Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Diposting pada 7 November 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 386 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas penting, yakni menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah. Di sana ia harus mengajarkan seluk-beluk agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah agar keimanannya semakin kuat. Tidak hanya itu, ia harus mengajak orang-orang lainnya agar ikut juga menganut agama Allah, serta mempersiapkan Kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul. Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal yang Allah karuniakan kepadanya, yaitu  berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur.

Sesampainya di Madinah, jumlah kaum muslimin yang ada di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit Aqabah. Akan tetapi, tidak sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Hal itu tiada lain karena sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati Mush’ab bin Umair. Ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka pun berduyun-duyun masuk Islam.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah, dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalamullah, “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati. Sebab, pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, nyaris celaka. Namun karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya akhirnya dapat teratasi.

Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba ia disergap oleh seseorang bernama Usaid bin Hudhair. Ia merupakan kepala kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan tombaknya. Usaid marah dan murka lantaran menyaksikan Mush’ab karena telah mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu.

Usaid bin Hudhair benar-benar murka, terpancar di mukanya bagaikan api yang sedang berkobar. Selanjutnya, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan berkata, “Apa maksud kalian datang ke kampung kami, apakah hendak membodohi rakyat kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin nyawa kalian melayang!” bentaknya. Namun dengan tenang seperti samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar. Terpancarlah ketulusan hati Mush’ab, bergeraklah lidahnya mengucapkan kalimat halus, “Kenapa Anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Jika Anda menyukainya, tentu Anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai itu,” tawarnya.

Usaid pun menjatuhkan tombaknya ke tanah dan duduk mendengarkan. Kemudian Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, mengalun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Belum selesai Mush’ab dari uraiannya, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu. Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?” Maka gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian Mush’ab berkata, “Hendaklah engkau menyucikan diri, pakaian, dan badannya, serta bersaksi bawa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah Subhanu wa Ta’ala.”

Usaid pun akhirnya menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam itu utusan-Nya. Secepatnya berita itu pun tersiar luas. Keislaman Usaid disusul oleh Sa’ad bin Mu’adz. Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga Kota Madinah saling berdatangan, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Ubadah, dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya!” seru orang-orang.

Begitulah para sahabat Rasulullah yang bersih hatinya menyampaikan dakwah hanya karena Allah semata. Kalimat yang mereka ucapkan bisa membuat seseorang takjub hingga tertarik untuk masuk agama Islam. Semua itu bukan tanpa usaha, tapi karena kedekatan  mereka terhadap Nabi Muhammad Salallahu ‘Aalaihi Wassalam dan selalu mengamalkan apa-apa yang diajarkan oleh Nabi.

Pilihan Rasulullah tidak pernah salah. Beliau memilih Mush’ab bin Umair untuk menjadi utusan karena Rasulullah tahu kemampuan Mush’ab bin Umair untuk mengajak masyarakat Madinah kepada ajaran Rasulullah. Sebagai pendakwah pada zaman sekarang, kita harusnya meniru perjalanan para sahabat bagaimana cara beliau-beliau menyampaikan ajaran Rasulullah. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, “Suatu saat, akan datang manusia yang banyak khatib (penceramah), tetapi sedikit para fuqaha (ulama yang benar-benar memahami agama)”

Sesuai dengan realita saat ini begitu banyak pendakwah tetapi tidak seperti pada zaman Rasulullah. Seorang pendakwah tidak hanya sekadar menyampaikan isi ceramah, tapi harus  mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah, serta mengamalkan apa-apa yang ia ajarkan kepada orang lain. Karena sejatinya orang yang alim bukan dilihat dari kecerdasannya saja. Namun dilihat dari sebanyak apa yang ia amalkan setelah ia mengetahui perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan sedikit usaha kita meniru jejak langkah para sahabat Nabi, semoga kita termasuk di dalam golongannya. Amin.

 

Penulis: Muhammad Tis Asuh Sobirin

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Kenapa Penetapan Awal Ramadan dan Syawal Kerap Berbeda?
11 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada dua metode paling populer untuk menentukan awal bulan Hijriyah, yakni rukyat dan hisab. Perbedaan metode ini... selengkapnya

Mendampingi Anak di Era Digital
15 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era digital seperti sekarang, cara anak belajar telah berubah sangat cepat. Jika dulu sumber ilmu utama berasal... selengkapnya

Agar Hidup Bahagia dan Hati Tak Mudah Terluka
13 Oktober 2023

Kunci Hidup Bahagia Berbicara tentang kehidupan yang damai tidak bisa terlepas dari hati. Semua kedamaian yang kita peroleh ternyata sangat... selengkapnya

Tak Ada Ruang bagi Perundung
18 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini marak terjadi kasus perundungan, baik di lingkungan Sekolah Dasar hingga ke perguruan tinggi. Data resmi dari... selengkapnya

Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur
19 Maret 2021

Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya

Wanita Karier Vs Ibu Rumah Tangga
5 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki dunia pernikahan nyatanya tidak seindah seperti yang dibayangkan. Setiap Muslimah memiliki jalan rumah tangganya masing-masing. Banyak hal... selengkapnya

Kolaborasi dengan Musisi Hijrah, Buya Yahya Rilis Single Nasyid Terbaru ‘Lentera Kasih-Nya’, ini Liriknya
2 Januari 2022

  Pustaka Al-Bahjah–Dakwah merupakan tugas umat Baginda Nabi Saw. Semua orang mempunyai tugas untuk menyebarluaskan dakwah sesuai dengan keahlian serta... selengkapnya

Jatah Daging Qurban Panitia Lebih Banyak, Bagaimana Hukumnya?
26 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Prosesi pemotongan hewan qurban di masyarakat pada umumnya dilakukan oleh panitia qurban. Namun seringkali kita melihat... selengkapnya

Sambut Malam Puncak Harlah ke-13 Al-Bahjah, Perbaharui Semangat Menuju Kejayaan Umat
20 Agustus 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari ini tepat 13 tahun yang lalu pada tanggal 23 Muharram 1431 H, Lembaga Pengembangan Dakwah... selengkapnya

(Teks Khutbah Jumat) Kekuatan Iman dan Cinta
23 Juli 2026

Di antara kesempurnaan pada diri manusia yaitu Allah memberikan anugerah berupa akal dan hati. Dengan akal, manusia mampu berpikir, merenung,... selengkapnya

Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: