Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Diposting pada 16 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 310 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar dan menakjubkan sepanjang sejarah manusia, yaitu perjalanan Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebuah perjalanan yang melampaui batas ruang dan waktu, yang terjadi semata-mata atas kuasa dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, Isra Mi’raj juga merupakan hadiah terindah dari Allah kepada Rasul-Nya, sebagai penguatan setelah beliau melewati masa-masa sulit dan hari-hari yang berat dalam perjalanan dakwahnya.

Perjuangan Dakwah Rasulullah

Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, tahun yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Ḥuzn (tahun kesedihan). Pada tahun itu, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam kehilangan dua sosok terdekat yang menjadi penopang dakwah beliau, yaitu paman tercinta Abu Thalib dan istri tercinta Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Setelah wafatnya Abu Thalib, perlindungan terhadap Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam semakin melemah. Orang-orang kafir Quraisy pun semakin berani mengganggu dan menyakiti beliau, karena mereka merasa tidak ada lagi sosok yang akan membela dan melindungi Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam kondisi itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tetap tidak berhenti berdakwah. Beliau melakukan ikhtiar baru dengan berangkat menuju Thaif, sebuah kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Makkah. Beliau menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki, mendaki bebukitan cadas, dan menyusuri lembah, dengan satu harapan: mendapatkan perlindungan dan dukungan dari penduduk serta para pembesar Thaif.

Akan tetapi, kenyataannya saat tiba di Thaif sama sekali tidak seperti yang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam harapkan. Di sana, beliau justru mendapatkan penolakan yang sangat buruk dari tiga pemuka Thaif dari suku Tsaqif. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dihinakan, dicacimaki. Bahkan para pembesar Thaif memprovokasi penduduknya untuk melempari beliau dengan batu. Dahi mulia Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam pun terluka, kedua kaki beliau penuh dengan luka akibat lemparan bebatuan. Sayyidina Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘Anhu, yang menemani beliau dalam perjalanan itu, berdiri melindungi Nabi dengan tubuhnya, hingga sekujur badannya bersimbah darah.

Sungguh berat hari-hari yang dilalui Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu. Di Makkah, beliau tidak lagi memiliki pelindung dakwah setelah wafatnya Abu Thalib. Di Thaif, harapan beliau untuk mendapatkan dukungan pun sirna. Kedatangan beliau justru dibalas dengan luka, baik secara fisik maupun batin. Setelah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil menyelamatkan diri dari kejaran penduduk Thaif, beliau akhirnya beristirahat di sebuah kebun milik seorang nonmuslim bernama ‘Utbah bin Rabi’ah. Di tempat itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengadu dan mencurahkan segala keluh kesahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara panjatan doa beliau adalah:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia.”

Ujian sebagai Tangga Kemuliaan

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bahwa tempat mengadu dan berkeluh kesah hanyalah kepada Allah. Melalui kisah pilu perjalanan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, kita dapat mengambil hikmah untuk dijadikan bahan renungan, sekaligus cerminan dalam kehidupan yang kita jalani. Setiap dari kita pasti pernah merasakan titik terendah dalam hidup ini. Kita pun mungkin pernah berada di fase Thaif kita masing-masing. Ada yang Allah uji dalam urusan ekonomi; sulit mendapatkan pekerjaan, atau terlilit utang yang menumpuk. Ada pula yang diuji dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Sebagian yang lain diuji dengan permasalahan keluarga dan rumah tangga. Ingatlah, seluruh ujian tersebut sejatinya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengangkat derajat seorang hamba di hadapan Allah, sebagaimana Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dimuliakan hingga Sidratul Muntaha setelah melalui peristiwa-peristiwa berat dalam hidup beliau.

Sebagai manusia, kita boleh bersedih dan merasakan sempit dalam menghadapi permasalahan hidup. Namun Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana sikap seorang hamba yang sejati: pasrah dan ridha terhadap ketentuan Allah. Dalam doanya, beliau berucap:

إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلا أُبَالِي

“Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli.”

Inilah prinsip hidup seorang mukmin. Apa pun yang kita hadapi, baik atau buruk, selama Allah tidak murka kepada kita, maka itulah kemenangan sejati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Maka orang-orang yang beriman tidak akan pernah berputus asa. Ia akan berpasrah diri kepada Allah, sambil terus berusaha bangkit, bukan larut dalam keterpurukan. Karena putus asa adalah sifat orang-orang yang jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita belajar dari kisah luka Thaif dan Isra Mi’raj bahwa setelah kesabaran dan kepasrahan, Allah akan memberikan kemuliaan dan mengangkat derajat kita. Setelah kesedihan pasti akan datang kebahagiaan, setelah tangis akan datang tawa dan setiap di balik kesulitan pasti akan Allah beri kemudahan dan hadiah indah. Mari kita selalu menjadi orang yang optimis dan berharap rahmat Allah yang sangat luas. Mari jadikan prinsip dalam hidup kita “selama Allah tidak murka, apa pun yang kita hadapi itu adalah ketentuan terbaik dari-Nya”.

Semoga Allah memberikan kekuatan tsabat dan keteguhan hati kepada kita, dan semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita dan menjadikan setiap kesulitan yang kita hadapi sebagai sebab untuk kita semakin diangkat derajat di hadapan-Nya.

 

Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Jatah Daging Qurban Panitia Lebih Banyak, Bagaimana Hukumnya?
26 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Prosesi pemotongan hewan qurban di masyarakat pada umumnya dilakukan oleh panitia qurban. Namun seringkali kita melihat... selengkapnya

Mencium Tangan Guru: Tradisi Hormat atau Tanda Pengkultusan?
21 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mencium tangan guru merupakan sebuah tradisi yang masuk ke dalam bab tabarruk. Tabarruk sendiri berarti mengambil berkah... selengkapnya

Bahaya Was-Was, dari Masalah Mental hingga Hukuman dari Allah
2 Oktober 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masalah waswas kerap dihadapi banyak orang tanpa pandang bulu. Satu hal yang pasti menurut Imam Al-Ghazali, orang... selengkapnya

Ilmu-Ilmu Pengetahuan Ini Terinspirasi dari Peristiwa Isra’ Mi’raj
28 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam memiliki banyak peristiwa penting yang berperan dalam perkembangan agama, salah satunya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada malam... selengkapnya

Buya Yahya Memberikan Tanggapan Mengenai Jenazah Mualaf yang Dikremasi
24 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Islam, tata cara pengurusan jenazah memiliki aturan yang sangat jelas dan rinci. Namun salah satu pertanyaan... selengkapnya

Mudah Mengingatkan dan Mudah Diingatkan dalam Kebaikan
22 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari yang namanya komunikasi. Baik itu dengan pasangan, keluarga, teman kerja,... selengkapnya

Menjadi Pemuda Produktif ala Ashabul Kahfi
23 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Masa muda idealnya diisi dengan segala macam produktivitas. Namun, godaan dapat membawa masa muda menjadi sia-sia.... selengkapnya

Sering Dilupakan Orang, Buya Yahya Beberkan Hikmah Puasa Ramadan
25 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tak terasa saat ini kita sudah memasuki hampir setengah dari bulan Ramadan. Semoga Allah Swt menerima amalan-amalan... selengkapnya

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Kenakalan pada Anak
4 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika anak sakit, orang tua akan pergi menemui dokter, pusat kesehatan, atau orang yang mengerti tentang kesehatan.... selengkapnya

Hukum Menolak Ajakan Suami Berhubungan karena Kurangnya Nafkah
12 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan berumah tangga, hubungan suami dan istri bukanlah hubungan saling menuntut atau saling membebani, tetapi hubungan saling... selengkapnya

Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: