● online
Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar). Setiap daun yang gugur, curah hujan yang menetes, angin yang berembus, semua yang terlahir dan yang mati telah tercatat dalam lembaran agung Al-Lauhulmahfudz. Begitu juga dengan nasib manusia yang kelak dilahirkan ke alam dunia; usia, rezeki, jodoh, bahkan tujuan akhir perjalanan mereka, yaitu surga atau neraka.
Manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk yang suci, tanpa terkecuali. Sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam:
كل مولود يولد على الفطرة
“Setiap orang yang terlahir ke dunia itu dalam keadaan suci”
Tanpa cela atau dosa yang diwariskan oleh pendahulunya, seburuk apa pun penduhulu itu. Namun dalam perjalanannyalah yang menampakkannya sebagai orang yang baik atau buruk. Baik berarti bahagia, begitu sebaliknya buruk berarti sengsara. Baik dan buruk tersebut tentu berdasarkan penilaian Sang Rohim yang tertulis dalam ajaran-Nya serta disebarkan oleh para Rasul dan sampai kepada kita, sehingga kita dapat melihat mana yang selayaknya dilakukan dan ditinggalkan, serta memilih untuk menjadi orang yang bahagia atau sengsara.
Kebahagiaan atau kesengsaraan yang dirasakan ketika masih berada di dunia bukanlah sesuatu yang hakiki. Namun itu juga bisa menjadi pertanda. Betapa banyak orang beriman, secara lahir tidak tampak bahagia, diuji dengan kekurangan harta, penyakit, serta yang lainnya, tetapi karena iman yang ada dalam hatinya, ia menerima itu semua dengan sabar dan lapang dada. Bahkan masih sanggup bersyukur kepada Allah Ta’ala, sehingga secara dzahir ia tampak menderita, padahal dalam hatinya penuh rasa bahagia. Begitu juga sebaliknya, banyak dari mereka yang tidak beriman, secara dzahir tampak senang dan gembira dengan apa yang dimilikinya, entah itu harta yang melimpah, rumah megah, serta mobil mewah. Namun ternyata di balik kemewahan itu ada rasa takut kehilangan, kekhawatiran akan kerugian, bahkan tidur di malam hari pun tak mampu karena perasaan itu. Lantas apakah itu yang dianggap sebagai kebahagian, terlihat gemerlap dari luar padahal hatinya selalu diliputi kegelisahan.
Dua ilustrasi di atas hanya sebatas contoh yang menunjukkan bahwa bahagia atau sengsara di dunia ini bukan sesuatu yang benar-benar murni. Adapun kebahagiaan yang hakiki sebagaimana disebut dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu:
وأما الذين سُعِدُوْا فَفِي الجنةِ خالدين فيها… الآية
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya…”
Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kebahagiaan yang sesungguhnya ialah bagi mereka yang menempati surga Allah Subhanau wa Ta’ala bagaimana pun kondisi mereka tatkala hidup di dunia. Fakir atau kaya, susah atau senang, sakit atau sehat, rakyat atau pejabat, jika pada akhirnya mereka menjadi ahli surga, itulah kebahagiaan yang sejati. Selanjutnya Al-Qur’an juga menyebutkan siapa yang benar-benar sengsara:
… الأشقى الذي يصلى النار الكبرى…
“Orang yang celaka, yaitu orang-orang yang akan memasuki neraka.”
Begitulah Al-Qur’an menjelaskan siapa orang yang benar-benar sengsara atau celaka, yaitu mereka yang di akhir pemberhentiannya adalah seburuk-buruknya tempat, yaitu neraka. Na’udzubillah min dzalik. Lantas bagaimana nasib kita kelak, yang sejatinya Allah sendiri sudah menentukan bagaimana akhir dari perjalanan kita? Apakah kita masih perlu berusaha? Jawabannya adalah “Ya”, karena meski Allah sudah menentukan akhir dari perjalanan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan kehendak kepada kita semua. Artinya, apa yang kita lakukan itu atas dasar kehendak kita juga, mau memilih baik atau buruk, itu juga kehendak kita. Mau memilih taat akan perintah Allah atau melanggar juga merupakan kehendak kita.
Kehendak itulah yang menjadi alasan kenapa kelak seseorang disiksa di akhirat apabila kita melanggar perintah Allah dengan kehendaknya. Adapun jika bukan kehendaknya maka tidak ada hukuman baginya. Sebagai contoh, ketika seseorang dengan kehendaknya sendiri ingin meminum arak sedangkan ia tahu bahwa arak itu haram diminum. Pelanggaran yang dilakukan atas kehendak dan kesadarannya itu membuat orang tersebut berdosa dan kelak akan dihukum. Dalam peristiwa yang sama seseorang meminum arak, tetapi ia melakukannya karena tidak sengaja. Misalnya ada orang yang menuangkan arak di tempat minumnya dan ia tidak mengetahuinya. Maka, ia tidak dianggap melanggar dan tidak berdosa karena bukan kehendaknya untuk meminum arak tersebut.
Pada kesimpulannya, setiap perbuatan yang kita kerjakan, jika itu merupakan kehendak kita maka akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, dan menjadi sebab keridhaan atau kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita wajib waspada saat melangkah, saat melampiaskan kehendak kita, menata kehendak kita agar dapat bijaksana memilih sesuatu yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dimudahkan dalam melangkah di jalan yang Allah ridhai serta dijauhkan dari jalan yang Allah murkai dan kelak kita semua menjadi orang-orang yang menempati rumah yang dipenuhi kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu jannah-Nya. Aamiin
Penulis: Habibullah
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Cahaya fajar menari-nari di atas bukit hijau yang perlahan menyembulkan wajahnya dari selimut malam. Udara segar, belum ternoda... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – MOTOGP Mandalika 2022 rampung digelar pada Ahad, 20 Maret 2022 pekan lalu. Dibalik kemeriahannya, banyak hal... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari ini tepat 13 tahun yang lalu pada tanggal 23 Muharram 1431 H, Lembaga Pengembangan Dakwah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Haji menurut bahasa haji adalah bermaksud. Adapun menurut istilah fiqih haji adalah bermaksud (dengan sengaja) menuju Baitulharam (Ka’bah)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan bukan sekadar ikatan lahiriah atau cerita happy ending dalam sebuah hubungan, tetapi juga sebuah amanah dan ibadah... selengkapnya
Kejelian Memanfaatkan Ruangan untuk Mendatangkan Kesuksesan PUSTAKA Al-BAHJAH-SEPUTAR PONDOK-Mendungnya sore hari pada hari Rabu, 13 Rabiul Awal 1443 H atau... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tidak lama lagi kita akan memasuki akhir tahun baru masehi. Pada malam tahun baru ini, seringkali... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu, menyisakan harapan dan tujuan yang belum sempat dicapai. Harapan yang seharusnya terwujud... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Era digital menghadirkan berbagai kemudahan. Namun juga memunculkan tantangan serius dalam menjaga nilai-nilai Islam, khususnya bagi para Muslimah.... selengkapnya
Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000
Saat ini belum tersedia komentar.