● online
Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau penyambung, dan Rahim (رحم) yang bertarti kasih sayang. Maka silaturahmi berarti penghubung/pengikat/penyambung kasih sayang. Silaturahmi juga merupakan istilah yang digunakan untuk suatu kegiatan sosial yang bertujuan untuk mempererat kasih sayang kepada sesama, baik saudara, teman atau orang yang sama sekali belum kita kenal.
Banyak sekali bentuk silaturahmi yang bisa kita lakukan untuk menguatkan tali persaudaraan dan kasih sayang terhadap sesama. Seperti berkunjung ke rumah-rumah, bertukar kabar melalui sosial media, atau hanya sekadar bertegur sapa yang diiringi dengan senyum dan salam saat bertemu di jalan.
Silaturahmi bukan hanya sekadar kegiatan sosial, namun merupakan sesuatu yang sangat terpuji dan memiliki banyak sekali manfaat. Baik secara umum, seperti mendatangkan ketenangan hati dan juga kebahagiaan serta bisa meningkatkan kesehatan mental. Ataupun manfaat khusus karena didasari dengan iman, seperti mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah, dimudahkan jalan menuju surga, dan masih banyak yang lainnya. Oleh karena itu silaturahmi memiliki nilai pahala yang sangat besar dalam Islam. Bahkan, ada kecaman yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang memutus silaturahim. Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَفْضَلِ الْأَخْلَاقِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ; تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ مَنَعَك
“Aku tunjukkan kepadamu bahwa sebaik-baik akhlak di dunia dan akhirat adalah jika engkau memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim kepadamu, dan menyambung kasih sayang dengan orang-orang yang berbuat aniaya kepadamu, dan memberi kepada orang yang menghalangimu dari pemberian.” (HR. Ibnu Majah dan At Tirmiidzi)
Silaturahmi juga menjadi salah satu amalan yang menyebabkan kita masuk surga, sebagaimana hadis Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam:
يَا أيُّهَا النَّاسُ، أفْشُوا السَّلَامَ، وَأطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأرْحَامَ، وَصَلُّوا والنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلَام )رواه الترمذي(
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali silaturahim, dan shalatlah di waktu malam ketika manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR At-Tirmidzi)
Selain itu juga, terdapat hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan silaturahmi sebagai sebab penggugur dosa, pembuka pintu rezeki, dan memanjangkan umur, serta yang lainnya.
Begitu mulia dan agungnya pahala silaturahmi. Akan tetapi, silaturahmi yang memiliki nilai pahala adalah yang dilakukan dengan memenuhi syaratnya, bukan hanya basa-basi sosial tanpa dilandasi niat yang tulus.
Menurut Buya Yahya, silaturahmi yang benar harus menggabungkan dua aspek: zahir (fisik) dan batin (hati). Syarat utamanya meliputi niat tulus menyambung hubungan, memaafkan, mendoakan kerabat sebelum dan setelah bertemu, tidak sombong, serta menjaga syariat, khususnya dalam berinteraksi dengan lawan jenis, sekaligus menghindari prasangka buruk.
Sudah seharusnya bagi kita untuk menghadirkan niat tersebut dan menjauhkan diri dari berpamer ria menunjukkan hasil kerja dan merendahkan keluarga dan saudara yang masih berproses, justru seharusnya kita bisa saling membantu antarsesama. Pertemuan yang tidak didasari dengan niat yang tulus, bahkan disertai dengan saling merendahkan atau menyakiti orang lain, tidak akan menumbuhkan kasih sayang dan silaturahmi. Justru itulah yang memutus tali silaturahmi, memecah hubungan persaudaraan, dan menumbuhkan kebencian. Itulah orang-orang yang disebut sebagai Qathi’urrohim yang diancam oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai berikut:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat daripada perbuatan dzalim dan memutus silaturahmi.” (HR Abu Daud)
Begitulah keutamaan silaturahmi dan ancaman bagi orang yang memutusnya. Semoga kita senantiasa bisa menjalin dan mempererat silaturahmi kita dengan keluarga, saudara, teman, guru dan semuanya, tentunya dengan menjaga adab dan syari’at Islam. Bukan hanya pada momen-momen tertentu seperti saat Idulfitri. Namun setiap hari, baik saat bertemu atau dengan media sosial di saat jauh.
Wallahu A’lam Bisshowab
Penulis: Habibullah
Penyunting: Idan Sahid
Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Syair atau puisi merupakan untaian kata-kata yang dibuat seseorang dan berisi ungkapan isi hati, pikiran, atau perasaan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari yang namanya komunikasi. Baik itu dengan pasangan, keluarga, teman kerja,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Setiap manusia memiliki karakter dan sifat masing-masing. Ada yang memiliki karakter dan sifat pendiam, ada juga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Al-Qur’an adalah firman Allah yang berisi berbagai macam persoalan yang dialami manusia. Baik itu berupa masalah kehidupan,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam perjalanan mencari jodoh, mungkin kita pernah bertanya-tanya, “Apakah jodoh yang telah Allah tetapkan untuk kita akan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Satu helai rambut saja, bagi wanita itu adalah aurat bagi. Begitu yang disampaikan Umi Fairuz Arrahbini dalam channel... selengkapnya
Judul Buku : Silsilah Fiqih Praktis Shalat Penulis : Buya Yahya Penerbit : Pustaka Al-Bahjah Tebal Buku : 156 Halaman... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Akhir-akhir ini viral adanya suatu pernikahan dengan mahar sebuah masjid, lalu bagaimana fiqih syariat Islam memandangnya? Sebab,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Media sosial sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern, khususnya generasi muda. Kehadirannya memberikan... selengkapnya
FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSTerkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDi antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000
Saat ini belum tersedia komentar.