Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Pondok Pesantren: dari Cikal Bakal hingga Menjadi Benteng Peradaban

Pondok Pesantren: dari Cikal Bakal hingga Menjadi Benteng Peradaban

Diposting pada 14 November 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 375 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren adalah lembaga pendidikan yang menaungi para santri untuk belajar agama secara langsung kepada Kyainya. Dalam agama Islam sangat diperhatikan betul tentang istilah “sanad keilmuan”. Seseorang yang belajar agama, tidak serta merta belajar dengan internet, ataupun buku-buku agama tanpa adanya bimbingan dari seorang guru. Maka dari itu ketiga komponen ini tidak akan bisa terlepas dari dunia kepesantrenan. Yang pertama adalah guru, santri, dan pondok pesantren.

Asal muasal pondok pesantren dipelopori oleh Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Pada abad ke 15 hingga 16 Masehi, Islam mulai berkembang pesat di Jawa melalui dakwah Wali Songo. Pada masa inilah muncul sistem pendidikan Islam yang disebut pesantren. Santri adalah murid-murid yang belajar agama Islam kepada para wali, mereka belajar di surau, langgar, atau pondok yang dibangun di sekitar tempat tinggal para wali. Para wali menjadi guru (Kiai) yang mengajarkan Al-Qur’an, aqidah, fiqih, tasawuf, dan akhlak.

Para Wali Songo meniru sistem pendidikan ini dari Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Karena Nabi Muhammad pada saat itu mengajarkan agama Islam kepada para sahabat di serambi Masjid Nabawi di Madinah. Para sahabat ini belajar kepada Rasulullah sekaligus tinggal di serambi Masjid Nabawi dikarenakan para sahabat tidak memiliki tempat tinggal, pekerjaan, anak ataupun istri. Untuk menampung mereka, Rasulullah membangun tempat khusus di Masjid Nabawi yaitu Shuffah. Sahabat yang tinggal di sana dinamakan Ahlus Shuffah.

Kehidupan mereka sangatlah sederhana, makan dari sedekah kaum muslimin. Belajar Al-Qur’an, hadits, dan ilmu agama langsung dari Rasulullah. Rasulullah sangat memperhatikan mereka dan sering berbagi makanan kepada mereka. Jumlah sahabat Ahlus Shuffah berkisar 70 hingga 100 orang, kadang lebih, karena banyak yang datang dan pergi.

Salah satu contoh sahabat Ahlus Shuffah yang sangat kita kenali adalah Abu Hurairah, yang namanya selalu tercantum dalam kitab hadits. Karena berkat beliaulah sabda-sabda Nabi terekam dalam benak Abu Hurairah. Dan mendapat gelar perawi hadits terbanyak di kalangan sahabat.

Pada proses pengajaran itu, Nabi Muhammad tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan saja. Namun selaku guru pertama seluruh umat, beliau juga mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Perhatian seorang guru kepada murid-muridnya, bukan hanya sekadar diberi ilmu pengetahuan. Namun segi kebutuhan ekonominya Nabi Muhammad yang menanggung. Itulah guru sejati. Beliaulah sebaik-baiknya contoh bagaimana harusnya menjadi guru. Hal tersebut sudah dipraktikkan oleh Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Indonesia, dan diteruskan hingga saat ini oleh para ulama mendirikan pesantren di Indonesia.

Dari pesantren-pesantren itu tercipta penopang-penopang peradaban. Sebab, di pondok pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, etika, dan kemandirian, yang membentuk karakter santri secara menyeluruh. Banyak tokoh pendiri bangsa dan pahlawan nasional berasal dari kalangan pesantren atau memiliki latar belakang pendidikan Islam yang kuat. Pesantren menanamkan nilai-nilai cinta tanah air dan nasionalisme.

Sistem pendidikan berasrama di pesantren menekankan pada disiplin, kesederhanaan, dan kebersamaan, yang melahirkan individu-individu tangguh dan siap berkontribusi pada masyarakat. Akhirnya, lulusan pesantren (alumni/santri) tersebar di berbagai bidang, mulai dari ulama, pendidik, politisi, pengusaha, hingga aktivis sosial, yang secara aktif berperan dalam pembangunan bangsa di berbagai sektor. Inilah pondok pesantren sebagai benteng peradaban.

 

Penulis: Muhammad Tis Asuh Shobirin

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Pondok Pesantren: dari Cikal Bakal hingga Menjadi Benteng Peradaban

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Musibah dan Ujian sebagai Bentuk Kasih Sayang dari Allah
3 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan, tidak ada manusia yang tidak mendapatkan musibah atau ujian. Baik musibah yang besar maupun kecil.... selengkapnya

Mengupas 3 Tujuan Puasa: Elemen Penting dari Esensi Krusial Ibadah Puasa
5 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ramadan mestinya bukan hanya sekadar tradisi tahunan, bukan pula sebagai ajang kumpul buka puasa bersama semata, melainkan... selengkapnya

Merawat Hati di Tengah-Tengah Gempuran Teknologi Informasi
11 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati memiliki dua pintu utama, yaitu mata dan telinga. Segala informasi yang diterima hati melalui mata dan telinga... selengkapnya

Hukum Berwudhu dalam Keadaan Masih Memakai Kosmetik
5 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan modern, penggunaan kosmetik seperti handbody, pelembap wajah, lipstik, bedak, hingga produk-produk berlabel waterproof sudah menjadi bagian... selengkapnya

Buya Yahya Ungkap Peristiwa Besar di Bulan Rajab
16 Januari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Pada bulan ini, terdapat peristiwa besar, yakni Isra’... selengkapnya

Abu Dzar Al-Ghifari, sang Pelopor Gerakan Hidup Sederhana
20 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Abu Dzar adalah sahabat dekat Rasulullah dan termasuk salah satu orang terawal yang masuk Islam. Ketika ia masuk... selengkapnya

Jangan Main Api dengan Masa Lalu
28 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering kali merasa kehilangan saat harus memutus hubungan dengan seseorang yang dulu pernah dekat, bahkan sangat spesial.... selengkapnya

Benarkah Menjadikan Pakaian Bekas sebagai Lap Bisa Menyempitkan Rezeki?
20 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebagian masyarakat, terdapat anggapan bahwa menggunakan pakaian bekas sebagai kain lap dapat menyempitkan rezeki. Di antaranya menyebutnya... selengkapnya

Sebuah Puisi: Balada Rindu Sang Bilal
12 Mei 2024

  Balada Rindu Sang Bilal (Oleh: Husni A. Mubarak)   Andai datang burung-burung surga padanya Bilal bin Rabah tetap memeras... selengkapnya

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?
1 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia terkadang mengalami depresi berat yang sulit untuk diselesaikan. Reaksi setiap orang dalam menghadapinya berbeda-beda, ada... selengkapnya

Pondok Pesantren: dari Cikal Bakal hingga Menjadi Benteng Peradaban

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: