● online
(Cerpen) Di Antara Langit dan Doa

ANGIN pagi di kaki langit timur menyusup ke celah-celah jendela kamarku yang menghadap barat daya. Di ujung horizon, mentari masih malu-malu menampakkan wujudnya, namun kerinduan dalam dadaku telah lebih dulu menyala. Api yang tak kunjung padam sejak pertama kali aku mendengar namanya: Makkah.
Nama yang lebih terasa dari sekadar kata. Ia hadir seperti gema di ruang batin, gaung yang terus memanggil, menyelusup ke sumsum jiwa. Sejak kecil aku mendengar kisah-kisah tentangnya. Tentang Ka’bah yang agung, tentang doa yang terbang bebas di langitnya. Tentang air zamzam yang mengalir dari rahmat, bukan sekadar tanah.
Kutatap tiket elektronik di genggaman, dan bersamaan dengan itu, aku merasa seperti seekor burung yang hendak dilepas dari sangkar sunyi. Terbang, bukan dengan sayap, tapi dengan harap yang utuh. Sementara langit pun tampak lebih biru pagi itu seakan memberi restu.
Di bandara, aku seperti tenggelam dalam lautan manusia yang punya tujuan sama: menuju rumah Tuhan. Tapi di antara wajah-wajah penuh harap itu, aku tetap merasa sendiri-sendiri dalam perenungan, bukan dalam kesepian. Aku teringat satu bait puisi: “Seperti burung mengarungi langit biru, kita terbang, jiwa merdeka meru.” Bukankah itu hakikat perjalanan ini? Melepaskan segala beban dunia, menyisakan ruang bagi makna yang murni?
Pesawat mengudara. Dari jendela, bumi tampak seperti lukisan usang yang perlahan ditinggalkan modernisasi. Di dalam kabin, suara zikir bergema pelan, bersaing lembut dengan deru mesin. Waktu seolah melambat, memberi ruang bagi hati untuk berdialog dengan sunyi. Di situ, aku temukan kedamaian yang tak pernah dijanjikan dunia.
Ketika roda pesawat menyentuh tanah Arab, aku merasa seperti menginjak dimensi lain. Udara di sana kering, namun mengandung aroma yang tak bisa dijelaskan. Campuran pasir, sejarah, dan rahasia.
Bus yang membawa kami menuju kota suci bergerak perlahan melintasi padang pasir yang luas dan sunyi. Di luar jendela, tak ada gedung tinggi, tak ada hutan, hanya gelombang pasir yang sesekali diempas bayangan awan. Namun, justru di kesunyian itu aku merasakan keramaian yang hakiki, keramaian kenangan, doa-doa, dan jiwa-jiwa yang pernah melintas di sini ribuan tahun lalu.
Perjalanan berikutnya mulai tertuju pada petualangan yang semakin mendahagakan jiwa. Aku menatap Ka’bah dalam imaji, belum di mata, tapi sudah begitu nyata di hati. “Tak terhalang gunung, lembah, atau lautan. Hanya ketabahan jiwa dalam perjalanan,” begitu bisik batin, mengingat bait puisi yang pernah kutulis dalam malam penuh rindu.
Di padang kerinduan ini, semua hal terasa bermakna. Bahkan jejak kaki di pasir menjadi bagian dari narasi agung yang menghubungkan tanah dengan langit. Doa-doa dari bibir jamaah lainnya seperti bintang-bintang kecil yang menyala pelan di langit petang.
Makkah. Kota yang tak hanya dilihat, tetapi dirasakan. Ketika pertama kali aku memandang Ka’bah, langkahku terhenti. Air mataku jatuh, bukan karena kesedihan, tapi karena sebuah pertemuan yang telah lama dinanti akhirnya terjadi. Rasanya seperti pulang, tapi bukan ke rumah masa kecil, ini lebih dalam, lebih purba. Seperti pulang ke rahim semesta.
Ka’bah berdiri tegak seperti pusat semesta. Hitam dan agung, seolah memeluk segala kesedihan dan pengharapan umat manusia. Tak ada hiasan mewah di sisinya, tapi justru di sanalah letak kemegahannya: dalam kesederhanaan yang menyerap seluruh kerendahan hati.
Aku thawaf, mengikuti putaran seperti planet mengelilingi matahari. Di situ aku sadar, betapa kecilnya aku dalam skema semesta. Tapi justru di dalam kekerdilan itu, aku merasa dekat dengan-Nya. Di tengah kerumunan yang padat, aku menemukan ruang batinku yang lapang.
