Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Pesan Mulia Buya Yahya Untuk “Wanita Karir”

Pesan Mulia Buya Yahya Untuk “Wanita Karir”

Diposting pada 4 December 2022 oleh Redaksi / Dilihat: 1.913 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Fenomena wanita karir akhir-akhir ini menjadi hal yang lumrah terjadi di masyarakat. Wanita karir sendiri diistilahkan sebagai seorang perempuan yang sudah berkeluarga atau yang belum berkeluarga yang bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah.

Menurut Buya Yahya, menjadi wanita karir adalah sah-sah saja dan hukumnya boleh. Karena ketika zaman Nabi Saw pun bahkan istri Nabi sendiri yaitu Sayyidah Khadijah adalah seorang wanita karir. Namun yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara menjadi wanita karir tersebut agar tidak melanggar syariat Islam.

Buya menyampaikan bahwa untuk menjadi wanita karir yang sesuai dengan syariat Islam harus memperhatikan lima hal. Yang pertama adalah harus mendapat izin dari sang suami. Kita tentu mengetahui bahwa ridha Allah Swt terletak pada ridhanya suami. Kemudian dalam meminta izin ini pun seorang istri harus dengan cara yang benar, yaitu dengan sopan santun dan kelembutan. Jangan sampai ia meminta izin dengan cara yang kasar dan menyakiti hati suami.

Yang kedua adalah pekerjaan yang hendak ditekuni nya merupakan pekerjaan yang halal. Seorang wanita tidak boleh bekerja pada pekerjaan yang haram dan melanggar syariat.

Syarat yang ketiga ketika seorang istri hendak menjadi wanita karir adalah jenis pekerjaan dan cara bekerja tersebut tidak boleh bertentangan dengan kehormatan dan kemuliaan seorang wanita muslimah. Contohnya adalah pekerjaan yang disana diharuskan menampakan aurat dan sebagainya itu tidak boleh.

Yang keempat adalah pilihan menjadi wanita karir tersebut tidak boleh menjadikan kewajiban yang lain termasuk kewajiban kepada anak seperti mengurus dan mendidik tidak berantakan. Termasuk kewajiban kepada sang suami. Ini menurut Buya yang menjadi tantangan berat bagi seorang perempuan karena ia harus pandai membagi waktu untuk mengurus rumah tangga dan pekerjaan nya di luar. Maka dari itu Buya menyarankan kepada seorang perempuan yang memang suaminya telah bertanggung jawab mencukupi kebutuhan dalam rumah tangganya, hendaknya untuk fokus mengabdi kepada sang suami saja.

“Hendaknya semangat seorang istri ke arah situ, mengabdi kepada suami, dan suami bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri, itulah yang semestinya. Suami cari uang, istri merawat anak di rumah.”

Syarat yang terakhir dan merupakan syarat terpenting adalah pastikan kalau suatu ketika seorang istri sukses dalam artian memiliki penghasilan yang besar maka ia harus semakin tawadhu kepada sang suami. Sebab di zaman sekarang banyak wanita yang telah sukses dalam berkarir, karena ketidak ketawaduannya kemudian muncul rasa sombong sehingga merasa tidak membutuhkan sang suami lagi. Karena timbul rasa ketidakbutuhan tadi, ia dengan mudah menceraikan suaminya. Naudzubillah

Jangan sampai seorang istri yang memilih menjadi wanita karir namun ternyata setelah dia sukses suaranya semakin lantang kepada sang suami, yang pada akhirnya akan menciutkan mental sang suami. Selain tentunya itu adalah bentuk kedurhakaan kepada sang suami yang membawa kepada murkanya Allah Swt.

“Jika ternyata dirimu mempunyai penghasilan lebih besar dari suamimu, maka harus semakin tawadhu. Semakin tawadhu kepada suami ini akan semakin selamat, jangan sombong kepada suami apalagi marah-marah karena biasanya merasa lebih tinggi dari suami dia akan sombong.” Tegas Buya

Menurut Buya, jika memang sang suami penghasilannya lebih kecil dari penghasilan sang istri, maka hendaknya sang istri membesarkan hati sang suami. Buya bahkan sampai mencontohkan bagaimana caranya membesarkan hati sang suami ketika peghasilan sang suami tersebut lebih kecil dari sang istri.

“Bang mohon maaf, gajiku memang lebih banyak dan gajimu lebih sedikit, tapi ketahuilah bang, aku kan milik mu sayang, gajiku juga milikmu.” Gelak tawa jamaah pun memenuhi seisi ruangan ketika mendengar Buya mencontohkan demikian.

Itulah lima syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wanita ketika ingin berkarir, khususnya bagi wanita yang telah berkeluarga. Jangan sampai niat baik seorang istri ingin membantu mencari nafkah bagi keluarga dengan menjadi wanita karir malah menjadikan keretakan dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, serta mendatangkan kemurkaan Allah Swt karena ia tidak memperhatikan rambu-rambu dalam syariat Islam.

Terakhir Buya Berpesan kepada seluruh jamaah khususnya laki-laki untuk menghargai seorang istri ketika seorang istri hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak menjadi wanita karir. Buya menegaskan bahwa seorang istri itu bukanlah budak didalam rumah, tapi seorang istri adalah wanita yang melahirkan anak-anak sang suami, maka jangan pernah membentak dan mengasari istri apalagi sampai melakukan kekerasan

“Jangan bentak dia, ketahuilah lelaki hebat adalah tidak akan memukul istrinya meskipun ia layak dipukul. pokoknya jangan caci dia, jangan bentak da, hidup indah itu harus.” Pungkas Buya

 

Sumber : Tausyiah Buya di Youtube Buya Yahya

Bagikan ke

Pesan Mulia Buya Yahya Untuk “Wanita Karir”

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!
10 December 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejak kecil, kita telah diperingatkan untuk selalu menghabiskan makanan yang kita santap dan tidak menyisakannya barang sebutir... selengkapnya

Abu Dzar Al-Ghifari, sang Pelopor Gerakan Hidup Sederhana
20 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Abu Dzar adalah sahabat dekat Rasulullah dan termasuk salah satu orang terawal yang masuk Islam. Ketika ia masuk... selengkapnya

Bolehkah Bertayamum saat Mendaki Gunung?
26 May 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mendaki gunung merupakan aktivitas luar ruangan yang belakangan ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Pada gunung-gunung tertentu, proses pendakian... selengkapnya

Agar Tidak Merugi di Sepuluh Hari Awal Bulan Haji
20 June 2023

Oleh: Ustadz Maulid Johansyah (Dewan Asatidz LPD Al-Bahjah) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah.... selengkapnya

Pentingnya Memahami Perbedaan
3 May 2024

  Judul Buku   : Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama Penulis           : BuyaYahya Penerbit       ... selengkapnya

Puisi-Puisi Seruni Unie
23 March 2024

Stasiun   Tak ada pelukan Juga cium pipi Tanda perpisahan   Hanya kepal tangan bersentuh Dengan tatap mata luruh :... selengkapnya

Bolehkah Menggabungkan Puasa Rajab dan Qadha Ramadan?
15 January 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini, umat... selengkapnya

Di Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah Buyut, Buya Yahya Ikut Bernyanyi Bersama Sayyid Husein Al-Haddar
28 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Ada pemandangan langka pada acara Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah Buyut Minggu (27/11/2022). Sayyid Husein Haidar... selengkapnya

Menjaga Lingkungan dalam Perspektif Islam: Hifzh Al-Biah dan Hifzh Al-Nafs
10 March 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya menjaga lingkungan (hifzh... selengkapnya

Tingkatkan Kecintaan Kepada Baginda Nabi Saw, LPD Al-Bahjah Gelar Malam Cinta Rasul
1 January 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Lembaga Pengambangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah bekerjasama dengan DKM At-Taqwa Center Kota Cirebon menggelar kegiatan “Malam Cinta... selengkapnya

Pesan Mulia Buya Yahya Untuk “Wanita Karir”

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: