● online
Hukum Menyalati Jenazah yang tidak Pernah Shalat? Buya Yahya Menjawab

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dinamika kehidupan di masyarakat yang memiliki agama dan kebudayaan yang beragam kadang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang perlu segera dijawab. Utamanya dalam masalah agama, kalau pertanyaan-petanyaan atas pemasalahan agama tidak segera diselesaikan dengan bijak berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat. Misalnya, hukum menyalati orang yang tidak shalat.
Mungkin saja kita pernah mendengar tetangga mengatakan, “Jangan menyalati si polan, dia saja gak shalat”. Pandangan di masyarakat tentang hal ini jika tidak dihadapi dengan bijak dapat menimbulkan perselisihan yang tidak baik. Karena itu, mari kita kembalikan kepada agama Islam itu sendiri, bagaimana sebenarnya ulama berpendapat tentang orang Islam yang tidak shalat.
Para ulama dalam akidah Ahlussunnah, ulama-ulama dari mazhab Syafi’i, mazhab Maliki, dan Hanafi sepakat bahwa orang Islam yang meninggalkan shalat tidak dianggap kafir, kecuali mazhab Hanbali. Sebagaimana penjelasan Buya Yahya berikut.
“Dalam akidah Ahlussunnah Wal Jamaah, juga imam-imam besar, mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi mengatakan bahwasanya orang yang meninggalkan shalat tidak dianggap kafir selagi ia masih meyakini bahwa shalat adalah wajib. Selagi sepanjang hidupnya dia tidak pernah mengatakan, ‘Shalat itu gak wajib’, berarti dia masih mukmin (orang yang beriman). Kecuali menurut imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat kafir.”
Dapat kita pahami, menurut mazhab kita Imam Syafi’i, kalau ada orang Islam meninggalkan shalat maka ia masih beriman. Termasuk juga orang beriman yang meninggalkan puasa, kalau meninggal ia masih seorang mukmin sehingga tetangganya tetap wajib menyalatinya. Adapun perbuatannya meninggalkan puasa tentu merupakan dosa besar.
Hukum menyalati orang Islam yang meninggal dunia adalah fardu kifayah. Buya Yahya menjelaskan dalam buku Silsilah Fiqih Praktis Jenazah, bahwa kalau ada muslim meninggal dunia maka kita memiliki 4 kewajiban fardu kifayah, yaitu memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkannya. Fardu kifayah adalah jika sudah ada sebagian orang yang melaksanakan fardu (kewajiban) tersebut maka gugurlah kewajiban tersebut bagi yang lainnya. Sebaliknya, jika tidak ada yang melaksanakannya sama sekali maka satu kelompok dalam lingkungan tersebut terkena dosa.
Misalnya dalam satu kampung, satu golongan, satu wilayah, atau sebagainya tidak ada yang menyalati jenazah muslim yang meninggal dunia, maka semuanya berdosa. Dalam hal ini Buya Yahya menegaskan,
“Rambu-rambunya sederhana, secara hukum zahir, selagi ia seorang muslim maka kita wajib menyalatinya. Baik dia itu pezina, pemabuk, pencuri, jika kita tidak menyalatinya ketika meninggal kita dosa semuanya.”
Sebaliknya, hal yang sangat baik akan kita dapatkan jika kita menyalati seorang muslim yang meninggal. Dijelaskan dalam salah satu riwayat hadis sebagai berikut.
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ شهدَ الْجَنَازَةَ حتى يصلَّى عليها فله قِيرَاطٌ، ومن شهدها حتى تُدفن فله قِيرَاطان، قيل: وما القِيرَاطَانِ؟ قال: مثل الجبلين العظيمين .ولمسلم: أصغرهما مثل أُحُدٍ]. صحيح] – [متفق عليه[
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Sallahu Alaihi Wassalam, beliau bersabda, “Barang siapa menghadiri jenazah hingga ia menyalatkannya maka ia mendapatkan (pahala) satu qirat, dan barang siapa menghadirinya sampai jenazah dikubur maka ia mendapatkan (pahala) dua qirat.” Beliau ditanya, ‘Apakah dua qirat itu?’ Beliau menjawab, ‘Seperti dua gunung yang besar.’ Dalam riwayat Muslim disebutkan, ‘Paling kecil dari keduanya adalah seperti gunung Uhud.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pahala yang didapatkan dari menyalati mayit adalah sangat besar, Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang mengetahui kadarnya. Nabi Sallahu Alaihi Wassalam memberikan gambaran kepada para sahabat untuk memudahkan mereka dalam memahaminya, yaitu setiap qirat adalah seperti gunung yang besar. Ini juga karena banyak maslahat-maslahat yang ditimbulkan dari malaksanakannya, seperti memenuhi hak saudara sesama muslim, mengingat akhirat, mendoakan, menghibur, dan melipur duka di hati keluarga yang ditinggalkan.
Semua pahala yang besar ini tentu berlaku bagi siapa pun jenazah yang dishalati, selagi ia seorang muslim. Buya Yahya menambahkan,
“Biarpun ia seseorang yang tidak shalat, pemabuk, pencuri, penjudi, tidak puasa, ia masih sebagai mukmin, lalu Anda menyalatinya maka Anda dapat pahala. Anda antarkan jenazahnya sampai ke kubur, Anda dapat dua gunung pahala. Dua gunung pahala ini bukan untuk menggiring jenazah wali atau orang saleh saja, tapi untuk mengiring orang beriman, orang muslim.”
Ingin tahu lebih banyak tentang fiqih jenazah? Kini Anda dapat dengan mudah mengetahuinya dalam buku Silsilah Fiqih Praktis Jenazah karya Buya Yahya.
Semoga kita semua dijauhkan dari kesalahpahaman dan diberi husnul khotimah dalam sebaik-baiknya keadaan. Amin.
Referensi: Youtube Al-Bahjah TV
Penulis: Iim Ainunnaim Muhammad
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Tags: jenazah, menyalati jenazah, Shalat, shalat jenazah
Hukum Menyalati Jenazah yang tidak Pernah Shalat? Buya Yahya Menjawab
Dalam rangka mewujudkan visi Al-Bahjah untuk membangun masyarakat berakhlak mulia, bersendikan Al-Qur’an dan Sunnah, LPD Al-Bahjah terus melebarkan sayap perjuangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, terutama longsor dan banjir. Menurut berbagai sumber... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menjelang lebaran, aktivitas penukaran uang lama dengan uang baru menjadi fenomena umum di masyarakat. Banyak orang yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau... selengkapnya
Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya. Maksud dari kewajiban ini adalah... selengkapnya
Al-Quds Seperti bayi yang menangis Butuh kasih sayang Dari orang tuamu Al-Quds Di sana kau merana Meratapi... selengkapnya
Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah Upaya untuk menyebarkan dakwah di tengah-tengah masyarakat tentunya memerlukan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mendekati akhir bulan Desember, banyak orang yang sibuk mempersiapkan perayaan Tahun Baru Masehi. Banyak diantaranya ada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mengutip kisah Nabi Muhammad Saw ketika berdakwah di kota Thaif, kala itu beliau memulainya dengan datang ke... selengkapnya
Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000
Saat ini belum tersedia komentar.