Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Secangkir Teh yang Tak Pernah Usai (Cerpen)

Secangkir Teh yang Tak Pernah Usai (Cerpen)

Diposting pada 29 Juli 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 545 kali

PAGI itu, embun masih menggantung malu-malu di ujung daun jambu pekarangan rumah. Cahaya mentari baru saja menyelinap dari balik genting yang mulai tua, menebarkan sinar keemasan yang menyapa bumi dengan lembut. Zahra berdiri di beranda, menggenggam gagang sapu lidi yang sudah mulai aus. Tangan mungilnya bergerak pelan, menyapu dedaunan kering yang gugur seakan mengikuti duka yang belum reda.

Sudah dua bulan ibunya pergi, tapi rasanya seperti baru kemarin mereka tertawa bersama di dapur, menyesap teh hangat sambil membahas resep-resep lama dari nenek. Sekarang, keheningan seperti teman yang tak diundang, menetap tanpa pamit, memenuhi seluruh sudut rumah yang dulunya penuh cerita. Tak ada lagi suara lembut yang menyapanya subuh-subuh, membisikkan nasihat atau sekadar bertanya apakah dia sudah shalat. Semua hanya tinggal kenangan yang berputar seperti rekaman di kepalanya putar balik tanpa bisa dihentikan.

Zahra menaruh sapunya, duduk di bangku kayu yang dulu biasa mereka tempati berdua. Ia menatap cangkir teh di tangannya. Teh melati. Aroma yang khas, aroma yang selalu jadi pengantar obrolan mereka setiap pagi. Kali ini, aroma itu hanya menambah sesak di dadanya. Ia menyesap perlahan, mencoba menemukan kehangatan yang dulu terasa begitu dekat. Tapi rasanya berbeda. Mungkin bukan tehnya yang berubah. Mungkin karena tangan yang menyeduh tak lagi sama.

“Aku rindu, Bu,” bisiknya, hampir tak terdengar. Angin pagi yang sepoi membawa bisikannya entah ke mana. Tapi Zahra yakin, ibunya mendengarnya entah dari mana. Ia percaya, doa dan rindu yang tulus tak pernah berakhir di udara.

Di depan rumah, jalan kampung masih lengang. Hanya terdengar suara ayam tetangga dan dentingan sendok dari rumah sebelah. Zahra menatap langit. Ada awan tipis menggantung di atas sana, seperti sapu tangan putih yang melambai pelan. Ia tersenyum, tipis. Ada damai yang menetes perlahan dalam kesunyiannya.

Di bawah matanya, air bening mulai berkumpul. Tapi kali ini bukan tangis. Lebih mirip rasa syukur yang tiba-tiba mengalir tanpa sebab. Zahra tahu, duka memang masih bertamu. Tapi ia juga tahu, cinta seorang ibu tak pernah benar-benar pergi. Ia menetap dalam setiap kebiasaan kecil, setiap aroma, setiap langkah menuju ketenangan.

Dan pagi itu, dengan secangkir teh di tangan, Zahra belajar menerima kepergian dengan lebih ikhlas. Ia belajar bahwa kadang, surga itu hadir bukan hanya di akhirat, tapi dalam kenangan yang begitu suci yang mampu membuat seseorang tersenyum dalam tangis dan menangis dalam syukur.

Tak ada lagi suara lembut yang memanggil namanya saat azan Subuh berkumandang. Tak ada langkah ringan dari dapur yang biasanya disusul wangi khas daun teh melati. Zahra kini harus belajar menerima kehilangan, meski jiwanya belum sepenuhnya rela. Kadang ia berharap semua ini hanya mimpi bahwa ibunya hanya pergi ke pasar dan akan pulang dengan kantung berisi daun-daun teh kering kesukaannya.

Setiap pagi, Zahra tetap menyeduh teh. Ritual kecil yang ia jaga sebagai bentuk penghormatan. Tangannya menggigil sedikit saat menuangkan air panas ke dalam cangkir putih warisan ibunya. “Ini teh yang Ibu suka,” gumamnya, lalu duduk di bangku rotan di teras depan, tepat di tempat biasa mereka berbagi cerita. Tapi pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, Zahra berbicara hanya pada angin dan kenangan.

SUATU pagi, ia membuka kembali laci tua di kamar ibunya. Di sana, tersimpan puluhan catatan kecil berisi doa-doa, petuah, dan pesan-pesan kehidupan. Salah satunya tertulis dengan tinta yang sudah pudar: “Hidup ini sementara, Nak. Tapi kebaikan dan cinta yang kau beri akan hidup lebih lama darimu.” Zahra memeluk kertas itu, dan hatinya yang rapuh seperti disentuh oleh pelukan yang hilang. Ia menangis, tapi kali ini air matanya terasa lebih hangat, bukan sekadar luka, melainkan juga kerinduan yang penuh makna.

