● online
- Sam'iyyat - Beriman Kepada yang Gaib
- Maqoshid Syariah
- INDAHNYA MEMAHAMI PERBEDAAN PARA ULAMA KARYA BUYA
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na
- KITAB MAULID AD DIBA'I
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Isra Mi'raj Sampai W
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan
- Silsilah Fiqih Praktis Jenazah
Kekalahan Telak Malaikat Melawan Manusia

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya buruk sehingga dibutuhkan sejumlah syarat tertentu untuk mengubah keadaan alami itu menjadi suatu keteraturan. Pendapat sebaliknya memandang manusia pada dasarnya baik dan dibutuhkan suatu kondisi tertentu untuk memaksa manusia keluar dari tabiat alaminya itu.
Maraknya manusia yang melakukan kejahatan seperti korupsi, pembunuhan, perampokan, dan lain sebagainya seakan menjadi bukti bahwa manusia memang pada dasarnya adalah buruk. Tapi apakah kita memang seburuk itu? Pandangan bahwa manusia pada dasarnya buruk sebenarnya bukan pertama kali dicetuskan oleh manusia itu sendiri. Sebelum manusia pertama diciptakan, malaikat telah lebih dahulu meragukan potensi kebaikan manusia.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” (QS. Al-Baqarah: 30)
Tidak hanya malaikat, jin ahli ilmu yang pada awal mulanya merupakan guru para malaikat pun memandang manusia tidak lebih dari sekadar lumpur yang diberi bentuk. Tapi perhatikanlah bagaimana Allah memuliakan kita! Dia memilih kita menjadi wakil-Nya di muka bumi. Allah membela kita di hadapan mereka yang meremehkan dan memuliakan kita dengan menjadikan segala sesuatu tunduk melayani keperluan-keperluan kita.
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai harus membuat sebuah kompetisi untuk menunjukkan potensi belajar kita yang luar biasa. Malaikat kalah telak dalam kompetisi itu dan Allah bangga sekali pada kita.
قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
“(Dia) berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’” (QS. Al-Baqarah: 33)
Pada ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala seolah berkata, “Aku bilang juga apa! Kalian selalu saja bicara tentang keburukannya padahal tentu kalian pun tahu bahwa ia punya kebaikan seperti yang hari ini kalian saksikan! Tidak ingatkah kalian bahwa Aku tahu (hikmah) yang tersembunyi di balik segala apapun yang Aku ciptakan dan Aku jadikan?”
Setelah Allah memberikan fakta akan keluruhan manusia, tidak ada alasan bagi para malaikat dan penghuni kerajaan langit lainnya untuk tidak menundukkan kepala di hadapan manusia. Maka para malaikat itu pun tunduk. Mereka menuruti kehendak Allah, melayani kepentingan manusia. Mereka mengatur dan mengantarkan rejeki manusia, mencatat amal-amal mereka, menjaga mereka, menanyai mereka dalam kubur. Tetapi itu tidak berarti mereka telah benar-benar mencampakkan pandangan buruk mereka tentang manusia. Sebagaimana guru mereka yang memandang rendah seceruk lumpur berbentuk ini, malaikat masih merasa bahwa manusia sebagai sumber kekacauan. Yang membuat mereka berbeda hanyalah bahwa malaikat tidak nyata-nyata menentang perintah Allah untuk tunduk.
Mereka menahan diri dari mengatakan apa yang mereka sembunyikan hingga manusia mulai memenuhi bumi dengan kekacauan-kekacauan. Namun kemudian manusia membuat berbagai kerusakan di muka bumi, persis seperti yang mereka perkirakan. Maka menghadaplah beberapa malaikat lagi kepada Allah, mengadukan ketidakbecusan manusia dalam pandangan mereka. Menghadapi makhluk yang merasa suci itu, Allah pun akhirnya mengeluarkan dekritnya. Allah menyuruh malaikat memilih perwakilan terbaik mereka untuk melihat apakah mereka dapat melakukannya lebih baik dari manusia. Siapa pun yang tidak 100% yakin tentu akan gemetar saat diminta membuktikan diri seperti itu tetapi malaikat berhasil memutuskan siapa yang akan mewakili mereka. Harut dan Marut.
Harut dan Marut pun diberi Allah izin untuk menggunakan perangkat fisik sebagaimana yang dimiliki manusia, termasuk diberikan hawa nafsu. Kemudian berjalanlah Harut dan Marut di muka bumi agar dapat dinilai apakah mereka memang dapat melakukan tugas lebih baik dari manusia seperti yang selama ini mereka kira. Pada beberapa saat pertama, mereka memang tampak melakukannya dengan baik. Tapi tidak butuh waktu lama Harut dan Marut terpedaya dengan godaan hawa nafsu hingga berujung dosa besar, seperti meminum khamar, berzina, hingga membunuh.
Mereka melakukan dosa-dosa yang sebelumnya mereka anggap terlalu kotor untuk dilakukan makhluk suci seperti mereka. Sejak kekalahan spektakuler mereka itulah, para malaikat benar-benar menerima kedudukan manusia. Sejak saat itulah mereka menaruh hormat yang luar biasa kepada para manusia dan tidak lagi mencela manusia yang berdosa tetapi memohonkan ampunan kepada Allah.
Pertanyaannya, kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala kita menyayangi dan melebihkan kita dari seluruh makhluk-Nya yang lain meskipun manusia senantiasa berbuat dosa? Biarlah itu jadi pembahasan kita di lain hari.
Wallahu A’lam Bishowab
Penulis: Habib Asyrafy
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Kekalahan Telak Malaikat Melawan Manusia
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu melaksanakannya. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak manusia mengenal istilah saling menyapa dalam sejarah peradaban, kontak mata atau tatap muka menjadi hal yang bermakna... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di dalam agama Islam melihat atau mengamati calon pasangan sebelum menikah (nadzor) disunnahkan ketika ingin menjodohkan seseorang. Namun... selengkapnya
Menunggu Barangkali tap tip jiwa sama-sama lupa Barangkali tap tip jiwa sama-sama tuli Barangkali tap tip jiwa sama-sama... selengkapnya
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Siapa di antara Sahabat Pustaka yang gemar menulis? Ada informasi menarik dari Pustaka Al-Bahjah Kami membuka kesempatan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sesekali, kita secara tidak sengaja bisa melihat layar handphone orang lain yang tergeletak atau layar smartphone-nya yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Diskursus soal teori-teori peradaban yang umum kita ketahui selama ini identik dengan masa kebangkitannya para pemikir Eropa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah dan pintu gerbang memasuki bulan suci Ramadan. Bulan Sya’ban merupakan salah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Silaturahmi merupakan salah satu amaliyah yang semakin sulit bahkan mulai ditinggalkan pada era high tech seperti sekarang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebanyakan dari kita pasti pernah merasakan kurang nyaman ketika menjalankan hari-hari. Seperti pekerjaan yang seakan tidak kunjung beres,... selengkapnya
FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000
Saat ini belum tersedia komentar.