● online
Jalan Terjal Muslimah Zaman Now

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua kalangan dapat merasakan dampak dari perkembangan zaman, tak terkecuali Muslimah. Tantangan Muslimah dalam menjalankan syariat di era modern ini, dianggap lebih terjal, termasuk tantangan untuk menjaga diri dari perkembangan media sosial. Di satu sisi media sosial dapat menjadi ladang pahal, tetapi paradoksnya, media sosial juga dapat memudahkan seorang Muslimah melakukan kemaksiatan. Banyak style fashion, konten tutorial make up, tutorial hijab, dan dunia kemuslimahan tetapi tidak sesuai dengan syariat Islam. Muslimah yang tidak tahan dengan godaan-godaan itu, akhirnya ikut terbuai mengikuti tren-tren itu. Oleh karena itu, sudah sangat urgent Muslimah era ini meninjau kembali aktivitasnya di media sosial. Menjadi pionir tren Muslimah yang sesuai syariat.
Menormalisasi tren-tren Muslimah yang tidak sesuai syariat bukanlah perkara remeh. Semua pihak harus bahu-membahu dalam memberikan pemahaman yang sesuai syariat. Tidak hanya kewajiban sesama Muslimah, tetapi semua orang dan terutama orang-orang yang memiliki ilmu dan memahami hal tersebut. Semua pihak harus terlibat dengan mudah mengingatkan dan mudah diingatkan.
Selain itu, seorang Muslimah adalah Al-Ummu Madrasatul Ula, yakni madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka dari itu kita Muslimah harus saling menjaga diri agar tidak terbawa arus tren media sosial yang melanggar syariat Islam. Sebab jika tidak dibenahi, hal tersebut akan merusak akhlak (Ghazwul Fikr) dan dapat menghilangkan jati diri seorang Muslimah. Tidak hanya memupuskan identitas seorang Muslimah, Ghazwul Fikr juga dapat diartikan sebagai pemisahan umat Islam dari syariatnya. Hal ini diindikasikan dengan menjauhnya umat Islam dari nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, identitas Muslimah sejati adalah Muslimah yang tetap berpegang kepada syariat.
Hasrat Popularitas
Media sosial telah menjadi medan popularitas bagi penggunanya. Namun segala yang ditampilkan di media sosial memerlukan validasi untuk mengukurnya. Sebab dunia maya memiliki jarak dan perbedaan yang jauh dengan dunia nyata. Termasuk dalam menetapkan standar kecantikan, media sosial sering kali bersifat subjektif sekaligus tidak realistis. Akan tetapi, ironisnya tidak jarang pula para Muslimah merasa minder saat melihat postingan wanita lain yang terlihat cantik, glowing, anggun, dan menawan. Padahal dalam beberapa kejadian, kenyataannya tidaklah demikian. Meskipun demikian, banyak dari Muslimah akhirnya terpancing dan secara sadar ingin tampil seperti apa yang dilihatnya di media sosial. Hal tersebut demi memuaskan rasa keikutsertaan agar menjadi seperti yang dilihatnya. Baik dari segi kecantikannya, fashion, style, dan lain-lainnya.
Perasaan terpantik itu akhirnya terus tumbuh dan tidak cukup hanya melihat satu konten dari satu orang saja. Demi memuaskan rasa keinginannya agar sama menjadi popularitas, akhirnya ia memfollow akun-akun kecantikan yang lainnya. Padahal, seharusnya media sosial menjadi ladang mencari ilmu dengan memfollow akun-akun yang memberikan ilmu pengetahuan, maupun berbagi ilmu dakwah. Seharusnya kita bertanya, “Luar biasa sekali wanita itu bisa berdakwah di media sosial tanpa menampakkan wajahnya.” Bukan malah, “Bagaimana caranya agar aku terlihat cantik dan mendapat followers yang banyak di media sosial seperti yang ia dapatkan.”
Niatkan media sosial dan banyaknya followers untuk berdakwah agar ilmu yang diberikan menyebar luas. Bukan mencari followers hanya untuk kesenangan duniawi. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam QS. Al-Ankabut: 64:
“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui”.
Maka dari itu penggunaan media sosial yang bijak harus diterapkan mulai dari sekarang.
Benteng-Benteng Muslimah
Menilik tantangan yang semakin terjal itu, seorang Muslimah harusnya semakin memperkuat pondasi ilmu agama. Caranya adalah dengan mendatangi kajian-kajian, majelis ilmu, membaca buku islami, dan lain-lain. Dari pondasi agama yang kuat, kedekatan dengan Allah akan semakin terjaga. Tidak meninggalkan ibadah wajib seperti shalat, rajin membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan ibadah sunnah lainnya.
Selain itu, jika kita ingin melakukan kebaikan, kita harus berada di lingkungan yang baik. Jika lingkungan baik itu tidak ada, kita harus menciptakannya dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga. Memulainya dengan memilih teman yang baik yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dan memiliki visi yang sama menuju kebaikan. Melalui lingkungan yang baik ini, minimal kita akan terjaga dan saling menjaga dari keburukan.
Marilah kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika kita memiliki kurikulum dan programnya telah disiapkan sedemikian rupa, niat diperbaiki, insyaallah dengan keistiqamahan kita akan terjaga dari maksiat. Dengan begitu Muslimah akan terjaga dan tidak akan terpengaruh dalam setiap perkembangan zaman.
Penulis: Adinda Putri Rizki Prahadianti
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Jalan Terjal Muslimah Zaman Now
Menebar Jaring-Jaring Dakwah Buku Buya Yahya Menjawab Jilid 1 Kini Tersedia di Gramedia Jabodetabek PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS FLASH-Tim pemasaran Pustaka Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Akal sehat yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk menuntun manusia kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sebagian orang berpikir bahwa musibah yang terjadi merupakan sebuah azab yang diturunkan oleh Allah Suhanallahu wa Ta’ala,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 15 dan surat Al-Hijr ayat 27 diterangkan, bahwa jin merupakan makhluk yang... selengkapnya
“Kelak, mereka yang menjaga jalinan hubungan dengan Nabi Saw akan menyusul masuk surga bersama Nabi Saw,” Prof. Dr. Al-Habib Abdullah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Nabi Muhammad Saw adalah manusia agung dan mulia, sehingga setiap hal yang berkaitan dan berkenaan dengan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara hidup manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Di satu sisi,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Nuzulul Quran merupakan peristiwa turunnya Al-Quran. Buya Yahya menjelaskan bahwa terdapat empat macam Nuzulul Quran, yakni... selengkapnya
Pelaksanaan hari raya Idulfitri di Indonesia identik dengan halal bihalal bersama keluarga besar, tetangga dan orang-orang yang dihormati di lingkungan... selengkapnya
Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000
Saat ini belum tersedia komentar.