● online
Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak peran manusia, dan ruang digital menjelma panggung utama kehidupan sosial. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul gejala yang mengkhawatirkan: manusia semakin cemas, mudah marah, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Ironisnya, di tengah kecanggihan yang dijanjikan membawa kemudahan, justru banyak orang merasa kosong secara batin. Pertanyaannya, bisa seperti itu?
Secara filosofis, problem utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada krisis makna. Manusia modern mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu memahami untuk apa ia hidup. Ia sibuk membangun apa dan bagaimana, tetapi lupa bertanya mengapa. Dalam konteks ini, teknologi tidak netral. Ia membentuk cara berpikir, memengaruhi relasi sosial, bahkan menentukan bagaimana manusia memaknai dirinya sendiri. Ketika manusia direduksi menjadi angka, data, dan performa, maka nilai-nilai kemanusiaan perlahan tersingkir.
Fenomena ini sejatinya telah lama diperingatkan oleh para pemikir Muslim klasik. Abu Hamid al-Ghazali mengkritik manusia yang terlalu larut dalam aspek lahiriah hingga melupakan penyucian batin. Baginya, ilmu dan kecakapan yang tidak diiringi kesadaran spiritual hanya akan melahirkan kesombongan baru. Dalam konteks hari ini, teknologi yang tidak dibimbing oleh etika dan tujuan transenden berpotensi menjadikan manusia kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.
Di ruang digital, relasi antarmanusia semakin dangkal. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering menghilangkan kedalaman. Orang saling berinteraksi tanpa benar-benar berjumpa, saling berpendapat tanpa saling mendengar, dan saling menilai tanpa empati. Dari sudut pandang filsafat sosial Islam, kondisi ini berbahaya. Ibn Khaldun menegaskan bahwa peradaban hanya dapat bertahan jika solidaritas sosial (‘ashabiyyah) dijaga. Ketika relasi sosial rapuh dan dipenuhi konflik ego, maka kemunduran peradaban tinggal menunggu waktu.
Lebih jauh, krisis makna ini juga berdampak pada kehidupan beragama. Agama berisiko direduksi menjadi simbol, identitas, atau konten digital, bukan lagi jalan transformasi diri. Ibadah dilakukan, tetapi tidak selalu melahirkan kepekaan sosial. Diskursus keagamaan ramai, tetapi sering miskin kebijaksanaan. Di sinilah relevansi filsafat Islam kembali mengemuka. Al-Farabi memandang bahwa tujuan tertinggi masyarakat adalah kebahagiaan sejati (al-sa‘adah), yaitu kebahagiaan yang lahir dari keselarasan akal, etika, dan tujuan hidup. Tanpa orientasi ini, kemajuan hanya akan menghasilkan kelelahan kolektif.
Opini ini tidak bermaksud menolak teknologi atau kemajuan. Justru sebaliknya, yang dipersoalkan adalah absennya refleksi filosofis dan spiritual dalam mengelola kemajuan tersebut. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ketika alat berubah menjadi penentu nilai, manusia kehilangan kebebasan sejatinya. Di titik inilah agama dan filsafat perlu kembali dihadirkan, bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai kompas moral dan eksistensial.
Akhirnya, isu kecanggihan teknologi harus dibaca bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan. Kita perlu bertanya kembali: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? Peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan? Tanpa pertanyaan filosofis semacam ini, masyarakat akan terus bergerak cepat, tetapi tanpa arah. Dan mungkin, inilah tantangan terbesar zaman kita; bukan kekurangan inovasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-15 Syawal 1446 H/Senin 14 April 2025 M – Liburan santri formal Al-Bahjah Pusat telah usai. Para santri... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua kalangan dapat merasakan dampak dari perkembangan zaman, tak terkecuali Muslimah. Tantangan Muslimah dalam menjalankan syariat di era... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam rangka memaksimalkan penyelenggaraan maulid akbar Nabi Muhammad Saw yang akan diselenggarakan pada Ahad, 6 Rabiul... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tahun Baru Islam 1448 H kembali mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Pada bulan ini terdapat ibadah agung yang disyariatkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Rumah adalah tempat pertama untuk menumbuhkan akhlak, mental, dan kepribadian pada anak. Sebab di rumah anak belajar mencintai,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Haji menurut bahasa haji adalah bermaksud. Adapun menurut istilah fiqih haji adalah bermaksud (dengan sengaja) menuju Baitulharam (Ka’bah)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah kembali membuka kesempatan dan peluang kepada anda untuk berjuang bersama kami dalam menebarkan risalah dakwah Rasulullah Saw. Pustaka... selengkapnya
Kunci Hidup Bahagia Berbicara tentang kehidupan yang damai tidak bisa terlepas dari hati. Semua kedamaian yang kita peroleh ternyata sangat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kegiatan yang melibatkan perlombaan, mulai dari lomba olahraga hingga lomba yang lebih ringan... selengkapnya
Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000
Saat ini belum tersedia komentar.