● online
Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas penting, yakni menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah. Di sana ia harus mengajarkan seluk-beluk agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah agar keimanannya semakin kuat. Tidak hanya itu, ia harus mengajak orang-orang lainnya agar ikut juga menganut agama Allah, serta mempersiapkan Kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul. Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal yang Allah karuniakan kepadanya, yaitu berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur.
Sesampainya di Madinah, jumlah kaum muslimin yang ada di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit Aqabah. Akan tetapi, tidak sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Hal itu tiada lain karena sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati Mush’ab bin Umair. Ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka pun berduyun-duyun masuk Islam.
Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah, dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalamullah, “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati. Sebab, pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, nyaris celaka. Namun karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya akhirnya dapat teratasi.
Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba ia disergap oleh seseorang bernama Usaid bin Hudhair. Ia merupakan kepala kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan tombaknya. Usaid marah dan murka lantaran menyaksikan Mush’ab karena telah mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu.
Usaid bin Hudhair benar-benar murka, terpancar di mukanya bagaikan api yang sedang berkobar. Selanjutnya, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan berkata, “Apa maksud kalian datang ke kampung kami, apakah hendak membodohi rakyat kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin nyawa kalian melayang!” bentaknya. Namun dengan tenang seperti samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar. Terpancarlah ketulusan hati Mush’ab, bergeraklah lidahnya mengucapkan kalimat halus, “Kenapa Anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Jika Anda menyukainya, tentu Anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai itu,” tawarnya.
Usaid pun menjatuhkan tombaknya ke tanah dan duduk mendengarkan. Kemudian Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, mengalun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Belum selesai Mush’ab dari uraiannya, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu. Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?” Maka gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian Mush’ab berkata, “Hendaklah engkau menyucikan diri, pakaian, dan badannya, serta bersaksi bawa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah Subhanu wa Ta’ala.”
Usaid pun akhirnya menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam itu utusan-Nya. Secepatnya berita itu pun tersiar luas. Keislaman Usaid disusul oleh Sa’ad bin Mu’adz. Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga Kota Madinah saling berdatangan, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Ubadah, dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya!” seru orang-orang.
Begitulah para sahabat Rasulullah yang bersih hatinya menyampaikan dakwah hanya karena Allah semata. Kalimat yang mereka ucapkan bisa membuat seseorang takjub hingga tertarik untuk masuk agama Islam. Semua itu bukan tanpa usaha, tapi karena kedekatan mereka terhadap Nabi Muhammad Salallahu ‘Aalaihi Wassalam dan selalu mengamalkan apa-apa yang diajarkan oleh Nabi.
Pilihan Rasulullah tidak pernah salah. Beliau memilih Mush’ab bin Umair untuk menjadi utusan karena Rasulullah tahu kemampuan Mush’ab bin Umair untuk mengajak masyarakat Madinah kepada ajaran Rasulullah. Sebagai pendakwah pada zaman sekarang, kita harusnya meniru perjalanan para sahabat bagaimana cara beliau-beliau menyampaikan ajaran Rasulullah. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, “Suatu saat, akan datang manusia yang banyak khatib (penceramah), tetapi sedikit para fuqaha (ulama yang benar-benar memahami agama)”
Sesuai dengan realita saat ini begitu banyak pendakwah tetapi tidak seperti pada zaman Rasulullah. Seorang pendakwah tidak hanya sekadar menyampaikan isi ceramah, tapi harus mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah, serta mengamalkan apa-apa yang ia ajarkan kepada orang lain. Karena sejatinya orang yang alim bukan dilihat dari kecerdasannya saja. Namun dilihat dari sebanyak apa yang ia amalkan setelah ia mengetahui perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan sedikit usaha kita meniru jejak langkah para sahabat Nabi, semoga kita termasuk di dalam golongannya. Amin.
Penulis: Muhammad Tis Asuh Sobirin
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi
Pustaka Al-Bahjah – Cirebon, Betapa banyak kita temukan titel akademik dimiliki seseorang, tetapi moral mereka tidak mewakili orang-orang berpendidikan. Banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan sahabat mendengar aturan yang tak tertulis? Aturan tak tertulis adalah aturan yang menjadi kesepakatan sosial dan... selengkapnya
DI SEBUAH sekolah menengah Islam terpadu yang berdiri di pinggiran kota, terdapat sebuah masjid yang bermenara menjulang anggun. Menara itu... selengkapnya
Kesunyian Di menara doa yang tinggi, aku duduk menahan gema hatiku sendiri. Langkah-langkah manusia menjauh, riuh dunia perlahan lenyap, meninggalkanku... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah sekian lama bekerja di sebuah instansi, saya memutuskan resign, kemudian mencoba peruntungan dengan melamar di beberapa lembaga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Seorang penulis hendaknya memperhatikan daya baca pembaca sasarannya. Dalam hal ini penulis harus menempatkan diri sebagai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya kembali hadir di Kota Cimahi dalam kajian rutin Majelis Al-Bahjah Bandung, Rabu 28 Rabiul... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Islam sebagai agama rahmatan lil-‘alamin meletakkan akhlak sebagai fondasi utama peradaban. Akhlak bukan hanya pelengkap ajaran agama, melainkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di tengah gemerlap bulan Ramadan, saat suasana kota terasa penuh kehangatan dan kebersamaan, pemandangan yang lazim terlihat... selengkapnya
Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900
Saat ini belum tersedia komentar.