● online
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus
- English Practice "Practice Makes Perfect" Low Begi
- Kitab Bidayatul Wushul 1
- Fiqih Shalat Berjamaah
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan
- Alur "Sebaris Luka yang Berganti Wajah"
- INDAHNYA MEMAHAMI PERBEDAAN PARA ULAMA KARYA BUYA
Peradaban Islam dan Akar Orientalisme

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern kita melihat kejayaan yang dimiliki Barat hampir mencakup semua sektor kehidupan. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa semua itu ternyata bersumber dari peradaban Islam. Ada satu gerakan yang ingin mengeluarkan Barat dari kegelapan. Mereka mempelajari semua hal tentang peradaban Timur dan khazanah Islam untuk mereka adopsi dan eksplorasi. Gerakan itu bernama orientalisme.
Sejarah Munculnya Orientalisme
Dalam bukunya yang berjudul Risalah fi Thariq ila Tsaqafatina, Syekh Mahmoud Syakir menjelaskan bahwa sejatinya gerakan orientalisme erat kaitannya dengan Dark Ages atau abad kegelapan bangsa Eropa setelah runtuhnya Imperium Roma pada tahun 476 Masehi. Jauh sebelum itu Eropa hanyalah suatu daerah dengan penduduk yang tak mengenal agama dan peraturan apa pun. Mereka hidup dalam keterbelakangan. Saat Islam mulai melebarkan sayapnya dengan melakukan penaklukan, orang-orang Nasrani yang tidak sudi berada dalam kepemimpinan Islam bermigrasi ke daerah yang kita kenal saat ini dengan Eropa. Di sana para Rahib Nasrani berupaya melakukan misi penginjilan dan menyebarkan hoax serta fitnah mengenai Islam. Semua dilakukan untuk mempersiapkan pasukan dalam memerangi tentara Islam.
Kebencian mereka terhadap Islam semakin menjadi setelah kalah dalam Perang Salib yang terjadi pada tahun1091-1296 Masehi. Saat mereka mempelajari penyebab ketertinggalannya dari Islam, mereka menyadari bahwa kekuatan terbesar Islam adalah ilmu pengetahuan. Pada fase ini terbentuklah gagasan pemikiran yang menjadi rahim orientalisme. Fase ini ditandai dengan munculnya seorang filsuf Inggris bernama Roger Bacon yang dikenal dengan sebutan Doctor Mirabilis. Ia tekun mempelajari bahasa Arab dan peradaban Islam. Selain itu juga muncul Thomas Aquinas yang digadang-gadang sejajar dengan cendekiawan Islam sekaliber Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina.
Saat Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel pada 1453 Masehi, kebencian mereka terhadap Islam sudah tak terbendung. Karenanya mereka mempersiapkan diri untuk kembali memerangi Islam, hanya saja kali ini tidak dengan senjata tetapi dengan mempersiapkan perangkat keilmuan. Tentu karena kekalahan yang bertubi-tubi di Perang Salib dan penaklukan Konstantinopel membuat mereka yakin bahwa Islam hanya bisa ditaklukan dengan ilmu, bukan dengan persenjataan.
Dalam rangka mewujudkannya, mereka mengirim utusan-utusan superior dalam bahasa Arab dan ilmu Islam untuk menyebar di daerah yang dikuasai Islam. Tujuannya untuk mengumpulkan manuskrip dan buku, berinteraksi dengan elite politik, cendekiawan, dan masyarakat lainnya. Semua itu mereka catat untuk dipelajari dan mengetahui letak kelemahan Islam. Selain itu mereka juga tersebar di setiap penjuru dunia seolah mengamati keadaan, kekayaan, dan politik suatu daerah. Sejak itu gerakan ini dikenal dengan sebutan orientalisme. Gerakan ini sejatinya merupakan senjata utama Eropa, berkat kontribusinya, Eropa bisa melancarkan kolonialisme di berbagai belahan dunia sekaligus dengan misi misionarisme. Tiga hal ini, ialah orientalisme, kolonialisme, dan misionarisme yang mendatangkan Renaisans yaitu masa kebangkitan Eropa.
Pengaruh Orientalisme
Saat Eropa mulai bangkit dan menunjukkan taringnya, dunia Islam belum sepenuhnya terdegradasi. Tepat pada pertengahan abad ke-17 Masehi sampai awal abad ke-19 Hijriyah muncul tokoh reformis yang akan mengembalikan masa keemasan Islam setelah sebelumnya redup oleh pengaruh orientalisme. Tokoh tersebut ialah Al-Baghdadi (1620-1683 M) di Mesir, Al-Jabarti Kabir (1698-1774 M) di Mesir, Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792 M) di Jazirah Arab, Murtado Az-Zabidi (1732-1790) di Mesir, dan As-Syaukani (1760-1834 M) di Yaman.
Berkaitan dengan Al-Jabarti Kabir ia adalah seorang ulama yang tidak hanya pakar dalam ilmu keislaman tapi juga menguasai engineering, kimia, astronomi, mesin, dan ilmu lainnya. Putranya yaitu Al-Jabarti Shagir menceritakan dalam kitab Tarikhnya bahwa para pelajar dari Eropa belajar darinya pelbagai keilmuan. Ketika kembali ke negaranya, mereka menciptakan penemuan baru─seperti kincir. Itu semua adalah buah dari ilmu Al-Jabarti Kabir. Menurut Mahmoud Syakir mereka yang belajar kepada Al-Jabarti adalah para orientalis.
Tidak dipungkiri bahwa percepatan dan penemuan yang ada saat ini sejatinya lahir dari rahim Islam yang dieksplorasi oleh para orientalis sebagaimana cerita Al-Jabarti. Mendengar adanya kontribusi dari kelima tokoh tersebut, para konsultan orientalis mulai mengambil ancang-ancang perlindungan dengan mengirim utusan. Inggris bertugas mengawasi potensi kebangkitan di Arab Saudi yang diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahab itu. Syekh Al-Buthi dalam salah satu ceramahnya menuturkan, usaha Inggris itu cukup berhasil, yakni dengan menanamkan paham Wahabi yang tersebar di sana─buah dari usaha yang dilakukannya.
Adapun Prancis mengawasi kebangkitan di Mesir yang diprakarsai oleh Al-Jabarti Kabir. Mereka khawatir terhadap pergerakan intelektual yang terjadi di Masjid Amr bin Ash dan Masjid Al-Azhar. Puncaknya adalah kedatangan seorang Machiavelli yang bernama Napoleon Bonaparte untuk menjajah Mesir pada 1798 M. Ia melancarkan siasat politik adu domba, mengguncang kehormatan dewan Masyikhah Al-Azhar. Ia juga menakuti masyarakat Mesir dengan memenggal beberapa kepala manusia setiap paginya. Ia menargetkan para pelajar, tentu karena ingin menghancurkan peradaban keilmuan yang dibangun Al-Jabarti. Banyak pelajar ketika itu memilih mengasingkan diri ke pelosok. Lebih dari itu, ia mencuri manuskrip dan buku-buku yang tak terhitung jumlahnya.
Menilik sejarah dan riwayat agung peradaban Islam, maka sudah semestinya kita tidak larut dalam hegemoni Barat. Senantiasa berpijak pada identitas kita yaitu Islam dan ilmu pengetahuan. Sebab, peradaban yang maju sekarang ini sejatinya berawal dari rahim Islam. Maka sudah seharusnya umat menyadari potensi dirinya dengan meningkatkan kualitas diri yang berlandaskan aqidah dan spiritual. Kesadaran dan pemahaman inilah yang urgen untuk diketahui oleh pemuda saat ini.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Referensi: Risalah fii At-Thariq ilaa Tsaqafatina, Karya Mahmoud Muhammad Syakir
Penulis: Gifari Anta Kusuma
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Peradaban Islam dan Akar Orientalisme
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – MOTOGP Mandalika 2022 rampung digelar pada Ahad, 20 Maret 2022 pekan lalu. Dibalik kemeriahannya, banyak hal... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Agama Islam sering kali disebut agama rahmatan lil alamin, agama untuk keselamatan alam semesta. Tak pelak pula, Baginda... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki awal tahun, banyak orang memulai lembaran baru dengan semangat “hijrah” yang menggelora. Tentu, sebagai sesama Muslim, kita... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebanyak 483 calon jamaah Umroh Munajat Kubro memadati ballroom Hotel Grage, Cirebon, dalam kegiatan Manasik Akbar yang berlangsung... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Kontestasi politik di negara Indonesia seakan tidak pernah ada habisnya. Termasuk pada saat-saat akan dilaksanakannya pemilihan umum... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seseorang diibaratkan sebagai rumah yang harus memiliki pondasi dalam hidupnya. Jika rumah tidak memiliki pondasi atau pondasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Make up atau kosmetik sudah menjadi kebutuhan dasar setiap wanita. Fitrah dari seorang wanita yang ingin tampil... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ketika hati lelah, bingung, pikiran penuh, dan langkah terasa goyah, kita berusaha mencari pegangan akan sesuatu yang membuat... selengkapnya
Buya Yahya, pengasuh LPD Al-Bahjah memberikan tausiyah tentang cara yang lebih baik dalam menyantuni anak yatim dan piatu. Menurut Buya... selengkapnya
CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 59.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000
Saat ini belum tersedia komentar.