Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban

Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban

Diposting pada 8 Oktober 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 428 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Selembar kertas tampak sederhana, rapuh, bahkan sering terabaikan. Namun di balik kesederhanaannya, ia adalah saksi bisu perjalanan ilmu, peradaban, dan bahkan iman manusia. Kertas tidak hanya menampung tinta, tetapi juga menyimpan sejarah dan makna yang melintasi zaman. Bagi Islam, kertas tidak bisa dipisahkan dari wahyu, dari pena, dari bacaan, dan dari tugas suci manusia untuk mengikat ilmu agar tidak hilang.

Islam menempatkan pena dan tulisan pada posisi sakral sejak awal. Al-Qur’an menegaskan: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis. (QS. Al-Qalam: 1). Pena di sini bukan sekadar alat, tetapi simbol keterhubungan antara manusia dengan wahyu. Pena adalah perpanjangan tangan manusia untuk menuliskan makna yang melampaui dirinya. Bahkan, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah perintah membaca: “Iqra’ bismirabbikaalladzi khalaq” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). Membaca dan menulis menjadi fondasi seluruh risalah, sehingga pena dan kertas tidak lagi sekadar benda, melainkan bagian dari spiritualitas Islam.

Dalam riwayat, Nabi Idris ‘Alaihissalam dianggap sebagai Nabi pertama yang mengenalkan tulisan. Dari tangannya, manusia belajar menorehkan tanda-tanda untuk mengabadikan ilmu. Nabi Musa ‘Alaihissalam menerima wahyu pada alwah—lembaran batu yang diukir. Nabi Daud menuliskan Zabur dalam bentuk syair yang indah. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam menerima Al-Qur’an secara lisan. Namun para sahabat segera menuliskannya pada pelepah kurma, kulit, dan kemudian kertas. Semua ini menunjukkan bahwa wahyu selalu berhubungan dengan medium: batu, kulit, kertas.

Di sinilah kita melihat perkembangan sejarah: dari batu ke kulit, dari kulit ke perkamen, dari perkamen ke kertas. Perjalanan wahyu selalu beriring dengan medium yang menampungnya. Medium itu boleh berubah, tapi makna ilahinya tetap sama. Namun, kertas bukan hanya sekadar medium, melainkan simbol filosofis. Jika Lauh Mahfuz adalah kitab abadi di sisi Allah yang mencatat segala takdir, maka kertas adalah lauh kecil di dunia manusia. Setiap lembar kertas adalah refleksi mini dari Lauh Mahfuz: ia kosong, menunggu ditulis, dan apa yang tertulis tidak mudah dihapus. Maka, setiap kali seorang santri menulis di atas kertas, sejatinya ia sedang menirukan perbuatan Ilahi—mencatat takdirnya sendiri di alam fana.

Secara historis, kertas dikenal pertama kali di dunia Islam pada abad ke-8, setelah Perang Talas (751 M) di Asia Tengah. Tentara Abbasiyah menangkap pengrajin kertas dari Cina, lalu membawa pengetahuan itu ke Samarkand. Dari sanalah berkembang industri kertas yang kemudian menyebar ke Baghdad, Kairo, Fez, hingga Andalusia.

Baghdad pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Ma’mun menjadi pusat ilmu dengan perpustakaan besar Bayt al-Hikmah. Di sana, ribuan manuskrip diterjemahkan dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Tanpa kertas, mustahil peradaban Islam bisa mengarsipkan begitu banyak karya. Di Cordoba, Spanyol, perpustakaan Khalifah al-Hakam II menyimpan lebih dari 400.000 manuskrip—sebuah angka yang luar biasa di masa ketika Eropa masih tenggelam dalam abad kegelapan.

Kertas menjadi kendaraan ilmu yang melintasi dunia. Ia membawa tafsir Imam Thabari, hadis Imam Bukhari, filsafat Ibnu Sina, kedokteran Ar-Razi, hingga astronomi Al-Biruni. Dari Baghdad ke Damaskus, dari Kairo ke Cordoba, hingga akhirnya ke Paris dan Toledo, kertas Islam menjadi jembatan peradaban.

Jika dilihat dengan kaca mata filsafat, kertas adalah cermin jiwa manusia. Seperti kertas, jiwa manusia awalnya putih dan kosong. Pena adalah amal, tinta adalah niat, dan tulisan adalah sejarah hidup. Sekali tinta menetes, sulit dihapus sepenuhnya. Demikian pula amal: sekali dilakukan, ia tercatat dalam catatan Ilahi.

Kertas tidak memilih isi tulisannya. Ia menerima baik ilmu maupun kebodohan, doa maupun caci maki. Jiwa manusia pun demikian: ia menampung apa saja yang manusia pilih untuk menorehkan di dalamnya. Dengan cara ini, kertas mengajarkan kita tanggung jawab eksistensial—bahwa hidup kita adalah kitab yang sedang ditulis, dan kitalah penulisnya.

Kertas yang kita isi hari ini adalah refleksi kecil dari Lauh Mahfuz. Ia rapuh, bisa terbakar, bisa hancur, tetapi makna di dalamnya melampaui fisiknya. Demikian pula manusia: tubuhnya rapuh, namun amal dan ilmunya bisa abadi. Menulis di atas kertas berarti menulis dalam sejarah, dan pada akhirnya, setiap tulisan adalah persiapan menuju catatan besar di hadapan Allah.

Lebih jauh lagi, kita dapat memandang manusia itu sendiri sebagai kertas berjalan. Tubuhnya adalah lembaran, akalnya adalah pena, dan hidupnya adalah tulisan. Sebagaimana kertas tidak memilih tinta, manusia tidak bisa menghindari takdir, tetapi ia bisa memilih niat dan arah tulisannya. Setiap kata yang keluar dari lisan adalah tinta di atas kertas hidup. Setiap perbuatan adalah kalimat. Setiap niat adalah paragraf. Dan pada akhirnya, setiap manusia akan menyerahkan “kertas kajian hidupnya” kepada Allah. Inilah filsafat kertas dalam Islam: bahwa hidup bukan sekadar untuk dijalani, tetapi untuk ditulis dengan kesadaran, agar kelak terbaca indah di hadapan Sang Pencipta.

Dengan kesadaran ini, menulis kertas kajian tidak lagi sekadar tugas akademik. Ia adalah ibadah intelektual. Setiap argumen adalah dzikir, setiap catatan adalah doa, setiap paragraf adalah sujud akal. Imam Al-Ghazali pernah berkata: “Ilmu yang tidak ditulis akan hilang, dan tulisan yang tidak diniatkan karena Allah akan sia-sia.” Artinya, setiap coretan pena bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk Allah. Penulis yang menulis di atas kertas sejatinya sedang mendirikan “masjid akal”. Jika masjid fisik adalah tempat sujud tubuh, maka kertas adalah tempat sujud pikiran. Ia menjadi ruang sakral di mana akal tunduk, hati berbicara, dan tangan menuliskan doa. Pada akhirnya, kertas adalah paradoks yang indah. Ia rapuh, tetapi maknanya abadi. Ia murah, tetapi nilainya bisa melampaui emas. Ia kosong, tetapi menunggu untuk diisi dengan ilmu, doa, dan amal.

Dalam Islam, kertas adalah saksi bahwa keabadian tidak terletak pada tubuh, melainkan pada makna yang ditinggalkan. Selembar kertas mungkin rapuh, tetapi ia menyimpan kekuatan yang tak tergantikan. Ia adalah jembatan antara manusia dengan wahyu, antara santri dengan sejarah, antara akal dengan ibadah. Ia mengingatkan kita bahwa keabadian tidak terletak pada tubuh yang fana, tetapi pada makna yang kita tulis dan tinggalkan. Dalam kertas, penulis menulis bukan hanya dengan pena, tetapi juga dengan hatinya. Ia sadar bahwa tulisannya adalah bagian dari sejarah panjang, dari Nabi Idris yang menulis, Nabi Muhammad yang menerima wahyu, ulama yang mengabadikan ilmu, hingga Sunan Gunung Jati yang menitipkan wasiatnya. Semua itu bersambung dalam satu benang merah: cahaya ilmu yang mengalir dari Lauh Mahfuz ke lembar kertas di tangan seorang penulis.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Waspadalah! Ini 5 Tanda Orang Yang Akan Mati Su’ul Khotimah
17 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kita semua tentu berharap agar kelak di akhir hayat kita meninggal dalam keadaan yang baik (khusnul... selengkapnya

Sinergi Dakwah untuk Umat antara Pustaka Al-Bahjah dan Dar Al-Kutub Islamiah
28 September 2021

Sinergi Dakwah untuk Umat antara Pustaka Al-Bahjah dan Dar Al-Kutub Islamiah PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS-Dalam rangka meningkatkan kualitas, mutu, dan memperluas jejaring... selengkapnya

Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren
6 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Liburan telah usai, sudah waktunya para santri kembali ke pondok untuk meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Balik ke pondok... selengkapnya

Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)
22 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Keberhasilan seseorang dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah, atau mencapai tujuan tergantung tindakan atau keputusannya sendiri. Namun, banyak orang... selengkapnya

Mengerikan! Saling Mencintai di Dunia Namun Bermusuhan di Akhirat
7 Juli 2023

Pustaka Al-Bahajah, Cirebon – Tahukan sahabat bahwa saat ini banyak sekali orang yang saling mencintai di dunia namun ternyata bermusuhan... selengkapnya

Peduli Palestina, LAZ Al-Bahjah Salurkan Infak Kemanusiaan Tahap II Rp1,7 M Melalui BAZNAS RI
24 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Bahjah menyalurkan infak kemanusiaan untuk Palestina tahap II sebesar Rp1.746.285.736 melalui Badan Amil... selengkapnya

Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa?
22 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya

Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)
27 Januari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sesekali, kita secara tidak sengaja bisa melihat layar handphone orang lain yang tergeletak atau layar smartphone-nya yang... selengkapnya

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga: Pandangan Bijak Hubungan Suami-Istri dan Peran Mertua
8 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan rumah tangga, sering kali terjadi dinamika yang melibatkan hubungan antara suami, istri, dan mertua. Salah... selengkapnya

Pesan Perdamaian untuk Pemilu 2024
15 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Indonesia akan menghadapi pemilihan umum (pemilu) pada tahun 2024 mendatang. Pemilu sendiri merupakan sarana bagi rakyat... selengkapnya

Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: