● online
Kekalahan Telak Malaikat Melawan Manusia

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya buruk sehingga dibutuhkan sejumlah syarat tertentu untuk mengubah keadaan alami itu menjadi suatu keteraturan. Pendapat sebaliknya memandang manusia pada dasarnya baik dan dibutuhkan suatu kondisi tertentu untuk memaksa manusia keluar dari tabiat alaminya itu.
Maraknya manusia yang melakukan kejahatan seperti korupsi, pembunuhan, perampokan, dan lain sebagainya seakan menjadi bukti bahwa manusia memang pada dasarnya adalah buruk. Tapi apakah kita memang seburuk itu? Pandangan bahwa manusia pada dasarnya buruk sebenarnya bukan pertama kali dicetuskan oleh manusia itu sendiri. Sebelum manusia pertama diciptakan, malaikat telah lebih dahulu meragukan potensi kebaikan manusia.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’” (QS. Al-Baqarah: 30)
Tidak hanya malaikat, jin ahli ilmu yang pada awal mulanya merupakan guru para malaikat pun memandang manusia tidak lebih dari sekadar lumpur yang diberi bentuk. Tapi perhatikanlah bagaimana Allah memuliakan kita! Dia memilih kita menjadi wakil-Nya di muka bumi. Allah membela kita di hadapan mereka yang meremehkan dan memuliakan kita dengan menjadikan segala sesuatu tunduk melayani keperluan-keperluan kita.
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai harus membuat sebuah kompetisi untuk menunjukkan potensi belajar kita yang luar biasa. Malaikat kalah telak dalam kompetisi itu dan Allah bangga sekali pada kita.
قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
“(Dia) berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’” (QS. Al-Baqarah: 33)
Pada ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala seolah berkata, “Aku bilang juga apa! Kalian selalu saja bicara tentang keburukannya padahal tentu kalian pun tahu bahwa ia punya kebaikan seperti yang hari ini kalian saksikan! Tidak ingatkah kalian bahwa Aku tahu (hikmah) yang tersembunyi di balik segala apapun yang Aku ciptakan dan Aku jadikan?”
Setelah Allah memberikan fakta akan keluruhan manusia, tidak ada alasan bagi para malaikat dan penghuni kerajaan langit lainnya untuk tidak menundukkan kepala di hadapan manusia. Maka para malaikat itu pun tunduk. Mereka menuruti kehendak Allah, melayani kepentingan manusia. Mereka mengatur dan mengantarkan rejeki manusia, mencatat amal-amal mereka, menjaga mereka, menanyai mereka dalam kubur. Tetapi itu tidak berarti mereka telah benar-benar mencampakkan pandangan buruk mereka tentang manusia. Sebagaimana guru mereka yang memandang rendah seceruk lumpur berbentuk ini, malaikat masih merasa bahwa manusia sebagai sumber kekacauan. Yang membuat mereka berbeda hanyalah bahwa malaikat tidak nyata-nyata menentang perintah Allah untuk tunduk.
Mereka menahan diri dari mengatakan apa yang mereka sembunyikan hingga manusia mulai memenuhi bumi dengan kekacauan-kekacauan. Namun kemudian manusia membuat berbagai kerusakan di muka bumi, persis seperti yang mereka perkirakan. Maka menghadaplah beberapa malaikat lagi kepada Allah, mengadukan ketidakbecusan manusia dalam pandangan mereka. Menghadapi makhluk yang merasa suci itu, Allah pun akhirnya mengeluarkan dekritnya. Allah menyuruh malaikat memilih perwakilan terbaik mereka untuk melihat apakah mereka dapat melakukannya lebih baik dari manusia. Siapa pun yang tidak 100% yakin tentu akan gemetar saat diminta membuktikan diri seperti itu tetapi malaikat berhasil memutuskan siapa yang akan mewakili mereka. Harut dan Marut.
Harut dan Marut pun diberi Allah izin untuk menggunakan perangkat fisik sebagaimana yang dimiliki manusia, termasuk diberikan hawa nafsu. Kemudian berjalanlah Harut dan Marut di muka bumi agar dapat dinilai apakah mereka memang dapat melakukan tugas lebih baik dari manusia seperti yang selama ini mereka kira. Pada beberapa saat pertama, mereka memang tampak melakukannya dengan baik. Tapi tidak butuh waktu lama Harut dan Marut terpedaya dengan godaan hawa nafsu hingga berujung dosa besar, seperti meminum khamar, berzina, hingga membunuh.
Mereka melakukan dosa-dosa yang sebelumnya mereka anggap terlalu kotor untuk dilakukan makhluk suci seperti mereka. Sejak kekalahan spektakuler mereka itulah, para malaikat benar-benar menerima kedudukan manusia. Sejak saat itulah mereka menaruh hormat yang luar biasa kepada para manusia dan tidak lagi mencela manusia yang berdosa tetapi memohonkan ampunan kepada Allah.
Pertanyaannya, kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala kita menyayangi dan melebihkan kita dari seluruh makhluk-Nya yang lain meskipun manusia senantiasa berbuat dosa? Biarlah itu jadi pembahasan kita di lain hari.
Wallahu A’lam Bishowab
Penulis: Habib Asyrafy
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Kekalahan Telak Malaikat Melawan Manusia
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ketika musibah datang, seringkali hati dipenuhi pertanyaan. Mengapa ini terjadi? Mengapa Allah Subhanahuwata’ala mengizinkan ujian yang begitu berat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Umrah bukan hanya perjalanan wisata religi, tetapi perjalanan hati menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk menautkan hati kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa pun dapat menulis, tetapi tidak semua orang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebab, menulis merupakan wujud... selengkapnya
Cirebon, Pustaka Al-Bahjah News-Petugas Keamanan LPD AL-Bahjah Cirebon Menutup Jalan untuk Sementara Waktu pada Saat Shalat Berjamaah Sedang Berlangsung di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dakwah adalah perintah yang Allah Swt berikan kepada setiap muslim. Artinya, berdakwah merupakan tugas bagi setiap... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pertumbuhan dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengharuskan berbagai aspek melakukan penyesuaian, mulai dari regulasi, konten, dan tata... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak orang-orang muslim berbondong-bondong pergi ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Semua itu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Akal sehat yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk menuntun manusia kepada... selengkapnya
Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500
Saat ini belum tersedia komentar.