● online
Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memahami ilmu rumah tangga merupakan kebutuhan setiap orang, baik bagi yang sudah menikah maupun belum. Termasuk mengetahui sebab-sebab terjadinya KDRT. Namun, sebelum memahaminya, kita perlu mengawali diri dengan satu keyakinan, bahwa pasangan atau calon pasangan kita adalah makhluk terbaik yang diciptakan oleh yang Maha Agung, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana telah disampaikan Allah dalam firman-Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤ ( التين/95: 4)
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin/95:4)
Pasangan Kita Adalah Ciptaan Allah yang Agung
Ayat tersebut menjelaskan posisi manusia yang sangat spesial. Begitu gamblang Allah menyebutkannya, bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Pada ayat yang lain Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dari ruh-Nya.
فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ ٧٢ ( ص/38: 72)
“Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.” (QS. Sad/38:72)
Begitu firman-Nya dalam Al-Qur’an. Lalu manusia juga ditempatkan pada tempat yang paling agung, yaitu surga sebelum akhirnya Nabi Adam n dan Siti Hawa dikeluarkan dari tempat tersebut. Namun demikian, mereka juga dikeluarkan kepada tempat yang juga agung, yaitu ke bumi. Mereka (baca: manusia) ditempatkan ke bumi untuk menjadi pemimpin, khalifatullah. Hal itu tiada lain karena mereka adalah makhluk yang mulia. Bukan gelar yang rendah, tetapi merupakan amanah agung, yaitu manusia ditunjuk sebagai perwakilan Allah di muka bumi.
Amanah Besar Pernikahan
Nabi Adam n dan Siti Hawa sebagai makhluk ciptaan Allah yang sebaik-baiknya itu kemudian beranak pinak meneruskan keturunannya. Keturunan itu pada awal mulanya lahir dari rahim suci seorang ibu. Rahim tersebut merupakan manifestasi dari salah satu sifat utama Allah yang senantiasa kita ucapkan setiap saat, yaitu Arrahim, Maha Penyayang. Di tempat tersebut seorang ibu mengandung selama sembilan bulan dengan cucuran keringat dan air mata. Kemudian melahirkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan─melibatkan darah dan juga nyawa. Tidak sampai di situ, anak itu selanjutnya disusui dengan air susu yang suci dan murni yang dikaruniakan oleh Allah melalui ibu-ibu mereka. Teruslah mereka beranjak dewasa dengan bimbingan pendidikan, kasih sayang, dan cinta yang tiada tara. Barulah ketika sudah dewasa, ia diserahkan secara sukarela kepada seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Menerima amanat dari orang tuanya melalui perjanjian agung, yakni pernikahan. Allah pun mengatakan dalam Al-Qur’an, bahwa pernikahan tidak hanya perjanjian kepada orang tua sang pasangan, tetapi sebagai perjanjian langsung antara dirinya─suami atau istri─dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perjanjian tersebutlah mengejawantah ke dalam pelbagai hal. Menjadi kewajiban bagi kita untuk mencintai, mengasihi, menyayangi, menjaga, dan memperlakukan pasangan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri, sebagaimana orang tuanya memperlakukan anak-anaknya itu, dan sebagaimana Allah memuliakan ciptaan-Nya. Ya, kita dipilih olleh Allah untuk menjadi pelindungnya. Mari kita resapi dengan mendalam amanat yang terkandung dalam surat Al-Qur’an berikut:
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا ٣٤ ( النساۤء/4: 34)
“Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz) berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa’/4:34)
Setiap Kita Adalah Pelindung bagi Pasangannya
Kita─bukan hanya kaum laki-laki─adalah pelindung bagi pasangan kita. Tatkala pasangan kita kepanasan dari teriknya matahari maka jadilah peneduh baginya. Tatkala pasangan kita kedinginan maka jadilah penghangat baginya. Benar-benar menjadi sosok yang menjaganya dari berbagai situasi dan kondisi.
Pernikahan adalah misi yang dibawa oleh para Nabi dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam sehingga menjadi ibadah sunnah yang agung pula bagi umat Islam. Maka jika tidak menjaga pasangannya dengan baik, tidak menyayanginya dengan sepenuh hati, apalagi sampai memperlakukannya dengan buruk, maka betapalah kejinya pasangan yang seperti itu. Sungguh tak habis pikir jika ada seseorang yang berani membuat pasangannya menderita, entah itu secara fisik maupun batin. Jika demikian, betapa besar dan pedihnya pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.
Ketika berani menyakiti pasangan, bukan hanya telah berdusta kepada orang tua yang telah membesarkannya. Akan tetapi juga secara sengaja dan sadar berkhianat kepada Allah dan Nabi Muhammad sekaligus. Menyesatkan diri dari jalan mulia Baginda Nabi dan memalingkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pasangan adalah orang yang mestinya berani memikul nafkah sesuai syariat, harga diri, dan kehormatan agar ia menjadi mulia dan sempurna bersama-sama. Bukan untuk saling menyakiti dan mengkhianati.
Penulis: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT
PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Bulan Rabi’ul Awal selalu menjadi momentum spesial untuk kembali mengenang perjuangan Rasulullah, memperingati hari kelahiran manusia terbaik yang pernah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Iduladha bukan sekadar hari raya, tapi sebuah perjalanan hati menuju pengorbanan sejati. Di balik setiap tetes keringat dan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Islam, dosa zina adalah termasuk dosa besar yang mana pelakunya sangat hina dan dihinakan oleh Allah... selengkapnya
Asa Para Ketua Divisi Media Atas Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah Peristiwa bersejarah yang sangat indah dan tidak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Al-Bahjah Cabang Cirebon 1 menggelar Rapat Kerja (Raker) 2025 pada tanggal 1–2 Rabiul Akhir 1447 H/ 23–24 September... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Takwa merupakan inti dari perintah Allah Swt kepada hamba-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ‘yang paling... selengkapnya
Tuhanku, Adakah Rencana Lain? Tuhanku, adakah ini kisah yang Kau tulis di langit? Saat langkah lain melesat, aku diam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sungguh merugi orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa tidak hanya melakukan puasa secara... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kepergian orang tua untuk selama-lamanya tentu selalu meninggalkan kesedihan dan duka yang mendalam. Penyesalan seringkali... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan sering kali disebut sebagai ibadah terpanjang dalam hidup. Mengandung makna bahwa pernikahan dilakukan dari mulai akad sampai... selengkapnya
Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000
Saat ini belum tersedia komentar.