Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Pilih Menikah atau Mencari Ilmu?

Pilih Menikah atau Mencari Ilmu?

Diposting pada 11 Juni 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 1.144 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saat ini, banyak penyimpangan remaja yang disebabkan oleh tontonan anak muda yang semakin liar. Berkomunikasi dengan lawan jenis di media sosial, kini telah menjadi pergaulan yang sudah biasa bagi mereka. Oleh sebab itu, Guru Mulia Buya Yahya menekankan para orang tua di zaman sekarang khususnya, untuk memudahkan pernikahan bagi anaknya yang ingin menikah, terutama bagi yang sudah berani berkomunikasi dengan lawan jenis. Ibarat aliran sungai deras yang menghujam, perlu adanya aliran-aliran agar tidak meluap kebanjiran, tuturnya.

Namun, beberapa orang tua memiliki pandangan dan prinsip yang berbeda-beda, salah satunya lebih memilih anaknya menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. Hal itu tidaklah salah, hanya saja perlu dipikirkan juga, bahwa anaknya memiliki syahwat di samping ia telah pandai berjejaring di media sosialnya yang semakin luas. Oleh sebab itu, agar anak tidak melakukan pergaulan bebas dan tidak melanggar perintah orang tua, perlu adanya bimbingan dari para guru untuk membimbing hawa nafsunya.

Ada ulama yang mengatakan, “Jika nafsumu tidak engkau arahkan pada kebaikan, otomatis ia akan mengarah kepada keburukan. Waktu adalah pedang, jika tidak engkau manfaatkan dengan baik, maka ia akan membunuhmu”. Ada beberapa ulama-ulama kita yang rela menghabiskan waktunya, siang dan malam untuk menuntut ilmu hingga lupa keinginannya untuk menikah. Seperti halnya Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau yang sering kita sebut dengan Imam Nawawi. Beliau secara totalitas menekuni proses belajar mengajar, menulis kitab, menyebarkan ilmu, beribadah, wirid, puasa, dzikir, dan selalu bersabar menghadapi kehidupan yang sederhana, baik dalam hal makanan maupun pakaian. Pakaian beliau hanyalah baju yang kasar, dan surban beliau dari jenis kulit yang berukuran kecil.

Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang lahir tahun 661 H dan wafat tahun 728 H, pada usianya yang ke-67 tahun. Beliau mewariskan banyak karya tulis hingga mencapai 500-an jilid kitab. Sejak kecil, beliau sangat getol mencari ilmu dan bersungguh-sungguh dalam mendapatkan dan meraihnya. Kelezatan apa pun tak mampu memalingkan beliau dari mencari ilmu. Beliau kerap kali lupa makan dan tenggelam dalam kelezatan ilmu. Beliau tidak meminta makanan, kecuali makanan tersebut telah dihidangkan untuk beliau. Beliau tidak menikmati makanan dan minuman di waktu pagi dan sore hari.

Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari menyebutkan dalam kitabnya, mengenai keuntungan dan risiko dalam pernikahan. Keuntungannya adalah memperoleh anak atau keturunan, menyalurkan syahwat, jihad melawan nafsu melalui pelaksanaan kewajiban istri dan keluarga. Adapun risikonya, pertama, berpotensi kesulitan mencari rezeki yang halal karena sudah ada tuntutan dari istri atau pun anak-anaknya. Kedua, ceroboh dan lalai dalam memenuhi hak keluarga. Ketiga, keberadaan istri dan anak-anak membuatnya sibuk hingga lalai menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari memberikan jalan pilihan kepada para pemuda untuk menentukan kapan waktu yang tepat ia melaksanakan pernikahan. Jika memang diharuskan untuk menikah, seorang pemuda haruslah pintar memilih calon terbaik untuk ditanamkan benih generasinya. Sambil memilih calonnya ia menyibukkan belajar agamanya dan sekuat tenaga meninggalkan maksiat dengan mengurangi pergaulan di media sosial.

Oleh sebab itu, dari uraian di atas kita sebagai kaum pemuda dapat mengambil pelajaran untuk memilih menikah dan mencari ilmu haruslah didasarkan pada kemaslahatannya. Jika dengan adanya pernikahan menjadi terhindar dari risiko keburukan, maka dianjurkan untuk menikah. Akan tetapi jika menikah menjadikannya berbuat dzolim, maka lebih baik persiapkan lebih sempurna lagi. Bagi yang manfaat pernikahan dan risikonya berimbang, hendaklah berijtihad dan memilih yang terbaik.

Penulis: Muhammad Tis Asuh Sobirin

Sumber refrensi :

  1. Asy’ari, Hadratussyaikh K.H. Hasyim, 2021, Dhau’ Al-Misbah fi Bayan Ahkam An-Nikah, Jombang, Pustaka Tebu Ireng
  2. Fattah, Syaikh Abdul, 2021, Karena Ilmu Mereka Rela Membujang, Abu Hudzaifah, Solo, Zamzam.

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: ,

Bagikan ke

Pilih Menikah atau Mencari Ilmu?

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Surat Cinta Untukmu Ya Rasulallah
1 Maret 2023

Karya : Ummi Fairuz Ar- Rahbini   Lebih bagus dari mu ya Rasulullah Sungguh mata ini tak pernah melihatnya Lebih... selengkapnya

5 Keutamaan Menunaikan Shalat Tepat Waktu
7 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di tengah segala kesibukan dan dinamika kehidupan, shalat harus tetap menjadi prioritas utama. Dari terbitnya fajar hingga... selengkapnya

Lakukan 4 Hal Ini untuk Menjaga Silaturahmi, Nomor 1 Bisa Dilakukan Tanpa Harus Bertemu
6 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Melalui Nabi Muhammad... selengkapnya

Puisi-Puisi Mochammad Lutfi Azis
11 Agustus 2024

  Asmaraloka   Malam ini aku tuangkan puisi rinduku dalam sepucuk surat Kutitipkan ia kepada angin malam agar senantiasa mengecup... selengkapnya

Doa Tak Kunjung Terkabul, Harus Bagaimana?
30 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sebelumnya, kita telah membahas kisah Nabi Zakariya dan bagaimana rumus agar doa terkabul, jika Anda belum... selengkapnya

Keutamaan Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal, Yakin Masih Mau Melewatkannya?
30 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Syawal merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Buya Yahya... selengkapnya

Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal? Buya Yahya Menjawab
22 Desember 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Perbedaan sudah menjadi identitas masyarakat Indonesia. Ia juga bukan merupakan sesuatu yang buruk dan mesti dijelek-jelekkan.... selengkapnya

Inovasi Dakwah Melalui Gedung Media Al-Bahjah yang Baru Diresmikan
10 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Divisi Media dan Dakwah Al-Bahjah mengadakan tasyakuran gedung media baru yang berdiri megah di kawasan kompleks yayasan... selengkapnya

Pentingnya Pendidikan Agama Sejak Dini
3 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada zaman ini, kita sering kali menyaksikan orang berbuat kejahatan demi meraup keuntungan pribadi. Mereka bisa melakukan perbuatan... selengkapnya

Yang Membuat Kita Masih Bertahan Bukan Karena Kita Kuat, Tapi Karena Allah
20 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita merenung, tentang seberapa jauh perjalanan ini yang akhirnya mampu membawa kita sampai titik sekarang? Tentang berapa... selengkapnya

Pilih Menikah atau Mencari Ilmu?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: