● online
Keimanan Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual, Tetapi Juga Tercermin dalam Memperlakukan Orang Lain

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manusia tidak pernah hidup sendirian. Sejak ia dilahirkan hingga kembali kepada tanah, hidupnya selalu berada dalam jaringan relasi yang kompleks. Ia mengenal dirinya sebagai aku, berjumpa dengan sesamanya sebagai kamu, dan disadari atau tidak selalu berada dalam pengawasan Dia, yakni Allah Yang Maha Esa.
Dalam perspektif Islam, relasi ini bukan sekadar hubungan sosial biasa, melainkan struktur eksistensial yang menentukan arah iman, kualitas akhlak, dan makna kehidupan manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan bukan tanpa tujuan, melainkan untuk beribadah kepada Allah (QS. Az-Zariyat: 56). Ibadah dalam pengertian ini tidak semata-mata ritual formal, tetapi mencakup seluruh sikap hidup, cara berpikir, serta tindakan manusia dalam membangun relasi dengan sesamanya. Dengan demikian, relasi antara aku dan kamu sejatinya tidak pernah netral; ia selalu berada dalam bingkai penghambaan kepada Dia.
Dalam kerangka tauhid, keberadaan Dia bukanlah unsur tambahan dalam kehidupan, melainkan pusat orientasi yang memberi makna pada setiap relasi. Ketika manusia menyadari bahwa hidupnya berada di hadapan Allah, maka cara ia memandang diri (aku) dan memperlakukan orang lain (kamu) akan mengalami transformasi etis. Aku tidak lagi menjadi pusat kebenaran, dan kamu tidak diperlakukan sebagai alat pemuas kepentingan. Sebaliknya, keduanya ditempatkan sebagai sesama hamba Allah yang sama-sama lemah dan membutuhkan rahmat-Nya. Inilah dasar paling mendalam dari etika sosial Islam, yang berangkat dari tauhid, bukan semata norma sosial.
Namun realitas kehidupan menunjukkan bahwa relasi ideal ini sering kali mengalami distorsi. Dalam praktik keseharian, aku cenderung mendominasi. Ego merasa paling benar, paling suci, dan paling berhak menilai. Kamu direduksi menjadi objek penilaian, bahkan sasaran penghakiman. Sementara Dia perlahan disingkirkan dari ruang kesadaran, hanya hadir dalam simbol, jargon keagamaan, atau rutinitas ibadah yang terlepas dari sikap sosial. Padahal Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri (QS. Qaf: 16). Kedekatan ini seharusnya melahirkan kesadaran mendalam bahwa setiap ucapan, sikap, dan keputusan manusia memiliki dimensi moral dan spiritual yang tidak dapat dihindari.
Ketika kesadaran akan kehadiran Dia melemah, relasi antarmanusia mudah berubah menjadi arena konflik. Perbedaan pendapat menjelma permusuhan, kritik berubah menjadi hujatan, dan nasihat bergeser menjadi penghakiman. Dalam kondisi ini, aku sibuk mempertahankan citra diri, kamu diposisikan sebagai ancaman, dan nilai-nilai keadilan serta kasih sayang kehilangan pijakan. Relasi sosial yang seharusnya menjadi ladang ibadah justru berubah menjadi ruang pertarungan ego.
Islam sejak awal menolak pemisahan antara iman personal dan tanggung jawab sosial. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasallam menegaskan hal ini melalui sabdanya:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas relasi aku dan Dia tidak bisa dilepaskan dari kualitas relasi aku dan kamu. Keimanan tidak cukup diukur dari intensitas ibadah ritual, tetapi harus tercermin dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Keberadaan Dia dalam hidup seseorang akan selalu termanifestasi dalam akhlaknya kepada kamu. Jika relasi sosial dipenuhi kebencian, kesombongan, dan ketidakadilan, maka keimanan patut dipertanyakan kedalamannya.
Dalam khazanah pemikiran Islam, persoalan ini dibahas secara serius. Abu Hamid al-Ghazali menilai bahwa akar kerusakan relasi manusia terletak pada dominasi nafs dan ego yang tidak terkendali. Ketika aku dikuasai oleh cinta diri yang berlebihan, maka kamu tidak lagi dipandang sebagai sesama hamba Allah, melainkan sebagai sarana, pesaing, atau ancaman. Oleh karena itu, Al-Ghazali menempatkan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai fondasi utama etika sosial. Relasi yang adil dan penuh kasih hanya mungkin terwujud ketika ego aku ditundukkan oleh kesadaran ketuhanan. Menghadirkan Dia berarti bersedia mengoreksi diri, menahan hasrat untuk menang sendiri, dan mengedepankan kemaslahatan bersama.
Sementara itu, Ibn Arabi menawarkan perspektif yang lebih metafisis melalui gagasan kesatuan wujud. Baginya, setiap perjumpaan dengan kamu sejatinya adalah perjumpaan dengan tanda-tanda kehadiran Dia. Manusia lain bukan sekadar individu sosial, tetapi manifestasi ayat-ayat Tuhan di bumi. Pandangan ini melahirkan etika kasih sayang yang universal, karena merendahkan manusia lain berarti gagal melihat kehadiran Tuhan dalam ciptaan-Nya. Dalam perspektif ini, konflik sosial tidak hanya dipahami sebagai persoalan moral atau struktural, melainkan sebagai krisis spiritual akibat terputusnya kesadaran tauhid dalam relasi kemanusiaan.
Relevansi gagasan ini semakin terasa dalam konteks kehidupan modern. Masyarakat kontemporer cenderung individualistis, kompetitif, dan terfragmentasi. Ruang digital mempercepat proses ini dengan memperbesar ego aku, mengaburkan kemanusiaan kamu, dan menjauhkan kesadaran akan pengawasan Dia. Media sosial sering kali menjadi ruang di mana kata-kata dilontarkan tanpa empati, penilaian dilakukan tanpa tanggung jawab, dan kebenaran diklaim tanpa kerendahan hati. Al-Qur’an telah mengingatkan agar manusia tidak saling merendahkan, mencela, dan berprasangka buruk (QS. Al-Hujurat: 11–12), karena tindakan tersebut merusak tatanan sosial sekaligus mencederai nilai ketakwaan.
Dalam situasi seperti ini, menghadirkan kembali kesadaran aku, kamu, dan Dia menjadi kebutuhan mendesak. Tauhid tidak cukup dipahami sebagai konsep teologis, tetapi harus dihidupkan sebagai etika relasional. Kesadaran bahwa Dia hadir dalam setiap relasi akan menahan aku dari kesombongan, melindungi kamu dari ketidakadilan, dan menumbuhkan tanggung jawab moral dalam ruang publik maupun privat. Relasi sosial pun kembali menjadi ruang ibadah, bukan arena saling melukai.
Dengan demikian, aku, kamu, dan Dia bukan sekadar ungkapan puitik, melainkan kerangka etis-spiritual yang mendasar dalam Islam. Relasi yang sehat hanya mungkin terwujud ketika aku mengenal batas dirinya, kamu dihormati sebagai sesama hamba Allah, dan Dia dijadikan pusat orientasi hidup. Ketika ketiganya hadir secara seimbang, iman tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma menjadi akhlak sosial yang menenteramkan. Inilah esensi Islam sebagai rahmat, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi seluruh relasi kemanusiaan.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Keimanan Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual, Tetapi Juga Tercermin dalam Memperlakukan Orang Lain
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejarah penetapan kalender Hijriah dilakukan dengan proses musyawarah dan pemufakatan yang serius. Setidaknya ada empat hal yang menjadi... selengkapnya
Hari ini, Ahad (22/10) bertepatan dengan perayaan Hari Santri Nasional 2023. Pada momentum berharga ini, kita perlu mengetahui makna dari... selengkapnya
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Siapa di antara Sahabat Pustaka yang gemar menulis? Ada informasi menarik dari Pustaka Al-Bahjah Kami membuka kesempatan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pergantian tahun dapat dijadikan momen refleksi bagi banyak orang, termasuk umat muslim. Tahun baru Masehi sering kali... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan sering kali disebut sebagai ibadah terpanjang dalam hidup. Mengandung makna bahwa pernikahan dilakukan dari mulai akad sampai... selengkapnya
Sujud Saat tangis tak lagi bersuara Saat tangan tak lagi mampu menyeka air mata Saat lisan tak lagi dapat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap kali menjelang Ramadan, sahabat Nabi Saw selalu bergembira menyambut kedatangannya. Kegembiraan itu terpancar di wajah dan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Diskursus soal teori-teori peradaban yang umum kita ketahui selama ini identik dengan masa kebangkitannya para pemikir Eropa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Makanan adalah salah satu topik pembahasan ketika membicarakan suatu daerah. Tak terlepas bagi perantau modelan saya yang... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000
Saat ini belum tersedia komentar.