● online
Suami Sudah Tidak Mampu Mencari Nafkah? Istri Cerdas Wajib Paham
Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya. Maksud dari kewajiban ini adalah kewajiban untuk berusaha semaksimal mungkin dalam mencari nafkah, maka tidak dibenarkan seorang suami berleha-leha dan tidak mau bekerja. Karena kewajibannya adalah berusaha mencari nafkah, maka ketika seorang suami sudah berusaha namun tidak mendapatkan hasil, ia tidak berdosa.
Kemudian, disaat seorang suami sudah tidak mampu memberi nafkah karena ia sakit ataupun sudah sangat tua misalnya, apakah ia tetap dihukumi kewajiban untuk menafkahi keluarganya?
Menurut Buya Yahya , ketika seorang suami ada di posisi tersebut, ia tetap mempunyaikewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya, namun karena ketidakmampuan tersebut ia tidak berdosa.
“Nah jadi disaat seorang suami sudah tidak mampu lagi memberi nafkah, dia tetap dihukumi wajib memberi nafkah, cuman karena tidak mampu menjadi tidak dosa. Tidak mampu karena sakit, karena tua, dan sebagainya”.

Kehidupan Rumah Tangga Bukan Ajang Menuntut
Kemudian Buya juga menyampaikan, ketika seorang istri melihat suaminya sudah tidak mampu lagi memberi nafkah karena sakit ataupun sudah sangat renta, istri yang cerdas tidak akan tega untuk menuntut nafkah dari suaminya, karena menurut Buya, di dalam hidup ini ada saatnya kita menerima dan ada saatnya kita memberi.
“Istri kalau melihat suami tidak mampu kok masih menuntut, berarti dia nggak sehat, kan sudah enggak mampu apakah dia suruh nyuri atau bagaimana? Hidup kan tidak hanya main tuntut-menuntut kan, ada saat memberi, ada saat menerima”.
Justru seorang istri akan menggunakan kesempatan itu untuk menolong suaminya yang sudah tidak berdaya, karena sesama muslim harus tolong menolong, apalagi kepada suamina sendiri yang sudah jelas sudah tidak berdaya.
“Wah kesempatan, suamiku sudah enggak bisa ngapa-ngapain, saya akan berganti untuk menolong dia deh. Hidup kita sesama muslim kan begitu, masa tega suaminya sudah sepuh misalnya, sudah berbaring, bertanya mana nafkahnya?’

Boleh Menceraikan, Namun Istri Mulia Tentu Tidak Akan
Buya Yahya juga menyampaikan bahwa meskipun secara syariat, ketika seorang suami sudah tidak memberi nafkah kepada istrinya, baik karena dzolim atau karena tidak mampu, maka seorang istri berhak untuk menceraikan suaminya. namun istri yang memiliki kedudukan mulia tidak akan melakukan hal tersebut, bahkan ia akan menggantikan peran suaminnya sebagai pencari nafkah.
Seperti yang disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa suatu ketika ada seorang wanita yang mengadu kepada Rasulullah Saw bahwa dirinya mempunyai suami fakir dalam harta, selalu gagal dalam pekerjaan, dan tidak pernah memberi nafkah.
Kemudian Rasulullah Saw bertanya kepada wanita tersebut tentang bagaimana biasanya istri dan keluarganya makan dan memenuhi kebutuhan, kemudian wanita tersebut menjawab bahwa untuk memenuhi kebutuhan keluarganya ia menggunakan warisan sang istri berupa kebun kurma.
Kemudian setelah itu Rasulullah Saw memberikan dua pilihan kepada wanita tersebut. Pertama, adalah boleh dan tidak berdosa bagi wanita tersebut untuk menceraikan suaminya, sebab suaminya tidak memberi nafkah pada dirinya.
Mendengar pilihan pertama tersebut sang wanita berpikir bahwa dirinya sudah mempunyai anak, dan menyayangkan bila harus bercerai hanya karena masalah ini. Setelah itu wanita tersebut meminta pilihan lain kepada Rasulullah Saw, dan Rasulullah Saw pun memberikan pilihan kedua yaitu wanita tersebutlah yang berperan untuk mencari nafkah bagi keluarganya, yang dengan itu ia akan mendapatkan pahala ganda, yaitu pahala telah menyenangkan suaminya, dan pahala sedekah. Akhirnya wanita tersebut memilih pilihan yang kedua untuk tetap menjalani peran suaminya sebagai pencari nafkah.
Dari cerita tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa didalam menyelsaikan urusan ini kita bisa menggunakan ilmu fiqih dan ilmu akhlak. Secara fiqih, dalam kondisi demikian, seorang wanita diperkenankan untuk meminta cerai kepada suaminya, namun wanita tersebut lebih mengedepankan akhlaknya yang mulia untuk membantu suami, menggantikan perannya sebagai pencari nafkah.
Terakhir, Buya berpesan kepada para suami untuk bekerja keras semaksimal mungkin mencari nafkah selama ia masih mampu. Jangan sampai ia berleha-leha, merengek dan berpangku tangan kepada istri.
“Saya ingatkan pada kaum pria, jika anda masih mampu, jangan merengek, jangan anda merepotkan istri, suaminya tanggung jawab memberikan nafkah”.
Sumber : Al-Bahjah TV
Tags: Al-Bahjah, Al-Bahjah TV, Buya Yahya, Nasihat Rumah Tangga
Suami Sudah Tidak Mampu Mencari Nafkah? Istri Cerdas Wajib Paham
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Make up atau kosmetik sudah menjadi kebutuhan dasar setiap wanita. Fitrah dari seorang wanita yang ingin tampil... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Salman Al-Farisi adalah seorang sahabat yang berasal dari luar negara Arab, tepatnya dari negara Persia. Beliaulah yang mengusulkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Seiring kilatnya perkembangan zaman, maka semakin banyak pula kemudahan-kemudahan yang didapat akibat evolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hubungan yang sehat dalam pernikahan adalah ketika pasangan saling mendukung, menghargai, dan memahami satu sama lain serta... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebanyakan dari kita pasti pernah merasakan kurang nyaman ketika menjalankan hari-hari. Seperti pekerjaan yang seakan tidak kunjung beres,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di bawah langit Madinah yang jernih, di tengah kehidupan yang sederhana namun penuh makna, tersembunyi sebuah kisah... selengkapnya
Karya : Ummi Fairuz Ar- Rahbini Lebih bagus dari mu ya Rasulullah Sungguh mata ini tak pernah melihatnya Lebih... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap manusia pasti akan mengalami kematian dan sebagai umat Islam kita meyakini bahwa setelah kematian akan ada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada hari Ahad, tanggal 3 Rabi’ul Akhir 1446 H/6 Oktober 2024 M, Buya Yahya secara resmiakan meluncurkan... selengkapnya
PADA suatu hari, Hutan Alamara tidak lagi memantulkan ketenangan yang dulu menjadi jiwanya. Sungai yang pernah berkilau bagai kaca kini... selengkapnya
FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000
Saat ini belum tersedia komentar.