Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT

Diposting pada 14 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 250 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memahami ilmu rumah tangga merupakan kebutuhan setiap orang, baik bagi yang sudah menikah maupun belum. Termasuk mengetahui sebab-sebab terjadinya KDRT. Namun, sebelum memahaminya, kita perlu mengawali diri dengan satu keyakinan, bahwa pasangan atau calon pasangan kita adalah makhluk terbaik yang diciptakan oleh yang Maha Agung, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana telah disampaikan Allah dalam firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤ ( التين/95: 4)

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin/95:4)

Pasangan Kita Adalah Ciptaan Allah yang Agung

Ayat tersebut menjelaskan posisi manusia yang sangat spesial. Begitu gamblang Allah menyebutkannya, bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Pada ayat yang lain Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dari ruh-Nya.

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ ٧٢ ( ص/38: 72)

“Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.” (QS. Sad/38:72)

Begitu firman-Nya dalam Al-Qur’an. Lalu manusia juga ditempatkan pada tempat yang paling agung, yaitu surga sebelum akhirnya Nabi Adam n dan Siti Hawa dikeluarkan dari tempat tersebut. Namun demikian, mereka juga dikeluarkan kepada tempat yang juga agung, yaitu ke bumi. Mereka (baca: manusia) ditempatkan ke bumi untuk menjadi pemimpin, khalifatullah. Hal itu tiada lain karena mereka adalah makhluk yang mulia. Bukan gelar yang rendah, tetapi merupakan amanah agung, yaitu manusia ditunjuk sebagai perwakilan Allah di muka bumi.

Amanah Besar Pernikahan

Nabi Adam n dan Siti Hawa sebagai makhluk ciptaan Allah yang sebaik-baiknya itu kemudian beranak pinak meneruskan keturunannya. Keturunan itu pada awal mulanya lahir dari rahim suci seorang ibu. Rahim tersebut merupakan manifestasi dari salah satu sifat utama Allah yang senantiasa kita ucapkan setiap saat, yaitu Arrahim, Maha Penyayang. Di tempat tersebut seorang ibu mengandung selama sembilan bulan dengan cucuran keringat dan air mata. Kemudian melahirkan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan─melibatkan darah dan juga nyawa. Tidak sampai di situ, anak itu selanjutnya disusui dengan air susu yang suci dan murni yang dikaruniakan oleh Allah melalui ibu-ibu mereka. Teruslah mereka beranjak dewasa dengan bimbingan pendidikan, kasih sayang, dan cinta yang tiada tara. Barulah ketika sudah dewasa, ia diserahkan secara sukarela kepada seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Menerima amanat dari orang tuanya melalui perjanjian agung, yakni pernikahan. Allah pun mengatakan dalam Al-Qur’an, bahwa pernikahan tidak hanya perjanjian kepada orang tua sang pasangan, tetapi sebagai perjanjian langsung antara dirinya─suami atau istri─dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perjanjian tersebutlah mengejawantah ke dalam pelbagai hal. Menjadi kewajiban bagi kita untuk mencintai, mengasihi, menyayangi, menjaga, dan memperlakukan pasangan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri, sebagaimana orang tuanya memperlakukan anak-anaknya itu, dan sebagaimana Allah memuliakan ciptaan-Nya. Ya, kita dipilih olleh Allah untuk menjadi pelindungnya. Mari kita resapi dengan mendalam amanat yang terkandung dalam surat Al-Qur’an berikut:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا ٣٤ ( النساۤء/4: 34)

“Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz) berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa’/4:34)

Setiap Kita Adalah Pelindung bagi Pasangannya

Kita─bukan hanya kaum laki-laki─adalah pelindung bagi pasangan kita. Tatkala pasangan kita kepanasan dari teriknya matahari maka jadilah peneduh baginya. Tatkala pasangan kita kedinginan maka jadilah penghangat baginya. Benar-benar menjadi sosok yang menjaganya dari berbagai situasi dan kondisi.

Pernikahan adalah misi yang dibawa oleh para Nabi dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam sehingga menjadi ibadah sunnah yang agung pula bagi umat Islam. Maka jika tidak menjaga pasangannya dengan baik, tidak menyayanginya dengan sepenuh hati, apalagi sampai memperlakukannya dengan buruk, maka betapalah kejinya pasangan yang seperti itu. Sungguh tak habis pikir jika ada seseorang yang berani membuat pasangannya menderita, entah itu secara fisik maupun batin. Jika demikian, betapa besar dan pedihnya pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.

Ketika berani menyakiti pasangan, bukan hanya telah berdusta kepada orang tua yang telah membesarkannya. Akan tetapi juga secara sengaja dan sadar berkhianat kepada Allah dan Nabi Muhammad sekaligus. Menyesatkan diri dari jalan mulia Baginda Nabi dan memalingkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pasangan adalah orang yang mestinya berani memikul nafkah sesuai syariat, harga diri, dan kehormatan agar ia menjadi mulia dan sempurna bersama-sama. Bukan untuk saling menyakiti dan mengkhianati.

 

Penulis: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Menjadi Pemuda Produktif ala Ashabul Kahfi
23 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Masa muda idealnya diisi dengan segala macam produktivitas. Namun, godaan dapat membawa masa muda menjadi sia-sia.... selengkapnya

Halal Bihalal Santri Formal Al-Bahjah Pusat
19 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-15 Syawal 1446 H/Senin 14 April 2025 M – Liburan santri formal Al-Bahjah Pusat telah usai. Para santri... selengkapnya

Sudah 79 Tahun Merdeka, Perjuangan Belum Selesai!
17 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada negeri dan bangsa ini sehingga saat... selengkapnya

Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?
30 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan... selengkapnya

Seruan Kemanusiaan untuk Palestina
21 Oktober 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sejak 7 Oktober 2023, perang Palestina-Israel kian memanas. Hingga Jum’at  (27/10), serangan Israel terhadap Palestina telah... selengkapnya

Hukum Shalat dengan Mata Terpejam
26 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Khusyuk adalah ruh dari shalat. Ia bukan sekadar posisi tubuh atau ekspresi wajah, tetapi keadaan hati yang fokus,... selengkapnya

Menulis Itu Mudah?
17 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering kali mendengar dari sebagian orang bahwa menulis itu mudah. Hanya menggoreskan tinta di atas kertas, mengetikannya... selengkapnya

Keutamaan dan Kesunnahan dalam Berbuka Puasa di Bulan Suci Ramadhan
8 April 2022

Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Ketika sedang berpuasa, khususnya di bulan suci Ramadhan, hal yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam adalah waktu... selengkapnya

Jangan Seperti Ayam yang Mati di Lumbung Padi
25 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lingkungan yang baik dan nyaman merupakan tempat yang diidamkan oleh setiap orang. Apalagi di tempat tersebut sambil melakukan... selengkapnya

Metode Pendidikan Terbaik Itu Ada pada Nabi Muhammad Saw
16 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejatinya umat Islam telah memiliki suri teladan yang harus diikuti. Ketika kita mengikutinya dalam hal apa pun,... selengkapnya

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: