fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Memutus Rantai Bullying di Lingkungan Pendidikan Indonesia

Memutus Rantai Bullying di Lingkungan Pendidikan Indonesia

Diposting pada 10 Maret 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 120 kali

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dua pekan terakhir ini, publik kembali dihebohkan dengan adanya dua kasus perundungan yang terjadi di lingkungan lembaga pendidikan. Kasus pertama, melibatkan siswa di sekolah swasta internasional dan kasus kedua melibatkan siswa/santri di pondok pesantren. Salah satu korban perundungan dikabarkan dirawat di rumah sakit, sementara satu korban di kasus lainnya meninggal dunia.

Kasus perundungan seperti ini bukan hal baru di dunia pendidikan Indonesia. Setiap waktu, laporan tentang kejadian perundungan di sekolah atau lembaga pendidikan muncul ke permukaan. Dilansir dari detik.com FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) mencatat kasus perundungan di sepanjang tahun 2023 mencapai 30 kasus. Di mana 80% terjadi di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kemendikbudristek dan 20% kasus terjadi di satuan pendidikan di bawah Kementerian Agama.

Dari 30 kasus tersebut, persebaran kasus terjadi di jenjang: SMP/sederajat 50%; SD/sederajat 30%; SMA/sederajat 10%; dan SMK/sederajat 10%. Walau kasus perundungan kerap viral dan menyita perhatian publik, namun upaya pemberantasannya sering kali meninggalkan kesan tidak jelas dan tidak ditangani dengan serius. Ingatan kita masih segar tentang kasus perundungan siswa di salah satu sekolah menengah di Cilacap September 2023 lalu, dan tahun ini kasus perundungan yang melibatkan siswa kembali terjadi.

Perlu dicatat bahwa kasus perundungan sering kali hanya puncak gunung es dari masalah yang lebih dalam. Faktor-faktor seperti tekanan akademik yang tinggi, relasi kuasa yang tidak seimbang, serta kurangnya pemahaman tentang konsekuensi perundungan merupakan bagian dari akar masalah yang perlu diperhatikan secara serius.

Apa yang Terjadi dengan Anak-Anak Usia Sekolah?

Anak-anak usia SD, SMP, SMA pada dasarnya sedang ada dalam tahap perkembangan, baik di ranah kognitif, sosial, maupun emosionalnya. Mereka memiliki rasa penasaran yang tinggi dan senang dengan tantangan/hal-hal baru. Hal ini sesuai dengan pendapat Puspitasari (2014) bahwa di masa-masa ini (11-19 tahun) seorang anak sedang berusaha mencari jati diri, karakter, serta identitas pribadi sebagai seorang remaja yang tak jarang dalam prosesnya kerap melakukan kesalahan.

Oleh karena itulah pendampingan terhadap anak-anak sangat penting untuk dilakukan. Di masa ini anak-anak memiliki energi yang besar, terutama dalam hal pengaktualisasian diri (keinginan untuk diakui atau diperhatikan orang lain). Semua itu wajar dan jika energi tersebut tidak disalurkan ke arah yang tepat (positif) maka dapat dipastikan akan berujung pada tindakan yang bisa merugikan, baik diri sendiri maupun orang lain.

Guru dan Orang Tua adalah Observer

Guru dan orang tua adalah bagian dari orang dewasa yang paling dekat dengan anak-anak. Mereka harus mampu menjalin komunikasi dan memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak mereka. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan guru dan orang tua pada akhirnya bisa mendeteksi indikasi perundungan sedini mungkin untuk kemudian diatasi sesegera mungkin.

Pada dasarnya anak cenderung tidak akan mengaku/melaporkan kasus perundungan yang mereka alami kepada guru atau orang tuanya. Alasan umumnya karena korban telah diintimidasi/diancaman oleh pelaku. Hal inilah yang menunjukkan bahwa pentingnya peran aktif guru dan orang tua dalam membuka saluran komunikasi yang baik dengan anak-anak mereka.

Maka dari itu, efektifkan kembali program konseling di sekolah-sekolah, biasakan mengobrol dengan anak di rumah, dan bila perlu ciptakan juga sistem pelaporan khusus yang berorientasi pada perlindungan korban serta saksi perundungan di sekolah. Komunikasi adalah jalan sederhana namun penting untuk sampai pada solusi terbaik.

Guru dan Orang Tua adalah Fasilitator

Selain memberikan pemahaman bahwa perundungan tidak baik, guru dan orang tua juga harus menyediakan ruang dan mengarahkan anak-anaknya untuk melakukan kegiatan positif. Dengan menghadirkan wadah/ruang ekspresi positif, perhatian dan energi mereka pun akan terfokus pada usaha pengaktualisasian diri secara positif pula.

Bentuk dari kegiatan/ruang ekspresi tersebut bisa saja dengan menghadirkan atau mengoptimalkan kembali kegiatan ekstrakurikuler, organisasi, atau kegiatan perlombaan. Dari ekstrakurikuler anak-anak akan belajar mengenal diri dan memaksimalkan potensi yang ada. Dari organisasi anak-anak akan belajar tentang sistem struktur. Dari perlombaan anak-anak akan belajar tentang kompetisi dan persaingan yang sehat. Semua kegiatan tersebut pada dasarnya sudah banyak dilakukan, hanya saja terkadang kurang maksimal dan kurang bermakna.

Singkat kata dengan kolaborasi antara guru dan orang tua serta memberikan pemahaman dan ruang untuk aktivitas positif, diharapkan kasus perundungan di lingkungan sekolah pun bisa diminimalisir. Dengannya diharapkan pula anak-anak dapat tumbuh serta berkembang secara sehat dan bahagia.

Perundungan di lingkungan sekolah bukanlah masalah yang bisa dianggap remeh. Dengan kerja kolektif antara guru, orang tua, dan masyarakat, kita bisa menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan menyenangkan bagi semua anak-anak. Mari bersama-sama memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak kita, dengarkan mereka, dan berikan mereka ruang untuk tumbuh serta berkembang secara positif.

Kita semua bertanggung jawab untuk melindungi masa depan generasi mendatang dari dampak negatif perundungan.

Penulis: Dede Rudiansah

Bagikan ke

Memutus Rantai Bullying di Lingkungan Pendidikan Indonesia

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Memutus Rantai Bullying di Lingkungan Pendidikan Indonesia

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: