Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Mendefinisikan Ulang Moralitas

Mendefinisikan Ulang Moralitas

Diposting pada 19 November 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 263 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Agama Islam sering kali disebut agama rahmatan lil alamin, agama untuk keselamatan alam semesta. Tak pelak pula, Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam diutus ke muka bumi ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak (perilaku). Pada dasarnya, kedua hal tersebut (agama dan moralitas) adalah satu nafas. Tidak hanya dalam agama Islam, tetapi juga terdapat dalam agama-agama lainnya. Pertanyaannya adalah, apakah semua orang yang beragama pastilah ia bermoral?

Pertanyaan di atas hanya bisa dijawab dengan menggunakan pandangan relativisme. Artinya, mestilah terlebih dahulu mendefinisikan moralitas yang didasarkan pada ketergantungan seseorang dalam memandangnya, konteksnya, budayanya, termasuk tidak menggunakan standar universal yang berlaku. Misalnya, bertanya kepada seseorang apakah ia sudah makan atau belum akan dianggap baik tergantung dengan budaya dan konteksnya. Contoh lainnya, di dalam agama tertentu, terdapat praktik pengorbanan yang menjadi suatu bentuk amal ibadah. Pengorbanan tersebut akan dianggap ideal dan etis sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing: lebih jauhnya, hal ini menyangkut keyakinan seseorang terhadap agamanya sendiri. Kedua contoh tersebut adalah bukti bahwalah moralitas memiliki standar ganda. Oleh karenanya, seseorang akan dianggap bermoral tergantung dari sisi mana menilainya.

Moralitas adalah istilah umum. Namun kata ini mungkin tidak banyak digunakan untuk melabeli sesuatu. Masyarakat umum, sering kali menggunakan istilah lain untuk mengeklaim suatu nilai. Seseorang yang berbicara halus disebutlah santun. Seseorang yang tidak memotong pembicaraan orang lain disebutlah sopan. Temannya yang sering meminjamkan motor disebutlah baik. Seseorang yang sering memberinya senyuman disebutlah ramah. Padahal di satu sisi, istilah atas suatu nilai yang dideskripsikan secara hitam putih tersebut mengandung paradoks akan moralitas itu sendiri. Oleh karenanyalah moralitas tidak bisa diterapkan pada semua orang dan konteks, terutama karena sifatnya yang subjektif. Pertanyaan apakah semua orang beragama berarti bermoral agaknya sudah dapat kita jawab pelan-pelan.

Akan tetapi, meskipun moralitas itu relatif, seseorang tetap bisa mencapai nilai-nilai baik yang didasarkan pada kodrat alamiah manusia. Nilai-nilai baik ini mencakup prinsip-prinsip atau perilaku sosial dasar, seperti kejujuran dan kesadaran untuk tidak menyakiti orang lain. Dengan demikian, moralitas tidak lagi diartikan secara deskriptif dan normatif, tetapi ia menjelma varian lainnya, yaitu kesadaran akan suatu nilai kebaikan yang disadari oleh akal dan pikirannya. Dengan begitu, moralitas sederhananya adalah kesadaran untuk menjadi pribadi yang ideal. Pada tarap ini, tidak lagi menjadi esensial bahwa moralitas bisa dimiliki oleh orang yang beragama atau yang tidak beragama. Selanjutnya barulah moralitas bisa diuniversalkan sesuai dengan kodrat dan sifat dasar manusia.

Moralitas yang disederhanakan dengan sifat alamiah manusia, yaitu menjadi pribadi yang ideal, menuntut seseorang untuk bersikap adil dan jujur terhadap dirinya sendiri. Sebab, seseorang akan menganggap dirinya ideal ketika ia memiliki keadilan dan kejujuran kepada dirinya sendiri. Dalam praktik bersosial dan berkehidupan, sikap-sikap itu akan tertampak. Seseorang karyawan yang bekerja di dalam suatu perusahaan misalnya, mestilah sadar bahwa memberikan tenaga dan pikirannya dengan maksimal adalah kewajiban moralitas dalam bekerja. Sebab, dengan memberikan tenaga dan pikirannya yang maksimal perusahaan akan menukarnya dengan gaji yang diberikan sebagai haknya. Perusahaan harus membayar jasa seorang pekerja. Sebaliknya, seorang pekerja harus memberikan jasanya untuk perusahaan. Jika salah satu di antaranya terjadi kepincangan, maka moralitas di antara salah satunya dipertanyakan.

Pada konteks pekerjaan, tempat bekerja juga memiliki seberkas peraturan dan ketentuan agar para pekerjanya tidak hanya diberikan haknya, tetapi juga berhak menunaikan kewajibannya. Irisan ketentuan dan syarat ini biasanya akan tertuang dalam klausal-klausal SOP, aturan, kontrak, dan lain sebagainya. Dengan begitu, mestilah seorang pekerja menganggap tempat kerja─unsur sosial yang memberinya hidup (gaji)─sebagai bagian dari hidupnya. Sebab dari sanalah kelangsungan hidup yang lain dari dirinya akan berjalan.

Contoh kupasan kebaktian dan implementasi nilai-nilai moralitas dalam konteks pekerjaan ini, bukan merupakan kampanye seorang juru bicara kapitalisme yang sering kali dilakukan sambil mengelap-lap sepatu lars mengkilatnya. Akan tetapi, sebagai manifestasi dari moralitas itu diimplementasikan, dalam praktik kapitalisme (baca: bejat) sekali pun, moralitas tetaplah moralitas. Artinya, pada konteks seseorang dalam bekerja yang dijadikan contoh dalam hal ini, seseorang mestilah berpikir dan jujur terhadap dirinya sendiri.

Sekali lagi, dalam mendefinisikan ulang moralitas, tidak perlulah dikaji dalam forum agamawan. Moralitas hanya perlu disadari dengan memahami kodratnya sebagai manusia yang berpikir. Oleh karena itu, untuk memiliki moralitas ini, seseorang mestilah bergulat dengan kodrat dan sifat dasar manusianya sendiri, yaitu manusia sebagai makhluk yang dibekali hawa nafsu. Sebab, hawa nafsulah yang sering kali mencederai moralitas sehingga menjadikan dirinya sebagai pribadi yang ideal atau tidak. Dalam konteks spiritual atau keagamaan, hawa nafsu pun sering dianggap sebagai kecenderungan yang bisa menyesatkan atau menjauhkan manusia dari jalan moralitas. Pada tarap ini barulah agama hadir menjadi solusi dalam mengendalikan hawa nafsu seseorang.

 

Penulis: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Mendefinisikan Ulang Moralitas

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Ketika Allah Menitipkan Rasa Bukan untuk Digenggam
29 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Cinta adalah karunia yang Allah berikan kepada seluruh manusia. Cinta dapat membuat manusia saling menyayangi, menghargai, dan berbuat... selengkapnya

5 Identitas Aqidah sebagai Pondasi Syariat Umat
18 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seseorang diibaratkan sebagai rumah yang harus memiliki pondasi dalam hidupnya. Jika rumah tidak memiliki pondasi atau pondasi... selengkapnya

Mengakhiri Derita Jomblo; Insan yang Hidupnya dalam Kesendirian di Setiap Keheningan Malam
13 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Fase menuju pernikahan menjadi momok mengerikan bagi para pemuda yang khawatir akan masa depannya. Akhir dari masa... selengkapnya

Meski Belum Bisa Berangkat ke Tanah Suci, Amalan Ini Setara dengan Pahala Haji
14 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ibadah haji merupakan impian setiap Muslim. Setiap Muslim rindu untuk bisa berangkat haji. Sebab, ibadah haji itu merupakan... selengkapnya

Inovasi Pembelajaran di Sekolah Menggunakan Pendekatan Science-Technology-Religion-Engineering-Arts-Mathematics (STREAM)
5 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Perkembangan zaman yang semakin canggih menuntut masyarakat untuk dapat beradaptasi dengan cepat. Kondisi ini ditandai dengan semakin... selengkapnya

Pendidikan Berbasis Akhlak sebagai Solusi Krisis Karakter di Era Digital
21 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Krisis karakter yang melanda generasi muda saat ini menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi... selengkapnya

Bagan Mahram Laki-Laki dan Perempuan
17 Maret 2026

Sering kali tanpa disadari kita berjabat tangan, bersalaman, bahkan berinteraksi dengan lawan jenis tanpa mengetahui apakah ia termasuk mahram atau... selengkapnya

Mewujudkan Generasi Qur’ani bagi Peradaban Islam
11 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Diskursus soal teori-teori peradaban yang umum kita ketahui selama ini identik dengan masa kebangkitannya para pemikir Eropa... selengkapnya

Tantangan Muslimah Masa Kini Menjaga Iffah di Era Digital
17 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Era digital menghadirkan berbagai kemudahan. Namun juga memunculkan tantangan serius dalam menjaga nilai-nilai Islam, khususnya bagi para Muslimah.... selengkapnya

Bisakah Najis Berpindah?
26 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita seringkali mendengarkan dari para ulama, bahwa sebelum melaksanakan shalat hendaknya kita bersuci. Bahkan kita dianjurkan untuk memulai... selengkapnya

Mendefinisikan Ulang Moralitas

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: