● online
Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Liburan telah usai, sudah waktunya para santri kembali ke pondok untuk meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Balik ke pondok atau disingkat balpon ini menjadi istilah yang populer pada kalangan santri, terutama setelah liburan panjang bulan Ramadan hingga Syawwal.
Sebagian santri menyambut balpon dengan semangat dan antusias karena kerinduan mereka terhadap belajar dan suasana pondok. Meski di dalamnya tidak hanya ada kesenangan tetapi juga terdapat kesusahan, namun bagi santri yang serius dan tulus belajar, setiap kesusahan dan kesenangan itu dijadikan pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Di samping itu, ada sebagian lainnya yang menyambut kembalinya mereka ke pondok ini secara biasa saja. Bahkan ada yang merasa sangat berat untuk kembali ke pondok, sehingga kurangnya ghiroh atau semangat dalam hatinya untuk kembali belajar. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya karena manajemen liburan saat menuntut ilmu yang kurang baik. Liburan memang merupakan waktu yang sangat berharga bagi para santri. Namun setiap santri berbeda-beda dalam memanfaatkan waktu liburan tersebut. Jika digolongkan maka ada dua golongan santri saat berlibur.
Santri yang Beruntung
Santri yang beruntung yaitu santri yang mengisi waktu liburannya dengan hal-hal yang bermanfaat. Mengamalkan ilmu yang telah didapat di pondok pesantren, mulai dari mendawamkan dzikir harian dan amalan-amalan sunnah yang biasa dilakukan di pondok. Seperti bangun malam, shalat Dhuha dan lainnya, berkhidmah kepada orang tua, muroja’ah, atau mengulang pelajaran dan hafalan.
Golongan pertama ini juga melakukan hobi dan hiburan. Akan tetapi mereka menjalankan hobi dan hiburan-hiburan yang tidak melanggar syariat serta dengan memperhatikan waktu. Maka bagi para santri yang menggunakan waktu liburannya dengan demikian, tidak akan merasa berat ketika waktunya kembali ke pondok. Bahkan belajarnya setelah liburan justru akan berjalan lancar. Sebab, materi-materi yang dipelajari sebelumnya terus diulang dan tidak terputus saat liburan.
Santri yang Rugi
Santri yang rugi yaitu santri yang mengisi waktu liburannya dengan hal-hal yang bertolak belakang dari golongan pertama. Mereka justru mengisi waktu liburnya dengan hal-hal yang sia-sia. Seperti bermain gadget atau menonton TV tanpa memperhatikan waktu, berkumpul dengan teman masa kecilnya namun tidak bisa menyaring hal-hal buruk yang ada dalam perkumpulan tersebut sehingga terbawa dalam ketidakbaikannya, melalaikan pelajaran yang sudah dipelajari di pondok pesantren, dan hal-hal yang sia-sia lainnya. Maka bagi santri yang mengisi waktu liburan dengan hal-hal demikian, sudah pasti akan merasa berat ketika harus kembali ke pondok. Sebab mereka merasa semua kebebasan saat berlibur yang tanpa ada pengawasan dari pengurus dan tanpa hukuman, membuat mereka harus kembali menyesuaikan dengan kegiatan pondok. Di samping penyesuaian itu tentu membutuhkan waktu yang terkadang tidak sebentar, sehingga tidak hanya membuang waktu, tetapi juga terasa sangat berat. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam bersabda:
من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”
Ini adalah sebuah pesan dari Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wassalam untuk seluruh umatnya, terutama bagi para santri dan penuntut ilmu di mana pun berada. Hendaknya bagi kita sebagai umat Islam terlebih para santri, agar memperhatikan setiap pekerjaan yang dilakukan dan kalimat yang diucapkan. Jika hal tersebut tidak bermanfaat secara dzahir dan batin serta dunia dan akhirat, maka sebaiknya kita tinggalkan jauh. Ini adalah pesan yang sangat penting, khususnya bagi para santri yang saat ini akan atau sudah kembali ke pondok pesantren, agar senantiasa fokus dalam perjalanannya menuntut ilmu guna membela agama Allah dan mengangkat syi’ar Islam kelak di kemudian hari.
Wallahu A’lam bisshowab
Penulis: Habibullah
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Liburan Usai, Suasana Berbeda: Dua Golongan Santri Saat Kembali ke Pesantren
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Syawal adalah bulan yang identik dengan pernikahan. Banyak diantara umat Islam yang melangsungkan pernikahan pada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Syair atau puisi merupakan untaian kata-kata yang dibuat seseorang dan berisi ungkapan isi hati, pikiran, atau perasaan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini marak terjadi kasus perundungan, baik di lingkungan Sekolah Dasar hingga ke perguruan tinggi. Data resmi dari... selengkapnya
Ketika Allah Cemburu Kepada Ciptaan-Nya Di kesepian malam yang memanggil rindu Langit menunduk menyaksikan kisah manusia yang lupa akan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Haji menurut bahasa haji adalah bermaksud. Adapun menurut istilah fiqih haji adalah bermaksud (dengan sengaja) menuju Baitulharam (Ka’bah)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Definisi dan penamaan Hari Arafah beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan Arafah diambil dari kata i’tiraf yang... selengkapnya
Tuhanku, Adakah Rencana Lain? Tuhanku, adakah ini kisah yang Kau tulis di langit? Saat langkah lain melesat, aku diam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Anak adalah titipan dari Allah Subhanau wa Ta’ala, maka setiap orang tua sejatinya tengah mengemban amanah atas titipan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara kita yang memiliki utang, baik kepada individu maupun lembaga. Latar belakang... selengkapnya
Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000
Saat ini belum tersedia komentar.