Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Jika Toleransi Sulit Dilakukan, Cukup Jadilah Manusia untuk Mewujudkannya

Jika Toleransi Sulit Dilakukan, Cukup Jadilah Manusia untuk Mewujudkannya

Diposting pada 25 Juni 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 73 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sudah sangat masyhur bagi kita, bahwa Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam adalah manusia teragung dan disebut sebagai Insan Kamil atau Manusia Sempurna. Sedangkan kita adalah manusia yang penuh dengan kehinaan, sarat akan lupa, khilaf, penuh kekurangan, penuh dengan dosa, dan lain sebagainya. Hal itu kemudian yang menjadikan kita dengan Nabi Muhammad berbeda.

Akan tetapi, Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam juga adalah manusia yang sama seperti kita. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ …

Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ …

Ayat tersebut mengandung hikmah, bahwa meskipun kita dengan Nabi sangat berbeda. Namun kita tetapi bisa meneladani Nabi sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan kita tidak bisa mengikutinya karena berbeda golongan. Berbeda halnya jika Nabi berasal dari golongan malaikat yang tidak punya nafsu sehingga kita banyak keterbatasan untuk meneladaninya. Karena pada dasarnya beliau adalah manusia yang sama dengan kita maka kita tetap bisa meneladani Nabi Muhammad. Meskipun demikian, secara derajat tetap kita manusia tidak bisa mencapai derajatnya Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

Secara zahir kita dengan Nabi adalah sama-sama manusia. Akan tetapi secara hakikat sering kali kita sangat jauh berbeda dengan Nabi. Terkait dengan itu, ada beberapa yang membedakan kita dengan Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam.

Mengubah Keburukan Menjadi Kebaikan

Nabi adalah pribadi yang senantiasa mencari secercah cahaya di tengah kegelapan. Misalnya ketika Nabi diusir oleh penduduk Thoif seraya dilempari dan diolok-olok. Kemudian Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan menawari agar gunung-gunung yang ada di sekitar Thoif untuk dilemparkan kepada penduduk sebagai sebuah pembalasan. Namun Nabi tidak mengiyakannya, Nabi justru berkata kepada Malaikat Jibril untuk mendoakan generasi-generasi mendatang penduduk Thoif agar kelak menjadi pengikut Nabi. Dari peristiwa tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa di tengah penindasan yang terjadi kepadanya justru Nabi membalasnya dengan sebuah kebaikan. Nabi susur setiap kebaikan pada setiap diri seseorang, mencari setiap potensi kebaikan sekaligus senantiasa optimis terhadap perubahan ke arah yang lebih baik seburuk apa pun manusia itu.

Akhlak Nabi yang demikian itu jauh berbeda dengan kita pada umumnya. Bukanya mencari kebaikan di dalam keburukan seperti Nabi, justru yang dilakukan oleh kita adalah mencari keburukan di dalam kebaikan setiap orang. Ketika ada orang yang sudah melakukan pelbagai kebaikan, kita sengaja korek-korek keburukan yang terdapat padanya. Relasi Nabi dengan orang yang tidak berakhlak selalu berakhir pada hubungan yang baik. Akan tetapi berbeda dengan kita, sering kali relasi yang kita bangun dengan orang baik berakhir dengan hubungan yang buruk.

Menyatukan Bukan Memisahkan

Ketika Nabi menemukan perbedaan antara dirinya dengan orang lain atau suatu kaum, Nabi justru mencari persamaan yang dapat menyatukannya. Mencari persamaan tersebut sebagai asas agar beliau bisa menyatu sehingga dari persatuan tersebut menjadi landasan agar beliau dapat menjalin persaudaraan dengan orang tersebut.

Pada suatu kisah Nabi pernah bertemu dengan seseorang yang bukanlah berasal dari bangsa Arab. Kemudian Nabi lanjut bertanya tentang agamanya dan agamanya pun bukan agama Islam. Kemudian Nabi lanjut bertanya apakah ia mengimani satu Tuhan, dan ternyata orang itu mengiyakannya. Maka dengan alasan bahwa Nabi dan orang itu sama-sama mengimani satu Tuhan sehingga membuat Nabi dapat berangkulan dengannya. Padahal orang itu berasal dari bangsa dan agama yang berbeda, tetapi tidak menjadikan alasan bagi Nabi untuk tidak bersaudara dengannya. Bahkan lebih dari itu, pada kisah yang lainnya Sayyidina Ali pernah mengatakan bahwa cukuplah hanya karena sama-sama manusia untuk menjadi alasan kita berangkulan dan menjalin persaudaraan dengan orang lain.

Persatuan seperti itu dapat kita praktikkan di tengah-tengah perbedaan dalam pelbagai hal dan segala bidang. Akan tetapi alih-alih mudah menjalin persaudaraan, kita seakan kesulitan melakukannya. Justru kita berkebalikannya dengan Nabi. Bahkan dengan sengaja malah membuat perpecahan dalam segala hal, baik di lingkungan kerja, keluarga, bernegara, dan lainnya.

