Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » (Cerpen) Auman di Balik Semak

(Cerpen) Auman di Balik Semak

Diposting pada 12 Oktober 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 350 kali / Kategori:

PADA suatu hari, Hutan Alamara tidak lagi memantulkan ketenangan yang dulu menjadi jiwanya. Sungai yang pernah berkilau bagai kaca kini beriak dengan keluhan, burung-burung menyanyikan nada gelisah, dan rerumputan merunduk seolah takut akan langkah yang menginjak tanpa belas kasih. Semua keresahan itu tumbuh sejak sang Singa penguasa hutan lebih sibuk menjaga bayangan takhtanya daripada menjaga denyut hidup rakyatnya, “Aku adalah raja, pemilik segalanya,” gumamnya setiap kali menatap cakrawala. Tapi sesungguhnya, dalam sorot matanya ada bayang-bayang takut: takut kehilangan kuasa yang sudah lama ia genggam.

Di belakangnya, burung hantu selalu menunduk, memberi nasihat yang terdengar bijak tapi penuh hitungan.

“Berjanjilah kepada rusa, tapi jangan terlalu banyak. Tunjukkan kekuatanmu pada serigala, tapi jangan sampai kau tampak lemah.” Kalimat yang selalu diucapkan kepada sang Raja. Namun, Sang Raja lebih sering menutup telinga. Ia merasa aumannya sudah cukup membuat semua tunduk. Sementara itu, jauh di dalam hutan, Serigala mulai menggerakkan kelompoknya. Dengan lidah licin, ia mendekati hewan-hewan kecil.

“Kalian lapar, bukan? Rumput mengering, pohon tumbang, dan suara kalian tak pernah didengar. Semua karena singa sibuk menjaga takhtanya.” Kata-kata itu menusuk. Banyak yang mulai mendengar, meski masih diliputi ragu: apakah serigala sungguh peduli, atau hanya ingin menggantikan singa di singgasana?

Di sudut-sudut hutan, Kelinci bersembunyi. Mereka hanyalah rakyat jelata, yang hidupnya tak pernah masuk dalam hitungan besar politik.

“Kami hanya ingin makan tenang,” bisik seekor kelinci kecil. “Siapa pun rajanya, apa gunanya bila perut kami tetap kosong?”

Dari langit, elang terbang berputar dengan kepakan sayap yang gagah. Matanya menajam, menyapu setiap sudut hutan Alamara. Ia bukan penghuni tetap hutan itu, namun kehadirannya selalu menimbulkan getar. Hewan-hewan menengadah penuh waspada setiap kali bayangan sayapnya melintas di atas kepala, seakan tahu bahwa dari mulut elang sering keluar kabar yang bisa mengguncang ketenangan mereka.

 

SUATA sore, Elang menukik rendah mendekati sekumpulan hewan-hewan, suaranya lantang menembus pepohonan, “Aku telah melihat dari kejauhan,” serunya, “di hutan lain, raja-raja perkasa runtuh bukan karena serigala yang menggonggong, bukan pula karena burung hantu yang membisik, melainkan karena mereka tuli terhadap suara yang kecil, suara yang dianggap tak penting.” Hewan-hewan terdiam, mendengarkan dengan hati berdebar. Sebab kata-kata itu bagai kilat yang menyambar kesadaran.

“Elit boleh berseteru,” lanjut elang, “singa boleh mengaum sekeras-kerasnya, serigala boleh melolong sepintar-pintarnya. Namun jika kelinci yang hanya ingin makan rumput dan tidur tenang terus diabaikan, maka hutan ini akan kehilangan akar kekuatannya. Ingatlah, runtuhnya takhta bukan datang dari luar, melainkan dari dalam: dari hati rakyat kecil yang retak.” Setelah itu, elang kembali mengepak sayapnya, meninggalkan keheningan yang sarat makna.

 

HARI besar tiba, kala itu sang raja memanggil semua hewan untuk berkumpul di padang luas. Singa datang dengan langkah berat, serigala dengan senyum licik, burung hantu bersembunyi di bayangan, elang mengawasi dari langit, dan kelinci berdesakan di antara semak.

Pertemuan berubah menjadi medan pertarungan kata. Singa mengaum, serigala melolong, burung hantu berbisik, elang berteriak. Namun suara kelinci tetap tenggelam di antara hiruk-pikuk. Hingga tiba-tiba, seekor kelinci kecil memberanikan diri maju ke tengah lingkaran.

Dengan tubuh gemetar, ia bersuara, “Kalian berebut takhta seakan hutan hanya milik kalian. Padahal, tanpa rumput, tanpa ketenangan, apa arti semua itu? Kami yang kecil ini hanya ingin hidup damai. Apakah itu terlalu sulit?” Keheningan menelan padang. Singa terdiam, serigala menunduk, burung hantu memejamkan mata, elang terkagum dengan keberanian seekor kelinci kecil.

Hari itu tak ada keputusan mutlak, tapi suara kecil itu merambat ke hati banyak hewan. Mereka sadar, hutan bukanlah milik singa, serigala, atau burung hantu, melainkan milik semua yang hidup di dalamnya. Sejak hari itu, Alamara tetap bergolak. Namun, dari balik keresahan, tumbuh benih kesadaran: bahwa suara paling kecil sekalipun mampu mengguncang takhta yang paling besar.

 

Penulis: Sopyan Ade Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

(Cerpen) Auman di Balik Semak

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Jangan Tunda Kesuksesan, Mulailah Kebaikan Sekarang Juga!
12 Desember 2023

Hakikat Kesuksesan Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap orang menginginkan kesuksesan dalam kehidupannya. Hal itu merupakan bagian dari fitrah manusia. Adapun kesuksesan ini... selengkapnya

Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan
13 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Ramadan merupakan bulan penuh keistimewaan bagi umat Islam di pelbagai belahan penjuru bumi karena setiap amalan ibadah... selengkapnya

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?
8 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak... selengkapnya

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT
14 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memahami ilmu rumah tangga merupakan kebutuhan setiap orang, baik bagi yang sudah menikah maupun belum. Termasuk mengetahui sebab-sebab... selengkapnya

Momentum Kemerdekaan Indonesia ke-80, Yayasan Al-Bahjah Ajak Orang Tua Siapkan Rumah Kedua untuk Anak
22 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Masih dalam semangat memperingati 80 tahun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Al-Bahjah mengajak orang tua untuk menjadikan pendidikan... selengkapnya

Dari Kuningan Menuju Yaman
17 November 2021

Dari Kuningan Menuju Yaman PUSTAKA AL-BAHJAH-INSPIRASI- Ijaz Ahmad Jawahirulhaq, seorang santri STAIBA (Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah) angkatan pertama, berbagi... selengkapnya

Shalat di Kendaraan Saat Bepergian, Emang Bisa?
26 April 2024

Judul Buku      : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet Penulis             : Buya Yahya Penerbit           : Pustaka Al-Bahjah... selengkapnya

Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula
5 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa... selengkapnya

Jangan Sampai Keliru! Ini Dia Perbedaan Antara Cinta dan Nafsu
7 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Cinta merupakan fenomena yang lazim dialami oleh setiap manusia. Dan hawa nafsu merupakan sesuatu yang fitrahnya... selengkapnya

Memiliki Anak Perempuan Adalah Anugerah
10 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sebagian orang beranggapan bahwa kedatangan anak laki-laki lebih dinanti dibandingkan anak perempuan. Sebab, anak laki-laki dipercaya lebih... selengkapnya

(Cerpen) Auman di Balik Semak

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: