Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Diposting pada 27 Desember 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 295 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk dunia dan merenung: mengapa di zaman yang serba instan ini, justru kesehatan mental kita terasa begitu rapuh? Mengapa di saat segala kemudahan berada dalam genggaman, tingkat stres, depresi, dan rasa tidak puas justru meroket tajam melampaui batas kewajaran?

Kita adalah generasi yang hidup dalam kemewahan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh raja-raja di masa lalu. Hanya dengan satu sentuhan jari di layar ponsel, makanan dari sudut kota mana pun bisa hadir di depan pintu. Kita bernaung di bawah atap rumah yang jauh lebih kokoh, lebih mewah, dan lebih nyaman daripada yang pernah dimiliki kakek-nenek kita. Namun, ironisnya, mengapa kedamaian batin seolah-olah menjadi barang mewah yang kian mustahil untuk ditemukan? Mengapa meski raga kita nyaman, jiwa kita justru sering kali merasa “gelisah”? Jawabannya terletak pada satu kunci yang mulai lepas dari genggaman kita: Tadzkir bin Niam.

Ini bukan sekadar istilah, melainkan sebuah disiplin hati untuk terus-menerus membangun kesadaran akan limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa kunci ini, hidup manusia akan berubah menjadi labirin kebingungan yang tak berujung. Kita terus berlari mengejar apa yang tidak ada, sampai kita lupa mencicipi apa yang sudah tersedia. Saat kita kehilangan kemampuan untuk mengingat nikmat (Tadzkir bin Niam), mata kita akan mengalami “kebutaan spiritual”. Kita hanya mampu melihat apa yang dimiliki orang lain melalui layar media sosial, lalu membandingkannya dengan kekurangan kita.

Kita memiliki 99 alasan untuk tersenyum. Namun kita memilih menghabiskan seluruh energi kita untuk meratapi satu hal yang belum kita miliki. Inilah yang membuat kita stres: kita terobsesi pada “titik hitam” di atas selembar “kertas putih” yang luas. Kita lupa bahwa napas yang masih mengalir, jantung yang masih berdetak, dan mata yang masih bisa membaca tulisan ini adalah aset triliunan rupiah yang Allah berikan secara cuma-cuma.

Hilangnya Rasa Cukup

Mari kita melakukan perjalanan waktu ke era 80-an atau 90-an. Ingatkah bagaimana suasana di kampung halaman kala itu? Hidup begitu bersahaja. Makan hanyalah soal menyambung nyawa, bukan soal pamer di media sosial. Sering kali, satu butir telur harus digoreng dengan campuran tepung yang banyak agar bisa dibagi rata untuk lima orang kakak-beradik. Nasi putih hangat, sedikit minyak jelantah, dan ulekan bawang putih sudah cukup untuk menutup hari dengan senyuman.

Ajaibnya, saat itu tidak ada istilah “melarat” yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada orang yang merasa hidupnya gagal hanya karena tidak makan mewah. Mengapa? Karena mereka memiliki ilmu merasa cukup. Bandingkan dengan hari ini. Hari ini, seseorang bisa memiliki lima butir telur di piringnya sendiri, namun lisan dan hatinya masih berteriak “kurang”. Kita menderita bukan karena kekurangan rezeki, melainkan karena kehilangan kemampuan untuk menikmati rezeki yang ada. Kita memiliki segalanya, kecuali rasa syukur. Itulah kemiskinan yang sesungguhnyafakir hati yang takkan pernah kenyang meski seluruh emas di bumi menjadi miliknya.

Fokus pada “Sisa”, Bukan pada “Tumpah”

Dalam dunia ilmu jiwa atau psikologi, bersyukur adalah bentuk kecerdasan tertinggi. Bayangkan sebuah perumpamaan sederhana:  memiliki segelas minuman favorit, lalu tanpa sengaja separuhnya tumpah.

  1. Orang yang rugi akan menghabiskan sisa harinya dengan meratapi yang tumpah. Ia marah, ia menyesal, dan ia kehilangan selera. Akhirnya, yang separuh di gelas pun menjadi hambar karena tertutup awan kesedihan.
  1. Orang yang cerdas akan melihat gelasnya dan berkata: “Alhamdulillah, untung Allah masih menyisakan separuh untukku.” Ia meminumnya dengan nikmat dan tetap bahagia.

Dunia ini memang tempatnya “tumpah”. Bisnis bisa rugi, barang bisa rusak, ayam ternak bisa mati. Jika  hanya fokus pada pabrik yang terbakar,  akan gila. Tapi jika  melihat dua pabrik yang masih berdiri,  akan tetap menjadi pemenang. Jangan biarkan apa yang hilang darimu merampas kegembiraan atas apa yang masih kamu miliki.

Belajar dari Luka: Hakikat Syukur di Tengah Penderitaan

Ada sebuah kisah dahsyat dari zaman Tabiin. Seorang hamba Allah diuji dengan penyakit lepra yang parah. Jasadnya hancur, jari-jarinya terputus, luka-luka memenuhi tubuhnya hingga orang-orang tidak nyaman berada di dekatnya. Namun, dari bibirnya yang pecah-pecah, terus mengalir kalimat: “Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

Ketika ditanya, bagaimana mungkin dalam kondisi hancur seperti itu ia masih memuji Allah? Jawaban yang keluar sungguh menggetarkan: “Jasadku boleh rusak, duniaku boleh hilang, tapi aku bersyukur lidahku belum lumpuh untuk berzikir menyebut nama-Nya.” Ini adalah level tertinggi dari ketenangan. Jika seseorang mampu menemukan alasan untuk bersyukur di tengah hancurnya raga, maka apa alasan kita untuk mengeluh? Kita yang matanya masih bisa melihat warna-warni dunia, yang telinganya masih bisa mendengar suara orang-orang tercinta, dan yang kakinya masih bisa melangkah menuju masjid.

Menemukan Keajaiban dalam Hal-Hal Kecil

Kita sering menganggap nikmat itu harus berupa uang atau jabatan. Padahal, Allah menyisipkan nikmat luar biasa dalam setiap detak hidup kita:

  1. Nikmat Lapar: Tanpa rasa lapar, makanan termahal pun tidak akan terasa enak. Lapar adalah “bumbu” alami yang Allah berikan agar kita bisa menikmati rezeki-Nya.
  1. Nikmat Kantuk: Bayangkan jika  tidak bisa tidur. Kekayaan  tidak akan mampu membayar nikmatnya terlelap selama satu jam saja.

Syukur Adalah Perisai Stres

Marilah kita berhenti menjadi orang yang “buta” di tengah cahaya karunia Allah. Berhenti membandingkan hidup kita dengan layar ponsel orang lain. Sebaliknya, mulailah membandingkan hidup kita dengan mereka yang hari ini tidak bisa makan di Sudan, atau mereka yang terbangun di tengah reruntuhan perang.

Jika bersyukur, tidak ada ruang bagi stres untuk masuk. Jika bersyukur, setiap hari adalah hari raya bagi hati. Mari kita lalui hari ini dengan satu kesadaran: “Terima kasih Ya Allah, karena Engkau masih memberiku kesempatan untuk bersyukur.”

Jadilah pribadi yang cerdaspribadi yang lebih memilih menghitung nikmat daripada menghitung luka. Karena pada akhirnya, bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan syukurlah yang membuat kita bahagia.

 

Penulis: Nur Robi Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Kekuatan Lantunan Azan: Sebuah Kisah Nyata
28 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hari itu, kelelahan menyelimuti tubuhku setelah seharian penuh bergulat dengan berbagai tugas dan kewajiban. Rasanya tak ada... selengkapnya

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir
10 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas... selengkapnya

Ingat, Pahala Shalat Jamak dan Qasar Lebih Unggul daripada Shalat Biasa!
21 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bagi orang yang belum paham, ketika bepergian mungkin saja beranggapan bahwa shalat normal seperti biasa, tanpa jamak... selengkapnya

Manajemen Waktu ala Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazalie
23 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Manusia diberi nikmat oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan waktu yang begitu panjang dalam satu harinya, yakni... selengkapnya

Cara Atasi Overthinking dalam Islam
9 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Overthinking dapat diartikan sebagai kondisi di mana seseorang memberikan ruang terlalu banyak terhadap pikiran untuk berpikir secara terus-menerus... selengkapnya

Jalan Terjal Muslimah Zaman Now
25 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua kalangan dapat merasakan dampak dari perkembangan zaman, tak terkecuali Muslimah. Tantangan Muslimah dalam menjalankan syariat di era... selengkapnya

Dahsyatnya Puasa Arafah, Yakin Masih Mau Melewatkannya?
27 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa... selengkapnya

DOA AWAL DAN AKHIR TAHUN 1443 H
9 Agustus 2021

DOA AKHIR TAHUN بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اللّٰهُمَّ لَكَ الْـحَمْدُ أنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، ولَكَ الْحـَمْدُ لَكَ مُلْكُ... selengkapnya

Ratusan Jamaah Ikuti Manasik Akbar Umroh Munajat Kubro Bersama Buya Yahya
21 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebanyak 483 calon jamaah Umroh Munajat Kubro memadati ballroom Hotel Grage, Cirebon, dalam kegiatan Manasik Akbar yang berlangsung... selengkapnya

Dari Pikiran Menuju Perbuatan: Sebuah Rantai Kebaikan dan Keburukan
19 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali tidak menyadari bahwa segalanya bermula dari satu titik kecil yang tak terlihat;... selengkapnya

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: