● online
Menyambut Datangnya Ujian

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Seorang yang terampil bermain bola akan senang saat keterampilannya itu diuji. Seorang yang pintar berhitung akan senang saat diberi soal-soal hitungan. Tetapi tidak demikian jika kita mendapatkan ujian atau musibah kehidupan. Sebab kita tidak benar-benar paham. Padahal dengan dan hanya melalui ujian kualitas yang tersembunyi dalam diri kita akan terbukti.
Berbeda halnya dengan orang yang telah belajar dan memahami mengenai makna ujian. Ia akan menyambut baik datangnya ujian-ujian kehidupan. Tanpa adanya ujian, seseorang bisa mengaku paling benar imannya, paling besar cintanya kepada Allah, dan paling layak dijadikan teladan seluruh manusia. Allah berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢ ( العنكبوت/29: 2)
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut/:2)
Ayat tersebut menunjukkan betapa dangkalnya pemikiran mereka yang tidak mengharapkan adanya ujian. Menganggap dirinya yang tidak ditimpa ujian baik-baik saja.
Kunci Jawaban Ujian Kehidupan
Secara umum, hanya ada empat soal yang diujikan di sekolah kehidupan. Dua di antaranya merupakan soal yang harus dijawab dengan sikap lahir, yakni nikmat dan bala. Dua di antaranya merupakan soal yang harus dijawab dengan sikap batin, yakni taat, dan maksiat.
Nikmat adalah istilah yang kita gunakan untuk menyebut ketetapan Allah yang kita senangi. Soal ujian berupa nikmat harus dijawab dengan sikap syukur. Namun bukan pula dilakukan hanya dengan sekadar berterima kasih. Seorang anak yang berterima kasih dari pagi sampai sore atas laptop yang dibelikan ibunya tidak disebut bersyukur jika laptop itu malah menjadikannya lalai dari perintah sang ibu. Bersyukur atas suatu pemberian berarti menggunakan apa yang diberi sesuai kehendak yang memberi. Karena itu, sadarilah bahwa apa yang ada di sisi kita sebenarnya hanyalah pemberian. Seseorang yang sekadar merasa menerima apa yang menjadi haknya tidak akan bersyukur dan berterima kasih. Merasa berhak atas harta yang dimilikinya inilah alasan Qarun menolak memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang yang dikehendaki Allah.
قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ٧٨ ( القصص/28: 78)
“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Orang-orang yang durhaka itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qasas/78)
Dan kita juga hendaknya mempelajari apa yang dikehendaki Allah atas apa pun yang kita terima. Dengan demikian, kamu akan terhindar dari menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang berlawanan dengan kehendak-Nya dan dinyatakan gagal menjawab soal ujian berbentuk nikmat.
Adapun bala adalah istilah yang kita gunakan untuk menyebut ketetapan Allah yang tidak kita senangi. Bagi sebagian orang itu adalah jatuh miskin atau jatuh sakit. Bagi sebagian orang itu adalah putus cinta, bagi sebagian yang lain itu adalah jatuh cinta. Soal ujian berupa bala harus dijawab dengan sikap sabar. Sabar berarti menyikapi sesuatu tanpa melanggar batasan-batasan yang diperbolehkan Allah.
Jika bisnis yang kamu bangun bertahun-tahun hancur dalam semalam, sikap sabar atas kehancuran itu adalah kamu tidak memaki atau menyalahkan Dia yang mengizinkan itu terjadi, kamu tidak mempertanyakan keadilan atau hak-Nya atas dirimu dan kamu tidak menghukum dirimu dan keluargamu dengan larut dalam emosi berlebihan.
Allah mendefinisikan orang-orang yang sabar sebagai orang-orang yang mengakui hak dan kepemilikan Allah atas hidup mereka lalu berkata pada diri mereka sendiri,
“Semua yang hilang dari pandangan kita sebenarnya hanya kembali ke sisi Allah, kita pun kelak akan kembali ke sisi-Nya juga.”
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧ ( البقرة/2: 155-157)
“(155) Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah/155-157)
Ketaatan adalah seluruh perbuatan kita yang sesuai dengan apa-apa yang Allah senangi. Soal ujian berupa ketaatan haruslah disikapi seseorang dengan meyakini bahwasanya segala kebaikan (termasuk ketaatannya itu) tidak berasal dari dirinya sendiri tapi berasal dari Allah.
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ ٩٦ ( الصّٰۤفّٰت/37: 96)
“Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Saffat/96)
Sedangkan kemaksiatan adalah seluruh perbuatan kita yang tidak disenangi Allah. Soal ujian berupa kemaksiatan haruslah disikapi seseorang dengan meyakini bahwasanya segala keburukan (termasuk kemaksiatannya itu) berasal dari dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah. Bapak kita, Nabi Adam Alaihissalam berhasil dengan amat gemilang menyikapi kekhilafannya ketika ia berkata,
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٢٣ ( الاعراف/7: 23)
“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A’raf/23)
Sedangkan iblis yang sebelumnya dikenal sebagai guru para malaikat gagal dengan amat memalukan ketika ia justru menyalahkan Allah atas jalan sesat yang dipilihnya sendiri.
اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰىٓ اَنْ يَّكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ ٣١ ( الحجر/15: 31)
“kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama para (malaikat) yang bersujud.” (QS. Al-Hijr/31)
Semoga Allah menjadikan kita orang yang menyambut baik setiap ujian yang Dia selenggarakan untuk meningkatkan derajat kita. Semoga Allah memudahkan kita mensyukuri nikmatnya, bersabar atas balanya, hanya memuji Allah atas ketaatan yang dilakukan dan bertanggung jawab penuh atas pelanggaran yang terjadi lalu memohon ampun.
Penulis: Habib Asyrafy, S.PdI, M.Si. (Pengajar Matematika di Al-Azhar Asy-Syarif Islamic Boarding School)
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Menyambut Datangnya Ujian
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Pada bulan ini, terdapat peristiwa besar, yakni Isra’... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Manusia diberi nikmat oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan waktu yang begitu panjang dalam satu harinya, yakni... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada hari Ahad, tanggal 3 Rabi’ul Akhir 1446 H/6 Oktober 2024 M, Buya Yahya secara resmiakan meluncurkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tabligh Akbar dalam rangkaian Safari Dakwah Buya Yahya di Aceh, Selasa 20 Jumadil Ula 1444 H/13... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan modern, penggunaan kosmetik seperti handbody, pelembap wajah, lipstik, bedak, hingga produk-produk berlabel waterproof sudah menjadi bagian... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Haru dan bahagia pecah diantara para santri dan pejuang pada sore hari Jumat 3 Sya’ban 1444... selengkapnya
Berikut kami hadirkan teks khutbah Iduladha 1445 H/2024 M. Silakan mendownload dan menyebarkannya melalui tautan yang ada di bawah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Terdapat tradisi masyarakat ketika menjelang Hari Raya Idulfitri, yaitu mudik. Tradisi mudik yang ada di Indonesia terbilang... selengkapnya
Hakikat Kesuksesan Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap orang menginginkan kesuksesan dalam kehidupannya. Hal itu merupakan bagian dari fitrah manusia. Adapun kesuksesan ini... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat hari raya kurban tiba, banyak terjadi salah kaprah diantara tukang sembelih kurban yang menjadikan daging... selengkapnya
Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.