● online
Jangan Gabut, Waktu Adalah Amanah

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tidakkah kita menyadari bahwa hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun terus berlalu. Bergantinya waktu juga menunjukkan bahwa usia manusia terus berkurang, sementara amal perbuatannya terus dicatat tanpa jeda. Berputarnya siang dan malam serta silih bergantinya waktu merupakan tanda kebesaran Allah Subhanu wa Ta’ala, sekaligus pengingat bagi manusia bahwa kehidupan di dunia ini tidak pernah berhenti berjalan.
Waktu yang Allah berikan kepada kita pada setiap detiknya merupakan anugerah yang sangat besar. Akan tetapi, ia dapat berubah menjadi kerugian yang nyata apabila kita membiarkannya berlalu tanpa makna dan tanpa ketaatan kepada Allah Subhanu wa Ta’ala. Allah Subhanu wa Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِۙ ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ ٣ ( العصر/103: 1-3)
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal-amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ (رواه البخاري)
“2 nikmat yang banyak orang–orang terlalaikan dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR. Al Bukhori)
Dari ayat dan hadis tersebut dapat kita pahami bahwa nikmat waktu adalah nikmat yang sangat berharga. Maka kehilangan waktu berarti kehilangan peluang, kehilangan keuntungan, dan kehilangan kesempatan. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Itulah kerugian yang sesungguhnya. Dan betapa banyak manusia yang baru menyadari kerugian itu ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ٩٩ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”
Sering kali kita tidak menyadari bahwa nikmat waktu yang Allah berikan kepada kita sejatinya adalah amanah, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari akhir. Al-Ḥabib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Ḥaddad rahimahullah mengatakan bahwa waktu yang kita miliki adalah modal yang Allah titipkan kepada manusia. Ibarat seseorang yang dipinjami modal, maka kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh pemilik modal tersebut. Jika seseorang diberi modal umur enam puluh atau tujuh puluh tahun, tapi hasil amal ibadahnya sangat sedikit dibandingkan dengan modal yang diberikan, maka sungguh ia telah menyia-nyiakan modal yang Allah titipkan kepadanya.
Menyia-nyiakan waktu dapat muncul dalam berbagai bentuk:
Pertama, menggunakan waktu yang ada untuk perbuatan maksiat. Waktu yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru digunakan untuk hal-hal yang dimurkai-Nya.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الجنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَم يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا (رواه الطبراني)
“Tidaklah merugi ahli surga kecuali sebab waktu yang berlalu dari mereka yg tidak mereka gunakan untuk berdzikir kepada Allah.” (HR. At Thabarani)
Apabila penduduk surga saja masih menyesali waktu yang terlewat tanpa dzikir, maka bagaimana dengan penyesalan orang-orang yang menghabiskan waktu hidupnya dengan kemaksiatan dan perbuatan dosa?
Kedua, menggunakan waktu untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Alangkah banyaknya pada hari ini orang-orang yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya di hadapan layar hp dan gadget, dengan scroll layar tanpa tujuan, atau menonton berbagai konten receh yang tidak membawa manfaat bagi agama maupun dunianya. Tanpa disadari, waktu berlalu begitu saja. Padahal waktu tersebut bisa diisi dengan amal kebaikan, ilmu yang bermanfaat, dzikir kepada Allah, atau aktivitas yang bernilai ibadah. Inilah bentuk kerugian yang sering kali dianggap ringan, namun dampaknya sangat besar terhadap hilangnya keberkahan umur. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
مِنْ حُسْنِ ِإسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ (رواه ابن ماجه)
“Termasuk tanda bagusnya islam seseorang adalah dia meninggalkan hal – hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Ibnu Majah)
Gabut atau menyia-nyiakan waktu dengan melakukan perbuatan yang sia-sia bukan hanya berarti membuang umur tanpa hasil, tetapi sering kali juga menjadi pintu masuk bagi setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan. Bermula dari sekadar iseng dan mengisi kejenuhan, lalu perlahan mencari kesenangan, hingga akhirnya terjatuh pada perkara-perkara yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga waktunya dengan kesadaran, dan membiasakan diri untuk merancang serta menyusun agenda kegiatan hariannya dengan hal-hal yang bermanfaat.
Ketahuilah bahwa aktivitas kerja kita, baik di kantor, di pasar, maupun di tempat usaha, semuanya dapat bernilai ibadah apabila disertai dengan niat yang benar. Niat mencari nafkah yang halal untuk keluarga, mencukupi kebutuhan diri agar terjaga dari yang haram, serta niat-niat mulia lainnya dapat mengubah aktivitas duniawi menjadi amal akhirat. Karena pintu kebaikan tidak hanya terbuka melalui ibadah-ibadah mahdhah semata, tetapi juga melalui aktivitas dunia yang dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar. Itulah orang yang cerdas, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam.
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوتِ وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه الترمذي)
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu hanya berangan-angan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi)
Sebelum waktu kita benar-benar berakhir, sebelum umur yang Allah titipkan kepada kita habis, marilah kita renungkan kembali, bagaimana selama ini kita memperlakukan waktu. Apakah ia telah kita jaga sebagai amanah, atau justru kita biarkan berlalu dalam kelalaian dan kesia-siaan.
Jangan sampai waktu yang Allah berikan menjadi saksi atas kerugian kita pada hari kiamat. Namun jadikanlah setiap detik yang berlalu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, meskipun dengan amal-amal yang sederhana, dengan niat yang lurus, dan dengan istiqamah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga waktu, mensyukuri nikmat umur, serta mengisinya dengan ketaatan dan amal saleh.
Penulis: Maulid Johansyah, MP.d.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Jangan Gabut, Waktu Adalah Amanah
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Melalui Nabi Muhammad... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini mengucapkan kata paling sakral dalam sejarahnya: merdeka. Kata itu lahir dari rahim... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita sedang berada di zaman yang serba instan. Ketika membutuhkan barang misalnya, kita cukup membuka gadget,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Salah satu golongan orang yang akan masuk neraka adalah laki-laki dayyuts. Siapakah laki-laki dayyuts ini? Ummi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Orang tua yang telah memasuki lanjut usia berbeda dengan orang tua yang masih berusia sekitar 40 tahunan ke... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mencium tangan guru merupakan sebuah tradisi yang masuk ke dalam bab tabarruk. Tabarruk sendiri berarti mengambil berkah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Fase menuju pernikahan menjadi momok mengerikan bagi para pemuda yang khawatir akan masa depannya. Akhir dari masa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren sering dipandang sebagai sarana pendidikan yang hanya membekali santrinya dengan ilmu keagamaan namun tidak menjadikan ia siap... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000
Saat ini belum tersedia komentar.