● online
Secangkir Teh yang Tak Pernah Usai (Cerpen)

PAGI itu, embun masih menggantung malu-malu di ujung daun jambu pekarangan rumah. Cahaya mentari baru saja menyelinap dari balik genting yang mulai tua, menebarkan sinar keemasan yang menyapa bumi dengan lembut. Zahra berdiri di beranda, menggenggam gagang sapu lidi yang sudah mulai aus. Tangan mungilnya bergerak pelan, menyapu dedaunan kering yang gugur seakan mengikuti duka yang belum reda.
Sudah dua bulan ibunya pergi, tapi rasanya seperti baru kemarin mereka tertawa bersama di dapur, menyesap teh hangat sambil membahas resep-resep lama dari nenek. Sekarang, keheningan seperti teman yang tak diundang, menetap tanpa pamit, memenuhi seluruh sudut rumah yang dulunya penuh cerita. Tak ada lagi suara lembut yang menyapanya subuh-subuh, membisikkan nasihat atau sekadar bertanya apakah dia sudah shalat. Semua hanya tinggal kenangan yang berputar seperti rekaman di kepalanya putar balik tanpa bisa dihentikan.
Zahra menaruh sapunya, duduk di bangku kayu yang dulu biasa mereka tempati berdua. Ia menatap cangkir teh di tangannya. Teh melati. Aroma yang khas, aroma yang selalu jadi pengantar obrolan mereka setiap pagi. Kali ini, aroma itu hanya menambah sesak di dadanya. Ia menyesap perlahan, mencoba menemukan kehangatan yang dulu terasa begitu dekat. Tapi rasanya berbeda. Mungkin bukan tehnya yang berubah. Mungkin karena tangan yang menyeduh tak lagi sama.
“Aku rindu, Bu,” bisiknya, hampir tak terdengar. Angin pagi yang sepoi membawa bisikannya entah ke mana. Tapi Zahra yakin, ibunya mendengarnya entah dari mana. Ia percaya, doa dan rindu yang tulus tak pernah berakhir di udara.
Di depan rumah, jalan kampung masih lengang. Hanya terdengar suara ayam tetangga dan dentingan sendok dari rumah sebelah. Zahra menatap langit. Ada awan tipis menggantung di atas sana, seperti sapu tangan putih yang melambai pelan. Ia tersenyum, tipis. Ada damai yang menetes perlahan dalam kesunyiannya.
Di bawah matanya, air bening mulai berkumpul. Tapi kali ini bukan tangis. Lebih mirip rasa syukur yang tiba-tiba mengalir tanpa sebab. Zahra tahu, duka memang masih bertamu. Tapi ia juga tahu, cinta seorang ibu tak pernah benar-benar pergi. Ia menetap dalam setiap kebiasaan kecil, setiap aroma, setiap langkah menuju ketenangan.
Dan pagi itu, dengan secangkir teh di tangan, Zahra belajar menerima kepergian dengan lebih ikhlas. Ia belajar bahwa kadang, surga itu hadir bukan hanya di akhirat, tapi dalam kenangan yang begitu suci yang mampu membuat seseorang tersenyum dalam tangis dan menangis dalam syukur.
Tak ada lagi suara lembut yang memanggil namanya saat azan Subuh berkumandang. Tak ada langkah ringan dari dapur yang biasanya disusul wangi khas daun teh melati. Zahra kini harus belajar menerima kehilangan, meski jiwanya belum sepenuhnya rela. Kadang ia berharap semua ini hanya mimpi bahwa ibunya hanya pergi ke pasar dan akan pulang dengan kantung berisi daun-daun teh kering kesukaannya.
Setiap pagi, Zahra tetap menyeduh teh. Ritual kecil yang ia jaga sebagai bentuk penghormatan. Tangannya menggigil sedikit saat menuangkan air panas ke dalam cangkir putih warisan ibunya. “Ini teh yang Ibu suka,” gumamnya, lalu duduk di bangku rotan di teras depan, tepat di tempat biasa mereka berbagi cerita. Tapi pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, Zahra berbicara hanya pada angin dan kenangan.
