Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Diposting pada 27 Desember 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 252 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk dunia dan merenung: mengapa di zaman yang serba instan ini, justru kesehatan mental kita terasa begitu rapuh? Mengapa di saat segala kemudahan berada dalam genggaman, tingkat stres, depresi, dan rasa tidak puas justru meroket tajam melampaui batas kewajaran?

Kita adalah generasi yang hidup dalam kemewahan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh raja-raja di masa lalu. Hanya dengan satu sentuhan jari di layar ponsel, makanan dari sudut kota mana pun bisa hadir di depan pintu. Kita bernaung di bawah atap rumah yang jauh lebih kokoh, lebih mewah, dan lebih nyaman daripada yang pernah dimiliki kakek-nenek kita. Namun, ironisnya, mengapa kedamaian batin seolah-olah menjadi barang mewah yang kian mustahil untuk ditemukan? Mengapa meski raga kita nyaman, jiwa kita justru sering kali merasa “gelisah”? Jawabannya terletak pada satu kunci yang mulai lepas dari genggaman kita: Tadzkir bin Niam.

Ini bukan sekadar istilah, melainkan sebuah disiplin hati untuk terus-menerus membangun kesadaran akan limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa kunci ini, hidup manusia akan berubah menjadi labirin kebingungan yang tak berujung. Kita terus berlari mengejar apa yang tidak ada, sampai kita lupa mencicipi apa yang sudah tersedia. Saat kita kehilangan kemampuan untuk mengingat nikmat (Tadzkir bin Niam), mata kita akan mengalami “kebutaan spiritual”. Kita hanya mampu melihat apa yang dimiliki orang lain melalui layar media sosial, lalu membandingkannya dengan kekurangan kita.

Kita memiliki 99 alasan untuk tersenyum. Namun kita memilih menghabiskan seluruh energi kita untuk meratapi satu hal yang belum kita miliki. Inilah yang membuat kita stres: kita terobsesi pada “titik hitam” di atas selembar “kertas putih” yang luas. Kita lupa bahwa napas yang masih mengalir, jantung yang masih berdetak, dan mata yang masih bisa membaca tulisan ini adalah aset triliunan rupiah yang Allah berikan secara cuma-cuma.

Hilangnya Rasa Cukup

Mari kita melakukan perjalanan waktu ke era 80-an atau 90-an. Ingatkah bagaimana suasana di kampung halaman kala itu? Hidup begitu bersahaja. Makan hanyalah soal menyambung nyawa, bukan soal pamer di media sosial. Sering kali, satu butir telur harus digoreng dengan campuran tepung yang banyak agar bisa dibagi rata untuk lima orang kakak-beradik. Nasi putih hangat, sedikit minyak jelantah, dan ulekan bawang putih sudah cukup untuk menutup hari dengan senyuman.

Ajaibnya, saat itu tidak ada istilah “melarat” yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada orang yang merasa hidupnya gagal hanya karena tidak makan mewah. Mengapa? Karena mereka memiliki ilmu merasa cukup. Bandingkan dengan hari ini. Hari ini, seseorang bisa memiliki lima butir telur di piringnya sendiri, namun lisan dan hatinya masih berteriak “kurang”. Kita menderita bukan karena kekurangan rezeki, melainkan karena kehilangan kemampuan untuk menikmati rezeki yang ada. Kita memiliki segalanya, kecuali rasa syukur. Itulah kemiskinan yang sesungguhnyafakir hati yang takkan pernah kenyang meski seluruh emas di bumi menjadi miliknya.

Fokus pada “Sisa”, Bukan pada “Tumpah”

Dalam dunia ilmu jiwa atau psikologi, bersyukur adalah bentuk kecerdasan tertinggi. Bayangkan sebuah perumpamaan sederhana:  memiliki segelas minuman favorit, lalu tanpa sengaja separuhnya tumpah.

  1. Orang yang rugi akan menghabiskan sisa harinya dengan meratapi yang tumpah. Ia marah, ia menyesal, dan ia kehilangan selera. Akhirnya, yang separuh di gelas pun menjadi hambar karena tertutup awan kesedihan.
  1. Orang yang cerdas akan melihat gelasnya dan berkata: “Alhamdulillah, untung Allah masih menyisakan separuh untukku.” Ia meminumnya dengan nikmat dan tetap bahagia.

Dunia ini memang tempatnya “tumpah”. Bisnis bisa rugi, barang bisa rusak, ayam ternak bisa mati. Jika  hanya fokus pada pabrik yang terbakar,  akan gila. Tapi jika  melihat dua pabrik yang masih berdiri,  akan tetap menjadi pemenang. Jangan biarkan apa yang hilang darimu merampas kegembiraan atas apa yang masih kamu miliki.

Belajar dari Luka: Hakikat Syukur di Tengah Penderitaan

Ada sebuah kisah dahsyat dari zaman Tabiin. Seorang hamba Allah diuji dengan penyakit lepra yang parah. Jasadnya hancur, jari-jarinya terputus, luka-luka memenuhi tubuhnya hingga orang-orang tidak nyaman berada di dekatnya. Namun, dari bibirnya yang pecah-pecah, terus mengalir kalimat: “Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

Ketika ditanya, bagaimana mungkin dalam kondisi hancur seperti itu ia masih memuji Allah? Jawaban yang keluar sungguh menggetarkan: “Jasadku boleh rusak, duniaku boleh hilang, tapi aku bersyukur lidahku belum lumpuh untuk berzikir menyebut nama-Nya.” Ini adalah level tertinggi dari ketenangan. Jika seseorang mampu menemukan alasan untuk bersyukur di tengah hancurnya raga, maka apa alasan kita untuk mengeluh? Kita yang matanya masih bisa melihat warna-warni dunia, yang telinganya masih bisa mendengar suara orang-orang tercinta, dan yang kakinya masih bisa melangkah menuju masjid.

Menemukan Keajaiban dalam Hal-Hal Kecil

Kita sering menganggap nikmat itu harus berupa uang atau jabatan. Padahal, Allah menyisipkan nikmat luar biasa dalam setiap detak hidup kita:

  1. Nikmat Lapar: Tanpa rasa lapar, makanan termahal pun tidak akan terasa enak. Lapar adalah “bumbu” alami yang Allah berikan agar kita bisa menikmati rezeki-Nya.
  1. Nikmat Kantuk: Bayangkan jika  tidak bisa tidur. Kekayaan  tidak akan mampu membayar nikmatnya terlelap selama satu jam saja.

Syukur Adalah Perisai Stres

Marilah kita berhenti menjadi orang yang “buta” di tengah cahaya karunia Allah. Berhenti membandingkan hidup kita dengan layar ponsel orang lain. Sebaliknya, mulailah membandingkan hidup kita dengan mereka yang hari ini tidak bisa makan di Sudan, atau mereka yang terbangun di tengah reruntuhan perang.

Jika bersyukur, tidak ada ruang bagi stres untuk masuk. Jika bersyukur, setiap hari adalah hari raya bagi hati. Mari kita lalui hari ini dengan satu kesadaran: “Terima kasih Ya Allah, karena Engkau masih memberiku kesempatan untuk bersyukur.”

Jadilah pribadi yang cerdaspribadi yang lebih memilih menghitung nikmat daripada menghitung luka. Karena pada akhirnya, bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan syukurlah yang membuat kita bahagia.

 

Penulis: Nur Robi Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
5 Jenis Cinta Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ada yang Terlarang!
16 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Cinta merupakan kepemilikan perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata. Sifatnya abstrak dan tak dapat dirasakan oleh... selengkapnya

Urgensi Akhlak dalam Membangun Peradaban Islam: Telaah Nilai-Nilai Nabawi
18 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ketika kita menelusuri sejarah kejayaan Islam, salah satu fondasi utama yang menopang bangunan peradaban itu adalah akhlak. Rasulullah... selengkapnya

Hukum Menukar Uang Baru dengan Selisih Nilai dalam Islam
11 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjelang hari raya, sering kita jumpai praktik penukaran uang baru di tempat-tempat tertentu. Banyak orang menukarkan uang dengan... selengkapnya

Melek Literasi Digital Menuju Santri yang Berdaya Saing
10 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Pesantren, yang sejak dulu menjadi tempat utama... selengkapnya

Mengantisipasi Kenakalan Anak di Era Modern: Mendidik dengan Kasih Sayang dan Ketegasan
30 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mendidik anak menjadi tantangan besar bagi orang tua di zaman sekarang. Tak sedikit orang tua mengalami kesulitan... selengkapnya

Puisi-Puisi Aksa Sagara
20 November 2024

  BANTU AKU   Dibutuhkan seluruh jiwa untuk memahami bahwa labuhan hati adalah mengerti hadir-Mu di setiap langkah hari seperti... selengkapnya

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas
27 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk dunia dan merenung: mengapa di zaman yang serba instan ini, justru kesehatan... selengkapnya

Sering Dilupakan Orang, Buya Yahya Beberkan Hikmah Puasa Ramadan
25 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tak terasa saat ini kita sudah memasuki hampir setengah dari bulan Ramadan. Semoga Allah Swt menerima amalan-amalan... selengkapnya

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Iduladha
16 Juni 2024

  Oleh: Imam Abdullah, B.Sc. MA. Hukum Shalat Ied Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hukum melaksanakan shalat Ied adalah sunnah mu’akkadah, baik... selengkapnya

Dahsyatnya Puasa Arafah, Yakin Masih Mau Melewatkannya?
27 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa... selengkapnya

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: