● online
- Buku Aqidah - Hadits Jibril....
- Maqoshid Syariah....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Isra Mi'raj Sampai W....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Beginner....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
- BUKU THAHARAH - BERSUCI - KARYA BUYA YAHYA....
- Fiqih Praktis Haji dan Umrah yang Mudah Dipahami....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus ....
Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kehadiran ayah dalam kehidupan anak memang sangatlah penting. Selama ini pengasuhan anak di Indonesia sering kali lebih banyak dibebankan kepada ibu, sementara ayah berperan sebagai pencari nafkah. Akibatnya, banyak anak yang tumbuh dengan kedekatan emosional yang lebih kuat kepada ibu dibandingkan ayahnya. Dalam perspektif psikologi, keterlibatan ayah terbukti berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Anak yang mendapatkan perhatian dari ayah cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, kestabilan emosi yang lebih kuat, dan kemampuan sosial yang lebih sehat. Dari sudut pandang Islam, ayah juga memiliki tanggung jawab pendidikan yang sangat besar terhadap anak-anaknya.
Al-Qur’an bahkan merekam sejumlah dialog pendidikan antara ayah dan anak, seperti nasihat Luqman kepada putranya yang diabadikan dalam Surah Luqman. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menempatkan ayah sekadar sebagai pencari nafkah, melainkan juga pendidik utama dalam keluarga. Seiring dengan itu, dewasa ini santer diperbincangkan program gerakan mengantar anak ke sekolah yang dimaksudkan untuk memperkuat hubungan emosional ayah dan anak, maka niat tersebut patut diapresiasi. Namun demikian, setiap kebijakan publik seharusnya tidak hanya mempertimbangkan kelompok yang diuntungkan, tetapi juga kelompok yang berpotensi terdampak secara psikologis. Di sinilah program tersebut perlu dikritisi secara konstruktif.
Tidak Semua Anak Memiliki Ayah
Tidak semua keluarga dihuni oleh keluarga yang utuh. Di tengah masyarakat terdapat jutaan anak yang hidup dalam berbagai situasi keluarga yang berbeda. Ada anak yang sudah kehilangan ayah karena meninggal dunia. Ada anak yang menjadi korban perceraian sehingga diasuh oleh ibu tunggal. Ada pula anak yang ayahnya bekerja jauh di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri sehingga jarang hadir dalam keseharian mereka. Ketika sekolah secara khusus mengampanyekan gerakan ayah mengantar anak, muncul pertanyaan sederhana: bagaimana perasaan anak-anak yang tidak memiliki kesempatan merasakan hal tersebut? Bagi sebagian anak, mungkin tidak menjadi masalah. Namun bagi sebagian lainnya, pengalaman itu dapat menjadi pengingat atas kehilangan yang selama ini berusaha mereka terima.
Bayangkan seorang anak yatim yang melihat hampir seluruh teman sekelasnya datang bersama ayah masing-masing. Atau seorang anak korban perceraian yang setiap hari hanya diantar ibunya. Ketika sekolah memberi penekanan besar pada kehadiran ayah, anak tersebut bisa saja merasa berbeda, merasa kurang beruntung, bahkan merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Hal seperti ini sering kali luput dari perhatian orang dewasa.
Perspektif Psikologi Anak
Dalam psikologi perkembangan, anak memiliki kebutuhan yang kuat untuk merasa diterima dan tidak berbeda dari kelompok sebayanya. Ketika terdapat simbol-simbol sosial yang menonjolkan kondisi keluarga tertentu, anak yang berada di luar kategori tersebut berpotensi mengalami perasaan sedih, malu, iri, atau rendah diri. Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan, anak usia sekolah sedang berada pada fase membangun rasa percaya diri dan identitas sosial. Mereka sangat peka terhadap perbandingan dengan teman-teman sebayanya.
Apabila program sekolah tidak dirancang secara inklusif, maka anak-anak yang kehilangan figur ayah dapat mengalami apa yang disebut sebagai social exclusion atau perasaan tersisih dari kelompok. Tentu tidak semua anak akan mengalami dampak yang sama. Namun kebijakan publik idealnya dirancang untuk melindungi kelompok yang paling rentan, bukan hanya mengakomodasi kelompok mayoritas.
Islam dan Sensitivitas terhadap Anak Yatim
Dalam perspektif Islam, keberadaan anak yatim mendapatkan perhatian yang sangat besar.
Al-Qur’an berulang kali memerintahkan umat Islam untuk menjaga perasaan dan hak-hak anak yatim. Bahkan salah satu ciri pendusta agama menurut Surah Al-Ma’un adalah mereka yang mengabaikan anak yatim. Perhatian Islam terhadap anak yatim bukan semata-mata soal bantuan materi. Yang tidak kalah penting adalah perlindungan terhadap kondisi psikologis mereka.
Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasallam sendiri adalah seorang yatim sejak kecil. Karena itu, Islam mengajarkan kepekaan sosial agar anak yatim tidak merasa tersisih atau diperlakukan berbeda dari anak-anak lainnya. Dari sudut pandang ini, setiap program yang melibatkan figur ayah seharusnya juga memikirkan bagaimana perasaan anak-anak yang sudah tidak memiliki ayah.
Dari “Gerakan Ayah” Menjadi “Gerakan Keluarga”
Tujuan utama program ini sesungguhnya adalah memperkuat kedekatan antara anak dan keluarga. Oleh sebab itu, mungkin pendekatan yang lebih inklusif adalah mengubah narasi dari “Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah” menjadi “Gerakan Keluarga Mengantar Anak ke Sekolah.” Dengan pendekatan tersebut, yang mengantar bisa ayah, ibu, kakek, nenek, paman, wali, atau siapa pun yang menjadi figur pengasuh utama anak.
Esensi kebersamaan tetap terjaga tanpa menimbulkan potensi luka psikologis bagi anak-anak yang berasal dari latar belakang keluarga berbeda. Pendekatan semacam ini juga lebih sesuai dengan realitas sosial Indonesia yang sangat beragam. Gerakan ayah mengantar anak ke sekolah merupakan gagasan yang lahir dari niat baik untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Tujuan tersebut patut diapresiasi karena sejalan dengan nilai-nilai keluarga dalam Islam maupun temuan psikologi modern. Namun sebuah program publik akan menjadi lebih baik apabila dirancang dengan mempertimbangkan seluruh kelompok masyarakat, termasuk anak yatim, anak korban perceraian, dan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari.
Kebijakan yang baik bukan hanya mampu membahagiakan sebagian anak, tetapi juga memastikan tidak ada anak lain yang merasa kehilangan, tersisih, atau terluka karenanya. Sebab pada akhirnya, yang perlu dijaga bukan sekadar keterlibatan ayah, melainkan kesehatan psikologis seluruh anak Indonesia.
Penulis: Khoirul Umam Sonhadji (Pemerhati Pendidikan, Keluarga, dan Peradaban Islam Kum Nusantara Institut
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Overthinking dapat diartikan sebagai kondisi di mana seseorang memberikan ruang terlalu banyak terhadap pikiran untuk berpikir secara terus-menerus... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah – Cirebon, Betapa banyak kita temukan titel akademik dimiliki seseorang, tetapi moral mereka tidak mewakili orang-orang berpendidikan. Banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat Ramadan, ramai di media sosial unggahan konten yang menggunakan istilah mokel. Mokel adalah bahasa gaul yang berasal... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat Pustaka, bulan Ramadhan merupakan bulan panen raya hamba-hamba terkasih Allah Swt karena pada bulan ini... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Baru-baru ini aktivitas “cek khodam” ramai di media sosial, khususnya di live TikTok dan Instagram. Pengguna media... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari ini merupakan puncak acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang bertajuk Maulid dan Silaturahmi Akbar... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ramadan adalah bulan suci yang dinantikan oleh setiap Muslim. Namun, bagaimana jika ada orang, terutama para wanita... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu melaksanakannya. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah)... selengkapnya
Berikut link jadwal imsakiyah Ramadan 1447 H. untuk Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon: Imsakiyah Ramadan 1447 H. Bagi sahabat yang... selengkapnya
Oleh: Ustadz Maulid Johansyah (Dewan Asatidz LPD Al-Bahjah) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah.... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000
Saat ini belum tersedia komentar.