Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Diposting pada 11 September 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 448 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan batin, tempat nilai, makna, dan keyakinan bertemu dalam satu ruang yang paling subtil. Dari hati, lahirlah sikap, tindakan, dan cara manusia memaknai dunia. Akan tetapi, hati juga rentan terserang penyakit. Bukan penyakit yang terdeteksi alat medis, melainkan penyakit batiniah yang melumpuhkan kesadaran manusia.

Dalam salah satu kajiannya, Buya Yahya menyingkap penyakit hati yang paling berbahaya, bahkan paling ditakuti Rasulullah, yakni kesombongan. Kesombongan, menurut beliau, bukan sekadar perilaku sosial yang merendahkan orang lain, melainkan kondisi eksistensial yang menghalangi manusia dari kebenaran. Di sinilah pentingnya kajian filosofis: memahami bahwa penyakit hati adalah problem ontologis, epistemologis, dan etis yang merusak fondasi kemanusiaan.

Secara ontologis, manusia adalah makhluk yang terbatas. Ia hidup dalam kefanaan, bergantung pada Sang Pencipta, dan tidak memiliki kendali mutlak atas eksistensinya. Namun, kesombongan membuat manusia lupa pada hakikat tersebut. Ia menempatkan dirinya seolah-olah absolut, berkuasa penuh, dan tidak membutuhkan yang lain. Inilah tragedi ontologis yang digambarkan Buya Yahya: manusia ingin menempati posisi yang hanya layak bagi Allah.

Kisah Iblis yang menolak sujud kepada Nabi Adam menjadi bukti konkret bagaimana kesombongan meruntuhkan martabat. Iblis bukan makhluk bodoh; ia berilmu, bahkan rajin beribadah. Tetapi ilmunya tertutup oleh kesombongan. Ia menolak perintah Allah bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena menolak menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan egonya. Inilah yang membuat kesombongan berbahaya: ia menjadikan pengetahuan sia-sia, ibadah hampa, dan amal tidak bernilai.

Filsafat pengetahuan (epistemologi) mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran adalah keterbukaan hati. Namun, kesombongan justru menutup pintu pengetahuan. Orang sombong sulit menerima kritik, merasa dirinya selalu benar, dan menolak belajar dari siapa pun. Kesombongan bukan hanya masalah moral, tetapi juga epistemologis. Buya Yahya mengingatkan bahwa hati yang sombong ibarat gelas yang sudah penuh dan tertutup. Setetes pun kebenaran tidak bisa masuk. Padahal, Islam menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya dapat masuk ke hati yang bersih. Dengan demikian, kesombongan menghancurkan epistemologi Islam, sebab ia menolak sumber cahaya itu.

Selain dimensi ontologis dan epistemologis, kesombongan juga berdampak etis dan sosial. Etika mengandaikan adanya kesadaran akan martabat sesama manusia. Namun, kesombongan melahirkan perilaku merendahkan, menyepelekan, bahkan merampas hak orang lain. Secara sosial, kesombongan merusak harmoni. Masyarakat yang dipenuhi individu sombong adalah masyarakat yang penuh konflik, karena tidak ada ruang untuk saling menghargai. Dalam konteks ini, pesan Buya Yahya memiliki relevansi mendalam: menjaga hati dari kesombongan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga urusan sosial.

Dalam tradisi tasawuf, kesombongan sering disebut sebagai “ummul amradh” induk dari segala penyakit hati. Dari kesombongan lahirlah dengki, iri hati, dan kebencian. Dengki menjadikan manusia sulit bersyukur, selalu merasa resah atas kebahagiaan orang lain. Iri hati menanamkan perasaan bahwa kebahagiaan orang lain mengurangi kebahagiaan diri sendiri. Semua ini bersumber dari satu akar: kesombongan yang menolak menerima kenyataan takdir Allah. Buya Yahya menekankan, penyakit hati bukan sekadar wacana moral yang abstrak. Ia adalah realitas batin yang nyata, yang setiap hari harus dilawan. Jika tidak, penyakit hati akan menutup jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Refleksi filosofis ini semakin relevan di era modern. Dunia digital, dengan media sosial sebagai panggung utama, sering kali memperkuat kesombongan. Manusia berlomba menunjukkan pencapaian, mencari pengakuan, bahkan membangun identitas semu yang sering berakar pada kesombongan. Dalam perspektif filosofis, media sosial menjadi ruang di mana ego diperbesar dan kesadaran eksistensial terkaburkan. “Aku” menjadi pusat segalanya, sementara kesadaran akan “yang lain” memudar. Maka, kesombongan tidak lagi hanya problem spiritual, tetapi juga problem kultural dan peradaban.

Solusi yang ditawarkan Islam adalah tazkiyatun nafs, pembersihan jiwa. Buya Yahya mengingatkan bahwa pembersihan hati tidak cukup dengan teori, tetapi membutuhkan praktik konkret. Secara filosofis, tazkiyah adalah usaha untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang rendah hati di hadapan Sang Pencipta.

Ada beberapa langkah praksis:

  1. Muhasabah (introspeksi diri)

Melihat ke dalam hati setiap hari, menyadari kelemahan, dan tidak menutupi kesalahan dengan dalih.

  1. Tawadhu’ (kerendahan hati)

Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan hasil mutlak kemampuan manusia.

  1. Syukur dan ridha

Belajar berbahagia atas nikmat orang lain, sebab kebahagiaan sesama tidak mengurangi kebahagiaan diri.

  1. Tobat berkelanjutan

Mengakui dosa, termasuk dosa batiniah seperti kesombongan, lalu memohon ampunan kepada Allah.

Pesan Buya Yahya tentang kesombongan sebagai penyakit hati paling berbahaya mengandung makna filosofis yang dalam. Kesombongan adalah tragedi ontologis, karena manusia melupakan hakikat kefanaannya. Ia juga krisis epistemologis, karena menutup jalan pengetahuan dan cahaya kebenaran. Selain itu, ia problem etis dan sosial, karena menghancurkan relasi manusia dengan sesama.

Dalam dunia modern, kesombongan semakin nyata dalam bentuk-bentuk baru: kompetisi tanpa batas, budaya pamer, dan pencarian pengakuan semu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah kembali pada tazkiyatun nafs, pembersihan hati yang filosofis, spiritual, dan praksis. Dengan kerendahan hati, manusia tidak kehilangan martabatnya; justru di situlah letak kemuliaan sejatinya.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah (4)
24 November 2024

  Sujud Saat tangis tak lagi bersuara Saat tangan tak lagi mampu menyeka air mata Saat lisan tak lagi dapat... selengkapnya

Setan Dibelenggu Saat Ramadhan , Mengapa Masih Ada Orang Yang Berbuat Dosa?
27 Maret 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Ramadhan  merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan pengampunan. Pada bulan ini, umat Islam diberikan... selengkapnya

Puisi-Puisi Rustiya
17 Mei 2024

  Sajadah Cinta   Sajadah cinta terbentang luas, Di hamparan kasih yang tak terkira. Benang-benang  iman terjalin erat, Menemani jiwa... selengkapnya

Hari Arafah: Momentum Koreksi Diri, Panjatan Doa, dan Pengharapan
5 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Definisi dan penamaan Hari Arafah beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan Arafah diambil dari kata i’tiraf yang... selengkapnya

Tukang Sembelih Kurban Tidak Boleh Diupah Dengan Daging Kurban, Begini Penjelasan Buya Yahya
14 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat hari raya kurban tiba, banyak terjadi salah kaprah diantara tukang sembelih kurban yang menjadikan daging... selengkapnya

Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai
9 Maret 2025

Pagi itu, suasana Pondok Al Khoirot terasa syahdu seperti biasanya. Lalu lalang santri bergegas menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah.... selengkapnya

Bagaimanakah Cara Mencintai Rasulullah Saw? Simak Penjelasan Buya Yahya Berikut
9 September 2023

Cinta kepada Nabi merupakan hal yang sangat mudah untuk diucapkan. Akan tetapi, ternyata cinta kepada Nabi tidak sederhana dalam ucapan... selengkapnya

Sambut Malam Puncak Harlah ke-13 Al-Bahjah, Perbaharui Semangat Menuju Kejayaan Umat
20 Agustus 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari ini tepat 13 tahun yang lalu pada tanggal 23 Muharram 1431 H, Lembaga Pengembangan Dakwah... selengkapnya

Pandai Menyikapi Kebencian sebagai Kunci Hidup Bahagia
18 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebencian adalah ketidaksenangan terhadap sesuatu yang bersemayam di hati. Kebencian yang menetap terlalu lama dalam hati seseorang akan... selengkapnya

Muncul Keyakinan di Masyarakat Bulan Dzulqa’dah (Kapit) adalah Bulan Sial, Benarkah?
24 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah. Bulan Dzulqa’dah yang merupakan bulan ke-11 dalam kalender Islam... selengkapnya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: