Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Diposting pada 16 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 358 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar dan menakjubkan sepanjang sejarah manusia, yaitu perjalanan Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebuah perjalanan yang melampaui batas ruang dan waktu, yang terjadi semata-mata atas kuasa dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, Isra Mi’raj juga merupakan hadiah terindah dari Allah kepada Rasul-Nya, sebagai penguatan setelah beliau melewati masa-masa sulit dan hari-hari yang berat dalam perjalanan dakwahnya.

Perjuangan Dakwah Rasulullah

Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, tahun yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Ḥuzn (tahun kesedihan). Pada tahun itu, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam kehilangan dua sosok terdekat yang menjadi penopang dakwah beliau, yaitu paman tercinta Abu Thalib dan istri tercinta Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Setelah wafatnya Abu Thalib, perlindungan terhadap Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam semakin melemah. Orang-orang kafir Quraisy pun semakin berani mengganggu dan menyakiti beliau, karena mereka merasa tidak ada lagi sosok yang akan membela dan melindungi Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam kondisi itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tetap tidak berhenti berdakwah. Beliau melakukan ikhtiar baru dengan berangkat menuju Thaif, sebuah kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Makkah. Beliau menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki, mendaki bebukitan cadas, dan menyusuri lembah, dengan satu harapan: mendapatkan perlindungan dan dukungan dari penduduk serta para pembesar Thaif.

Akan tetapi, kenyataannya saat tiba di Thaif sama sekali tidak seperti yang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam harapkan. Di sana, beliau justru mendapatkan penolakan yang sangat buruk dari tiga pemuka Thaif dari suku Tsaqif. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dihinakan, dicacimaki. Bahkan para pembesar Thaif memprovokasi penduduknya untuk melempari beliau dengan batu. Dahi mulia Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam pun terluka, kedua kaki beliau penuh dengan luka akibat lemparan bebatuan. Sayyidina Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘Anhu, yang menemani beliau dalam perjalanan itu, berdiri melindungi Nabi dengan tubuhnya, hingga sekujur badannya bersimbah darah.

Sungguh berat hari-hari yang dilalui Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu. Di Makkah, beliau tidak lagi memiliki pelindung dakwah setelah wafatnya Abu Thalib. Di Thaif, harapan beliau untuk mendapatkan dukungan pun sirna. Kedatangan beliau justru dibalas dengan luka, baik secara fisik maupun batin. Setelah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil menyelamatkan diri dari kejaran penduduk Thaif, beliau akhirnya beristirahat di sebuah kebun milik seorang nonmuslim bernama ‘Utbah bin Rabi’ah. Di tempat itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengadu dan mencurahkan segala keluh kesahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara panjatan doa beliau adalah:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia.”

Ujian sebagai Tangga Kemuliaan

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bahwa tempat mengadu dan berkeluh kesah hanyalah kepada Allah. Melalui kisah pilu perjalanan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, kita dapat mengambil hikmah untuk dijadikan bahan renungan, sekaligus cerminan dalam kehidupan yang kita jalani. Setiap dari kita pasti pernah merasakan titik terendah dalam hidup ini. Kita pun mungkin pernah berada di fase Thaif kita masing-masing. Ada yang Allah uji dalam urusan ekonomi; sulit mendapatkan pekerjaan, atau terlilit utang yang menumpuk. Ada pula yang diuji dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Sebagian yang lain diuji dengan permasalahan keluarga dan rumah tangga. Ingatlah, seluruh ujian tersebut sejatinya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengangkat derajat seorang hamba di hadapan Allah, sebagaimana Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dimuliakan hingga Sidratul Muntaha setelah melalui peristiwa-peristiwa berat dalam hidup beliau.

Sebagai manusia, kita boleh bersedih dan merasakan sempit dalam menghadapi permasalahan hidup. Namun Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana sikap seorang hamba yang sejati: pasrah dan ridha terhadap ketentuan Allah. Dalam doanya, beliau berucap:

إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلا أُبَالِي

“Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli.”

Inilah prinsip hidup seorang mukmin. Apa pun yang kita hadapi, baik atau buruk, selama Allah tidak murka kepada kita, maka itulah kemenangan sejati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Maka orang-orang yang beriman tidak akan pernah berputus asa. Ia akan berpasrah diri kepada Allah, sambil terus berusaha bangkit, bukan larut dalam keterpurukan. Karena putus asa adalah sifat orang-orang yang jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita belajar dari kisah luka Thaif dan Isra Mi’raj bahwa setelah kesabaran dan kepasrahan, Allah akan memberikan kemuliaan dan mengangkat derajat kita. Setelah kesedihan pasti akan datang kebahagiaan, setelah tangis akan datang tawa dan setiap di balik kesulitan pasti akan Allah beri kemudahan dan hadiah indah. Mari kita selalu menjadi orang yang optimis dan berharap rahmat Allah yang sangat luas. Mari jadikan prinsip dalam hidup kita “selama Allah tidak murka, apa pun yang kita hadapi itu adalah ketentuan terbaik dari-Nya”.

Semoga Allah memberikan kekuatan tsabat dan keteguhan hati kepada kita, dan semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita dan menjadikan setiap kesulitan yang kita hadapi sebagai sebab untuk kita semakin diangkat derajat di hadapan-Nya.

 

Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Beginilah Menyikapi Perbedaan Doa Berbuka Puasa Menurut Buya Yahya
28 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang merindukan bulan Ramadan akan mengenang setiap hiruk-pikuk yang ada di dalamnya. Seperti berburu takjil, sahur,... selengkapnya

Ketika Pesantren Bertemu Entrepreneurship, Pengembangan Pesantren yang Menjawab Perkembangan Zaman
27 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren sering dipandang sebagai sarana pendidikan yang hanya membekali santrinya dengan ilmu keagamaan namun tidak menjadikan ia siap... selengkapnya

Adab (Nadzor): Melihat atau Mengamati Calon Pasangan Sebelum Menikah
29 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di dalam agama Islam melihat atau mengamati calon pasangan sebelum menikah (nadzor) disunnahkan ketika ingin menjodohkan seseorang. Namun... selengkapnya

Lakukan Ini Agar Anak Terhindar Jeratan Judi Online
30 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Era digital menuntun setiap orang untuk mengakses pelbagai informasi yang mudah dijangkau, tanpa terkecuali dan tanpa memerlukan... selengkapnya

Kemerdekaan Palestina Tanggung Jawab Bersama
4 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada hari Selasa tanggal 23 September 2025, Presiden Prabowo menyatakan sikapnya di depan Majelis Umum PBB untuk tetap... selengkapnya

Cemburunya Bidadari Surga
16 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Agama Islam merupakan ajaran yang menjunjung tinggi kedudukan nilai keadilan, kemanusiaan, kemulian, dan kesetaraan. Sejak datangnya Islam... selengkapnya

Revitalisasi Ajaran Sosial-Religius Sunan Gunung Djati: Pilar Harmoni dalam Kehidupan Bermasyarakat
5 Februari 2025

sumber gambar: Suara Cirebon Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sunan Gunung Djati, atau yang dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah, merupakan salah satu... selengkapnya

Keutamaan Puasa Ramadan, Jalan menuju Ampunan dan Meraih Lailatul Qadar
17 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya

Infaq
12 April 2020

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sahabat Infaq Center Al-Bahjah ☺ Semoga Bapak/Ibu/Saudara/Saudari selalu dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT,... selengkapnya

Buya Yahya Beri Penjelasan Seputar Qurban
24 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap muslim mesti tergugah untuk bisa melaksanakan qurban di keluarga atau kampungnya masing-masing. Akan tetapi, jika ada... selengkapnya

Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: