● online
Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar dan menakjubkan sepanjang sejarah manusia, yaitu perjalanan Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebuah perjalanan yang melampaui batas ruang dan waktu, yang terjadi semata-mata atas kuasa dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, Isra Mi’raj juga merupakan hadiah terindah dari Allah kepada Rasul-Nya, sebagai penguatan setelah beliau melewati masa-masa sulit dan hari-hari yang berat dalam perjalanan dakwahnya.
Perjuangan Dakwah Rasulullah
Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, tahun yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Ḥuzn (tahun kesedihan). Pada tahun itu, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam kehilangan dua sosok terdekat yang menjadi penopang dakwah beliau, yaitu paman tercinta Abu Thalib dan istri tercinta Sayyidah Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Setelah wafatnya Abu Thalib, perlindungan terhadap Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam semakin melemah. Orang-orang kafir Quraisy pun semakin berani mengganggu dan menyakiti beliau, karena mereka merasa tidak ada lagi sosok yang akan membela dan melindungi Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam kondisi itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tetap tidak berhenti berdakwah. Beliau melakukan ikhtiar baru dengan berangkat menuju Thaif, sebuah kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Makkah. Beliau menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki, mendaki bebukitan cadas, dan menyusuri lembah, dengan satu harapan: mendapatkan perlindungan dan dukungan dari penduduk serta para pembesar Thaif.
Akan tetapi, kenyataannya saat tiba di Thaif sama sekali tidak seperti yang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam harapkan. Di sana, beliau justru mendapatkan penolakan yang sangat buruk dari tiga pemuka Thaif dari suku Tsaqif. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dihinakan, dicacimaki. Bahkan para pembesar Thaif memprovokasi penduduknya untuk melempari beliau dengan batu. Dahi mulia Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam pun terluka, kedua kaki beliau penuh dengan luka akibat lemparan bebatuan. Sayyidina Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘Anhu, yang menemani beliau dalam perjalanan itu, berdiri melindungi Nabi dengan tubuhnya, hingga sekujur badannya bersimbah darah.
Sungguh berat hari-hari yang dilalui Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu. Di Makkah, beliau tidak lagi memiliki pelindung dakwah setelah wafatnya Abu Thalib. Di Thaif, harapan beliau untuk mendapatkan dukungan pun sirna. Kedatangan beliau justru dibalas dengan luka, baik secara fisik maupun batin. Setelah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil menyelamatkan diri dari kejaran penduduk Thaif, beliau akhirnya beristirahat di sebuah kebun milik seorang nonmuslim bernama ‘Utbah bin Rabi’ah. Di tempat itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengadu dan mencurahkan segala keluh kesahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara panjatan doa beliau adalah:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia.”
Ujian sebagai Tangga Kemuliaan
Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bahwa tempat mengadu dan berkeluh kesah hanyalah kepada Allah. Melalui kisah pilu perjalanan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, kita dapat mengambil hikmah untuk dijadikan bahan renungan, sekaligus cerminan dalam kehidupan yang kita jalani. Setiap dari kita pasti pernah merasakan titik terendah dalam hidup ini. Kita pun mungkin pernah berada di fase Thaif kita masing-masing. Ada yang Allah uji dalam urusan ekonomi; sulit mendapatkan pekerjaan, atau terlilit utang yang menumpuk. Ada pula yang diuji dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Sebagian yang lain diuji dengan permasalahan keluarga dan rumah tangga. Ingatlah, seluruh ujian tersebut sejatinya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengangkat derajat seorang hamba di hadapan Allah, sebagaimana Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dimuliakan hingga Sidratul Muntaha setelah melalui peristiwa-peristiwa berat dalam hidup beliau.
Sebagai manusia, kita boleh bersedih dan merasakan sempit dalam menghadapi permasalahan hidup. Namun Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana sikap seorang hamba yang sejati: pasrah dan ridha terhadap ketentuan Allah. Dalam doanya, beliau berucap:
إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلا أُبَالِي
“Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli.”
Inilah prinsip hidup seorang mukmin. Apa pun yang kita hadapi, baik atau buruk, selama Allah tidak murka kepada kita, maka itulah kemenangan sejati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Maka orang-orang yang beriman tidak akan pernah berputus asa. Ia akan berpasrah diri kepada Allah, sambil terus berusaha bangkit, bukan larut dalam keterpurukan. Karena putus asa adalah sifat orang-orang yang jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita belajar dari kisah luka Thaif dan Isra Mi’raj bahwa setelah kesabaran dan kepasrahan, Allah akan memberikan kemuliaan dan mengangkat derajat kita. Setelah kesedihan pasti akan datang kebahagiaan, setelah tangis akan datang tawa dan setiap di balik kesulitan pasti akan Allah beri kemudahan dan hadiah indah. Mari kita selalu menjadi orang yang optimis dan berharap rahmat Allah yang sangat luas. Mari jadikan prinsip dalam hidup kita “selama Allah tidak murka, apa pun yang kita hadapi itu adalah ketentuan terbaik dari-Nya”.
Semoga Allah memberikan kekuatan tsabat dan keteguhan hati kepada kita, dan semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita dan menjadikan setiap kesulitan yang kita hadapi sebagai sebab untuk kita semakin diangkat derajat di hadapan-Nya.
Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Luka Thaif dan Hadiah Isra Mi’raj
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keutamaan bulan Ramadan benar adanya. Banyak hadis-hadis Nabi, kisah orang-orang saleh, dan berbagai riwayat yang telah menyebutkannya.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia berhak untuk berbicara tentang apa pun kepada siapa pun, selagi yang dibicarakannya adalah pembicaraan yang baik... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Setiap rumah tangga pasti pernah mengalami permasalahan, sebab manusia adalah mahluk yang memiliki hawa nafsu sehingga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Fenomena stres dan depresi bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia. Namun pada zaman modern dengan tekanan hidup yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap amal kebaikan yang kita lakukan, baik berupa sedekah maupun berbagi ilmu, akan memberikan pahala langsung kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Para santri dan asatidz SMAIQu Al-Bahjah mengadakan rihlah ke DN Waterplay pada hari Rabu, 23 Rabiul Akhir 1447... selengkapnya
Balada Rindu Sang Bilal (Oleh: Husni A. Mubarak) Andai datang burung-burung surga padanya Bilal bin Rabah tetap memeras... selengkapnya
KEBERSAMAAN DIVISI DAKWAH DAN MEDIA DALAM MERAIH IMPIAN BERSAMA Rasa semangat merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seseorang guna... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari yang namanya komunikasi. Baik itu dengan pasangan, keluarga, teman kerja,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Satu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang berarti ia tengah meneladani satu akhlak Nabi. Sebab, kebaikan dengan segala... selengkapnya
Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.