● online
Masih Relevan Hukuman Fisik di Pesantren?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia yang telah melahirkan banyak ulama, cendekiawan, dan pemimpin bangsa. Selama ratusan tahun, pesantren dikenal dengan budaya disiplin yang kuat. Di sebagian pesantren, hukuman fisik ringan pernah menjadi salah satu instrumen untuk menegakkan tata tertib. Akan tetapi, ketika dunia memasuki era Generasi Alpha, anak-anak yang lahir sejak 2010 dan tumbuh bersama teknologi digital muncul pertanyaan yang layak direnungkan: masihkah hukuman fisik relevan sebagai metode pendidikan Islam?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak cukup didasarkan pada tradisi semata, tetapi harus berpijak pada tujuan pendidikan Islam (maqāṣid at-tarbiyah), perkembangan ilmu pengetahuan, serta teladan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Islam memandang pendidikan sebagai proses membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah dan kelembutan merupakan prinsip utama dalam mendidik. Ketegasan memang diperlukan, tetapi ketegasan tidak identik dengan kekerasan. Seorang pendidik yang bijaksana mampu membedakan antara memberikan konsekuensi yang mendidik dan melampiaskan emosi melalui hukuman fisik. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam juga memberikan teladan yang luar biasa. Dalam hadis riwayat, Aisyah Radhiallau ‘Anha menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah memukul istri maupun pembantunya. Keteladanan beliau menunjukkan bahwa akhlak mulia lebih efektif dalam membentuk karakter daripada kekerasan.
Di sisi lain, pendukung hukuman fisik berpendapat bahwa disiplin tidak mungkin ditegakkan tanpa sanksi yang tegas. Mereka khawatir jika hukuman fisik dihapus, santri menjadi kurang menghormati aturan dan kehilangan rasa tanggung jawab. Kekhawatiran ini dapat dipahami karena disiplin merupakan ruh kehidupan pesantren. Akan tetapi, pada hakikatnya sebuah kedisiplinan tidak dibentuk dari rasa takut terhadap hukuman semata, melainkan kemampuan mengendalikan diri meskipun tidak diawasi oleh guru ataupun senior (orang lain).
Pendidikan yang berhasil bukanlah yang menghasilkan kepatuhan sesaat, melainkan melahirkan kesadaran jangka panjang. Pandangan tersebut didukung berbagai penelitian. Laporan menyebutkan bahwa hukuman fisik meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, perilaku agresif, dan menurunnya kualitas hubungan antara anak dan pendidik. Demikian pula meta-analisis yang dipublikasikan oleh menunjukkan bahwa hukuman fisik tidak terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan disiplin positif dalam membentuk perilaku jangka panjang. Temuan ilmiah tersebut sangat relevan bagi Generasi Alpha. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menuntut komunikasi dua arah, penjelasan logis, dan hubungan emosional yang sehat.
Karakteristik ini bukan berarti mereka lebih lemah dibanding generasi sebelumnya, melainkan memiliki pola belajar yang berbeda. Ketika diperlakukan dengan penghargaan dan diberikan alasan yang masuk akal atas suatu aturan, mereka justru lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai kedisiplinan. Karena itu, pesantren tidak perlu meninggalkan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang tegas. Yang perlu diperbarui adalah metodenya. Hukuman dapat diganti dengan konsekuensi edukatif seperti tugas pelayanan kepada lingkungan pesantren, pembinaan karakter, refleksi tertulis, tambahan hafalan yang proporsional, pendampingan konselor, maupun sistem penghargaan bagi santri yang menunjukkan perubahan positif. Pendekatan ini tetap menjaga wibawa aturan sekaligus menghormati martabat peserta didik.
Prinsip Islam sendiri menegaskan bahwa mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada memperoleh kemaslahatan yang belum pasti. Jika sebuah metode berpotensi menimbulkan trauma, rasa takut, bahkan kebencian terhadap proses belajar, maka sudah saatnya metode tersebut dievaluasi. Evaluasi bukan berarti menolak tradisi, melainkan menghidupkan semangat tajdid (pembaruan) agar nilai-nilai Islam tetap relevan sepanjang zaman.
Pada akhirnya, yang harus dipertahankan bukanlah hukuman fisiknya, melainkan tujuan pendidikannya. Pesantren akan tetap menjadi benteng peradaban Islam apabila mampu memadukan ketegasan dengan kasih sayang, disiplin dengan penghormatan terhadap martabat manusia, serta tradisi dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebab, generasi yang lahir dari rasa hormat akan lebih kokoh daripada generasi yang tumbuh hanya karena rasa takut. Itulah esensi pendidikan Islam yang diwariskan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam membentuk manusia melalui keteladanan, hikmah, dan rahmat bagi seluruh alam.
Penulis: Ainun Mubin Misbah N.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Masih Relevan Hukuman Fisik di Pesantren?
Event Organizer: Mendekorasi dengan Hati “Tanda Bukti” Kecintaan kepada Nabi ﷺ PUSTAKA AL-BAHJAH-SEKILAS INFO MAULID NABI MUHAMMAD-1443 H-Dari beberapa persiapan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masyarakat Indonesia telah melangsungkan Pesta Demokrasi 5 tahun sekali yang digelar pada tanggal 14 Februari 2023. Setelah... selengkapnya
Sebentar lagi kita akan menyambut hari nan fitri, hari penuh keberkahan dan kebahagiaan. Untuk sampai pada hakikat fitri pada hari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika kita asyik menikmati ifthar dengan hidangan berjejer di meja makan, nun jauh di sana saudara kita,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon- Patungan kurban adalah gabungan beberapa orang dalam pengumpulan dana untuk membeli hewan kurban. Umumnya fenomena patungan kurban... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren adalah lembaga pendidikan yang menaungi para santri untuk belajar agama secara langsung kepada Kyainya. Dalam agama Islam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sudah sangat masyhur bagi kita, bahwa Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam adalah manusia teragung dan disebut sebagai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini. Dzahirnya diciptakan dengan istimewa.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering kali mendengar dari sebagian orang bahwa menulis itu mudah. Hanya menggoreskan tinta di atas kertas, mengetikannya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah – Cirebon, Betapa banyak kita temukan titel akademik dimiliki seseorang, tetapi moral mereka tidak mewakili orang-orang berpendidikan. Banyak... selengkapnya
Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSIlmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSCATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 43.000 Rp 59.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000
Saat ini belum tersedia komentar.