Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Peradaban Islam dan Akar Orientalisme

Peradaban Islam dan Akar Orientalisme

Diposting pada 12 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 218 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern kita melihat kejayaan yang dimiliki Barat hampir mencakup semua sektor kehidupan. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa semua itu ternyata bersumber dari peradaban Islam. Ada satu gerakan yang ingin mengeluarkan Barat dari kegelapan. Mereka mempelajari semua hal tentang peradaban Timur dan khazanah Islam untuk mereka adopsi dan eksplorasi. Gerakan itu bernama orientalisme.

Sejarah Munculnya Orientalisme

Dalam bukunya yang berjudul Risalah fi Thariq ila Tsaqafatina, Syekh Mahmoud Syakir menjelaskan bahwa sejatinya gerakan orientalisme erat kaitannya dengan Dark Ages atau abad kegelapan bangsa Eropa setelah runtuhnya Imperium Roma pada tahun 476 Masehi. Jauh sebelum itu Eropa hanyalah suatu daerah dengan penduduk yang tak mengenal agama dan peraturan apa pun. Mereka hidup dalam keterbelakangan. Saat Islam mulai melebarkan sayapnya dengan melakukan penaklukan, orang-orang Nasrani yang tidak sudi berada dalam kepemimpinan Islam bermigrasi ke daerah yang kita kenal saat ini dengan Eropa. Di sana para Rahib Nasrani berupaya melakukan misi penginjilan dan menyebarkan hoax serta fitnah mengenai Islam. Semua dilakukan untuk mempersiapkan pasukan dalam memerangi tentara Islam.

Kebencian mereka terhadap Islam semakin menjadi setelah kalah dalam Perang Salib yang terjadi pada tahun1091-1296 Masehi. Saat mereka mempelajari penyebab ketertinggalannya dari Islam, mereka menyadari bahwa kekuatan terbesar Islam adalah ilmu pengetahuan. Pada fase ini terbentuklah gagasan pemikiran yang menjadi rahim orientalisme. Fase ini ditandai dengan munculnya seorang filsuf Inggris bernama Roger Bacon yang dikenal dengan sebutan Doctor Mirabilis. Ia tekun mempelajari bahasa Arab dan peradaban Islam. Selain itu juga muncul Thomas Aquinas yang digadang-gadang sejajar dengan cendekiawan Islam sekaliber Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina.

Saat Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel pada 1453 Masehi, kebencian mereka terhadap Islam sudah tak terbendung. Karenanya mereka mempersiapkan diri untuk kembali memerangi Islam, hanya saja kali ini tidak dengan senjata tetapi dengan mempersiapkan perangkat keilmuan. Tentu karena kekalahan yang bertubi-tubi di Perang Salib dan penaklukan Konstantinopel membuat mereka yakin bahwa Islam hanya bisa ditaklukan dengan ilmu, bukan dengan persenjataan.

Dalam rangka mewujudkannya, mereka mengirim utusan-utusan superior dalam bahasa Arab dan ilmu Islam untuk menyebar di daerah yang dikuasai Islam. Tujuannya untuk mengumpulkan manuskrip dan buku, berinteraksi dengan elite politik, cendekiawan, dan masyarakat lainnya. Semua itu mereka catat untuk dipelajari dan mengetahui letak kelemahan Islam. Selain itu mereka juga tersebar di setiap penjuru dunia seolah mengamati keadaan, kekayaan, dan politik suatu daerah. Sejak itu gerakan ini dikenal dengan sebutan orientalisme. Gerakan ini sejatinya merupakan senjata utama Eropa, berkat kontribusinya, Eropa bisa melancarkan kolonialisme di berbagai belahan dunia sekaligus dengan misi misionarisme. Tiga hal ini, ialah orientalisme, kolonialisme, dan misionarisme yang mendatangkan Renaisans yaitu masa kebangkitan Eropa.

Pengaruh Orientalisme

Saat Eropa mulai bangkit dan menunjukkan taringnya, dunia Islam belum sepenuhnya terdegradasi. Tepat pada pertengahan abad ke-17 Masehi sampai awal abad ke-19 Hijriyah muncul tokoh reformis yang akan mengembalikan masa keemasan Islam setelah sebelumnya redup oleh pengaruh orientalisme. Tokoh tersebut ialah Al-Baghdadi (1620-1683 M) di Mesir, Al-Jabarti Kabir (1698-1774 M) di Mesir, Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792 M) di Jazirah Arab, Murtado Az-Zabidi (1732-1790) di Mesir, dan As-Syaukani (1760-1834 M) di Yaman.

Berkaitan dengan Al-Jabarti Kabir ia adalah seorang ulama yang tidak hanya pakar dalam ilmu keislaman tapi juga menguasai engineering, kimia, astronomi, mesin, dan ilmu lainnya. Putranya yaitu Al-Jabarti Shagir menceritakan dalam kitab Tarikhnya bahwa para pelajar dari Eropa belajar darinya pelbagai keilmuan. Ketika kembali ke negaranya, mereka menciptakan penemuan baru─seperti kincir. Itu semua adalah buah dari ilmu Al-Jabarti Kabir. Menurut Mahmoud Syakir mereka yang belajar kepada Al-Jabarti adalah para orientalis.

Tidak dipungkiri bahwa percepatan dan penemuan yang ada saat ini sejatinya lahir dari rahim Islam yang dieksplorasi oleh para orientalis sebagaimana cerita Al-Jabarti. Mendengar adanya kontribusi dari kelima tokoh tersebut, para konsultan orientalis mulai mengambil ancang-ancang perlindungan dengan mengirim utusan. Inggris bertugas mengawasi potensi kebangkitan di Arab Saudi yang diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahab itu. Syekh Al-Buthi dalam salah satu ceramahnya menuturkan, usaha Inggris itu cukup berhasil, yakni dengan menanamkan paham Wahabi yang tersebar di sana─buah dari usaha yang dilakukannya.

Adapun Prancis mengawasi kebangkitan di Mesir yang diprakarsai oleh Al-Jabarti Kabir. Mereka khawatir terhadap pergerakan intelektual yang terjadi di Masjid Amr bin Ash dan Masjid Al-Azhar. Puncaknya adalah kedatangan seorang Machiavelli yang bernama Napoleon Bonaparte untuk menjajah Mesir pada 1798 M. Ia melancarkan siasat politik adu domba, mengguncang kehormatan dewan Masyikhah Al-Azhar. Ia juga menakuti masyarakat Mesir dengan memenggal beberapa kepala manusia setiap paginya. Ia menargetkan para pelajar, tentu karena ingin menghancurkan peradaban keilmuan yang dibangun Al-Jabarti. Banyak pelajar ketika itu memilih mengasingkan diri ke pelosok. Lebih dari itu, ia mencuri manuskrip dan buku-buku yang tak terhitung jumlahnya.

Menilik sejarah dan riwayat agung peradaban Islam, maka sudah semestinya kita tidak larut dalam hegemoni Barat. Senantiasa berpijak pada identitas kita yaitu Islam dan ilmu pengetahuan. Sebab, peradaban yang maju sekarang ini sejatinya berawal dari rahim Islam. Maka sudah seharusnya umat menyadari potensi dirinya dengan meningkatkan kualitas diri yang berlandaskan aqidah dan spiritual. Kesadaran dan pemahaman inilah yang urgen untuk diketahui oleh pemuda saat ini.

Wallahu A’lam Bisshawab.

 

Referensi: Risalah fii At-Thariq ilaa Tsaqafatina, Karya Mahmoud Muhammad Syakir

 

Penulis: Gifari Anta Kusuma

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Peradaban Islam dan Akar Orientalisme

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Viral Cek Khodam di Media Tiktok, Bagaimana Pandangan Islam Mengenai Khodam?
9 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Baru-baru ini aktivitas “cek khodam” ramai di media sosial, khususnya di live TikTok dan Instagram. Pengguna media... selengkapnya

Sudah 79 Tahun Merdeka, Perjuangan Belum Selesai!
17 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada negeri dan bangsa ini sehingga saat... selengkapnya

Puisi-Puisi Mochammad Lutfi Azis
11 Agustus 2024

  Asmaraloka   Malam ini aku tuangkan puisi rinduku dalam sepucuk surat Kutitipkan ia kepada angin malam agar senantiasa mengecup... selengkapnya

Siapakah Salaf yang Sesungguhnya? Begini Penjelasan Buya Yahya
28 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Salaf merupakan istilah yang merujuk pada zaman terdahulu, yakni zaman yang telah mendahului kita. Salaf juga bukan manhaj... selengkapnya

Apakah Kebakaran di Los Angeles Balasan atas Kekejaman di Gaza?
16 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menelisik peristiwa yang terjadi di Palestina, setidaknya ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya. Pertama adalah rakyat... selengkapnya

(Cerpen) Di Antara Langit dan Doa
14 Juni 2025

ANGIN pagi di kaki langit timur menyusup ke celah-celah jendela kamarku yang menghadap barat daya. Di ujung horizon, mentari masih... selengkapnya

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?
1 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia terkadang mengalami depresi berat yang sulit untuk diselesaikan. Reaksi setiap orang dalam menghadapinya berbeda-beda, ada... selengkapnya

Hikmah dan Renungan Umat Muslim di Tahun Baru Masehi yang Bertepatan dengan Datangnya Bulan Rajab
31 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pergantian tahun dapat dijadikan momen refleksi bagi banyak orang, termasuk umat muslim. Tahun baru Masehi sering kali... selengkapnya

Simfoni Pengorbanan Iduladha
30 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Iduladha bukan sekadar hari raya, tapi sebuah perjalanan hati menuju pengorbanan sejati. Di balik setiap tetes keringat dan... selengkapnya

Penerimaan Terbuka Tulisan
28 Februari 2024

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Siapa di antara Sahabat Pustaka yang gemar menulis? Ada informasi menarik dari Pustaka Al-Bahjah Kami membuka kesempatan... selengkapnya

Peradaban Islam dan Akar Orientalisme

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: