Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Diposting pada 11 September 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 510 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan batin, tempat nilai, makna, dan keyakinan bertemu dalam satu ruang yang paling subtil. Dari hati, lahirlah sikap, tindakan, dan cara manusia memaknai dunia. Akan tetapi, hati juga rentan terserang penyakit. Bukan penyakit yang terdeteksi alat medis, melainkan penyakit batiniah yang melumpuhkan kesadaran manusia.

Dalam salah satu kajiannya, Buya Yahya menyingkap penyakit hati yang paling berbahaya, bahkan paling ditakuti Rasulullah, yakni kesombongan. Kesombongan, menurut beliau, bukan sekadar perilaku sosial yang merendahkan orang lain, melainkan kondisi eksistensial yang menghalangi manusia dari kebenaran. Di sinilah pentingnya kajian filosofis: memahami bahwa penyakit hati adalah problem ontologis, epistemologis, dan etis yang merusak fondasi kemanusiaan.

Secara ontologis, manusia adalah makhluk yang terbatas. Ia hidup dalam kefanaan, bergantung pada Sang Pencipta, dan tidak memiliki kendali mutlak atas eksistensinya. Namun, kesombongan membuat manusia lupa pada hakikat tersebut. Ia menempatkan dirinya seolah-olah absolut, berkuasa penuh, dan tidak membutuhkan yang lain. Inilah tragedi ontologis yang digambarkan Buya Yahya: manusia ingin menempati posisi yang hanya layak bagi Allah.

Kisah Iblis yang menolak sujud kepada Nabi Adam menjadi bukti konkret bagaimana kesombongan meruntuhkan martabat. Iblis bukan makhluk bodoh; ia berilmu, bahkan rajin beribadah. Tetapi ilmunya tertutup oleh kesombongan. Ia menolak perintah Allah bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena menolak menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan egonya. Inilah yang membuat kesombongan berbahaya: ia menjadikan pengetahuan sia-sia, ibadah hampa, dan amal tidak bernilai.

Filsafat pengetahuan (epistemologi) mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran adalah keterbukaan hati. Namun, kesombongan justru menutup pintu pengetahuan. Orang sombong sulit menerima kritik, merasa dirinya selalu benar, dan menolak belajar dari siapa pun. Kesombongan bukan hanya masalah moral, tetapi juga epistemologis. Buya Yahya mengingatkan bahwa hati yang sombong ibarat gelas yang sudah penuh dan tertutup. Setetes pun kebenaran tidak bisa masuk. Padahal, Islam menekankan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya dapat masuk ke hati yang bersih. Dengan demikian, kesombongan menghancurkan epistemologi Islam, sebab ia menolak sumber cahaya itu.

Selain dimensi ontologis dan epistemologis, kesombongan juga berdampak etis dan sosial. Etika mengandaikan adanya kesadaran akan martabat sesama manusia. Namun, kesombongan melahirkan perilaku merendahkan, menyepelekan, bahkan merampas hak orang lain. Secara sosial, kesombongan merusak harmoni. Masyarakat yang dipenuhi individu sombong adalah masyarakat yang penuh konflik, karena tidak ada ruang untuk saling menghargai. Dalam konteks ini, pesan Buya Yahya memiliki relevansi mendalam: menjaga hati dari kesombongan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga urusan sosial.

Dalam tradisi tasawuf, kesombongan sering disebut sebagai “ummul amradh” induk dari segala penyakit hati. Dari kesombongan lahirlah dengki, iri hati, dan kebencian. Dengki menjadikan manusia sulit bersyukur, selalu merasa resah atas kebahagiaan orang lain. Iri hati menanamkan perasaan bahwa kebahagiaan orang lain mengurangi kebahagiaan diri sendiri. Semua ini bersumber dari satu akar: kesombongan yang menolak menerima kenyataan takdir Allah. Buya Yahya menekankan, penyakit hati bukan sekadar wacana moral yang abstrak. Ia adalah realitas batin yang nyata, yang setiap hari harus dilawan. Jika tidak, penyakit hati akan menutup jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Refleksi filosofis ini semakin relevan di era modern. Dunia digital, dengan media sosial sebagai panggung utama, sering kali memperkuat kesombongan. Manusia berlomba menunjukkan pencapaian, mencari pengakuan, bahkan membangun identitas semu yang sering berakar pada kesombongan. Dalam perspektif filosofis, media sosial menjadi ruang di mana ego diperbesar dan kesadaran eksistensial terkaburkan. “Aku” menjadi pusat segalanya, sementara kesadaran akan “yang lain” memudar. Maka, kesombongan tidak lagi hanya problem spiritual, tetapi juga problem kultural dan peradaban.

Solusi yang ditawarkan Islam adalah tazkiyatun nafs, pembersihan jiwa. Buya Yahya mengingatkan bahwa pembersihan hati tidak cukup dengan teori, tetapi membutuhkan praktik konkret. Secara filosofis, tazkiyah adalah usaha untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai makhluk yang rendah hati di hadapan Sang Pencipta.

Ada beberapa langkah praksis:

  1. Muhasabah (introspeksi diri)

Melihat ke dalam hati setiap hari, menyadari kelemahan, dan tidak menutupi kesalahan dengan dalih.

  1. Tawadhu’ (kerendahan hati)

Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan hasil mutlak kemampuan manusia.

  1. Syukur dan ridha

Belajar berbahagia atas nikmat orang lain, sebab kebahagiaan sesama tidak mengurangi kebahagiaan diri.

  1. Tobat berkelanjutan

Mengakui dosa, termasuk dosa batiniah seperti kesombongan, lalu memohon ampunan kepada Allah.

Pesan Buya Yahya tentang kesombongan sebagai penyakit hati paling berbahaya mengandung makna filosofis yang dalam. Kesombongan adalah tragedi ontologis, karena manusia melupakan hakikat kefanaannya. Ia juga krisis epistemologis, karena menutup jalan pengetahuan dan cahaya kebenaran. Selain itu, ia problem etis dan sosial, karena menghancurkan relasi manusia dengan sesama.

Dalam dunia modern, kesombongan semakin nyata dalam bentuk-bentuk baru: kompetisi tanpa batas, budaya pamer, dan pencarian pengakuan semu. Karena itu, jalan satu-satunya adalah kembali pada tazkiyatun nafs, pembersihan hati yang filosofis, spiritual, dan praksis. Dengan kerendahan hati, manusia tidak kehilangan martabatnya; justru di situlah letak kemuliaan sejatinya.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
(Cerpen) Auman di Balik Semak
12 Oktober 2025

PADA suatu hari, Hutan Alamara tidak lagi memantulkan ketenangan yang dulu menjadi jiwanya. Sungai yang pernah berkilau bagai kaca kini... selengkapnya

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh
6 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki awal tahun, banyak orang memulai lembaran baru dengan semangat “hijrah” yang menggelora. Tentu, sebagai sesama Muslim, kita... selengkapnya

Pendaftaran Santri Baru Kelas Dewasa Putra atau Putri TAFAQQUH AL-BAHJAH Tahun Akademik 1443-1444 H
14 November 2021

Pendaftaran Santri Baru Kelas Dewasa Putra/Putri TAFAQQUH AL-BAHJAH Tahun Akademik 1443-1444 H Visi: “Mendahulukan Akhlaq & Mengembangkan Dakwah Rasulallah SAW.”... selengkapnya

Agama Bukan Tameng Kejahatan
9 Juni 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini masyarakat kembali dikejutkan oleh pemberitaan mengenai dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum tokoh agama terhadap... selengkapnya

Buya Yahya: Santuni Anak Yatim Langsung ke Rumah Mereka
30 Juli 2023

Buya Yahya, pengasuh LPD Al-Bahjah memberikan tausiyah tentang cara yang lebih baik dalam menyantuni anak yatim dan piatu. Menurut Buya... selengkapnya

Berkurban dengan Kambing Betina, Ternyata Begini Hukumnya
3 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kurban merupakan salah satu sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Berkurban dilakukan dengan menyembelih berbagai hewan... selengkapnya

Gemerlap Harlah Al-Bahjah: Bersinergi untuk Negeri, Bermanfaat untuk Ummat
3 September 2021

Gemerlap Harlah Al-Bahjah: Bersinergi untuk Negeri, Bermanfaat untuk Ummat   PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS-Tidak terasa tahun ini Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah... selengkapnya

(Cerpen) Di Antara Langit dan Doa
14 Juni 2025

ANGIN pagi di kaki langit timur menyusup ke celah-celah jendela kamarku yang menghadap barat daya. Di ujung horizon, mentari masih... selengkapnya

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati
13 September 2025

LANGGAR tua itu berdiri di ujung kampung, sederhana dan hampir lapuk dimakan waktu. Namun setiap sore, suara ayat suci selalu... selengkapnya

Main Medsos ketika Puasa, Apakah Pahalanya Bisa Berkurang?
24 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di bulan Ramadan, setiap Muslim dianjurkan untuk lebih maksimal dan fokus beribadah, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.... selengkapnya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: