Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Jangan Tunggu Susah Dulu Baru Shalat

Jangan Tunggu Susah Dulu Baru Shalat

Diposting pada 11 Juli 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 15 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagian dari kita sering kali menunda shalat atau bahkan berani meninggalkan shalat lima waktu. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena kesibukan duniawi yang dianggap lebih penting daripada urusan akhirat. Akan tetapi, apabila kita sedang berada dalam keterpurukan dan membutuhkan pertolongan Allah, kita cenderung akan rajin shalat. Tidak hanya shalat fardi, bahkan yang sunah pun kita tunaikan.

Secara etimologi shalat berasal dari bahasa Arab, yaitu “Asholah” yang artinya doa. Sementara secara terminologi (istilah), shalat adalah suatu perbuatan dan ucapan yang dimuai dengan takbir, dan diakhiri dengan gerakan dan bacaan salam dengan syarat-syarat serta rukun-rukun dan yang telah ditentukan.

Awal mulanya perintah shalat fardu diwajibkan sebanyak lima puluh rakaat dalam sehari. Akan tetapi, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam meminta keringanan kepada Allah sehingga akhirnya dikurangi menjadi lima waktu saja. Hal ini tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu:

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ‘Shalat diwajibkan kepadaku pada malam Isra’ sebanyak 50 kali. Aku terus kembali kepada Rabb-Ku hingga Allah menjadikannya lima waktu namun pahalanya tetap seperti lima puluh shalat.’

Sebagai umat Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam, hendaknya kita bersyukur karena diberikan keringanan dan kemudahan dalam melaksanakan ibadah yang satu ini namun pahalanya tetap sama seperti lima puluh shalat. Bayangkan apabila Allah tidak memberikan kita keringanan? Lima rakaat saja sudah masih susah apalagi lima puluh. Padahal shalat adalah tiang agama.

Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِلإسْلاَمُ  وَعَمُوْدُهُ سَنَامِهِ الجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

“Inti segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.”

Ada pepatah mengenai shalat. Pepatah ini dapat dijadikan sebagai motivasi agar para santri semangat dan istiqamah dalam melaksanakan shalat:

“مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ فـقَدْ هَدَمَ دِيْنَهُ”

“Siapa yang meninggalkan shalat maka ia meruntuhkan agamanya”

“مَنْ أَقَامَ الصَّلاَةَ فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ”

“Siapa yang menegakkan shalat maka agamanya tegak.”

Selain itu, apabila kita membaca Al-Qur’an, ada sebuah ayat yang sangat menarik yang membahas tentang manfaat shalat ini, yaitu surah Al Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥ ( العنكبوت/29: 45)

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Mari kita garis bawahi kata “Mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Bahwa ternyata shalat bukan hanya sekadar penggugur kewajiban, melainkan memiliki makna yang sangat dalam sesuai dengan ayat di atas. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mencegah adalah suatu proses, cara atau tindakan untuk menahan sesuatu agar tidak terjadi.
  2. Perbuatan keji atau fahsya’ dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan keji.
  3. Sedangkan menurut Ahmad Fauzan dalam jurnalnya mengatakan bahwa, secara etimologi atau secara bahasa, kata fahsya’ berasal dari kata fahusya, yafusyu, fahasyatan, usyan, fahisy, fahisyan.
  4. Kata fahsya’ dan kata bentukannya diartikan sebagai sesuatu yang al-qabih (amat kotor, sangat buruk, amat menjijikan, dan amat hina). Hal ini dikutip dari Kitab Al-Mu’jam Al Wasit.
  5. Sedangkan pengertian menurut terminologi (istilah), keji adalah sesuatu yang melampaui batas dalam keburukan, baik perbuatan ataupun ucapan, dan tak hanya melanggar norma agama, tetapi juga adat istiadat di masyarakat. misalnya zina, homoseksual, dan lain-lain.
  6. Perbuatan mungkar dalam pengertian lafadz al-mungkar secara bahasa merupakan bentuk kata nakara yang berarti sulit, ingkar, samar. Munkar adalah sesuatu yang harus diingkari dan dihindari karena tidak dikenal.
  7. Secara istilah al-munkar artinya semua perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah, termasuk perbuatan, kesombongan, dan perbuatan mengingkari ayat Allah secara lisan ataupun secara hati.

Apabila kita mengkaji ayat ini lebih dalam, dapat disimpulkan bahwa shalat merupakan amalan yang sangat istimewa dan memiliki keutamaan yang amat besar. Hal ini karena dapat menjauhkan kita dari berbagai perbuatan yang buruk atau dengan kata lain “maksiat” dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, orang yang senantiasa menjaga shalat kelak akan dipanggil oleh malaikat di akhirat melalui Babusshalah (pintu khusus bagi orang yang rajin shalat).

Orang yang senantiasa menjaga shalatnya laksana orang yang mandi di sungai. Hal ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667).

Mari kita menjaga lima waktu dan tingkatkan segala amalan agar menjadi hamba yang beriman dan bertakwa serta mendapatkan kesempatan masuk surga melalui pintu Babusshalah. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

 

Referensi:

Cegah. (2026). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses pada 11 Juli 2026 dari KBBI Daring.

Fauza, A. (2018). Makna Fahsya’ dalam Al-Qur’an (Kajian Ayat-Ayat Fahsya’ dalam A-Qur’an. Jurnal Al-Bayan. Vol. 3 No. 1

Abduh, T. (2026, Juli 10). Orang yang Rutin Shalat 5 Waktu Ibarat Orang yang Mandi di Sungai. Rumaysho.com.

 

Penulis: Ainun Mubin Misbah N.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

Bagikan ke

Jangan Tunggu Susah Dulu Baru Shalat

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Kunci Kebahagiaan Keluarga dengan Teladan Mulia
5 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di momen hari Iduladha ini mari kita belajar dari kisah keteladanan dari seorang hamba kekasih Allah, Kholilurrohman Nabi... selengkapnya

Cirebon Kebanjiran! Alarm bagi Kita untuk Lebih Peduli Lagi Terhadap Lingkungan
18 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bencana banjir yang melanda kota dan Kabupaten Cirebon pada 17 Januari 2025 kembali menyoroti krisis tata kelola... selengkapnya

Masalah dalam Bersedekah
22 Maret 2021

Masalah dalam Bersedekah Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Sedekah, satu kata yang... selengkapnya

Pentingnya Tabayyun di Tengah-Tengah Gempuran Hoaks
13 Juni 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Melalui internet dan media sosial, informasi... selengkapnya

Memaknai Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum untuk Hijrah
26 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejarah penetapan kalender Hijriah dilakukan dengan proses musyawarah dan pemufakatan yang serius. Setidaknya ada empat hal yang menjadi... selengkapnya

Viral Cek Khodam di Media Tiktok, Bagaimana Pandangan Islam Mengenai Khodam?
9 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Baru-baru ini aktivitas “cek khodam” ramai di media sosial, khususnya di live TikTok dan Instagram. Pengguna media... selengkapnya

Selain Mengatasi SDM Rendah Menulis Juga Meningkatkan Kualitas Hidup
5 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menulis dipandang sebagai kegiatan formal, kaku, culun, polos, etc yang dilakukan hanya untuk mengisi kekosongan waktu semata.... selengkapnya

Berpendidikan Tinggi Tapi Tidak Bermoral: Renungan Hakikat Pendidikan
27 November 2023

Pustaka Al-Bahjah – Cirebon, Betapa banyak kita temukan titel akademik dimiliki seseorang, tetapi moral mereka tidak mewakili orang-orang berpendidikan. Banyak... selengkapnya

Teks Khutbah Iduladha dan Muraqqi 1445 H Majelis Al-Bahjah
17 Juni 2024

  Berikut kami hadirkan teks khutbah Iduladha 1445 H/2024 M. Silakan mendownload dan menyebarkannya melalui tautan yang ada di bawah... selengkapnya

Apakah Kebakaran di Los Angeles Balasan atas Kekejaman di Gaza?
16 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menelisik peristiwa yang terjadi di Palestina, setidaknya ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya. Pertama adalah rakyat... selengkapnya

Jangan Tunggu Susah Dulu Baru Shalat

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: