● online
Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan batin, tempat nilai, makna, dan keyakinan bertemu dalam satu ruang yang paling subtil. Dari hati, lahirlah sikap, tindakan, dan cara manusia memaknai dunia. Akan tetapi, hati juga rentan terserang penyakit. Bukan penyakit yang terdeteksi alat medis, melainkan penyakit batiniah yang melumpuhkan kesadaran manusia.
Dalam salah satu kajiannya, Buya Yahya menyingkap penyakit hati yang paling berbahaya, bahkan paling ditakuti Rasulullah, yakni kesombongan. Kesombongan, menurut beliau, bukan sekadar perilaku sosial yang merendahkan orang lain, melainkan kondisi eksistensial yang menghalangi manusia dari kebenaran. Di sinilah pentingnya kajian filosofis: memahami bahwa penyakit hati adalah problem ontologis, epistemologis, dan etis yang merusak fondasi kemanusiaan.
Secara ontologis, manusia adalah makhluk yang terbatas. Ia hidup dalam kefanaan, bergantung pada Sang Pencipta, dan tidak memiliki kendali mutlak atas eksistensinya. Namun, kesombongan membuat manusia lupa pada hakikat tersebut. Ia menempatkan dirinya seolah-olah absolut, berkuasa penuh, dan tidak membutuhkan yang lain. Inilah tragedi ontologis yang digambarkan Buya Yahya: manusia ingin menempati posisi yang hanya layak bagi Allah.
Kisah Iblis yang menolak sujud kepada Nabi Adam menjadi bukti konkret bagaimana kesombongan meruntuhkan martabat. Iblis bukan makhluk bodoh; ia berilmu, bahkan rajin beribadah. Tetapi ilmunya tertutup oleh kesombongan. Ia menolak perintah Allah bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena menolak menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan egonya. Inilah yang membuat kesombongan berbahaya: ia menjadikan pengetahuan sia-sia, ibadah hampa, dan amal tidak bernilai.
Filsafat pengetahuan (epistemologi) mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran adalah keterbukaan hati. Namun, kesombongan justru menutup pintu pengetahuan. Orang sombong sulit menerima kritik, merasa dirinya selalu benar, dan menolak belajar dari siapa pun. Kesombongan bukan hanya masalah moral, tetapi juga epistemologis. Buya Yahya mengingatkan bahwa hati yang sombong ibarat gelas yang sudah penuh dan tertutup. Setetes pun kebenaran tidak bisa masuk. Padahal, Islam menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya dapat masuk ke hati yang bersih. Dengan demikian, kesombongan menghancurkan epistemologi Islam, sebab ia menolak sumber cahaya itu.
Selain dimensi ontologis dan epistemologis, kesombongan juga berdampak etis dan sosial. Etika mengandaikan adanya kesadaran akan martabat sesama manusia. Namun, kesombongan melahirkan perilaku merendahkan, menyepelekan, bahkan merampas hak orang lain. Secara sosial, kesombongan merusak harmoni. Masyarakat yang dipenuhi individu sombong adalah masyarakat yang penuh konflik, karena tidak ada ruang untuk saling menghargai. Dalam konteks ini, pesan Buya Yahya memiliki relevansi mendalam: menjaga hati dari kesombongan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga urusan sosial.
Dalam tradisi tasawuf, kesombongan sering disebut sebagai “ummul amradh” induk dari segala penyakit hati. Dari kesombongan lahirlah dengki, iri hati, dan kebencian. Dengki menjadikan manusia sulit bersyukur, selalu merasa resah atas kebahagiaan orang lain. Iri hati menanamkan perasaan bahwa kebahagiaan orang lain mengurangi kebahagiaan diri sendiri. Semua ini bersumber dari satu akar: kesombongan yang menolak menerima kenyataan takdir Allah. Buya Yahya menekankan, penyakit hati bukan sekadar wacana moral yang abstrak. Ia adalah realitas batin yang nyata, yang setiap hari harus dilawan. Jika tidak, penyakit hati akan menutup jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Refleksi filosofis ini semakin relevan di era modern. Dunia digital, dengan media sosial sebagai panggung utama, sering kali memperkuat kesombongan. Manusia berlomba menunjukkan pencapaian, mencari pengakuan, bahkan membangun identitas semu yang sering berakar pada kesombongan. Dalam perspektif filosofis, media sosial menjadi ruang di mana ego diperbesar dan kesadaran eksistensial terkaburkan. “Aku” menjadi pusat segalanya, sementara kesadaran akan “yang lain” memudar. Maka, kesombongan tidak lagi hanya problem spiritual, tetapi juga problem kultural dan peradaban.
Solusi yang ditawarkan Islam adalah tazkiyatun nafs, pembersihan jiwa. Buya Yahya mengingatkan bahwa pembersihan hati tidak cukup dengan teori, tetapi membutuhkan praktik konkret. Secara filosofis, tazkiyah adalah usaha untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang rendah hati di hadapan Sang Pencipta.
Ada beberapa langkah praksis:
- Muhasabah (introspeksi diri)
Melihat ke dalam hati setiap hari, menyadari kelemahan, dan tidak menutupi kesalahan dengan dalih.
- Tawadhu’ (kerendahan hati)
Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan hasil mutlak kemampuan manusia.
- Syukur dan ridha
Belajar berbahagia atas nikmat orang lain, sebab kebahagiaan sesama tidak mengurangi kebahagiaan diri.
- Tobat berkelanjutan
Mengakui dosa, termasuk dosa batiniah seperti kesombongan, lalu memohon ampunan kepada Allah.
Pesan Buya Yahya tentang kesombongan sebagai penyakit hati paling berbahaya mengandung makna filosofis yang dalam. Kesombongan adalah tragedi ontologis, karena manusia melupakan hakikat kefanaannya. Ia juga krisis epistemologis, karena menutup jalan pengetahuan dan cahaya kebenaran. Selain itu, ia problem etis dan sosial, karena menghancurkan relasi manusia dengan sesama.
Dalam dunia modern, kesombongan semakin nyata dalam bentuk-bentuk baru: kompetisi tanpa batas, budaya pamer, dan pencarian pengakuan semu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah kembali pada tazkiyatun nafs, pembersihan hati yang filosofis, spiritual, dan praksis. Dengan kerendahan hati, manusia tidak kehilangan martabatnya; justru di situlah letak kemuliaan sejatinya.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya
PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS-Bertempat di Pondok Pesantren Al-Bahjah Sendang, Kecamatan Sumber-Cirebon, berlangsung acara gebyar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ, Ahad... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan pendapat antara satu orang dengan yang lain atau kelompok yang satu dengan yang lain... selengkapnya
BANTU AKU Dibutuhkan seluruh jiwa untuk memahami bahwa labuhan hati adalah mengerti hadir-Mu di setiap langkah hari seperti... selengkapnya
Sajadah Cinta Sajadah cinta terbentang luas, Di hamparan kasih yang tak terkira. Benang-benang iman terjalin erat, Menemani jiwa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa pun dapat menulis, tetapi tidak semua orang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebab, menulis merupakan wujud... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Baru-baru ini aktivitas “cek khodam” ramai di media sosial, khususnya di live TikTok dan Instagram. Pengguna media... selengkapnya
Berikut kami hadirkan teks khutbah Iduladha 1445 H/2024 M. Silakan mendownload dan menyebarkannya melalui tautan yang ada di bawah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lebaran sering kali menjadi momen yang sangat dinantikan untuk berkumpul bersama keluarga. Pada waktu inilah banyak orang yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wahai Muslimah, pernahkah kamu merasakan iman turun saat datang bulan? Sebenarnya persoalan ini bukan hanya terjadi saat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada beberapa kajian keagamaan yang sering bersileweran di media sosial, banyak di antaranya memberikan informasi mengenai kejadian-kejadian mengerikan... selengkapnya
Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000
Saat ini belum tersedia komentar.