● online
Dahsyatnya Keberkahan dalam Pengabdian

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah sekian lama bekerja di sebuah instansi, saya memutuskan resign, kemudian mencoba peruntungan dengan melamar di beberapa lembaga yang ada di sekitar tempat tinggal. Kebetulan tempat tinggal saya berada di lingkungan pendidikan─banyak berdiri sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Namun dari sekian banyak surat lamaran yang dikirim, belum ada satu pun yang nyantol, hanya sebatas sampai tahap wawancara dan tes seleksi saja. Setelah itu, tidak ada kabarnya lagi. Bersabar adalah jalan yang harus saya tempuh kala itu.
Lambat laun kondisi seperti ini mulai memengaruhi psikologiku. Sebab, semula memiliki kebiasaan bekerja dengan banyak melakukan interaksi, namun akhirnya pada saat itu terpaksa mendapati kondisi yang menjenuhkan, bosan, dan sepi secara terus-menerus. Saya merasa kehilangan sesuatu, bahwa betapa berharganya senda gurau dan rasa persahabatan yang tak ada lagi setelah berhenti bekerja.
Setelah beberapa bulan menanti, akhirnya datang juga kabar yang ditunggu-tunggu. Saya mendapat panggilan di sebuah lembaga pendidikan dan dakwah yang ada di Cirebon. Sekolah ini berbasis pesantren atau dikenal dengan istilah Boarding School. Letaknya tidak jauh dari tempat tinggal rumah saya, kira-kira hanya berkisar sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Itulah salah satu pertimbangan yang membuat saya berani menjalaninya walau berbeda dari segi jenjang dengan tempat bekerja sebelumnya, yakni perguruan tinggi beralih ke sekolah. Tentunya membutuhkan strategi yang berbeda untuk menyelaminya.
Jam kerja di tempat bekerja yang baru ini lebih pagi, karena dimulai sejak pukul 07.00 sehingga dituntut untuk memiliki strategi agar tugas lainnya sebagai ibu rumah tangga tidak terbengkalai. Di sekolah juga diberlakukan jadwal piket yang bertugas memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan kondusif. Selain itu, guru piket dapat menggantikan atau memberi tugas kepada siswa, jika guru kelas berhalangan hadir. Memeriksa siswa yang masih berdiam diri di asrama agar mengikuti pelajaran dengan baik sampai memberikan obat bagi santri yang sakit. Termasuk jika ada tamu yang bekunjung ke sekolah, guru piketlah yang terlebih dahulu menerimanya sebelum mengarahkan ke tujuan yang dimaksud. Awalnya cukup melelahkan tapi lama-lama terbiasa.
Sebelum memulai pembelajaran, sekolah ini memiliki rutinitas yang luar biasa, yakni anak-anak diwajibkan berkumpul di lapangan untuk membaca serangkaian doa-doa dan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sehingga mau tidak mau saya pun dituntut untuk belajar dan menghafal, walau agak terbata-bata namun setidaknya bisa mengimbangi mereka. Itu menjadi berkah tersendiri bagi saya karena mendapatkan amalan ilmu baru yang sangat bermanfaat bagi pribadi yang awam terhadap ilmu agama. Selain itu, pada waktu istirahat anak-anak diwajibkan melaksanakan shalat Dhuha bersama-sama, sehingga mengajarkan budaya Islami yang mulai memudar karena tergerus oleh roda zaman. Ini juga menularkan energi positif untuk belajar istiqomah menunaikan ibadah. Tidak hanya itu, pada setiap hari Kamis anak-anak pun dilatih untuk bisa berpuasa sehingga pada hari itu tidak disediakan makan siang. Guru dan staf pun dianjurkan untuk turut menjalankannya─menjadi contoh yang baik untuk anak didiknya.
Setelah menunaikan shalat Dzuhur, para asatiz dan asatizah menyelenggarakan tilawah Al-Qur’an bersama. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap hari sehingga secara tidak langsung menjadi sarana belajar bagi saya untuk memperbaiki bacaan maupun pelafazan makhroj yang kurang sesuai. Menurut ketua yayasan program ini berguna untuk mengasah kemampuan para civitas agar membaca Al-Qur’an secara tartil.
Jadwal penjengukan santri diberlakukan sebulan sekali pada pekan kedua untuk santri putri dan pekan keempat untuk santri putra. Salah satu tugas saya adalah mendampingi santri dan siaga manakala ada wali murid hendak menunaikan infak. Sebab, saat itu saya mendapatkan amanah sebagai pustakawan sekaligus merangkap bendahara. Salah satu hal yang membuat saya merasa canggung adalah ketika beberapa orang tua yang melintas di depanku mencium tangan saya dengan takzim, katanya ngalap berkah. Hal inilah yang praktis menyadarkanku bahwa cerminan sikapku harus sesuai.
Tak terasa sebulan telah berlalu dan kini saatnya pembagian uang barokah; begitu orang-orang menyebutnya. Saya berharap besarnya setimpal dengan kinerja yang telah dikerjakan, namun ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dibayangkan, sangat jauh dengan yang saya terima ketika masih berada di tempat bekerja sebelumnya. Tangan ini sampai gemetar karena tak percaya dengan nominal yang diterima. Saya berusaha sabar dan berlapang dada mengingat apa yang disampaikan oleh salah satu ustad, bahwa keberkahan rezeki itu bukan dilihat dari nominalnya tapi seberapa bermanfaat bagi hidup kita, landasan itulah yang membuatku bertahan.
Pada suatu sore, kutengok uang di dompet hanya tersisa Rp2000, sedangkan persediaan gas untuk memasak habis. Sayup-sayup terdengar bunyi tut… tut…tut… yang saya kira suara mobil, namun ternyata bunyi token listrik yang hampir habis. Saya sempat khawatir dan bimbang bagaimana mencari uang untuk menutupinya, sampai-sampai terlelap hingga terbawa mimpi karena hari pun sudah beranjak malam.
Menjelang pagi terdengar suara azan Subuh, lantas bergegas bangun melaksanakan rutinitas karena kebetulan lagi berhalangan sehingga tidak shalat. Terdengar suara pintu diketuk, sekelebat bayangan di benak menerka-nerka siapa gerangan yang bertamu sepagi ini. Walau terbesit rasa takut namun karena ketukan pintu tak mau berhenti kupaksakan diri segera menghampiri sumber suara. Tak dinyana, ternyata ia adalah tetangga yang mau memberikan uang Rp200.000 untuk membayar angsuran lemari. Sungguh rezeki yang tak disangka-sangka datang di saat yang tepat. Mengalami peristiwa tersebut menjadi teringat sebuah kutipan yang disampaikan oleh Imam Syafi’i, bahwa tidak usah mencemaskan esok hari karena esok adalah rezeki yang baru.
Berkah lainnya adalah penyakit alergi yang saya derita sejak kecil alhamdulillah sembuh sejak ditotok, yakni jenis pijat terapi yang dikelola oleh pesantren dan sebagai ekstrakurikuler santri. Alhasil saya tidak perlu meminum obat lagi setiap hari. Selain itu kuku jempol kaki yang tadinya bernanah dan mati kini pulih. Saya juga tidak lagi merasakan nyeri ketika datang bulan tiba. Konon pijatan pada titik yang tepat membuat peredaran darah menjadi lancar, dengan demikian imunitas tubuh menjadi baik.
Selain itu, selama melakukan kegiatan berjejaring dengan teman sejawat juga Allah senantiasa memudahkan urusan dan pekerjaan saya─mempertemukan dengan orang-orang yang baik dan tulus. Alangkah bersyukur sekali karena pada dasarnya rezeki bukan sekadar materi, tapi juga orang-orang yang selalu ada dan siap membantu dikala dibutuhkan; hakikat anugerah yang tak terhingga.
Dari perjalanan dan kisah tersebut, memberikan banyak makna dan hikmahnya. Mengabdi di pesantren memang bukanlah tempat untuk mengais pundi-pundi rupiah. Namun rezeki itu tidak selalu berupa materi. Allah juga dapat memberikan rezeki dengan berbagai kemudahan dan menjadi pembuka rezeki lainnya yang tak dapat dihitung dengan angka.
Penulis: Wuriyanti (Pustakawan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah Cirebon)
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Dahsyatnya Keberkahan dalam Pengabdian
BANTU AKU Dibutuhkan seluruh jiwa untuk memahami bahwa labuhan hati adalah mengerti hadir-Mu di setiap langkah hari seperti... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Melakukan kebaikan dengan cara yang tidak baik tidak akan menjadikan orang tersebut dianggap telah melakukan kebaikan. Berniat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Isu mengenai cadar selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan, terlebih bagi anak-anak muda yang baru mengetahui... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini kendaraan yang yang pajaknya mati (tidak aktif) dan bodong cukup banyak kita temui di... selengkapnya
Dalam rangka mewujudkan visi Al-Bahjah untuk membangun masyarakat berakhlak mulia, bersendikan Al-Qur’an dan Sunnah, LPD Al-Bahjah terus melebarkan sayap perjuangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Cinta merupakan fenomena yang lazim dialami oleh setiap manusia. Dan hawa nafsu merupakan sesuatu yang fitrahnya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya
KEBERSAMAAN DIVISI DAKWAH DAN MEDIA DALAM MERAIH IMPIAN BERSAMA Rasa semangat merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seseorang guna... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Utang piutang adalah salah satu bentuk muamalah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, kegiatan ini... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari yang namanya komunikasi. Baik itu dengan pasangan, keluarga, teman kerja,... selengkapnya
Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900
Saat ini belum tersedia komentar.