● online
Gen Z, Generasi paling Kesepian

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Generasi Z sering kali disebut sebagai generasi beruntung karena hidup di tengah-tengah perkembangan teknologi. Oleh karenanya, kepemilikan gawai pada kalangan Gen Z seakan menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi. Namun di balik itu semua, tersimpan sebuah paradoks ketika kehidupan nyatanya tak sesuai dengan kehidupan mayanya.
Bangun tidur, gawai yang dicari. Mau tidur, gawai yang dipegang. Begitu pula dengan kuota internet. Jika kehabisan akses internet, hati rasa tak tenang. Ditambah dengan platform media sosial yang beraneka ragam mendorong banyak orang untuk memilikinya. Meskipun dunia maya, nyatanya berdampak besar pada gaya hidup seseorang di dalam dunia nyata.
Berselancar di dunia maya memberikan keasyikan tersendiri. Salah satunya bisa mengetahui banyak hal. Cilakanya, saking bebasnya mengakses berbagai hal seseorang dapat mengetahui hal-hal yang tidak sepatutnya disebarluaskan. Misalnya, berita hoax, flexing, gibah, bahkan juga aktivitas khusus pasutri di rumah, sehingga tidak sedikit pula banyak orang menjadikan apa yang dilihatnya di media sosial orang lain menjadi standar dan inspirasi baginya.
Ironisnya, orang yang menjadikan sosial media sebagai standarnya membuat kesehatan mentalnya terganggu. Pada satu sisi, seseorang merasa antusias dengan konten-kontennya yang ramai, follower, maupun teman-teman di media sosialnya. Namun sebaliknya, seseorang itu sering kali kesepian dalam dunia nyatanya.
Hal ini yang menggerakkan seorang mahasiswa UMY jurusan Ilmu Komunikasi untuk membuat sebuah penelitian yang berjudul Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”. Kajian hiperrealitas sendiri merupakan representasi digital yang dipandang lebih nyata dari realitas itu sendiri. Pandangan ini menjelaskan bagaimana platform digital seperti media sosial dapat membentuk emosi seseorang dalam berperilaku di kehidupan nyata. Emosi yang tidak terkontrol akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan tentu saja hubungan sosialnya dengan orang-orang di sekitar.
Badai informasi yang sebenarnya faktual tetapi tidak mampu dipilah dengan cerdas dan sehat, bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang. Gen Z dikenal dengan generasi yang adaptif terhadap media digital. Tidak heran jika mereka mendominasi konten-konten yang ada di sosial media. Banyak ide kreatif yang mereka miliki. Mulai dari yang memang bermanfaat sampai yang unfaedah.
Sebenarnya literasi digital yang dimiliki Gen Z lebih tinggi dari generasi yang sebelumnya. Termasuk juga informasi tentang bagaimana manajemen penggunaan gawai, mereka mengantonginya. Namun, di balik itu mereka dominan merasa kesepian. Mengapa bisa begitu?
Ya, salah satunya karena adanya industri kapitalis. Mindset yang mereka miliki hanya urusan meraih cuan dari aktivitas masyarakat di sosial media. Oleh sebab itu, arus sosial tidak serta merta berjalan sendiri. Para kapitalis mengatur arus industri tersebut. Membentuk arusnya dengan sedemikian rupa sehingga menarik untuk diselami oleh masyarakat, khususnya Gen Z yang sedang melek-meleknya dunia digital. Ironisnya, semakin dalam menyelam, mereka semakin mudah untuk terlepas dari pergaulan nyata, sehingga saat kembali ke dunia nyata mereka kesulitan membangun hubungan. Parahnya, hubungan antarkeluarga juga terkena imbasnya: jarang komunikasi dan kaku, terasa begitu jauh.
Sungguh ini adalah problematika generasi yang bisa berakibat buruk terhadap tatatan masyarakat dan kemajuan peradaban. Terjebak dalam rasa kesepian membuat mereka lemah untuk bergerak menjadi garda terdepan untuk peduli terhadap kondisi masyarakat. Khususnya Gen Z yang merupakan generasi muda. Padahal, potensi yang mereka miliki sangat besar untuk memberikan karya terbaiknya untuk umat yang sedang dilanda banyak masalah ini. Oleh karenanya, dibutuhkan beberapa hal untuk keluar dari problem media sosial ini.
Pertama, memberikan edukasi tentang bersikap bijak terhadap penggunaan media sosial. Harus disadari, ketidakbijakan menggunakannya dapat menjadikan sikap asosial yang merambah menjadi budaya dalam masyarakat yang tentu dapat merugikan masyarakat ini sendiri.
Kedua, penguatan aqidah Islam, baik skala individu, keluarga, institusi pendidikan, masyarakat, sampai menjadi program negara. Dengan aqidah yang kuat, seseorang akan senantiasa mengingat bahwa ada kebahagian sejati yang menanti, yakni akhirat. Lebih dari itu, ia akan terus melakukan refleksi terhadap sesuatu yang membuat Allah ridha atau tidak, karena ia paham esensi dari kehidupan dunia.
Ketiga, masyarakat harus dicerdaskan akan problem sistem hari ini, yaitu sistem sekuler kapitalis. Sebab, ketika masyarakat cerdas, mereka akan mampu memilah dan memilih dengan tepat dalam berselancar di sosial media agar tidak menjadi korban industri kapitalis.
Keempat, negara memiliki andil besar dalam mengendalikan dunia digital. Banyak negara yang mulai aware. Seperti membuat program-program yang dapat menyelamatkan generasinya dari dampak buruk penggunaan media sosial yang tak terarah.
Generasi muda butuh diberikan ruang seluas-luasnya untuk berkreasi dalam memberikan karyanya yang bermanfaat untuk peradaban. Terdapat sebuah hadits yang berisi nasihat bahwa masa muda adalah masa yang nantinya akan dpertanggungjawaban khusus di hadapan Allah kelak.
Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya sehingga ditanya tentang lima hal: umurnya dalam apa ia gunakan, masa mudanya dalam apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)
Semestinyalah hamba-hamba Allah yang beriman dan bertaqwa menjadikannya renungan yang menggugah untuk tanggap terhadap arah hidup generasi muda.Wahai generasi muda, ada pesan yang memuliakan engkau dari baginda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”. (HR.Ahmad)
Maksud “Shabwah” adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. Semoga gawaimu, media sosialmu, konten-kontenmu menjadi penyebab dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Amin
Penulis: Naila Dhofarina Noor
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Gen Z, Generasi paling Kesepian
Orang yang melaksanakan shalat pasti akan terhindar dari perbuatan jahat, keji dan mungkar. Sebaliknya, orang yang tidak melaksanakan shalat akan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setidaknya di akhir pekan bulan ini orang-orang mulai melaksanakan aktivitasnya kembali. Suasana dan euforia pascaliburan membekaskan kesan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada suatau ketika di zaman Nabi Muhammad Saw, terdapat keistimewaan bagi kaum laki-laki untuk senantiasa dekat kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pagi ini Sabtu, 23 Syawal 1444H/13 Mei 2023 Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali menebar “jaring-jaring”... selengkapnya
Kesunyian Di menara doa yang tinggi, aku duduk menahan gema hatiku sendiri. Langkah-langkah manusia menjauh, riuh dunia perlahan lenyap, meninggalkanku... selengkapnya
Menunggu Barangkali tap tip jiwa sama-sama lupa Barangkali tap tip jiwa sama-sama tuli Barangkali tap tip jiwa sama-sama... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Wudu merupakan syarat sah shalat yang harus dipenuhi setiap Muslim. Tanpa suci dari hadas besar maupun kecil, maka... selengkapnya
Cirebon, Pustaka Al-Bahjah News-Petugas Keamanan LPD AL-Bahjah Cirebon Menutup Jalan untuk Sementara Waktu pada Saat Shalat Berjamaah Sedang Berlangsung di... selengkapnya
Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900
Saat ini belum tersedia komentar.