● online
Tip Sedekah Membawa Untung

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sedekah adalah salah satu amalan yang bisa dilakukan oleh setiap Muslim, baik dirinya kaya maupun fakir. Dalam Islam tidak ada patokan minimal besaran yang wajib dikeluarkan untuk bersedekah. Artinya, setiap Muslim diperkenankan bersedekah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika dia adalah orang fakir, dia diperbolehkan bersedekah dengan sedikit harta sesuai kemampuannya. Sebaliknya, kalau dia adalah orang kaya, dia juga diperkenankan bersedekah sebanyak harta yang bisa dia keluarkan.
Sedekah bisa dilakukan oleh siapa pun. Akan tetapi, banyak cobaan dan rintangan muncul tatkala kita ingin bersedekah. Ada yang datang dari dalam diri yaitu hawa nafsu, dan ada pula yang datang dari luar yakni bisikan setan. Keduanya akan memengaruhi kita agar tidak bersedekah. Lebih buruknya lagi, hawa nafsu dan bisikan sering kali menganjurkan kita untuk bersedekah terlebih dulu, lalu membuat kita merasa menyesal kemudian. Contoh, ketika kita telah bersedekah Rp20.000, kemudian kita menemukan sebuah toko yang menawarkan diskon paket sembako seharga Rp20.000. Ketika itu hawa nafsu dan setan mulai berbisik, “Andai tadi tidak sedekah, pasti bisa beli paket sembako.”
Begitulah setan menggoda hamba Allah dengan berbagai cara, meskipun hamba tersebut sedang berbuat baik sekalipun. Jika setan mengetahui seorang hamba memiliki niat ingin berbuat baik, setan tidak hanya mencoba untuk menggagalkan amal baik tersebut. Akan tetapi, setan juga berusaha untuk menjadikan amal baik itu tidak bermanfaat dengan membuat sang hamba sombong dan berpuas diri. Membiarkan seorang hamba berpuasa, tetapi tetap menggodanya agar malas melaksanakan shalat. Membiarkan seorang hamba bersedekah, tetapi berbisik kepadanya agar merendahkan orang lain. Memudahkan seorang hamba pergi umrah, tetapi tetap mengajaknya untuk berfoya-foya. Oleh karena itu, agar sedekah kita tidak terjebak dengan perangkap-perangkan setan, mari kita belajar cara sedekah yang benar dan tepat. Mengutip pendapat guru kita Buya Yahya, beliau menyampaikan bahwa kita bisa meniru cara sedekah Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.
Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bersedekah dengan empat cara. Jika beliau mendapatkan uang Rp1.000.000, beliau akan membaginya menjadi empat. Seperempat pertama (Rp250.000) beliau sedekahkan pada waktu pagi, seperempat kedua (Rp250.000) disedekahkan pada waktu malam, seperempat ketiga (Rp250.000) disedekahkan secara terang-terangan, dan seperempat terakhir (Rp250.000) disedekahkan secara sembunyi-sembunyi. Artinya, dalam bersedekah hendaknya kita membuat warna-warni. Sebab warna-warni dalam berbuat baik itu penting agar kita tidak mudah tergoda oleh setan sekaligus mendidik hawa nafsu. Warna-warni dalam sedekah juga mengajarkan kepada kita bahwa di saat kita berani bersedekah sembunyi-sembunyi, maka kita harus berani sedekah secara terang-terangan. Tanda ikhlas seorang hamba yang berani sedekah terang-terangan adalah berani sedekah secara sembunyi-sembunyi.
Memang benar ada hadist dari Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam tentang orang yang mendapatkan perlindungan di akhirat karena bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, hadits ini sering kali dijadikan sandaran dan alasan bagi orang pelit saat ingin bersedekah. Padahal Allah telah memberikan kepadanya harta berlimpah hingga menjadikan dia kaya raya, tetapi dia bersedekah hanya dengan sebutir kurma secara sembunyi-sembunyi.
Jika kita meniru gaya sedekah Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, maka di saat kita bersedekah terang-terangan, di saat itu pula kita memberi contoh agar orang lain mau bersedekah. Ketika kita telah memberikan contoh, maka kita segara menyempurnakannya dengan sedekah sembunyi-sembunyi agar hati kita bisa belajar ikhlas. Artinya, sesaat kita memberikan contoh dan sesaat kita belajar ikhlas.
Bersamaan dengan itu, bersedekah secara terang-terangan juga dapat memangkas riya di dalam hati. Seperti hamba Allah yang bersedekah Rp50.000 lalu diumumkan dan ditulis di papan pengumuman sedekah masjid. Namun sebelum hamba tersebut bersedekah secara terang-terangan, dirinya telah terlebih dulu bersedekah secara sembunyi-sembunyi ke kotak amal masjid sebesar Rp100.000. Melalui contoh tersebut kita dapat mengambil pelajaran, ketika kita takut riya dalam bersedekah, maka iringi sedekah tersebut dengan sedekah sembunyi-sembunyi. Artinya, jika kita sudah terlanjur dilihat berbuat baik oleh orang lain, iringi dengan perbuatan baik yang serupa atau lebih besar secara sembunyi-sembunyi. Sebab, tanda ikhlas seorang hamba yang sedekah terang-terangan adalah dirinya tidak akan berat bersedekah yang serupa atau lebih besar secara sembunyi-sembunyi.
Penulis: Fahmi Sidik Marunduri
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Tip Sedekah Membawa Untung
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Bahjah menyalurkan infak kemanusiaan untuk Palestina tahap II sebesar Rp1.746.285.736 melalui Badan Amil... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Satu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang berarti ia tengah meneladani satu akhlak Nabi. Sebab, kebaikan dengan segala... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada sebuah pertanyaan menarik dari salah satu jamaah yang dilontarkan kepada Buya Yahya, yaitu mengenai orang yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita merenung, tentang seberapa jauh perjalanan ini yang akhirnya mampu membawa kita sampai titik sekarang? Tentang berapa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Penyelenggaraan maulid dan silaturahmi akbar di LPD Al-Bahjah, Cirebon tinggal tiga hari lagi. sebagai upaya untuk... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Adanya percekcokan dalam rumah tangga memang bikin hati perih. Tak sedikit pasangan yang mendapati kesulitan dalam membangun... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Perayaan maulid Nabi Muhammad saw semarak di mana-mana. Namun, sebenarnya apa tujuan dari perayaan maulid Nabi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam bulan Ramadhan. Namun ketika shalat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap muslim mesti tergugah untuk bisa melaksanakan qurban di keluarga atau kampungnya masing-masing. Akan tetapi, jika ada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya
Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000
Saat ini belum tersedia komentar.