● online
Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai

Pagi itu, suasana Pondok Al Khoirot terasa syahdu seperti biasanya. Lalu lalang santri bergegas menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Ada sesuatu yang berbeda di sudut serambi masjid. Terompah milik Pak Kiyai, yang biasanya tersusun rapi di depan pintu, Subuh itu tidak ada.
“Lho, di mana terompah Pak Kyai?” tanya Hasan, salah satu santri senior, sambil menggaruk kepalanya tak gatal. Kepekaannya dituntut lebih hidup. Sebab, ia yang bertugas memastikan semua kebutuhan Pak Kyai tersedia sebelum dan sesudah shalat, termasuk menyiapkan terompah.
“Mungkin tergeser ke bawah tangga,” jawab Fauzi, teman sekamarnya, mencoba menenangkan. Namun, setelah mereka mencari ke sana-sini, terompah itu tetap tidak ditemukan.
Pak Kyai, yang baru selesai wirid, mendekati Hasan dan Fauzi, “Ada apa, Nak?” tanyanya dengan lembut.
“E… itu, Pak Kyai. Terompahnya tidak ada,” jawab Hasan dengan nada ragu.
Pak Kyai hanya tersenyum, “Ya sudah, tidak apa-apa. Barangkali sedang diuji Allah. Coba cari lagi nanti setelah Dhuha,” ujarnya tenang, lalu melangkah ke rumahnya dengan kaki telanjang.
Setelah shalat Dhuha, Hasan dan Fauzi memutuskan untuk mengumpulkan beberapa teman lainnya. Mereka sepakat untuk menyelidiki hilangnya terompah itu.
“Menurutku, ini ulah si Jono,” bisik Fahmi, menduga Jono sebagai santri yang terkenal usil.
“Jono? Dia kan sudah seminggu pulang ke rumah karena sakit,” balas Fauzi, membantah tuduhan Fahmi.
Mereka pun menyisir area sekitar pondok, mulai dari masjid, asrama hingga dapur. Anehnya, tak ada seorang pun yang melihat atau mengetahui keberadaan terompah tersebut. Kejadian ini menjadi bahan pembicaraan di kalangan santri.
“Mungkin ada yang mengambil untuk kenang-kenangan,” kata wawan sambal tertawa kecil. “Kan, terompah Pak Kyai dianggap keramat.”
Namun hasan merasa ada yang aneh. Tidak mungkin seseorang mencuri barang milik Pak Kyai, apa lagi di pondok pesantren yang menjunjung tinggi nilai kejujuran.
Malam harinya, saat suasana pondok mulai hening, Hasan memutuskan untuk pergi ke masjid seorang diri. Ia merasa harus berusaha lebih keras mencari terompah itu. Dengan langkah yang perlahan namun pasti, ia menyisir setiap sudut masjid. Ketika ia sampai di belakang mimbar, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.
“Apa ini?” gumamnya sambil memungut secarik kain yang tergeletak di lantai. Kain itu terlihat seperti sobekan sarung dengan noda lumpur di salah satu ujungnya.
Hasan memutuskan untuk menyimpan kain itu dan menyampaikannya kepada Pak Kyai keesokan harinya. Namun, dalam hati, ia mulai merasa bahwa hilangnya terompah ini bukan kejadian biasa.
***
Keesokan paginya, Hasan membawa sobekan kain itu ke hadapan Pak Kiyai. Setelah selesai shalat Subuh, ia mengetuk pintu ndalem Pak Kiyai dengan hati-hati.
“Assalamu’alaikum, Pak Kiyai,” sapa Hasan.
“Wa’alaikumsalam, Hasan. Masuk saja,” jawab Pak Kiyai dengan suara lembut.
Hasan melangkah masuk dan menyerahkan kain itu. “Pak Kiyai, semalam saya menemukan ini di belakang mimbar, saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan terompah yang hilang.”
Pak Kiyai mengambil kain itu dan memandanginya dengan saksama. Ia tersenyum tipis, lalu berkata, “Kain ini seperti sobekan dari sarung santri kita. Coba kamu tanyakan kepada teman-temanmu siapa yang kehilangan sarung.”
Hasan mengangguk dan segera pergi. Ia mengumpulkan para santri di halaman masjid setelah Dhuha.
“Siapa di antara kalian yang sarungnya sobek? Kalua ada, tolong bilang, itu penting,” serunya.
Beberapa santri saling berpandangan, hingga akhirnya seorang santri bernama Khozin mengangkat tangan dengan ragu.
“Sarungku memang sobek beberapa hari yang lalu, Hasan. Tapi aku tidak tahu kenapa kainnya bisa di masjid.”
Hasan menatap Akmal dengan tajam.
“Kapan terakhir kali kamu melihat sarung itu sobek?”
“Saat aku jatuh di kebun belakang waktu mengambil kayu bakar,” jawab Akmal jujur.
Mendengar itu, Hasan mengajak beberapa santri untuk memeriksa kebun belakang. Di sana, mereka menemukan jejak kaki kecil yang mengarah ke semak-semak. Setelah mengikuti jejak itu, mereka terkejut saat menemukan seekor kambing dengan terompah Pak Kiyai yang tersangkut di tanduknya.
“Astagfirullah, jadi itu ulah kambing!” seru Hasan.
Mereka segera membawa kambing itu beserta terompah kembali ke pondok. Pak Kiyai yang melihat kejadian itu, hanya tersenyum lebar.
“Lihat, Nak, Allah punya caranya sendiri untuk mengajari kita kesabaran dan kerja sama. Bahkan kambing pun bisa menjadi pelaku misteri.”
Para santri tertawa lega. Hilangnya terompah Pak Kiyai akhirnya terpecahkan, dan mereka belajar bahwa terkadang masalah yang besar bisa berasal dari hal-hal kecil yang tidak terduga.
***
Kambing itu kembali ke kandangnya, namun Hasan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: Bagaimana terompah Pak Kiyai bisa sampai tersangkut di tanduk kambing? Lokasi kendang kambing jauh dari masjid, dan pintu kandangnya biasanya selalu terkunci.
“Aku merasa ada yang tidak beres,” ujar Hasan kepada Fauzi yang duduk di sebelahnya sambil membersihkan lantai masjid.
“Apa maksudmu?” tanya Fauzi heran.
“Kandang kambing itu jauh di sini, dan tidak mungkin seekor kambing bisa membawa terompah sejauh itu tanpa bantuan seseorang,” jawab Hasan dengan nada serius.
Fauzi mngerutkan kening.
“Jadi, kamu pikir ada orang yang sengaja meletakkan terompah Pak Kiyai ke tanduk kambing?”
Hasan mengangguk.
“Aku tidak tau siapa atau mengapa, tapi aku rasa kita harus mencari tahu lebih dalam.”
Malam itu, Hasan dan Fauzi memutuskan untuk berjaga-jaga di dekat kandang kambing. Mereka bersembunyi di balik semak-semak, ditemani oleh lampu senter kecil. Sekitar tengah malam, suara langkah pelan terdengar mendekati kandang.
Dari kejauhan, mereka melihat sosok bayangan masuk ke kandang. Orang itu membawa sesuatu di tangannya. Ketika cahaya bulan sedikit lebih terang, Hasan bisa mengenali wajahnya.
“Fahmi?” bisiknya kaget.
Fahmi hampir saja bersuara, namun Hasan segera menutup mulutnya. Mereka melihat Fahmi meletakkan sesuatu di dalam kandang dan segera pergi dengan langkah yang tergesa-gesa.
Setelah yakin Fahmi sudah jauh, Hasan dan Fauzi keluar dari persembunyiannya dan memeriksa kandang. Di sana, mereka menemukan sepasang sandal lain yang diletakkan di atas jerami. Sandal itu milik Wawan, salah satu santri lainnya.
“Astagfirullah, Fahmi sengaja membuat keributan di pondok,” ujar Fauzi geram.
“Tapi kenapa? Apa tujunnya?” Hasan bertanya-tanya
***
Keesokan harinya, Hasan membawa sandal itu ke hadapan Pak Kiyai. Setelah menceritakan apa yang mereka lihat, Pak Kiyai memanggil Fahmi secara khusus. Di hadapan Pak Kiyai, Fahmi akhirnya mengakui perbuatannya.
“Saya… hanya ingin bercanda, Pak Kiyai. Saya tidak menyangka akan jadi segaduh ini,” ujarnya dengan kepala tertunduk.
Pak Kiyai menatap Fahmi dengan lembut, namun tegas.
“Nak Fahmi, bercanda itu ada batasannya. Apa lagi jika sudah menyusahkan orang lain. Kamu harus belajar dari kejadian ini.”
Fahmi mengangguk penuh penyesalan, sebagai hukumannya ia diminta membantu membersihkan kandang kambing dan memberi makan kambing itu selama satu Minggu. Para santri lainnya pun akhirnya memahami bahwa hukuman yang diberikan Pak Kiyai adalah pelajaran berharga yang harus mereka jaga.
Di akhir hari, Hasan dan Fauzi kembali ke masjid, merasa lega. Hilangnya terompah Pak Kiyai mungkin hanyalah awal dari sebuah pelajaran tentang tanggung jawab dan kejujuran.
(Tamat)
Penulis: Solahudin Al Ayyubi
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Tags: cerita pendek, Cerpen, cerpen religi
Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seseorang diibaratkan sebagai rumah yang harus memiliki pondasi dalam hidupnya. Jika rumah tidak memiliki pondasi atau pondasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sekitaran kompleks perumahan, sering kita jumpai rumah yang di beberapa bagiannya berbatasan langsung dengan selokan kecil atau... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setelah menjalankan puasa di bulan Ramadan, kemudian kita masuk pada bulan Syawal. Ramadan sering disebut sebagai bulan... selengkapnya
Menunggu Barangkali tap tip jiwa sama-sama lupa Barangkali tap tip jiwa sama-sama tuli Barangkali tap tip jiwa sama-sama... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah makna ta’aruf itu sendiri. Ta’aruf bukanlah kesepakatan untuk menuju kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat Pustaka, mandi junub merupakan kewajiban seorang muslim ketika ia memiliki berhadas besar seperti, keluar mani,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Satu helai rambut saja, bagi wanita itu adalah aurat bagi. Begitu yang disampaikan Umi Fairuz Arrahbini dalam channel... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam rangka memaksimalkan penyelenggaraan maulid akbar Nabi Muhammad Saw yang akan diselenggarakan pada Ahad, 6 Rabiul... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa pun dapat menulis, tetapi tidak semua orang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebab, menulis merupakan wujud... selengkapnya
Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500
Saat ini belum tersedia komentar.