● online
Apa Itu Najis ‘Ainiyah dan Hukmiyah?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam ilmu fiqih, tata cara bersuci (thaharah) sangat bergantung pada sifat dan wujud najis. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan najis ‘ainiyah dan najis hukmiyah terlebih dahulu sebelum membahas persoalan-persoalan najis yang lebih dalam. Sebab dengan mengetahui perbedaan keduanya, kita dapat mudah menyucikan najis ketika mengenai tempat atau benda-benda di sekitar kita.
Jika ditinjau dari bisa terlihat atau tidak (bukti fisik), maka najis dapat dibagi menjadi dua. Pertama, disebut sebagai najis ‘ainiyah, dan kedua disebut najis hukmiyah. Najis ‘ainiyah adalah najis yang terlihat oleh mata, tercium oleh hidung, atau dirasa oleh lidah. Tiga cara tersebut digunakan untuk mengetahui adanya najis dari sifatnya, yaitu warna, bau, dan rasa. Jika najis bisa dibuktikan keberadaannya dari salah satu sifat tersebut, maka najis tersebut disebut sebagai najis ‘ainiyah.
Berbeda halnya dengan najis ‘aniyah, najis hukmiyah tidak bisa diketahui keberadaannya dari sifat-sifat najis. Karenanya, sesuatu yang masih terkena najis hukmiyah masih dihukumi najis sehingga tidak bisa dibawa ke dalam shalat. Artinya, adanya perbedaan pada jenis najis tersebut menjadi sebab adanya perbedaan dalam menyucikannya. Untuk mengetahui keberadaan najis hukmiyah, mari perhatikan contoh berikut.
Suatu ketika di siang hari kita melihat anak kesayangan kita kencing di teras rumah. Sebelum kita membawanya ke kamar mandi, kita tahu bahwa dia kencing di keramik kelima paling depan di sisi barat. Namun karena kesibukan kita dalam mengurus rumah, kita lupa untuk menyucikan lantai tersebut sehingga air kencing itu mengering dengan sendirinya.
Ketika pekerjaan kita selesai, tiba-tiba kita teringat dengan lantai yang belum disucikan. Namun, saat sampai di teras rumah, kita tidak melihat adanya kencing di keramik kelima tersebut, padahal sebelumnya kita tahu bahwa di sanalah anak kita kencing. Saat kita dekati, keramik kelima itu tidak berbau kencing. Bahkan seandainya dirasa pun tidak terasa pernah terkena kencing. Dikarenakan kencing yang ada di keramik kelima sudah mengering sebelum disucikan, maka keramik yang kelima masih dihukumi najis dan inilah yang disebut najis hukmiyah.
Jadi secara sederhana najis ‘ainiyah adalah najis yang bisa diketahui dari warna, bau, atau rasanya (masih bisa dilihat, dicium, atau dirasa). Sedangkan najis hukmiyah adalah sesuatu yang belum disucikan dari najis ‘ainiyah karena najisnya tidak bisa diketahui keberadaannya, baik dari warna, bau, atau rasanya (tidak bisa dilihat, dicium, atau dirasa).
Karena adanya perbedaan dari dua jenis najis tersebut, maka cara menyucikannya pun berbeda. Najis ‘ainiyah disucikan dengan cara menghilangkan sifat-sifat najis tersebut. Jika lantai terkena kotoran kucing, maka warna, bau, dan rasanya harus dihilangkan. Ketika topi terkena kotoran burung namun hanya ada baunya saja, maka baunya tetap harus dihilangkan.
Berbeda halnya dengan najis hukmiyah. Najis hukmiyah tidak bisa dihilangkan dari tempat yang terkena najis sebab najisnya telah hilang. Seperti pada contoh kencing yang mengering di keramik kelima di atas. Karenanya, menyucikan najis hukmiyah tidak dengan cara menghilangkan sifat najisnya tetapi menjadikan sesuatu yang masih dihukumi najis menjadi suci kembali. Jika kembali pada contoh, maka cara menyucikannya adalah dengan menuangkan air pada keramik kelima sampai air tersebut merata di seluruh bagian keramik. Ketika air sudah merata di semua bagian, maka keramik kelima sudah dihukumi suci. Bahkan air yang sudah digunakan masih dianggap suci namun tidak menyucikan (air mustakmal) layaknya air wudu.
Catatan:
Menjilat najis untuk mengetahui keberadaan najis dari sifatnya tidak perlu diamalkan sebab najis adalah sesuatu yang kotor. Cukup dengan mengetahui dari dua sifatnya, yaitu warna dan bau, kita bisa mengetahui adanya najis tersebut.
Referensi:
Buya Yahya. (2020, 2 Juni). Najis Hukmiyah dan Ainiyah [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=qAuI11mIQaU
Penulis: Fahmi Sidik Marunduri
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Apa Itu Najis ‘Ainiyah dan Hukmiyah?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan ujian dan cobaan. Tidak jarang kita tergelincir dalam kesalahan yang mungkin... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kekerasan terhadap anak merupakan masalah yang sangat serius dan memerlukan perhatian mendalam dari berbagai pihak. Menurut data yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kejujuran bukan sekadar akhlak mulia, tetapi fondasi utama amanah dalam Islam. Salah satu bentuk kejujuran yang sering diremehkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat fardhu merupakan sebuah kewajiban seorang muslim yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, termasuk saat... selengkapnya
Sering kali tanpa disadari kita berjabat tangan, bersalaman, bahkan berinteraksi dengan lawan jenis tanpa mengetahui apakah ia termasuk mahram atau... selengkapnya
Hakikat Warid Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Jika asing dengan istilah warid, Anda mungkin tidak akan asing dengan istilah wirid. Keduanya berasal... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Agama Islam merupakan ajaran yang menjunjung tinggi kedudukan nilai keadilan, kemanusiaan, kemulian, dan kesetaraan. Sejak datangnya Islam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah (STAIBA) merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi dibawah naungan Yayasam Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh kasus perselingkuhan seseorang yang tersebar di media sosial. Orang tersebut membuka... selengkapnya
Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 59.000
Saat ini belum tersedia komentar.