SUATU pagi, ia membuka kembali laci tua di kamar ibunya. Di sana, tersimpan puluhan catatan kecil berisi doa-doa, petuah, dan pesan-pesan kehidupan. Salah satunya tertulis dengan tinta yang sudah pudar: “Hidup ini sementara, Nak. Tapi kebaikan dan cinta yang kau beri akan hidup lebih lama darimu.” Zahra memeluk kertas itu, dan hatinya yang rapuh seperti disentuh oleh pelukan yang hilang. Ia menangis, tapi kali ini air matanya terasa lebih hangat, bukan sekadar luka, melainkan juga kerinduan yang penuh makna.
Zahra mulai sering menyedekahkan teh pada tetangga, seperti yang dulu dilakukan ibunya. Ia menyeduh dengan cara yang sama, menambahkan sedikit daun melati, dan menyisipkan secarik kertas berisi doa. “Semoga harimu damai,” tulisnya suatu hari. Saat seorang nenek tua mengetuk pintu dan mengucap terima kasih, Zahra merasa ada bagian dari ibunya yang hidup kembali dalam wangi teh dan senyum orang lain.
Di masjid kecil dekat rumah, Zahra mulai aktif membantu kegiatan ibu-ibu pengajian. Ia mengajar anak-anak mengaji, menghidupkan kembali kegiatan tadarus yang sempat terhenti. Ia sadar bahwa kehilangan bisa menjelma menjadi kekuatan, jika kita tidak tenggelam dalam luka, tapi mengolahnya menjadi cahaya.
“Bu, aku tidak sekuat dulu saat bersamamu. Tapi aku sedang belajar,” bisiknya pada suatu pagi, di teras, dengan secangkir teh yang mengepul pelan. Wangi melati mengambang di udara, seolah menjadi bahasa diam antara langit dan bumi.
“Jika suatu hari Ibu pergi lebih dulu, jangan bersedih terlalu lama. Hidupmu harus terus berjalan. Jadikan setiap seduhan teh sebagai doa, bukan air mata.”
Tertulis dengan tulisan tangan yang Zahra kenali benar; tulisan Ibunya.
Matanya basah, tapi kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena kekuatan yang ditinggalkan ibunya dalam tiap kata. Sejak hari itu, Zahra mulai membagikan secangkir teh hangat kepada siapa saja yang datang ke rumah: anak-anak mengaji, tetangga yang berduka, hingga pedagang sayur yang singgah sejenak.
Setiap cangkir teh menjadi bentuk cinta. Tak lagi tentang kesedihan, tapi tentang melanjutkan makna hidup, seperti yang diajarkan ibunya. Zahra mulai menulis kembali, menceritakan kisah-kisah tentang ibunya dalam lembar-lembar jurnal, berharap suatu hari nanti, ada anak lain yang merasakan kehangatan dari kisah itu, sebagaimana ia merasakannya dulu.
Di teras itu, tempat kenangan bersandar, secangkir teh tak lagi bicara tentang kehilangan—melainkan tentang harapan, keikhlasan, dan cinta yang tak pernah mati. Zahra tahu, di antara wangi teh melati yang mengepul, ibunya tak pernah benar-benar pergi.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Secangkir Teh yang Tak Pernah Usai (Cerpen)
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap amal kebaikan yang kita lakukan, baik berupa sedekah maupun berbagi ilmu, akan memberikan pahala langsung kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Wudu merupakan syarat sah shalat yang harus dipenuhi setiap Muslim. Tanpa suci dari hadas besar maupun kecil, maka... selengkapnya
Menunggu Barangkali tap tip jiwa sama-sama lupa Barangkali tap tip jiwa sama-sama tuli Barangkali tap tip jiwa sama-sama... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Setiap manusia memiliki karakter dan sifat masing-masing. Ada yang memiliki karakter dan sifat pendiam, ada juga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Nabi Muhammad Saw pernah menyebut bahwa wanita adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia. Wanita disebut sebagai perhiasan dunia karena... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 15 dan surat Al-Hijr ayat 27 diterangkan, bahwa jin merupakan makhluk yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mencium tangan guru merupakan sebuah tradisi yang masuk ke dalam bab tabarruk. Tabarruk sendiri berarti mengambil berkah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia berhak untuk berbicara tentang apa pun kepada siapa pun, selagi yang dibicarakannya adalah pembicaraan yang baik... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada sebuah pertanyaan menarik dari salah satu jamaah yang dilontarkan kepada Buya Yahya, yaitu mengenai orang yang... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000 Rp 95.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900
Saat ini belum tersedia komentar.