Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Diposting pada 8 Mei 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 104 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak peran manusia, dan ruang digital menjelma panggung utama kehidupan sosial. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul gejala yang mengkhawatirkan: manusia semakin cemas, mudah marah, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Ironisnya, di tengah kecanggihan yang dijanjikan membawa kemudahan, justru banyak orang merasa kosong secara batin. Pertanyaannya, bisa seperti itu?

Secara filosofis, problem utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada krisis makna. Manusia modern mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu memahami untuk apa ia hidup. Ia sibuk membangun apa dan bagaimana, tetapi lupa bertanya mengapa. Dalam konteks ini, teknologi tidak netral. Ia membentuk cara berpikir, memengaruhi relasi sosial, bahkan menentukan bagaimana manusia memaknai dirinya sendiri. Ketika manusia direduksi menjadi angka, data, dan performa, maka nilai-nilai kemanusiaan perlahan tersingkir.

Fenomena ini sejatinya telah lama diperingatkan oleh para pemikir Muslim klasik. Abu Hamid al-Ghazali mengkritik manusia yang terlalu larut dalam aspek lahiriah hingga melupakan penyucian batin. Baginya, ilmu dan kecakapan yang tidak diiringi kesadaran spiritual hanya akan melahirkan kesombongan baru. Dalam konteks hari ini, teknologi yang tidak dibimbing oleh etika dan tujuan transenden berpotensi menjadikan manusia kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.

Di ruang digital, relasi antarmanusia semakin dangkal. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering menghilangkan kedalaman. Orang saling berinteraksi tanpa benar-benar berjumpa, saling berpendapat tanpa saling mendengar, dan saling menilai tanpa empati. Dari sudut pandang filsafat sosial Islam, kondisi ini berbahaya. Ibn Khaldun menegaskan bahwa peradaban hanya dapat bertahan jika solidaritas sosial (‘ashabiyyah) dijaga. Ketika relasi sosial rapuh dan dipenuhi konflik ego, maka kemunduran peradaban tinggal menunggu waktu.

Lebih jauh, krisis makna ini juga berdampak pada kehidupan beragama. Agama berisiko direduksi menjadi simbol, identitas, atau konten digital, bukan lagi jalan transformasi diri. Ibadah dilakukan, tetapi tidak selalu melahirkan kepekaan sosial. Diskursus keagamaan ramai, tetapi sering miskin kebijaksanaan. Di sinilah relevansi filsafat Islam kembali mengemuka. Al-Farabi memandang bahwa tujuan tertinggi masyarakat adalah kebahagiaan sejati (al-sa‘adah), yaitu kebahagiaan yang lahir dari keselarasan akal, etika, dan tujuan hidup. Tanpa orientasi ini, kemajuan hanya akan menghasilkan kelelahan kolektif.

Opini ini tidak bermaksud menolak teknologi atau kemajuan. Justru sebaliknya, yang dipersoalkan adalah absennya refleksi filosofis dan spiritual dalam mengelola kemajuan tersebut. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ketika alat berubah menjadi penentu nilai, manusia kehilangan kebebasan sejatinya. Di titik inilah agama dan filsafat perlu kembali dihadirkan, bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai kompas moral dan eksistensial.

Akhirnya, isu kecanggihan teknologi harus dibaca bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan. Kita perlu bertanya kembali: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? Peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan? Tanpa pertanyaan filosofis semacam ini, masyarakat akan terus bergerak cepat, tetapi tanpa arah. Dan mungkin, inilah tantangan terbesar zaman kita; bukan kekurangan inovasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban
21 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering mendengar kisah agung disyariatkannya ibadah qurban. Namun tahukan bahwa di balik kisah agung tersebut ada peran... selengkapnya

Tidak Ada Zaman yang Lebih Mudah: Tantangan Setiap Generasi Itu Nyata
15 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya

Hari Arafah: Momentum Koreksi Diri, Panjatan Doa, dan Pengharapan
5 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Definisi dan penamaan Hari Arafah beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan Arafah diambil dari kata i’tiraf yang... selengkapnya

Jangan Seperti Ayam yang Mati di Lumbung Padi
25 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lingkungan yang baik dan nyaman merupakan tempat yang diidamkan oleh setiap orang. Apalagi di tempat tersebut sambil melakukan... selengkapnya

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci KDRT
14 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memahami ilmu rumah tangga merupakan kebutuhan setiap orang, baik bagi yang sudah menikah maupun belum. Termasuk mengetahui sebab-sebab... selengkapnya

Perempuan dan Cinta
27 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pembahasan mengenai perempuan dan cinta tidak bisa dipisahkan, keduanya seperti saudara kembar. Artinya, memiliki kesamaan antara satu... selengkapnya

Islam Melarang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
20 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu masalah sosial yang terus menghantui masyarakat kita. Baru-baru ini,... selengkapnya

Menegur dengan Akhlak
12 Juni 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa ingin segera menegur ketika melihat kesalahan orang lain. Entah kepada anak, pasangan,... selengkapnya

Prioritas yang Harus Didahulukan Seorang Perempuan Setelah Menikah: Suami atau Orang Tua?
9 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sering kali muncul pertanyaan mengenai prioritas kepatuhan seorang istri dalam sebuah rumah tangga; apakah harus mendahulukan suami... selengkapnya

Bijak Berbelanja di Tengah Maraknya Kredit Barang
24 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern seperti sekarang, praktik jual beli dengan sistem kredit sudah menjadi hal yang sangat umum. Seperti... selengkapnya

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: