● online
- AQIDAH 50 KARYA BUYA YAHYA....
- Fiqih Praktis Haji dan Umrah yang Mudah Dipahami....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na....
- Buku Aqidah - Hadits Jibril....
- Motivasi Dakwah "Membawa kepada Kemuliaan dengan H....
- RAMADHANIAT....
- المعين المبين....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus ....
Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan batin, tempat nilai, makna, dan keyakinan bertemu dalam satu ruang yang paling subtil. Dari hati, lahirlah sikap, tindakan, dan cara manusia memaknai dunia. Akan tetapi, hati juga rentan terserang penyakit. Bukan penyakit yang terdeteksi alat medis, melainkan penyakit batiniah yang melumpuhkan kesadaran manusia.
Dalam salah satu kajiannya, Buya Yahya menyingkap penyakit hati yang paling berbahaya, bahkan paling ditakuti Rasulullah, yakni kesombongan. Kesombongan, menurut beliau, bukan sekadar perilaku sosial yang merendahkan orang lain, melainkan kondisi eksistensial yang menghalangi manusia dari kebenaran. Di sinilah pentingnya kajian filosofis: memahami bahwa penyakit hati adalah problem ontologis, epistemologis, dan etis yang merusak fondasi kemanusiaan.
Secara ontologis, manusia adalah makhluk yang terbatas. Ia hidup dalam kefanaan, bergantung pada Sang Pencipta, dan tidak memiliki kendali mutlak atas eksistensinya. Namun, kesombongan membuat manusia lupa pada hakikat tersebut. Ia menempatkan dirinya seolah-olah absolut, berkuasa penuh, dan tidak membutuhkan yang lain. Inilah tragedi ontologis yang digambarkan Buya Yahya: manusia ingin menempati posisi yang hanya layak bagi Allah.
Kisah Iblis yang menolak sujud kepada Nabi Adam menjadi bukti konkret bagaimana kesombongan meruntuhkan martabat. Iblis bukan makhluk bodoh; ia berilmu, bahkan rajin beribadah. Tetapi ilmunya tertutup oleh kesombongan. Ia menolak perintah Allah bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena menolak menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan egonya. Inilah yang membuat kesombongan berbahaya: ia menjadikan pengetahuan sia-sia, ibadah hampa, dan amal tidak bernilai.
Filsafat pengetahuan (epistemologi) mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran adalah keterbukaan hati. Namun, kesombongan justru menutup pintu pengetahuan. Orang sombong sulit menerima kritik, merasa dirinya selalu benar, dan menolak belajar dari siapa pun. Kesombongan bukan hanya masalah moral, tetapi juga epistemologis. Buya Yahya mengingatkan bahwa hati yang sombong ibarat gelas yang sudah penuh dan tertutup. Setetes pun kebenaran tidak bisa masuk. Padahal, Islam menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya dapat masuk ke hati yang bersih. Dengan demikian, kesombongan menghancurkan epistemologi Islam, sebab ia menolak sumber cahaya itu.
Selain dimensi ontologis dan epistemologis, kesombongan juga berdampak etis dan sosial. Etika mengandaikan adanya kesadaran akan martabat sesama manusia. Namun, kesombongan melahirkan perilaku merendahkan, menyepelekan, bahkan merampas hak orang lain. Secara sosial, kesombongan merusak harmoni. Masyarakat yang dipenuhi individu sombong adalah masyarakat yang penuh konflik, karena tidak ada ruang untuk saling menghargai. Dalam konteks ini, pesan Buya Yahya memiliki relevansi mendalam: menjaga hati dari kesombongan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga urusan sosial.
Dalam tradisi tasawuf, kesombongan sering disebut sebagai “ummul amradh” induk dari segala penyakit hati. Dari kesombongan lahirlah dengki, iri hati, dan kebencian. Dengki menjadikan manusia sulit bersyukur, selalu merasa resah atas kebahagiaan orang lain. Iri hati menanamkan perasaan bahwa kebahagiaan orang lain mengurangi kebahagiaan diri sendiri. Semua ini bersumber dari satu akar: kesombongan yang menolak menerima kenyataan takdir Allah. Buya Yahya menekankan, penyakit hati bukan sekadar wacana moral yang abstrak. Ia adalah realitas batin yang nyata, yang setiap hari harus dilawan. Jika tidak, penyakit hati akan menutup jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Refleksi filosofis ini semakin relevan di era modern. Dunia digital, dengan media sosial sebagai panggung utama, sering kali memperkuat kesombongan. Manusia berlomba menunjukkan pencapaian, mencari pengakuan, bahkan membangun identitas semu yang sering berakar pada kesombongan. Dalam perspektif filosofis, media sosial menjadi ruang di mana ego diperbesar dan kesadaran eksistensial terkaburkan. “Aku” menjadi pusat segalanya, sementara kesadaran akan “yang lain” memudar. Maka, kesombongan tidak lagi hanya problem spiritual, tetapi juga problem kultural dan peradaban.
Solusi yang ditawarkan Islam adalah tazkiyatun nafs, pembersihan jiwa. Buya Yahya mengingatkan bahwa pembersihan hati tidak cukup dengan teori, tetapi membutuhkan praktik konkret. Secara filosofis, tazkiyah adalah usaha untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang rendah hati di hadapan Sang Pencipta.
Ada beberapa langkah praksis:
- Muhasabah (introspeksi diri)
Melihat ke dalam hati setiap hari, menyadari kelemahan, dan tidak menutupi kesalahan dengan dalih.
- Tawadhu’ (kerendahan hati)
Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan hasil mutlak kemampuan manusia.
- Syukur dan ridha
Belajar berbahagia atas nikmat orang lain, sebab kebahagiaan sesama tidak mengurangi kebahagiaan diri.
- Tobat berkelanjutan
Mengakui dosa, termasuk dosa batiniah seperti kesombongan, lalu memohon ampunan kepada Allah.
Pesan Buya Yahya tentang kesombongan sebagai penyakit hati paling berbahaya mengandung makna filosofis yang dalam. Kesombongan adalah tragedi ontologis, karena manusia melupakan hakikat kefanaannya. Ia juga krisis epistemologis, karena menutup jalan pengetahuan dan cahaya kebenaran. Selain itu, ia problem etis dan sosial, karena menghancurkan relasi manusia dengan sesama.
Dalam dunia modern, kesombongan semakin nyata dalam bentuk-bentuk baru: kompetisi tanpa batas, budaya pamer, dan pencarian pengakuan semu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah kembali pada tazkiyatun nafs, pembersihan hati yang filosofis, spiritual, dan praksis. Dengan kerendahan hati, manusia tidak kehilangan martabatnya; justru di situlah letak kemuliaan sejatinya.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hubungan yang sehat dalam pernikahan adalah ketika pasangan saling mendukung, menghargai, dan memahami satu sama lain serta... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya saat menjelaskan tafsir surah Maryam ayat satu sampai dengan ayat tujuh menyampaikan rumus terkabulnya... selengkapnya
Judul Buku : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet Penulis : Buya Yahya Penerbit : Pustaka Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan sebagai upaya penyebaran ilmu agama Islam, Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah... selengkapnya
Oleh: Herry Munhanif Lelaki itu dengan susah payah menempuh perjalanan yang melelahkan selama berbulan-bulan, demi mendapatkan keikhlasan pemilik dua butir... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seorang mahasiswa muslim menghadapi dilema ketika harus mengunjungi gereja untuk keperluan tugas kuliah. Dalam sebuah kesempatan, ia... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di saat kita menaiki sebuah perahu, terkadang kita dihadapkan pada sebuah gelombang, angin yang kencang, hujan, terik yang... selengkapnya
Sebentar lagi umat islam di Indonesia melaksanakan ibadah Qurban. Tapi sayang masih banyak hewan qurban yg di potong tidak sesuai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh kasus perselingkuhan seseorang yang tersebar di media sosial. Orang tersebut membuka... selengkapnya
Judul : Silsilah Aqidah Praktis Aqidah 50 Karya Buya Yahya Penulis : Buya Yahya Penerbit : Pustaka Al-Bahjah Tahun... selengkapnya
Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSMaulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSTerkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDi antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500
Saat ini belum tersedia komentar.