● online
Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk dunia dan merenung: mengapa di zaman yang serba instan ini, justru kesehatan mental kita terasa begitu rapuh? Mengapa di saat segala kemudahan berada dalam genggaman, tingkat stres, depresi, dan rasa tidak puas justru meroket tajam melampaui batas kewajaran?
Kita adalah generasi yang hidup dalam kemewahan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh raja-raja di masa lalu. Hanya dengan satu sentuhan jari di layar ponsel, makanan dari sudut kota mana pun bisa hadir di depan pintu. Kita bernaung di bawah atap rumah yang jauh lebih kokoh, lebih mewah, dan lebih nyaman daripada yang pernah dimiliki kakek-nenek kita. Namun, ironisnya, mengapa kedamaian batin seolah-olah menjadi barang mewah yang kian mustahil untuk ditemukan? Mengapa meski raga kita nyaman, jiwa kita justru sering kali merasa “gelisah”? Jawabannya terletak pada satu kunci yang mulai lepas dari genggaman kita: Tadzkir bin Niam.
Ini bukan sekadar istilah, melainkan sebuah disiplin hati untuk terus-menerus membangun kesadaran akan limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa kunci ini, hidup manusia akan berubah menjadi labirin kebingungan yang tak berujung. Kita terus berlari mengejar apa yang tidak ada, sampai kita lupa mencicipi apa yang sudah tersedia. Saat kita kehilangan kemampuan untuk mengingat nikmat (Tadzkir bin Niam), mata kita akan mengalami “kebutaan spiritual”. Kita hanya mampu melihat apa yang dimiliki orang lain melalui layar media sosial, lalu membandingkannya dengan kekurangan kita.
Kita memiliki 99 alasan untuk tersenyum. Namun kita memilih menghabiskan seluruh energi kita untuk meratapi satu hal yang belum kita miliki. Inilah yang membuat kita stres: kita terobsesi pada “titik hitam” di atas selembar “kertas putih” yang luas. Kita lupa bahwa napas yang masih mengalir, jantung yang masih berdetak, dan mata yang masih bisa membaca tulisan ini adalah aset triliunan rupiah yang Allah berikan secara cuma-cuma.
Hilangnya Rasa Cukup
Mari kita melakukan perjalanan waktu ke era 80-an atau 90-an. Ingatkah bagaimana suasana di kampung halaman kala itu? Hidup begitu bersahaja. Makan hanyalah soal menyambung nyawa, bukan soal pamer di media sosial. Sering kali, satu butir telur harus digoreng dengan campuran tepung yang banyak agar bisa dibagi rata untuk lima orang kakak-beradik. Nasi putih hangat, sedikit minyak jelantah, dan ulekan bawang putih sudah cukup untuk menutup hari dengan senyuman.
Ajaibnya, saat itu tidak ada istilah “melarat” yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada orang yang merasa hidupnya gagal hanya karena tidak makan mewah. Mengapa? Karena mereka memiliki ilmu merasa cukup. Bandingkan dengan hari ini. Hari ini, seseorang bisa memiliki lima butir telur di piringnya sendiri, namun lisan dan hatinya masih berteriak “kurang”. Kita menderita bukan karena kekurangan rezeki, melainkan karena kehilangan kemampuan untuk menikmati rezeki yang ada. Kita memiliki segalanya, kecuali rasa syukur. Itulah kemiskinan yang sesungguhnyafakir hati yang takkan pernah kenyang meski seluruh emas di bumi menjadi miliknya.
Fokus pada “Sisa”, Bukan pada “Tumpah”
Dalam dunia ilmu jiwa atau psikologi, bersyukur adalah bentuk kecerdasan tertinggi. Bayangkan sebuah perumpamaan sederhana: memiliki segelas minuman favorit, lalu tanpa sengaja separuhnya tumpah.
- Orang yang rugi akan menghabiskan sisa harinya dengan meratapi yang tumpah. Ia marah, ia menyesal, dan ia kehilangan selera. Akhirnya, yang separuh di gelas pun menjadi hambar karena tertutup awan kesedihan.
- Orang yang cerdas akan melihat gelasnya dan berkata: “Alhamdulillah, untung Allah masih menyisakan separuh untukku.” Ia meminumnya dengan nikmat dan tetap bahagia.
Dunia ini memang tempatnya “tumpah”. Bisnis bisa rugi, barang bisa rusak, ayam ternak bisa mati. Jika hanya fokus pada pabrik yang terbakar, akan gila. Tapi jika melihat dua pabrik yang masih berdiri, akan tetap menjadi pemenang. Jangan biarkan apa yang hilang darimu merampas kegembiraan atas apa yang masih kamu miliki.
Belajar dari Luka: Hakikat Syukur di Tengah Penderitaan
Ada sebuah kisah dahsyat dari zaman Tabiin. Seorang hamba Allah diuji dengan penyakit lepra yang parah. Jasadnya hancur, jari-jarinya terputus, luka-luka memenuhi tubuhnya hingga orang-orang tidak nyaman berada di dekatnya. Namun, dari bibirnya yang pecah-pecah, terus mengalir kalimat: “Alhamdulillah… Alhamdulillah…”
Ketika ditanya, bagaimana mungkin dalam kondisi hancur seperti itu ia masih memuji Allah? Jawaban yang keluar sungguh menggetarkan: “Jasadku boleh rusak, duniaku boleh hilang, tapi aku bersyukur lidahku belum lumpuh untuk berzikir menyebut nama-Nya.” Ini adalah level tertinggi dari ketenangan. Jika seseorang mampu menemukan alasan untuk bersyukur di tengah hancurnya raga, maka apa alasan kita untuk mengeluh? Kita yang matanya masih bisa melihat warna-warni dunia, yang telinganya masih bisa mendengar suara orang-orang tercinta, dan yang kakinya masih bisa melangkah menuju masjid.
Menemukan Keajaiban dalam Hal-Hal Kecil
Kita sering menganggap nikmat itu harus berupa uang atau jabatan. Padahal, Allah menyisipkan nikmat luar biasa dalam setiap detak hidup kita:
- Nikmat Lapar: Tanpa rasa lapar, makanan termahal pun tidak akan terasa enak. Lapar adalah “bumbu” alami yang Allah berikan agar kita bisa menikmati rezeki-Nya.
- Nikmat Kantuk: Bayangkan jika tidak bisa tidur. Kekayaan tidak akan mampu membayar nikmatnya terlelap selama satu jam saja.
Syukur Adalah Perisai Stres
Marilah kita berhenti menjadi orang yang “buta” di tengah cahaya karunia Allah. Berhenti membandingkan hidup kita dengan layar ponsel orang lain. Sebaliknya, mulailah membandingkan hidup kita dengan mereka yang hari ini tidak bisa makan di Sudan, atau mereka yang terbangun di tengah reruntuhan perang.
Jika bersyukur, tidak ada ruang bagi stres untuk masuk. Jika bersyukur, setiap hari adalah hari raya bagi hati. Mari kita lalui hari ini dengan satu kesadaran: “Terima kasih Ya Allah, karena Engkau masih memberiku kesempatan untuk bersyukur.”
Jadilah pribadi yang cerdaspribadi yang lebih memilih menghitung nikmat daripada menghitung luka. Karena pada akhirnya, bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan syukurlah yang membuat kita bahagia.
Penulis: Nur Robi Saputra
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – LPD Al-Bahjah menggelar buka puasa Arafah bersama pada hari Kamis 9 Dzulhijjah 1444 H , 28... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang tak terhingga kepada makhluk-Nya, baik nikmat yang telah diberikan, sedang dirasakan,... selengkapnya
Ilmu Kebal di Dalam Pergaulan Sosial Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Komunikasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Komunikasi harus senantiasa dilakukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena tidak sedikit permasalahan berawal dari buruknya komunikasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Telur ayam menjadi salah satu makanan yang selalu ada di setiap warung makan, hajatan, atau bahkan sekadar... selengkapnya
Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya
Judul Buku : Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama Penulis : BuyaYahya Penerbit ... selengkapnya
Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000
Saat ini belum tersedia komentar.