● online
Apakah Orang Berilmu Pastilah Orang Saleh?; Refleksi Menjelang Bulan Ramadan

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dunia pendidikan sering kali dipandang sebagai jalur yang kering dari sentuhan spiritual. Di ruang-ruang kuliah, ilmu kerap kali hanya berakhir menjadi tumpukan data, statistik, dan teori-teori yang diperdebatkan di atas meja seminar. Akan tetapi, dalam tradisi intelektual Islam, ilmu dan iman adalah satu tubuh layaknya dua sayap yang tidak boleh dipisahkan. Memasuki bulan-bulan mulia seperti Rajab dan Sya’ban, muncul sebuah urgensi untuk meninjau kembali; apakah ilmu yang telah diraih dapat membuahkan kesalehan, atau justru hanya mempertebal dinding ego intelektual?
Ilmu dalam Islam bukan sekadar alat untuk meraih status sosial atau gelar akademik mentereng seperti Sarjana maupun Magister. Ilmu adalah amanah yang memiliki beban moral yang sangat berat. Secara filosofis, ilmu sejati seharusnya mampu mengantarkan pemiliknya pada derajat khasyyah, rasa takut, dan takzim yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang tetapi rasa rendah hatinya semakin terkikis, berarti ada sesuatu yang salah dalam proses epistemologi belajarnya.
Fenomena hari ini menunjukkan banyak orang berilmu yang terjebak dalam budaya “dialektika tanpa arah”. Ilmu digunakan sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan bicara atau untuk menunjukkan dominasi pemikiran di media sosial. Di sinilah letak pentingnya etika menuntut ilmu (adabul ‘alim wal muta’allim). Seorang penuntut ilmu yang saleh akan menyadari bahwa setiap pengetahuan baru yang ia dapatkan adalah setetes air di tengah samudra ilmu Allah yang tak bertepi.
Sering kali, seorang akademisi merasa sudah mencapai puncak kebenaran hanya karena telah mengutip puluhan jurnal atau kitab. Padahal, dalam kacamata filsafat Islam, kebenaran bukan hanya terletak pada validitas data, melainkan pada keberkahan ilmu tersebut dalam membentuk karakter. Bulan Rajab dan Sya’ban ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan audit intelektual: apakah pengetahuan tentang aqidah, syariah, dan akhlak yang dipelajari selama bertahun-tahun telah bertransformasi menjadi sikap hidup yang santun, ataukah hanya menjadi bahan perdebatan yang menguras energi?
Bulan Sya’ban yang akan datang menawarkan momentum bagi para kaum intelektual untuk “menghidupkan” ilmu mereka. Ilmu yang mati adalah ilmu yang hanya tersimpan di kepala tanpa pernah menyentuh relung hati. Salah satu cara menghidupkan ilmu adalah dengan membawanya ke dalam ranah pengabdian. Ilmu agama yang tinggi harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa yang santun dan membumi, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya dinikmati oleh segelintir elite akademis di Menara Gading.
Seorang Muslim yang berpendidikan tinggi memiliki tanggung jawab ganda. Pertama, tanggung jawab untuk terus menjaga kejernihan berpikir dari arus informasi yang menyesatkan. Kedua, tanggung jawab untuk menjaga kesucian hati dari penyakit-penyakit batin seperti ’ujub (bangga diri) dan riya’ (ingin dipuji). Kesalehan intelektual menuntut seseorang untuk berani mengakui keterbatasan akalnya di hadapan wahyu, dan tetap memuliakan guru serta ulama meskipun secara gelar formal mungkin sudah sejajar atau melampaui.
Kita sedang berada di tengah zaman yang penuh dengan kekacauan informasi. Di awal tahun ini, tantangan bagi mereka yang berilmu adalah menjadi kompas moral bagi lingkungan sekitarnya. Filsafat Islam mengajarkan bahwa nalar manusia adalah cahaya yang diberikan Tuhan. Namun cahaya itu hanya akan berfungsi dengan benar jika dibimbing oleh wahyu. Tanpa bimbingan wahyu, nalar bisa menjadi liar dan justru merusak tatanan nilai yang ada.
Refleksi menjelang Ramadhan ini mengajak setiap individu yang telah mengenyam pendidikan tinggi untuk bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah ilmu ini membuat dahi saya lebih lama bersujud?” Jika ilmu hanya membuat seseorang merasa lebih pintar tetapi lebih malas beribadah, berarti ilmu tersebut telah kehilangan ruhnya. Kesalehan intelektual sejati adalah ketika kedalaman pemikiran bertemu dengan ketulusan pengabdian.
Pada akhirnya, perjalanan mencari ilmu adalah perjalanan menuju penghambaan yang lebih sempurna. Gelar akademik, publikasi ilmiah, maupun pengakuan manusia hanyalah aksesoris duniawi yang akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah ilmu yang bermanfaat dan diamalkan dengan penuh keikhlasan.
Mari kita gunakan waktu di bulan Sya’ban ini untuk menata kembali niat dalam belajar dan mengajar. Mari kita jadikan Ramadan yang akan datang sebagai muara dari seluruh ilmu yang kita miliki, tempat nalar dan hati bersatu dalam ketaatan yang utuh kepada Sang Pemilik Ilmu, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga dengan demikian, kita tidak termasuk golongan orang yang bertambah ilmunya, justru bertambah jauh dari rahmat-Nya.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Apakah Orang Berilmu Pastilah Orang Saleh?; Refleksi Menjelang Bulan Ramadan
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Definisi dan penamaan Hari Arafah beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan Arafah diambil dari kata i’tiraf yang... selengkapnya
Pendaftaran Santri Baru Kelas Dewasa Putra/Putri TAFAQQUH AL-BAHJAH Tahun Akademik 1443-1444 H Visi: “Mendahulukan Akhlaq & Mengembangkan Dakwah Rasulallah SAW.”... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita telah berada di bulan mulia yang penuh kebahagiaan, bulan untuk memupuk kasih sayang, yaitu bulan... selengkapnya
Sujud Saat tangis tak lagi bersuara Saat tangan tak lagi mampu menyeka air mata Saat lisan tak lagi dapat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 15 dan surat Al-Hijr ayat 27 diterangkan, bahwa jin merupakan makhluk yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sejak 7 Oktober 2023, perang Palestina-Israel kian memanas. Hingga Jum’at (27/10), serangan Israel terhadap Palestina telah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Rajab sering kali hadir menyapa kita dengan suasana yang tenang namun penuh wibawa. Di tengah deru kehidupan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika kita asyik menikmati ifthar dengan hidangan berjejer di meja makan, nun jauh di sana saudara kita,... selengkapnya
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 H Awal tahun adalah saat untuk merencanakan dan memulai kebaikan dimasa yang akan... selengkapnya
Cahaya matahari masuk ke sela-sela ruang kamarku. Aku menggeliat malas, tubuhku terasa sakit di beberapa bagian. Kejadian semalam seperti mimpi.... selengkapnya
Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000
Saat ini belum tersedia komentar.