● online
Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Selembar kertas tampak sederhana, rapuh, bahkan sering terabaikan. Namun di balik kesederhanaannya, ia adalah saksi bisu perjalanan ilmu, peradaban, dan bahkan iman manusia. Kertas tidak hanya menampung tinta, tetapi juga menyimpan sejarah dan makna yang melintasi zaman. Bagi Islam, kertas tidak bisa dipisahkan dari wahyu, dari pena, dari bacaan, dan dari tugas suci manusia untuk mengikat ilmu agar tidak hilang.
Islam menempatkan pena dan tulisan pada posisi sakral sejak awal. Al-Qur’an menegaskan: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1). Pena di sini bukan sekadar alat, tetapi simbol keterhubungan antara manusia dengan wahyu. Pena adalah perpanjangan tangan manusia untuk menuliskan makna yang melampaui dirinya. Bahkan, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah perintah membaca: “Iqra’ bismirabbikaalladzi khalaq” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). Membaca dan menulis menjadi fondasi seluruh risalah, sehingga pena dan kertas tidak lagi sekadar benda, melainkan bagian dari spiritualitas Islam.
Dalam riwayat, Nabi Idris ‘Alaihissalam dianggap sebagai Nabi pertama yang mengenalkan tulisan. Dari tangannya, manusia belajar menorehkan tanda-tanda untuk mengabadikan ilmu. Nabi Musa ‘Alaihissalam menerima wahyu pada alwah—lembaran batu yang diukir. Nabi Daud menuliskan Zabur dalam bentuk syair yang indah. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam menerima Al-Qur’an secara lisan. Namun para sahabat segera menuliskannya pada pelepah kurma, kulit, dan kemudian kertas. Semua ini menunjukkan bahwa wahyu selalu berhubungan dengan medium: batu, kulit, kertas.
Di sinilah kita melihat perkembangan sejarah: dari batu ke kulit, dari kulit ke perkamen, dari perkamen ke kertas. Perjalanan wahyu selalu beriring dengan medium yang menampungnya. Medium itu boleh berubah, tapi makna ilahinya tetap sama. Namun, kertas bukan hanya sekadar medium, melainkan simbol filosofis. Jika Lauh Mahfuz adalah kitab abadi di sisi Allah yang mencatat segala takdir, maka kertas adalah lauh kecil di dunia manusia. Setiap lembar kertas adalah refleksi mini dari Lauh Mahfuz: ia kosong, menunggu ditulis, dan apa yang tertulis tidak mudah dihapus. Maka, setiap kali seorang santri menulis di atas kertas, sejatinya ia sedang menirukan perbuatan Ilahi—mencatat takdirnya sendiri di alam fana.
Secara historis, kertas dikenal pertama kali di dunia Islam pada abad ke-8, setelah Perang Talas (751 M) di Asia Tengah. Tentara Abbasiyah menangkap pengrajin kertas dari Cina, lalu membawa pengetahuan itu ke Samarkand. Dari sanalah berkembang industri kertas yang kemudian menyebar ke Baghdad, Kairo, Fez, hingga Andalusia.
Baghdad pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Ma’mun menjadi pusat ilmu dengan perpustakaan besar Bayt al-Hikmah. Di sana, ribuan manuskrip diterjemahkan dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Tanpa kertas, mustahil peradaban Islam bisa mengarsipkan begitu banyak karya. Di Cordoba, Spanyol, perpustakaan Khalifah al-Hakam II menyimpan lebih dari 400.000 manuskrip—sebuah angka yang luar biasa di masa ketika Eropa masih tenggelam dalam abad kegelapan.
Kertas menjadi kendaraan ilmu yang melintasi dunia. Ia membawa tafsir Imam Thabari, hadis Imam Bukhari, filsafat Ibnu Sina, kedokteran Ar-Razi, hingga astronomi Al-Biruni. Dari Baghdad ke Damaskus, dari Kairo ke Cordoba, hingga akhirnya ke Paris dan Toledo, kertas Islam menjadi jembatan peradaban.
Jika dilihat dengan kaca mata filsafat, kertas adalah cermin jiwa manusia. Seperti kertas, jiwa manusia awalnya putih dan kosong. Pena adalah amal, tinta adalah niat, dan tulisan adalah sejarah hidup. Sekali tinta menetes, sulit dihapus sepenuhnya. Demikian pula amal: sekali dilakukan, ia tercatat dalam catatan Ilahi.
Kertas tidak memilih isi tulisannya. Ia menerima baik ilmu maupun kebodohan, doa maupun caci maki. Jiwa manusia pun demikian: ia menampung apa saja yang manusia pilih untuk menorehkan di dalamnya. Dengan cara ini, kertas mengajarkan kita tanggung jawab eksistensial—bahwa hidup kita adalah kitab yang sedang ditulis, dan kitalah penulisnya.
Kertas yang kita isi hari ini adalah refleksi kecil dari Lauh Mahfuz. Ia rapuh, bisa terbakar, bisa hancur, tetapi makna di dalamnya melampaui fisiknya. Demikian pula manusia: tubuhnya rapuh, namun amal dan ilmunya bisa abadi. Menulis di atas kertas berarti menulis dalam sejarah, dan pada akhirnya, setiap tulisan adalah persiapan menuju catatan besar di hadapan Allah.
Lebih jauh lagi, kita dapat memandang manusia itu sendiri sebagai kertas berjalan. Tubuhnya adalah lembaran, akalnya adalah pena, dan hidupnya adalah tulisan. Sebagaimana kertas tidak memilih tinta, manusia tidak bisa menghindari takdir, tetapi ia bisa memilih niat dan arah tulisannya. Setiap kata yang keluar dari lisan adalah tinta di atas kertas hidup. Setiap perbuatan adalah kalimat. Setiap niat adalah paragraf. Dan pada akhirnya, setiap manusia akan menyerahkan “kertas kajian hidupnya” kepada Allah. Inilah filsafat kertas dalam Islam: bahwa hidup bukan sekadar untuk dijalani, tetapi untuk ditulis dengan kesadaran, agar kelak terbaca indah di hadapan Sang Pencipta.
Dengan kesadaran ini, menulis kertas kajian tidak lagi sekadar tugas akademik. Ia adalah ibadah intelektual. Setiap argumen adalah dzikir, setiap catatan adalah doa, setiap paragraf adalah sujud akal. Imam Al-Ghazali pernah berkata: “Ilmu yang tidak ditulis akan hilang, dan tulisan yang tidak diniatkan karena Allah akan sia-sia.” Artinya, setiap coretan pena bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk Allah. Penulis yang menulis di atas kertas sejatinya sedang mendirikan “masjid akal”. Jika masjid fisik adalah tempat sujud tubuh, maka kertas adalah tempat sujud pikiran. Ia menjadi ruang sakral di mana akal tunduk, hati berbicara, dan tangan menuliskan doa. Pada akhirnya, kertas adalah paradoks yang indah. Ia rapuh, tetapi maknanya abadi. Ia murah, tetapi nilainya bisa melampaui emas. Ia kosong, tetapi menunggu untuk diisi dengan ilmu, doa, dan amal.
Dalam Islam, kertas adalah saksi bahwa keabadian tidak terletak pada tubuh, melainkan pada makna yang ditinggalkan. Selembar kertas mungkin rapuh, tetapi ia menyimpan kekuatan yang tak tergantikan. Ia adalah jembatan antara manusia dengan wahyu, antara santri dengan sejarah, antara akal dengan ibadah. Ia mengingatkan kita bahwa keabadian tidak terletak pada tubuh yang fana, tetapi pada makna yang kita tulis dan tinggalkan. Dalam kertas, penulis menulis bukan hanya dengan pena, tetapi juga dengan hatinya. Ia sadar bahwa tulisannya adalah bagian dari sejarah panjang, dari Nabi Idris yang menulis, Nabi Muhammad yang menerima wahyu, ulama yang mengabadikan ilmu, hingga Sunan Gunung Jati yang menitipkan wasiatnya. Semua itu bersambung dalam satu benang merah: cahaya ilmu yang mengalir dari Lauh Mahfuz ke lembar kertas di tangan seorang penulis.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejarah penetapan kalender Hijriah dilakukan dengan proses musyawarah dan pemufakatan yang serius. Setidaknya ada empat hal yang menjadi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di saat kita menaiki sebuah perahu, terkadang kita dihadapkan pada sebuah gelombang, angin yang kencang, hujan, terik yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-15 Syawal 1446 H/Senin 14 April 2025 M – Liburan santri formal Al-Bahjah Pusat telah usai. Para santri... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana tanda-tanda jodoh menurut Al-Qur’an? Apa yang membuat seseorang bisa disebut sebagai jodoh yang... selengkapnya
Selamat Idulfitri 1447 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saudaraku sekalian, sebagai orang yang beriman kita telah mengenal rukun Islam dan rukun iman yang telah masyhur.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mendekati akhir bulan Desember, banyak orang yang sibuk mempersiapkan perayaan Tahun Baru Masehi. Banyak diantaranya ada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Fase menuju pernikahan menjadi momok mengerikan bagi para pemuda yang khawatir akan masa depannya. Akhir dari masa... selengkapnya
Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000
Saat ini belum tersedia komentar.