“Ya Allah…” bisikku dalam lirih, “…jangan biarkan aku kembali menjadi manusia yang sama.” Namun perjalanan ini bukan hanya tentang ketenangan. Seperti malam yang menyimpan badai di balik sunyinya, begitu pula jiwaku diuji. Pada suatu malam, tubuhku lemah. Panas menyerang seperti api yang datang dari tanah. Dalam kamar hotel sederhana, aku tergeletak, tubuh berkeringat, napas tersengal. Di luar, suara azan Isya terdengar sayup, seolah memanggilku dengan pilu.
Aku merasa takut. Takut tidak bisa menyelesaikan ibadah ini. Tapi di saat seperti itu, aku melihat cahaya. Bukan cahaya dari lampu, tapi kilau keyakinan dalam doa. “Di tengah badai, cahaya terang. Seakan petunjuk, dari Tuhan Yang Maha Esa.”
Aku terbangun keesokan harinya dengan tubuh yang masih lemah, namun jiwa yang lebih kuat. Sebab, aku tahu perjalanan ini bukan tentang tubuh, tetapi tentang jiwa. Dan jiwa yang berserah tak bisa dikalahkan oleh panas atau sakit.
Hari terakhir di Makkah seperti detik terakhir sebelum terbangun dari mimpi indah yang akan segera usai. Aku duduk di pelataran Masjidil Haram, menatap Ka’bah sekali lagi. Tak banyak yang kukatakan. Tak banyak pula yang kupinta. Karena dalam hening itu, aku tahu, Tuhan telah membaca segalanya sebelum lidah mengucap.
Aku teringat bait terakhir puisiku: “Hanya cinta, tulus dan suci, menyatu dalam doa, di bawah langit yang biru.” Ya, di sini aku telah belajar bahwa cinta kepada Tuhan bukan hanya soal doa panjang atau air mata, tetapi tentang kerelaan untuk tunduk, seutuhnya.
Perjalanan pulang tidak lagi terasa sebagai akhir. Justru ini awal dari sesuatu yang baru. Aku kembali dengan tubuh yang sama, tapi dengan hati yang telah ditempa oleh langit Makkah. Setiap langkahku di tanah air terasa berbeda. Lebih ringan, karena telah kutinggalkan beban yang selama ini tak kusadari beratnya.
DI SUDUT rumahku, aku duduk dan menulis. Tentang pasir yang mengajarkanku makna sabar, tentang langit yang memberiku pengertian tentang harap, dan tentang Ka’bah yang membisikkan padaku: “Tidak ada jarak antara dirimu dan Tuhanmu, kecuali yang kau buat sendiri.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali, aku bermimpi terbang. Seperti burung. Tapi kali ini bukan menuju Makkah. Karena Makkah telah kutemukan dalam dada.
Penulis: Husni A. Mubarak
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
(Cerpen) Di Antara Langit dan Doa
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Siapa di antara Sahabat Pustaka yang gemar menulis? Ada informasi menarik dari Pustaka Al-Bahjah Kami membuka kesempatan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seorang mahasiswa muslim menghadapi dilema ketika harus mengunjungi gereja untuk keperluan tugas kuliah. Dalam sebuah kesempatan, ia... selengkapnya
Tandzif, Bukti Cinta Santri Al-Bahjah kepada Pondok PUSTAKA AL-BAHJAH-SERBA-SERBI SANTRI-Tandzif atau dalam bahasa Indonesia berarti bersih-bersih merupakan kegiatan yang rutin... selengkapnya
Mengutamakan Kepatuhan di atas Penghormatan Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Adakalanya orang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Keberhasilan seseorang dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah, atau mencapai tujuan tergantung tindakan atau keputusannya sendiri. Namun, banyak orang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering kali merasa kehilangan saat harus memutus hubungan dengan seseorang yang dulu pernah dekat, bahkan sangat spesial.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Salah satu ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat Islam adalah shalat. Untuk mengerjakan shalat secara sempurna seorang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam bermasyarakat, keharmonisan bertetangga dengan menerapkan kehidupan bersosial sangatlah dibutuhkan. Jika bertetangga tanpa mengutamakan etika yang baik,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan Anda memiliki keinginan untuk menulis tetapi terhambat dengan pengetahuan Anda yang terbatas? Ya, hambatan tersebut salah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Neraka adalah tempat kesengsaraan yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai balasan bagi orang-orang yang berdosa. Penghuni neraka ini... selengkapnya
Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000
Saat ini belum tersedia komentar.