang yang berbuat salah dan dosa?
Semua itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menjadikan engkau sebagai perantara kebaikan dan rahmat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin dia kembali menjadi hamba yang terbebas dari kesalahan dan dosa melalui lisan dan perilaku baik kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga ingin kita menjadi penyambut kebaikan tersebut sehingga dia bisa kembali ke jalan-Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang mempertemukan dua hamba dalam kondisi yang berbeda agar keduanya bisa saling mengambil hikmah melalui jalan hidup satu sama lain.
Oleh karena itu, mari kita sambut mereka dengan senyuman, kasih sayang, dan kelembutan hati sehingga tersentuh hatinya dan membuat dia bergegas mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janganlah kita menampakkan wajah masam atau memalingkan diri hanya karena kita tahu bahwa dirinya pernah berbuat salah dan dosa. Jika hal itu pernah kita lakukan, kita perlu bertanya pada diri sendiri. Sebagai seorang Muslim dan pejuang Rasulullah, apa yang diinginkan oleh hati kita di balik syiar kebaikan yang kita ketahui tersebut?
Bukankah kita mengetahui bahwa Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam tidak pernah memalingkan wajahnya dari orang-orang yang berbuat salah dan dosa. Tidakkah kita mengetahui saat ada hamba yang bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin dekat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba tersebut. Bahkan jika semakin besar kesalahan dan dosa yang mereka perbuat, maka semakin luas pula pintu-pintu rahmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan padanya.
Ingatlah, kita bisa mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui kebaikan dan tobatnya orang lain dikarenakan mereka mendengar seruan kita. Mari kita ambil hikmah dari hal tersebut. Kebaikan tidak boleh dilakukan hanya sebatas seruan lisan saja, tetapi juga harus diutamakan dalam setiap perbuatan kita. Bisa saja seseorang mendapatkan kebaikan dan pintu rahmat dari perilaku baik yang kita lakukan. Karenanya, bukankah memberikan senyuman kepada mereka yang kita ketahui pernah berbuat salah dan dosa adalah sebuah perilaku dari pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam? Kalau saja dengan orang yang rindu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita tidak menyapa mereka dengan senyuman, lantas bagaimana dengan sesama pejuang Rasulullah? Bisa saja di antara sesama, kita tidak pernah menampakkan senyum saat bertemu tanpa kita sadari. Bisa saja itu adalah tanda kesombongan yang tidak disadari di balik jubah kesalehan yang kita kenakan.
Jika tidak, apa makna dari pejuang Rasulullah itu sedangkan Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam senantiasa tersenyum kepada mereka yang ingin kembali ke jalan kebaikan bahkan berada di jalan kebaikan itu sendiri. Mari kita senantiasa menampilkan senyum dan bertukar sapa dengan setiap orang yang kita temui. Apa pun latar belakang dan masa lalu mereka. Sungguh tugas dakwah yang pertama saat bertemu orang lain adalah menyenangkan hatinya dengan cara menjaga perasaannya.
Bisa saja saat itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan orang yang kita ketahui pernah berbuat salah dan dosa. Kalau kita menampakkan wajah yang tidak tersenyum bahkan langsung memalingkan wajah seolah sibuk dengan kehidupan masing-masing, maka sungguh itu adalah hal yang tidak baik. Ingat! tindakan kita itu bisa menjadi celah bagi iblis untuk membuatnya berpikir bahwa dia tidak akan lagi mendapatkan kebaikan.
Iblis akan berkata, “Orang baik saja tidak tersenyum padamu dan memalingkan wajahnya darimu. Sungguh tidak ada lagi pintu tobat untukmu, maka kembalilah kepada kami.”
Mari kita kembali mengingat pesan dari Guru Mulia Buya Yahya dalam penjabaran Mutiara Hikmah ke 52,
“Ketahuilah seorang hamba yang di hatinya ada kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam, maka cinta itu menggerakkan matanya untuk memandang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kasih sayang dan cinta.”
Mari kita perhatikan para ulama saat bertemu dengan umat. Mereka senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Para ulama berperilaku demikian karena mereka memahami makna dari gelar pejuang Rasulullah. Karenanya, mari kita melatih diri untuk senantiasa tersenyum saat bertemu dengan orang sebagai bukti dakwah dari segi perbuatan kepada umat.
Ayo kita mulai hari-hari kita dengan senyum saat bertemu dengan orang lain agar makna dakwah sampai pada mereka. Bisa saja saat kita tersenyum, mereka akan bahagia dan ikut tersenyum dengan kita sehingga dirinya mendapatkan pahala kebahagian. Itulah keindahan dalam menyebarkan kebaikan antarsesama manusia bahkan sesama umat Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam. Kalau kita maknai seruan tersebut, itu adalah salah satu cara agar kita tidak merusak kebahagiaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pada orang lain di hari itu. Mari kita berhati-hati, karena kecemberutan kita bisa menjadi penyebab orang lain berburuk sangka pada diri kita sendiri. Ingat, iblis dan hawa nafsu sangat lihai menjerumuskan manusia pada prasangka buruk. Maka mari kita tersenyum demi menjaga kebaikan di antara kita.
Oleh karena itu, mari kita menjadi pejuang Rasulullah dengan apa pun yang kita miliki untuk mengajak orang lain pada kebaikan. Mari kita menjadi pejuang Rasulullah dengan penuh kasih sayang yang tidak hanya sebatas seruan lisan saja, tetapi juga dalam perbuatan. Mari kita menjadi pejuang Rasulullah yang penuh kasih sayang terutama ketika bertemu dengan orang yang berada dalam kesalahan dan dosa. Berangkat dari semua itu, mari kita koreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain dengan merenungi kembali makna dari juru dakwah itu sendiri. Bagaimana keadaan hati dan pandangan kita saat bertemu dengan umat Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam yang penuh dengan kesalahan dan dosa?
Karena itu wahai saudaraku, saat engkau dianggap sebagai pejuang Rasulullah, pernahkah engkau tersenyum lembut dengan sesamamu sendiri saat saling bertemu?
Sungguh ini adalah intropeksi bagi diri kami sendiri agar tidak merasa menjadi orang baik dan seruan kebaikan kepada sesama agar senang mengingatkan kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita pejuang Rasulullah dengan apa pun yang kita miliki dan di mana pun kita berada.
Wallahu ‘Alam Bishawab
Penulis: Fahmi Sidik Marunduri
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Pejuang Rasulullah: Sebuah Intropeksi Diri
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyadari bahwa yang bisa asing itu bukanlah semata persahabatan, keakraban, atau perkenalan, melainkan diri kita... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – MOTOGP Mandalika 2022 rampung digelar pada Ahad, 20 Maret 2022 pekan lalu. Dibalik kemeriahannya, banyak hal... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pagi ini Sabtu, 23 Syawal 1444H/13 Mei 2023 Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali menebar “jaring-jaring”... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam dimana amal kita diangkat kelangit. Pada malam ini satu hal yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam adalah agama yang sempurna dan memuliakan setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dalam urusan pernikahan. Memberikan kemudahan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Curhat bisa menjadi suatu gunjingan dan bisa juga bukan. Artinya, terdapat dua tipe curhat, yaitu curhatan untuk... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa yang tidak mengenal kucing? Hewan yang satu ini terkenal menggemaskan dan menjadi salah satu hewan favorit... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa. Bulan yang termasuk ke dalam salah satu bulan haram, bulan yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban dalam Islam, setiap detik kita tidak boleh terlepas dari berbakti... selengkapnya
Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900
Saat ini belum tersedia komentar.