Zahra mulai sering menyedekahkan teh pada tetangga, seperti yang dulu dilakukan ibunya. Ia menyeduh dengan cara yang sama, menambahkan sedikit daun melati, dan menyisipkan secarik kertas berisi doa. “Semoga harimu damai,” tulisnya suatu hari. Saat seorang nenek tua mengetuk pintu dan mengucap terima kasih, Zahra merasa ada bagian dari ibunya yang hidup kembali dalam wangi teh dan senyum orang lain.

Di masjid kecil dekat rumah, Zahra mulai aktif membantu kegiatan ibu-ibu pengajian. Ia mengajar anak-anak mengaji, menghidupkan kembali kegiatan tadarus yang sempat terhenti. Ia sadar bahwa kehilangan bisa menjelma menjadi kekuatan, jika kita tidak tenggelam dalam luka, tapi mengolahnya menjadi cahaya.

“Bu, aku tidak sekuat dulu saat bersamamu. Tapi aku sedang belajar,” bisiknya pada suatu pagi, di teras, dengan secangkir teh yang mengepul pelan. Wangi melati mengambang di udara, seolah menjadi bahasa diam antara langit dan bumi.

“Jika suatu hari Ibu pergi lebih dulu, jangan bersedih terlalu lama. Hidupmu harus terus berjalan. Jadikan setiap seduhan teh sebagai doa, bukan air mata.”

Tertulis dengan tulisan tangan yang Zahra kenali benar; tulisan Ibunya.

Matanya basah, tapi kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena kekuatan yang ditinggalkan ibunya dalam tiap kata. Sejak hari itu, Zahra mulai membagikan secangkir teh hangat kepada siapa saja yang datang ke rumah: anak-anak mengaji, tetangga yang berduka, hingga pedagang sayur yang singgah sejenak.

Setiap cangkir teh menjadi bentuk cinta. Tak lagi tentang kesedihan, tapi tentang melanjutkan makna hidup, seperti yang diajarkan ibunya. Zahra mulai menulis kembali, menceritakan kisah-kisah tentang ibunya dalam lembar-lembar jurnal, berharap suatu hari nanti, ada anak lain yang merasakan kehangatan dari kisah itu, sebagaimana ia merasakannya dulu.

Di teras itu, tempat kenangan bersandar, secangkir teh tak lagi bicara tentang kehilangan—melainkan tentang harapan, keikhlasan, dan cinta yang tak pernah mati. Zahra tahu, di antara wangi teh melati yang mengepul, ibunya tak pernah benar-benar pergi.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Secangkir Teh yang Tak Pernah Usai (Cerpen)

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Puisi-Puisi Rustiya
17 Mei 2024

  Sajadah Cinta   Sajadah cinta terbentang luas, Di hamparan kasih yang tak terkira. Benang-benang  iman terjalin erat, Menemani jiwa... selengkapnya

Manusia Serakah: Mudharat dan Penyebab Bencana Alam
5 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada penghujung tahun 2025 ini, banyak bencana terjadi di bumi pertiwi. Mulai dari tanah longsor, gunung meletus, dan... selengkapnya

3 Hal Yang Membuat Orang Tua Bahagia di Alam Kubur
24 Juni 2023

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kepergian orang tua untuk selama-lamanya tentu selalu meninggalkan kesedihan dan duka yang mendalam. Penyesalan seringkali... selengkapnya

Remaja Hebat, Jangan Insecure
28 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Kamu pernah merasa tidak cukup baik, tidak cukup cantik dan tampan, atau tidak cukup pintar? Jangan khawatir,... selengkapnya

Masyaallah, Ditengah Guyuran Hujan Deras, Para Jamaah Aceh Tetap Antusias Hadiri Majelis Buya Yahya
15 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tabligh Akbar dalam rangkaian Safari Dakwah Buya Yahya di Aceh, Selasa 20 Jumadil Ula 1444 H/13... selengkapnya

Ilmu-Ilmu Pengetahuan Ini Terinspirasi dari Peristiwa Isra’ Mi’raj
28 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam memiliki banyak peristiwa penting yang berperan dalam perkembangan agama, salah satunya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada malam... selengkapnya

Berbuka dengan Menu “Rasa Peduli”
7 April 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika kita asyik menikmati ifthar dengan hidangan berjejer di meja makan, nun jauh di sana saudara kita,... selengkapnya

Keceriaan, Rahasia di Balik Setiap Senyuman
17 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keceriaan memiliki peran penting dalam kehidupan, bahkan di tengah kesulitan. Tampil ceria adalah salah satu bentuk syukur... selengkapnya

Puncak Acara Maulid Nabi Muhammad dan Silaturahmi Akbar 1444 H, Puluhan Ribu “Tamu Rasulullah” Padati Al-Bahjah Cirebon
2 Oktober 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari ini merupakan puncak acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang bertajuk Maulid dan Silaturahmi Akbar... selengkapnya

Teks Khutbah Iduladha 1446 H/2025 M
3 Juni 2025

Jadikanlah Iduladha saat ini adalah untuk memulai dengan sungguh-sungguh berjuang dan berkorban dengan apa pun yang kita miliki untuk meruntuhkan... selengkapnya

Secangkir Teh yang Tak Pernah Usai (Cerpen)

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: