Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Pejuang Rasulullah: Sebuah Intropeksi Diri

Pejuang Rasulullah: Sebuah Intropeksi Diri

Diposting pada 30 Juli 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 485 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua orang bisa mengajak orang lain kepada kebaikan dengan apa pun yang mereka miliki. Karena itu, setiap orang yang bisa mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebenarnya termasuk sebagai pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam.

Pejuang Rasulullah bukan saja mereka yang jihad di medan perang. Pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam tidak hanya mereka yang memakai peci, imamah, gamis, dan koko saja. Bisa saja pejuang Rasulullah adalah orang yang hanya sekadar memakai pakaian sederhana, tetapi bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam bukan hanya mereka yang sedang berjuang di tempat kebaikan atau yang menuju tempat kebaikan. Akan tetapi pejuang Rasulullah juga bisa ada di tempat yang jauh dari kebaikan.

Mari kita lihat hikmah diutusnya para nabi dan rasul di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengutus para nabi dan rasul di tengah-tengah umat yang jauh dari kebaikan dan berada dalam kesesatan. Karenanya, semua orang di mana pun dia berada bisa menjadi pejuang Rasulullah dengan mengajak orang lain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya.

Selain itu, pernahkah terbesit di hati dan pikiran kita tentang sikap kita saat berhadapan dengan orang-orang yang masih berada dalam lembah kesalahan dan dosa? Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki rencana yang Maha Baik dan Maha Sempurna saat mengajari manusia inti dari kebaikan Islam itu sendiri.

Di antara kita pasti mengetahui tentang kesalahan dan dosa orang lain. Lalu pernahkah terpikirkan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbolehkan kita mengetahui kesalahan orang lain? Padahal bisa saja Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembunyikan semua aib manusia dari sesamanya. Hal itu tiada lain agar kita tidak berperilaku seperti itu. Di lain sisi, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga ingin menjadikan kita sebagai orang yang bisa mengajak dan membimbing mereka kembali kepada-Nya. Pernahkah kita bertanya kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan orang yang berbuat salah dan dosa?

Semua itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menjadikan engkau sebagai perantara kebaikan dan rahmat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin dia kembali menjadi hamba yang terbebas dari kesalahan dan dosa melalui lisan dan perilaku baik kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga ingin kita menjadi penyambut kebaikan tersebut sehingga dia bisa kembali ke jalan-Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang mempertemukan dua hamba dalam kondisi yang berbeda agar keduanya bisa saling mengambil hikmah melalui jalan hidup satu sama lain.

Oleh karena itu, mari kita sambut mereka dengan senyuman, kasih sayang, dan kelembutan hati sehingga tersentuh hatinya dan membuat dia bergegas mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janganlah kita menampakkan wajah masam atau memalingkan diri hanya karena kita tahu bahwa dirinya pernah berbuat salah dan dosa. Jika hal itu pernah kita lakukan, kita perlu bertanya pada diri sendiri. Sebagai seorang Muslim dan pejuang Rasulullah, apa yang diinginkan oleh hati kita di balik syiar kebaikan yang kita ketahui tersebut?

Bukankah kita mengetahui bahwa Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam tidak pernah memalingkan wajahnya dari orang-orang yang berbuat salah dan dosa. Tidakkah kita mengetahui saat ada hamba yang bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin dekat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba tersebut. Bahkan jika semakin besar kesalahan dan dosa yang mereka perbuat, maka semakin luas pula pintu-pintu rahmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan padanya.

Ingatlah, kita bisa mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui kebaikan dan tobatnya orang lain dikarenakan mereka mendengar seruan kita. Mari kita ambil hikmah dari hal tersebut. Kebaikan tidak boleh dilakukan hanya sebatas seruan lisan saja, tetapi juga harus diutamakan dalam setiap perbuatan kita. Bisa saja seseorang mendapatkan kebaikan dan pintu rahmat dari perilaku baik yang kita lakukan. Karenanya, bukankah memberikan senyuman kepada mereka yang kita ketahui pernah berbuat salah dan dosa adalah sebuah perilaku dari pejuang Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam? Kalau saja dengan orang yang rindu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita tidak menyapa mereka dengan senyuman, lantas bagaimana dengan sesama pejuang Rasulullah? Bisa saja di antara sesama, kita tidak pernah menampakkan senyum saat bertemu tanpa kita sadari. Bisa saja itu adalah tanda kesombongan yang tidak disadari di balik jubah kesalehan yang kita kenakan.

Jika tidak, apa makna dari pejuang Rasulullah itu sedangkan Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam senantiasa tersenyum kepada mereka yang ingin kembali ke jalan kebaikan bahkan berada di jalan kebaikan itu sendiri. Mari kita senantiasa menampilkan senyum dan bertukar sapa dengan setiap orang yang kita temui. Apa pun latar belakang dan masa lalu mereka. Sungguh tugas dakwah yang pertama saat bertemu orang lain adalah menyenangkan hatinya dengan cara menjaga perasaannya.

Bisa saja saat itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan orang yang kita ketahui pernah berbuat salah dan dosa. Kalau kita menampakkan wajah yang tidak tersenyum bahkan langsung memalingkan wajah seolah sibuk dengan kehidupan masing-masing, maka sungguh itu adalah hal yang tidak baik. Ingat! tindakan kita itu bisa menjadi celah bagi iblis untuk membuatnya berpikir bahwa dia tidak akan lagi mendapatkan kebaikan.

Iblis akan berkata, “Orang baik saja tidak tersenyum padamu dan memalingkan wajahnya darimu. Sungguh tidak ada lagi pintu tobat untukmu, maka kembalilah kepada kami.”

Mari kita kembali mengingat pesan dari Guru Mulia Buya Yahya dalam penjabaran Mutiara Hikmah ke 52,

Ketahuilah seorang hamba yang di hatinya ada kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam, maka cinta itu menggerakkan matanya untuk memandang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kasih sayang dan cinta.”

Mari kita perhatikan para ulama saat bertemu dengan umat. Mereka senantiasa tersenyum dalam kondisi apa pun. Para ulama berperilaku demikian karena mereka memahami makna dari gelar pejuang Rasulullah. Karenanya, mari kita melatih diri untuk senantiasa tersenyum saat bertemu dengan orang sebagai bukti dakwah dari segi perbuatan kepada umat.

Ayo kita mulai hari-hari kita dengan senyum saat bertemu dengan orang lain agar makna dakwah sampai pada mereka. Bisa saja saat kita tersenyum, mereka akan bahagia dan ikut tersenyum dengan kita sehingga dirinya mendapatkan pahala kebahagian. Itulah keindahan dalam menyebarkan kebaikan antarsesama manusia bahkan sesama umat Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam. Kalau kita maknai seruan tersebut, itu adalah salah satu cara agar kita tidak merusak kebahagiaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pada orang lain di hari itu. Mari kita berhati-hati, karena kecemberutan kita bisa menjadi penyebab orang lain berburuk sangka pada diri kita sendiri. Ingat, iblis dan hawa nafsu sangat lihai menjerumuskan manusia pada prasangka buruk. Maka mari kita tersenyum demi menjaga kebaikan di antara kita.

Oleh karena itu, mari kita menjadi pejuang Rasulullah dengan apa pun yang kita miliki untuk mengajak orang lain pada kebaikan. Mari kita menjadi pejuang Rasulullah dengan penuh kasih sayang yang tidak hanya sebatas seruan lisan saja, tetapi juga dalam perbuatan. Mari kita menjadi pejuang Rasulullah yang penuh kasih sayang terutama ketika bertemu dengan orang yang berada dalam kesalahan dan dosa. Berangkat dari semua itu, mari kita koreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain dengan merenungi kembali makna dari juru dakwah itu sendiri. Bagaimana keadaan hati dan pandangan kita saat bertemu dengan umat Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam yang penuh dengan kesalahan dan dosa?

Karena itu wahai saudaraku, saat engkau dianggap sebagai pejuang Rasulullah, pernahkah engkau tersenyum lembut dengan sesamamu sendiri saat saling bertemu?

Sungguh ini adalah intropeksi bagi diri kami sendiri agar tidak merasa menjadi orang baik dan seruan kebaikan kepada sesama agar senang mengingatkan kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita pejuang Rasulullah dengan apa pun yang kita miliki dan di mana pun kita berada.

Wallahu ‘Alam Bishawab

 

Penulis: Fahmi Sidik Marunduri

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Pejuang Rasulullah: Sebuah Intropeksi Diri

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pentingnya Thaharah dalam Beribadah
8 Maret 2024

Judul Buku     : Thaharah: Risalah Praktis dan Ringkas Menguraikan tentang Thaharah (Bersuci) sebagai Syarat Sah dalam Beribadah Penulis             : Buya... selengkapnya

5 Identitas Aqidah sebagai Pondasi Syariat Umat
18 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seseorang diibaratkan sebagai rumah yang harus memiliki pondasi dalam hidupnya. Jika rumah tidak memiliki pondasi atau pondasi... selengkapnya

Bolehkah Bertayamum saat Mendaki Gunung?
26 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mendaki gunung merupakan aktivitas luar ruangan yang belakangan ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Pada gunung-gunung tertentu, proses pendakian... selengkapnya

Tidak Ada Zaman yang Lebih Mudah: Tantangan Setiap Generasi Itu Nyata
15 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya

Seruan Kemanusiaan untuk Palestina
21 Oktober 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sejak 7 Oktober 2023, perang Palestina-Israel kian memanas. Hingga Jum’at  (27/10), serangan Israel terhadap Palestina telah... selengkapnya

Jangan Sampai Merugi, Lakukan 2 Hal Ini Sebelum Datangnya Ramadhan
16 Maret 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat Pustaka sekalian, tak terasa Ramadhan tinggal menghitung hari. Sebagai orang beriman, kita tentu harus bergembira... selengkapnya

Suami Sudah Tidak Mampu Mencari Nafkah? Istri Cerdas Wajib Paham
20 Oktober 2022

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya. Maksud dari kewajiban ini adalah... selengkapnya

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh
6 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki awal tahun, banyak orang memulai lembaran baru dengan semangat “hijrah” yang menggelora. Tentu, sebagai sesama Muslim, kita... selengkapnya

Cara Perempuan Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial (1)
15 Oktober 2025

(Bagian kesatu dari dua tulisan) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sahabat Muslimah, masih ingatkah dengan platform friendster? Buat yang belum tahu, friendster adalah... selengkapnya

Berkurban dengan Kambing Betina, Ternyata Begini Hukumnya
3 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kurban merupakan salah satu sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Berkurban dilakukan dengan menyembelih berbagai hewan... selengkapnya

Pejuang Rasulullah: Sebuah Intropeksi Diri

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: