● online
Mendefinisikan Ulang Moralitas

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Agama Islam sering kali disebut agama rahmatan lil alamin, agama untuk keselamatan alam semesta. Tak pelak pula, Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam diutus ke muka bumi ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak (perilaku). Pada dasarnya, kedua hal tersebut (agama dan moralitas) adalah satu nafas. Tidak hanya dalam agama Islam, tetapi juga terdapat dalam agama-agama lainnya. Pertanyaannya adalah, apakah semua orang yang beragama pastilah ia bermoral?
Pertanyaan di atas hanya bisa dijawab dengan menggunakan pandangan relativisme. Artinya, mestilah terlebih dahulu mendefinisikan moralitas yang didasarkan pada ketergantungan seseorang dalam memandangnya, konteksnya, budayanya, termasuk tidak menggunakan standar universal yang berlaku. Misalnya, bertanya kepada seseorang apakah ia sudah makan atau belum akan dianggap baik tergantung dengan budaya dan konteksnya. Contoh lainnya, di dalam agama tertentu, terdapat praktik pengorbanan yang menjadi suatu bentuk amal ibadah. Pengorbanan tersebut akan dianggap ideal dan etis sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing: lebih jauhnya, hal ini menyangkut keyakinan seseorang terhadap agamanya sendiri. Kedua contoh tersebut adalah bukti bahwalah moralitas memiliki standar ganda. Oleh karenanya, seseorang akan dianggap bermoral tergantung dari sisi mana menilainya.
Moralitas adalah istilah umum. Namun kata ini mungkin tidak banyak digunakan untuk melabeli sesuatu. Masyarakat umum, sering kali menggunakan istilah lain untuk mengeklaim suatu nilai. Seseorang yang berbicara halus disebutlah santun. Seseorang yang tidak memotong pembicaraan orang lain disebutlah sopan. Temannya yang sering meminjamkan motor disebutlah baik. Seseorang yang sering memberinya senyuman disebutlah ramah. Padahal di satu sisi, istilah atas suatu nilai yang dideskripsikan secara hitam putih tersebut mengandung paradoks akan moralitas itu sendiri. Oleh karenanyalah moralitas tidak bisa diterapkan pada semua orang dan konteks, terutama karena sifatnya yang subjektif. Pertanyaan apakah semua orang beragama berarti bermoral agaknya sudah dapat kita jawab pelan-pelan.
Akan tetapi, meskipun moralitas itu relatif, seseorang tetap bisa mencapai nilai-nilai baik yang didasarkan pada kodrat alamiah manusia. Nilai-nilai baik ini mencakup prinsip-prinsip atau perilaku sosial dasar, seperti kejujuran dan kesadaran untuk tidak menyakiti orang lain. Dengan demikian, moralitas tidak lagi diartikan secara deskriptif dan normatif, tetapi ia menjelma varian lainnya, yaitu kesadaran akan suatu nilai kebaikan yang disadari oleh akal dan pikirannya. Dengan begitu, moralitas sederhananya adalah kesadaran untuk menjadi pribadi yang ideal. Pada tarap ini, tidak lagi menjadi esensial bahwa moralitas bisa dimiliki oleh orang yang beragama atau yang tidak beragama. Selanjutnya barulah moralitas bisa diuniversalkan sesuai dengan kodrat dan sifat dasar manusia.
Moralitas yang disederhanakan dengan sifat alamiah manusia, yaitu menjadi pribadi yang ideal, menuntut seseorang untuk bersikap adil dan jujur terhadap dirinya sendiri. Sebab, seseorang akan menganggap dirinya ideal ketika ia memiliki keadilan dan kejujuran kepada dirinya sendiri. Dalam praktik bersosial dan berkehidupan, sikap-sikap itu akan tertampak. Seseorang karyawan yang bekerja di dalam suatu perusahaan misalnya, mestilah sadar bahwa memberikan tenaga dan pikirannya dengan maksimal adalah kewajiban moralitas dalam bekerja. Sebab, dengan memberikan tenaga dan pikirannya yang maksimal perusahaan akan menukarnya dengan gaji yang diberikan sebagai haknya. Perusahaan harus membayar jasa seorang pekerja. Sebaliknya, seorang pekerja harus memberikan jasanya untuk perusahaan. Jika salah satu di antaranya terjadi kepincangan, maka moralitas di antara salah satunya dipertanyakan.
Pada konteks pekerjaan, tempat bekerja juga memiliki seberkas peraturan dan ketentuan agar para pekerjanya tidak hanya diberikan haknya, tetapi juga berhak menunaikan kewajibannya. Irisan ketentuan dan syarat ini biasanya akan tertuang dalam klausal-klausal SOP, aturan, kontrak, dan lain sebagainya. Dengan begitu, mestilah seorang pekerja menganggap tempat kerja─unsur sosial yang memberinya hidup (gaji)─sebagai bagian dari hidupnya. Sebab dari sanalah kelangsungan hidup yang lain dari dirinya akan berjalan.
Contoh kupasan kebaktian dan implementasi nilai-nilai moralitas dalam konteks pekerjaan ini, bukan merupakan kampanye seorang juru bicara kapitalisme yang sering kali dilakukan sambil mengelap-lap sepatu lars mengkilatnya. Akan tetapi, sebagai manifestasi dari moralitas itu diimplementasikan, dalam praktik kapitalisme (baca: bejat) sekali pun, moralitas tetaplah moralitas. Artinya, pada konteks seseorang dalam bekerja yang dijadikan contoh dalam hal ini, seseorang mestilah berpikir dan jujur terhadap dirinya sendiri.
Sekali lagi, dalam mendefinisikan ulang moralitas, tidak perlulah dikaji dalam forum agamawan. Moralitas hanya perlu disadari dengan memahami kodratnya sebagai manusia yang berpikir. Oleh karena itu, untuk memiliki moralitas ini, seseorang mestilah bergulat dengan kodrat dan sifat dasar manusianya sendiri, yaitu manusia sebagai makhluk yang dibekali hawa nafsu. Sebab, hawa nafsulah yang sering kali mencederai moralitas sehingga menjadikan dirinya sebagai pribadi yang ideal atau tidak. Dalam konteks spiritual atau keagamaan, hawa nafsu pun sering dianggap sebagai kecenderungan yang bisa menyesatkan atau menjauhkan manusia dari jalan moralitas. Pada tarap ini barulah agama hadir menjadi solusi dalam mengendalikan hawa nafsu seseorang.
Penulis: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Mendefinisikan Ulang Moralitas
PELUANG BERKHIDMAH DALAM DAKWAH BERSAMA PUSTAKA AL-BAHJAH Assalamu’alaikum Bagi kalian yang memiliki kemampuan dalam bidang Public Relations atau Editor Bahasa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebanyakan dari kita pasti pernah merasakan kurang nyaman ketika menjalankan hari-hari. Seperti pekerjaan yang seakan tidak kunjung beres,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada penghujung tahun 2025 ini, banyak bencana terjadi di bumi pertiwi. Mulai dari tanah longsor, gunung meletus, dan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Sebagai bentuk sarana mempererat tali silaturahmi ‘temu kangen’ keluarga besar Al-Bahjah dan para alumni, Ahad 17... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Salah satu yang selalu diperbincangkan dalam sebuah pernikahan adalah mahar. Mahar dapat diartikan sebagai pemberian pihak laki-laki... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa ingin segera menegur ketika melihat kesalahan orang lain. Entah kepada anak, pasangan,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –PKKS merupakan proses evaluasi yang dilakukan oleh pengawas sekolah yang tak lepas dari koordinasi dengan dinas pendidikan.... selengkapnya
Cinta kepada Nabi merupakan hal yang sangat mudah untuk diucapkan. Akan tetapi, ternyata cinta kepada Nabi tidak sederhana dalam ucapan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Potensi kotornya hati bisa datang kepada siapa saja dari kita sebagai manusia biasa. Mata dapat melihat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa pun dapat menulis, tetapi tidak semua orang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebab, menulis merupakan wujud... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSMaulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSIlmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000
Saat ini belum tersedia komentar.