Sering kali kita tidak puas dengan hanya satu alasan kesamaan saja. Misalnya ketika ia berasal dari suku yang sama, kita lanjut bertanya agamanya. Ketika ia berasal dari agama yang sama kita lanjut bertanya mazhabnya. Ketika ia berasal dari mazhab yang sama kita lanjut bertanya ormasnya, dan terus bertanya sampai menemukan perbedaan dengannya. Kemudian ketika kita telah menemukan satu perbedaan, maka dengan segera kita jadikan satu perbedaan itu sebagai alasan untuk bertengkar, bermusuhan, dan tidak bersaudara dengannya.

Senang Melihat Orang Senang, Susah Melihat Orang Susah

Dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa Nabi itu sampai larut dalam kesedihan karena memikirkan umatnya yang tidak mau masuk kepada jalan kebaikan di dunia sekaligus jalan keselamatan di akhirat. Oleh karena itu, sering kali Nabi menghabiskan waktunya untuk memikirkan strategi atau cara agar umatnya masuk ke dalam jalan keselamatan. Sedangkan sebagian daripada kita justru sebaliknya. Sering kali kita membuat orang yang sudah berada dalam Islam dan selamat justru memandang perlu mengeluarkannya dari Islam dan harus celaka. Istilah yang populer menggambarkan praktik ini adalah takfir: mengafirkan seseorang.

Tindakan takfir ini dilatari dengan berbagai alasan, termasuk dikarenakan merasa terdapat sebuah perbedaan dengannya. Perbedaan yang sebenarnya sangat lumrah terjadi di sesama umat Islam. Padahal kita sama-sama telah bersahadat yang berarti kita semua adalah bersaudara sebagai sesama umat Islam. Sesama umat Islam berhak untuk mendapatkan perlindungan dan keamanan, baik nyawa, harta, atau kehidupannya, bukan justru menempatkannya dalam jurang kecelakaan.

Itulah beberapa perbedaan antara kita dengan Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang penting untuk kita refleksikan pada saat ini. Kemudian dari refleksi dan renungan yang telah dilakukan itu menjadi tamparan yang menyadarkan, bahwa jika toleransi terlalu sulit untuk kita lakukan karena terlalu banyak alasan, maka cukup menjadi manusia belaka untuk kita bisa mewujudkannya. Selain itu, nilai-nilai keteladanan Nabi tersebut harus menjadi target yang akan kita capai dalam menyongsong Bulan Maulid yang akan datang. Dengan begitu harapannya kita semua menjadi insan yang sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam.

Wallahu ‘Alam Bisshowab

 

Penulis: Syahidan

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Jika Toleransi Sulit Dilakukan, Cukup Jadilah Manusia untuk Mewujudkannya

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pergantian Tahun Adalah Renungan Muhasabah Diri untuk Menyongsong Tahun Depan yang Lebih Baik
28 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Beberapa hari menjelang akhir tahun ini kita akan menyaksikan banyak perayaan, panggung gembira, pesta, atau apa pun... selengkapnya

Memasuki Bulan Rajab, Adakah Amalan Khusus?
4 Februari 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini kita semua tengah memasuki bulan Rajab. Ketika beberapa saat sebelum memasuki bulan Rajab ini,... selengkapnya

Bolehkah Bertayamum saat Mendaki Gunung?
26 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mendaki gunung merupakan aktivitas luar ruangan yang belakangan ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Pada gunung-gunung tertentu, proses pendakian... selengkapnya

Bisakah Najis Berpindah?
26 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita seringkali mendengarkan dari para ulama, bahwa sebelum melaksanakan shalat hendaknya kita bersuci. Bahkan kita dianjurkan untuk memulai... selengkapnya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya
11 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan... selengkapnya

Setan Dibelenggu Saat Ramadhan , Mengapa Masih Ada Orang Yang Berbuat Dosa?
27 Maret 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Ramadhan  merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan pengampunan. Pada bulan ini, umat Islam diberikan... selengkapnya

Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah
24 Juli 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kehadiran ayah dalam kehidupan anak memang sangatlah penting. Selama ini pengasuhan anak di Indonesia sering kali lebih banyak... selengkapnya

Keimanan Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual, Tetapi Juga Tercermin dalam Memperlakukan Orang Lain
5 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manusia tidak pernah hidup sendirian. Sejak ia dilahirkan hingga kembali kepada tanah, hidupnya selalu berada dalam jaringan relasi... selengkapnya

Buya Yahya Berikan Tip Agar Rumah Tangga Harmonis
13 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Adanya percekcokan dalam rumah tangga memang bikin hati perih. Tak sedikit pasangan yang mendapati kesulitan dalam membangun... selengkapnya

Jika Toleransi Sulit Dilakukan, Cukup Jadilah Manusia untuk Mewujudkannya

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: