● online
Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan mudah kita dapat. Semua itu bisa kita lakukan melalui gadget. Akan tetapi, semakin majunya perkembangan teknologi justru orang-orang berpotensi lebih besar untuk saling membenci.
Teknologi tidak pernah salah, karena ia hanyalah alat untuk membantu aktivitas manusia. Ia bisa digunakan untuk kebaikan, bisa juga untuk keburukan. Artinya, jika kita jumpai pada teknologi atau aplikasi yang isinya bertentangan dengan etika sosial ataupun agama, itu bukan karenanya teknologinya yang salah, tetapi kita yang salah dalam menggunakan teknologi tersebut.
Kita sering kali menjumpai komentar-komentar negatif di media sosial, baik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang memang dibayar untuk itu (buzer), penyebaran berita-berita hoax, konten adu domba yang tak jarang menyerang tokoh-tokoh agama, serta konten-konten yang berisi caci maki atau merendahkan individu maupun kelompok tertentu. Dunia maya terasa bebas tanpa aturan karena siapa pun bisa berekspresi di dalamnya. Akan tetapi terkadang kebablasan dan tidak berakhlak, sehingga menimbulkan perpecahan dan konflik.
Kita pintar, tapi kita kurang bijak dalam menyikapi sesuatu hal di media sosial. Banyak orang yang jago berteknologi tapi lupa dengan etika. Cepat bereaksi terhadap sesuatu, tapi lambat dalam berpikir. Banyak juga dari kita lebih mengejar viral daripada menyebarkan kebenaran. Merasa lebih membutuhkan popularitas daripada integritas. Tanpa sadar kita juga sering merendahkan orang lain melalui media sosial, menertawakan orang yang kulitnya hitam, merendahkan orang dengan wajah yang pas-pasan, mencemooh orang yang berpakaian seadanya, tidak memiliki empati kepada orang yang memiliki kelainan, dan agama menjadi bahan candaan.
Sebenarnya yang kita hadapi saat ini adalah bukan lagi krisis sinyal internet atau teknologi, tapi krisis akhlak. Kita sudah mulai lupa dengan etika yang diajarkan oleh guru-guru di sekolah atau madrasah. Begitu juga dengan nasihat-nasihat orang tua yang selalu mengajarkan kita untuk terus berbuat baik di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Di saat kita kecil selalu diajarkan untuk berbicara dengan sopan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Akan tetapi setelah dewasa kita sudah tidak pernah lagi mengamalkan itu. Kita berbicara dengan begitu bebasnya dan memperlakukan orang lain dengan seenaknya tanpa memikirkan sebab dan akibatnya. Hingga tak jarang memicu adanya konflik karena orang lain merasa tersinggung atau sakit hati dengan ucapan kita, ingatlah bahwa “mulutmu, harimaumu”.
Mengapa hal demikian bisa terjadi? Umumnya karena kurang dibiasakan menerapkan adab sejak kecil. Selain itu lingkungan yang kurang baik juga menjadi pengaruh besar dalam membentuk akhlak seseorang. Sebab, kebiasaan terbentuk dari lingkungan, apabila lingkungannya baik maka ia akan ikut baik, begitu pun sebaliknya. Ditambah lagi dengan konten-konten negatif yang bertebaran di media sosial turut menjadi pemicu pergeseran akhlak pada generasi penerus kita. Kita sering menganggap nilai agama sebagai opsional bukan suatu kaharusan. Padahal agamalah yang menjadi benteng terakhir dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, mari kita sama-sama belajar menerapkan akhlak pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Mulailah dari diri sendiri, menyaring suatu informasi sebelum di-sharing, menjaga lisan dan tulisan baik dalam keadaan marah ataupun senang. Gunakan teknologi dengan bijak untuk hal-hal yang bermanfaat. Ingatlah bahwasannya apa pun yang kita lakukan akan di pertanggungjawabkan termasuk postingan-postingan dan komentar-komentar kita di media sosial.
Teknologi boleh maju, tapi akhlak jangan sampai mundur. Jadilah generasi yang bukan hanya pintar dalam penggunaan teknologi, tapi juga generasi yang mempunyai empati, adab, dan nurani, sehingga setiap tindakan yang kita lakukan terarah bukan hanya ikut-ikutan. Jadilah pribadi yang pintar dalam segala bidang, mudah bergaul dengan siapa saja, tapi tetap menggunakan akhlak dalam berkomunikasi baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.
Penulis: Moh. Minanur Rohman
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Terdapat satu hadis Nabi Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wassalam yang kurang lebih isinya orang beriman itu baik-baik saja keadaannya.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menjelang lebaran, aktivitas penukaran uang lama dengan uang baru menjadi fenomena umum di masyarakat. Banyak orang yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada dua metode paling populer untuk menentukan awal bulan Hijriyah, yakni rukyat dan hisab. Perbedaan metode ini... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saat Hari Raya Iduladha, kita pasti akan teringat tentang kisah keteladanan dari sebuah keluarga yang hidup dalam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tabligh Akbar dalam rangkaian Safari Dakwah Buya Yahya di Aceh, Selasa 20 Jumadil Ula 1444 H/13... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Doa sering dimaknai dengan permohonan atau permintaan dengan penuh harapan dan pujian kepada Tuhan. Dalam agama Islam,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar dan menakjubkan sepanjang sejarah manusia, yaitu perjalanan Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lebaran sering kali menjadi momen yang sangat dinantikan untuk berkumpul bersama keluarga. Pada waktu inilah banyak orang yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati merupakan bagian sensitif dari diri manusia. Melaluinya kita bisa merasakan ketenangan, keindahan, dan kegembiraan hidup. Begitu juga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tidak semua yang telah direncanakan berjalan sesuai keinginan dan harapan. Termasuk dalam hal pernikahan. Pernikahan sebuah momen yang... selengkapnya
Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600
Saat ini belum tersedia komentar.