● online
Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Orang tua yang telah memasuki lanjut usia berbeda dengan orang tua yang masih berusia sekitar 40 tahunan ke bawah. Dari segi fisik dan bahkan psikologis, di antara keduanya memiliki perbedaan yang mencolok. Meski tidak semua lansia memiliki keterbatasan yang lebih banyak dibandingkan usia di bawahnya, usia senja cenderung lebih memerlukan perhatian dalam menjalankan aktivitasnya. Oleh karenanya, berbakti kepada orang tua yang telah lanjut usia merupakan salah satu bentuk pengabdian etis sekaligus bukti spiritual seseorang. Sebab, tugas ini tidak hanya memerlukan ketekunan fisik, tetapi juga ketulusan hati, kestabilan emosi, serta keikhlasan yang berlapis.
Dalam pengalaman banyak orang, ketika orang tuanya menginjak usia senja, mereka harus menyisihkan banyak waktu untuk merawat orang tuanya yang mulai sakit-sakitan. Perasaan lelah, letih, dan terbebani kerap muncul secara manusiawi. Namun, pengalaman tersebut juga menjadi ruang refleksi tentang makna sesungguhnya dari berbakti kepada orang tua serta kedekatannya dengan nilai-nilai ketauhidan dan moralitas yang diajarkan dalam agama. Al-Qur’an memberikan penegasan yang sangat eksplisit mengenai kewajiban menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam Surah al-Isra’, Allah berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada mereka perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Ayat ini menegaskan bahwa pelayanan terhadap orang tua bukan sekadar kewajiban moral, tetapi berakar langsung pada hubungan tauhid: penyembahan kepada Allah dan pemuliaan terhadap orang tua ditempatkan dalam satu rangkaian perintah. Bahkan ekspresi keluhan yang paling ringan sekalipun seperti mengucapkan “ah” diperintahkan untuk dihindari, apalagi keluhan verbal maupun sikap batin yang lebih keras. Larangan ini menjadi titik awal refleksi spiritual bahwa kelelahan fisik tidak boleh berubah menjadi keluh-kesah yang mencederai rasa hormat dan penghargaan terhadap orang tua.
Di sisi lain, agama tidak menafikan kenyataan bahwa manusia memiliki batas fisik. Merasa lelah ketika merawat orang tua merupakan sesuatu yang wajar; yang ditekankan adalah bagaimana menjaga agar kelelahan itu tidak berubah menjadi ketidakikhlasan atau bahkan penolakan terhadap amanah tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Salalallhu ‘Alaihi Wassalam menegaskan tiga kali:
“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.”
Penegasan berganda ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua terutama ibu adalah layanan spiritual yang menjadi sarana pintu pembuka keberkahan hidup. Dalam konteks ini, keikhlasan bukan berarti tidak merasakan letih, tetapi kemampuan mentransformasi kelelahan menjadi persembahan cinta dan rasa syukur atas kesempatan untuk mengabdi.
Kisah Abdullah bin Umar tentang seorang pemuda yang menggendong ibunya saat melaksanakan ibadah haji atau umrah sering dijadikan rujukan etis. Ketika pemuda itu bertanya apakah pengorbanannya sudah mampu membalas jasa ibunya, Abdullah bin Umar menjawab, “Tidak. Apa yang engkau lakukan tidak sebanding dengan satu hembusan napas ibumu ketika melahirkanmu.”
Refleksi moral dari kisah ini sangat mendalam: seluruh bentuk bakti seorang anak, sekalipun dengan usaha fisik yang besar, tidak akan pernah mampu menandingi pengorbanan eksistensial orang tua, khususnya ibu, yang mempertaruhkan nyawanya dalam proses melahirkan. Kesadaran ini bukan untuk membuat anak merasa tidak berdaya, tetapi untuk menanamkan kerendahan hati dan rasa syukur bahwa kesempatan merawat orang tua adalah perpanjangan dari hubungan kasih sayang yang telah berlangsung seumur hidup.
Dari perspektif etis, merawat orang tua menjadi ruang pengujian keikhlasan yang paling nyata. Ketika seseorang menggendong anaknya, yang terlintas adalah harapan dan masa depan; tetapi ketika merawat orang tua yang sakit dan tak berdaya, seseorang justru dihadapkan pada kesadaran tentang kefanaan hidup. Di sinilah godaannya, baik berupa rasa jenuh maupun keluhan batin mudah muncul. Namun, Islam mengajarkan agar anak mengubah perspektif tersebut: bahwa pelayanan kepada orang tua adalah ibadah yang berpahala besar, bahkan menjadi salah satu sebab turunnya ridha Allah. Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung kepada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, pengabdian kepada orang tua bukan semata-mata urusan domestik atau kewajiban keluarga, melainkan ibadah yang memiliki implikasi teologis. Kesadaran ini dapat menjadi sumber ketenangan batin bagi siapa pun yang merawat orang tua dalam kondisi sulit: setiap tetes keringat, setiap malam tanpa tidur, setiap kesabaran, pada hakikatnya adalah amal yang dicatat sebagai bentuk penghambaan.
Pada akhirnya, merawat orang tua yang sakit harus dilihat bukan hanya sebagai beban atau kewajiban moral, tetapi sebagai kesempatan spiritual yang tidak diberikan kepada semua orang. Ketika seseorang diberi kepercayaan untuk merawat ayah atau ibunya menjelang akhir hayat mereka, ia sebenarnya sedang diberi jalan untuk mengumpulkan pahala, memperhalus hati, dan memperbaiki hubungannya dengan Allah. Di tengah kelelahan fisik, terdapat ruang refleksi untuk memahami kembali makna cinta, pengorbanan, dan kesabaran nilai yang membentuk fondasi etika Islam.
Penulis: Nur Robi Ari Saputra
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Benar kata orang, sehat itu mahal harganya. Sehat tak bisa dinilai dengan rupiah. Berapa pun banyaknya kekayaan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan Anda memiliki keinginan untuk menulis tetapi terhambat dengan pengetahuan Anda yang terbatas? Ya, hambatan tersebut salah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mesin cuci merupakan salah satu alat yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat untuk membersihkan pakaian.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang sudah mengikrarkan dirinya beriman secara otomatis akan mudah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ia juga akan secara... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Seorang penulis hendaknya memperhatikan daya baca pembaca sasarannya. Dalam hal ini penulis harus menempatkan diri sebagai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagian dari kita sering kali menunda shalat atau bahkan berani meninggalkan shalat lima waktu. Hal tersebut dapat disebabkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bermula dari titik yang sangat kecil dan personal, yakni harmonika peribadahan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Di sinilah,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika seorang wanita hadir dengan kemuliaan dan kesalehannya, ia membawa keberuntungan besar bagi orang-orang yang berada di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Jika Islam adalah agama yang menekankan ibadah, lalu mengapa wahyu pertamanya bukan perintah shalat, berdoa, atau beriman, melainkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam upaya menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan melanjutkan sinergitasnya, Pondok Pesantren Al-Bahjah Pusat mengukuhkan pengasuh baru. Acara... selengkapnya
CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000
Saat ini belum tersedia komentar.