● online
Cara Perempuan Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial (1)

(Bagian kesatu dari dua tulisan)
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sahabat Muslimah, masih ingatkah dengan platform friendster? Buat yang belum tahu, friendster adalah media sosial sekitar tahun 2000-an yang banyak sekali penggunanya, baik dari kalangan muda maupun dewasa. Jejaring pertemanan dapat ditemukan di sana. Bahkan sering kali dijadikan media untuk mencari pasangan. Tidak jarang juga banyak orang menjadi korban dari adanya media sosial itu. Kini friendster sudah tidak lagi beroperasi. Namun, ibarat mati satu, tumbuh seribu. Banyak sekali platform sosial media yang bermunculan dan ramai digunakan.
Enam dari Tujuh Perempuan Pernah Mengalami Kekerasan di Media Sosial
Seperti halnya friendster, media sosial saat ini juga kerap menjadi sarana kejahatan terhadap perempuan, termasuk Muslimah. Hal tersebut dibuktikan oleh lembaga Plan International yang melakukan survei terhadap 14.701 perempuan di 22 negara, baik remaja maupun dewasa. Hasilnya, lebih dari separuh responden (58%) mengalami kekerasan saat berinteraksi di media sosial. Mereka mengalami penghinaan, pelecehan secara verbal, dipermalukan, diancam dengan kekerasan seksual, body shaming, dan termasuk menjadi korban pelecehan seksual. WhatsApp menjadi media sosial tertinggi yang menjadi sarana tindakan tersebut, yakni 60%. Disusul Instagram 59% kemudian Facebook 53%. Lantas, bagaimana sikap Muslimah terhadap gencarnya penggunaan media sosial?
Dekapan media sosial yang bisa membahayakan bagi Muslimah seperti yang diberitakan di atas adalah masalah serius yang urgen untuk diselesaikan. Hal itu mengingat Muslimah adalah sosok yang sangat berpengaruh terhadap maju tidaknya suatu bangsa, terlebih ia adalah kehormatan yang harus dijaga. Oleh karenanya, ada dua hal yang butuh untuk dibangun, yaitu benteng kesadaran secara individu dan benteng dari sistem kehidupan yang melingkupinya.
Kesadaran Muslimah secara Individu
Media sosial adalah alat yang tidak jauh bedanya dengan alat-alat lainnya. Seperti pisau, pena, mobil, dan alat lainnya. Pisau bisa digunakan untuk memotong sayur atau juga memutilasi manusia. Pena bisa digunakan untuk menulis kata-kata yang baik, tetapi bisa juga kata-kata bohong yang memanipulasi. Mobil bisa digunakan untuk bepergian ke tempat-tempat yang Allah ridhai atau bisa juga ke tempat yang Allah murkai. Semua tergantung kepada niat yang dimiliki seseorang dalam menggunakan alat tersebut.
Media sosial merupakan alat komunikasi yang darinya kita bisa memiliki banyak jaringan teman, banyak informasi, menghasilkan uang, bahkan menjadi media utama dalam berdakwah. Seorang Muslimah hendaknya mempertanyakan dirinya sendiri sebelum berselancar di media sosial. Seperti untuk apa aku membuka ini? Ada kepentingan apa aku mencari tahu tentang ini? Mengapa aku membuat akun media sosial ini? Apakah Allah meridhai jika aku membuat konten ini? Bagaimana jika yang aku lakukan ini dicontoh oleh orang lain, akan menjadi amal jariyah atau dosa? Dan lain-lain. Muslimah sejati senantiasa ingat bahwa setiap yang dilakukannya akan ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Oleh karena itu, semua yang dilakukan saat menggunakan media sosial bergantung kepada niatnya. Niat yang baik akan berujung pada kebaikan. Sebaliknya niat yang tidak berlandaskan mencari keridhaan Allah, akan bermuara hanya pada selain Allah, lebih-lebih jika ternyata itu adalah kemaksiatan. Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Muslimah boleh saja memiliki akun media sosial untuk meluaskan dakwah Islam karena tidak bisa dipungkiri arus dakwah di luar Islam yang sarat akan ide-ide materialisme sekuler begitu gencar disampaikan melalui media sosial. Oleh karenanya, menguasai media sosial sebagai sarana dakwah Islam sangat dibutuhkan. Misalnya, membuat konten tadabbur Al-Qur’an, menyebarkan link-link kajian atau pembahasan Islam, mengkritisi persoalan kehidupan dengan sudut pandang Islam, menyampaikan kisah Islam juga sejarah peradaban Islam, dan yang semisal dengannya.
Selain untuk berdakwah, Muslimah juga boleh menggunakan media sosial untuk mendapatkan penghasilan. Hanya saja, penting untuk diingat bahwa ini termasuk dalam perkara mubah, khususnya bagi Muslimah yang sudah berkeluarga. Dibutuhkan komunikasi dengan suami agar saling memahami dan mendukung peran masing-masing sesuai Islam. Sebab pada hakikatnya tanggung jawab mencari nafkah ada di pundak laki-laki. Muslimah juga harus cerdas memutuskan apakah dengan beraktivitas ini amanah wajibnya terbengkalai ataukah tidak.
Perkara lain yang tidak hanya di media sosial tapi secara umum butuh dipahami muslimah adalah tabarruj. Sering kali sudah merasa menutup aurat, tapi ternyata bisa menarik perhatian laki-laki yang tidak halal. Bisa dari segi make up, gerakan, mimik, model busana, atau yang lainnya. Jika karena ketidaktahuan tentang tabarruj, alangkah mulianya jika belajar terlebih dahulu sebelum mengunggah di media sosial dan menjadikan Allah tidak ridha. Na’udzubillah.
Sebenarnya ada cara-cara yang aman agar lebih berhati-hati dan efektif menyampaikan pesan melalui media sosial tanpa menunjukkan diri. Ilmu teknis memahami cara-cara itu sangat bagus untuk dipelajari Muslimah agar bisa lebih terjaga dalam membuat konten.
Dalam bermedia sosial, sering kali Muslimah penasaran dengan postingan tertentu. Penasaran yang setan senang sekali mendekat adalah saat penasaran dengan laki-laki tidak halal di media sosial dan kepentingannya hanya sebatas dorongan syahwat. Tidak ada kepentingan seperti memastikan apakah beliau benar ahli sesuatu sehingga menyampaikan demikian, apakah beliau benar mengetahui fakta itu sehingga membuat kesimpulan tersebut, dan yang sepadan dengan itu.
Jika penasaran yang tidak halal tidak segera ditampik, Muslimah akan dengan mudah tenggelam dalam godaan setan untuk bermaksiat lewat layar. Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pandangan yang tidak disengaja. Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)
Pandangan tak sengaja saja diperintahkan memalingkan, apalagi yang memang sengaja scroll untuk menikmati yang tidak halal. Dengan semakin gencarnya arus informasi di media sosial, Muslimah harus melek literasi. Pandai dalam memilah dan memilih informasi mana yang akurat dan bermanfaat, serta yang utama adalah sesuai dengan syariat. Banyak dari Muslimah yang sekadar mengikuti tren yang viral padahal membahayakan aqidah.
Bersambung…
Penulis: Naila Dhofarina Noor
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Cara Perempuan Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial (1)
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Syaban adalah bulan yang diperhatikan oleh Nabi secara khusus. Perhatian Nabi kepada bulan Sya’ban disebabkan karena... selengkapnya
Ilmu Kebal di Dalam Pergaulan Sosial Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Komunikasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah–Dakwah merupakan tugas umat Baginda Nabi Saw. Semua orang mempunyai tugas untuk menyebarluaskan dakwah sesuai dengan keahlian serta... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merayakan tahun baru merupakan salah satu momen yang sangat dinanti oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan momen pergantian tahun... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah kamar sempit berukuran 3×4 meter, pada sudut kampung yang sunyi dari suara berita dunia, Umar menatap... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Benar kata orang, sehat itu mahal harganya. Sehat tak bisa dinilai dengan rupiah. Berapa pun banyaknya kekayaan... selengkapnya
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Siapa di antara Sahabat Pustaka yang gemar menulis? Ada informasi menarik dari Pustaka Al-Bahjah Kami membuka kesempatan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya kembali hadir di Kota Cimahi dalam kajian rutin Majelis Al-Bahjah Bandung, Rabu 28 Rabiul... selengkapnya
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan rumah tangga, komunikasi bukan sekadar bertukar kata, tetapi juga berbagi hati dan pikiran. Komunikasi yang baik... selengkapnya
Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000
Saat ini belum tersedia komentar.