● online
Muslimah sebagai Penopang Peradaban

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Peran muslimah dalam sejarah peradaban Islam selalu menempati posisi istimewa. Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai sekadar pelengkap, melainkan sebagai penopang utama peradaban. Sejak masa awal Islam, kita mengenal sosok Khadijah binti Khuwailid yang menopang dakwah Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kekuatan moral, spiritual, dan ekonomi. Kita juga mengenal Aisyah binti Abu Bakar yang menjadi sumber ilmu bagi generasi tabi‘in. Kedua figur ini menegaskan bahwa muslimah tidak bisa direduksi hanya dalam lingkup domestik, tetapi memiliki kontribusi besar bagi umat dan bangsa.
Dalam perspektif filosofis, muslimah menghadirkan keseimbangan antara ibadah individual dan tanggung jawab sosial. Ibadah individual meliputi kewajiban yang melekat seperti shalat, puasa, dan menjaga aurat. Namun, ibadah sosial tidak kalah penting, yakni memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di sinilah muslimah menjadi jembatan antara spiritualitas dan praksis sosial, yang keduanya menyatu dalam satu visi: pengabdian kepada Allah.
Ibadah dalam Islam tidak terbatas pada ritual. Setiap amal yang diniatkan karena Allah bernilai ibadah. Seorang muslimah yang mendidik anaknya dengan penuh kesabaran, bekerja dengan kejujuran, atau menjaga lisan dari ghibah sejatinya sedang beribadah. Buya Yahya dalam salah satu ceramahnya mengingatkan,
“Muslimah harus mengerti bahwa ibadah bukan hanya shalat dan puasa, tetapi juga menjaga hati, menjaga lisan, dan memberi manfaat bagi orang lain.”
Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bagi muslimah tidak boleh dipahami secara sempit. Justru, keluasan perspektif ini menjadikan setiap aspek kehidupan perempuan Muslim bermakna sakral. Filosofi ini penting, sebab dalam kehidupan modern banyak muslimah yang harus berperan ganda: mengelola rumah tangga, mengasuh anak, sekaligus berkontribusi di ruang publik. Semua peran ini, bila disertai niat yang benar, akan menjadi ladang pahala.
Bangsa Indonesia tidak mungkin mencapai kemajuan tanpa peran muslimah. Dari sisi pendidikan, muslimah berperan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari sisi sosial, muslimah turut aktif dalam organisasi, gerakan sosial, bahkan politik, selama tetap menjaga identitas keislaman.
Di era kontemporer, tantangan bagi muslimah justru semakin kompleks. Globalisasi membawa arus budaya yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Media sosial, misalnya, sering memunculkan standar kecantikan yang semu, yang bisa menjerumuskan muslimah pada krisis identitas. Dalam kondisi seperti ini, muslimah dituntut untuk teguh pada prinsipnya, sekaligus cerdas dalam menyaring pengaruh luar.
Dalam kerangka kebangsaan, muslimah berperan ganda: menjaga akhlak keluarga sekaligus memperkokoh moral bangsa. Tidak berlebihan jika dikatakan, kualitas muslimah adalah refleksi dari kualitas bangsa. Semakin berilmu, berakhlak, dan berdaya muslimah, semakin kokoh pula fondasi bangsa ini.
Filsafat Islam menekankan pentingnya keseimbangan (tawazun) dalam hidup. Seorang muslimah tidak boleh hanya berorientasi pada aspek duniawi, tetapi juga harus meneguhkan orientasi ukhrawi. Keseimbangan ini tercermin dalam peran muslimah yang menjaga keluarganya dengan kasih sayang, sekaligus memberi manfaat bagi lingkungannya.
Buya Yahya sering mengingatkan bahwa perempuan harus berhati-hati dengan perannya sebagai penjaga fitrah keluarga.
“Ketika seorang ibu rusak, maka rusaklah generasi. Ketika seorang ibu baik, maka baiklah generasi,” demikian pesan beliau.
Kutipan ini menegaskan bahwa muslimah memegang amanah besar, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi masa depan peradaban.
Sejarah Islam dan kebangsaan Indonesia membuktikan bahwa muslimah selalu hadir sebagai penopang utama peradaban. Dari Khadijah hingga tokoh muslimah masa kini, peran mereka menunjukkan keseimbangan antara ibadah personal dan kontribusi sosial. Filosofi keislaman mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, melainkan merembes ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks bangsa, muslimah bukan hanya pengasuh keluarga, tetapi juga pengasuh peradaban. Identitas muslimah yang teguh, berilmu, dan berakhlak mulia adalah benteng bangsa dari krisis moral. Sebagaimana pesan Buya Yahya, menjaga keluarga berarti menjaga generasi. Dan menjaga generasi berarti menjaga masa depan bangsa.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Muslimah sebagai Penopang Peradaban
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Peradaban manusia berkembang begitu cepat di berbagai bidang, termasuk di bidang teknologi. Salah satu contoh perkembangan teknologi yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren sering dipandang sebagai sarana pendidikan yang hanya membekali santrinya dengan ilmu keagamaan namun tidak menjadikan ia siap... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Memasuki bulan Maulid (Rabi’ul Awwal) tahun 1445 Hijriah ini, persiapan untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Peran muslimah dalam sejarah peradaban Islam selalu menempati posisi istimewa. Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai sekadar pelengkap,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini marak terjadi kasus perundungan, baik di lingkungan Sekolah Dasar hingga ke perguruan tinggi. Data resmi dari... selengkapnya
Al-Quds Seperti bayi yang menangis Butuh kasih sayang Dari orang tuamu Al-Quds Di sana kau merana Meratapi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan... selengkapnya
Pelaksanaan hari raya Idulfitri di Indonesia identik dengan halal bihalal bersama keluarga besar, tetangga dan orang-orang yang dihormati di lingkungan... selengkapnya
Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malaikat-malaikat yang sudah masyhur diketahui ada banyak. Kita sudah tidak asing lagi dengan Malaikat Jibril, Mikail, dan... selengkapnya
Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600
Saat ini belum tersedia komentar.