Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah

Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah

Diposting pada 14 February 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 60 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap kali kalender Masehi memasuki lembaran Februari, atmosfer di sekitar kita seolah berubah warna menjadi merah muda. Di pusat-pusat perbelanjaan, media sosial, hingga percakapan anak muda, narasi tentang “Hari Kasih Sayangng” atau Valentine’s Day mendominasi ruang publik. Sebagai orang yang besar di lingkungan akademik dan kepesantrenan, sering kali merenung: apakah cinta yang sedemikian riuh dirayakan itu adalah “cinta” yang sebenarnya, ataukah ia hanya sekadar komoditas industri yang kehilangan ruhnya?

Di bangku kuliah, saat kita mempelajari filsafat atau ilmu agama Islam, kita mengenal istilah Mahabbah. Sebuah kata yang jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih sakral daripada sekadar pertukaran cokelat atau ucapan romantis setahun sekali. Namun, di era disrupsi digital ini, makna cinta sering kali mengalami penyempitan (reduksi). Ia dikerdilkan hanya sebatas perasaan sentimental antarmunusia, yang sering kali justru menjauhkan pelakunya dari hakikat kemanusiaan itu sendiri.

Jika kita melihat dengan kacamata kritis, perayaan cinta yang masif di bulan Februari sering kali terjebak dalam arus hedonisme. Cinta diukur dari apa yang bisa dipamerkan di layar ponsel, dari seberapa mahal kado yang diberikan, atau seberapa mewah makan malam yang dihabiskan. Dalam perspektif aqidah, ini adalah sebuah pergeseran nilai yang mengkhawatirkan. Cinta yang seharusnya menjadi energi untuk memberi dan berkorban, berubah menjadi ajang untuk memuaskan ego dan eksistensi diri di mata manusia.

Sebagai akademisi Muslim, kita perlu menawarkan alternatif pemikiran. Islam tidak pernah melarang cinta. Justru, Islam adalah agama yang dibangun di atas fondasi kasih sayang (rahmah). Namun, Islam meletakkan cinta pada tempat yang sangat terhormat. Cinta dalam Islam adalah sebuah getaran yang harus memiliki arah dan tujuan. Tanpa arah yang benar, cinta hanya akan menjadi nafsu yang dibungkus dengan kata-kata indah. Inilah yang perlu kita dekonstruksi: bahwa kasih sayang bukan hanya milik bulan Februari, dan ia tidak boleh berhenti pada dimensi materi semata.

Mari kita sejenak menoleh pada khazanah intelektual Islam. Para tokoh tasawuf seperti Rabiah al-Adawiyah atau Jalaluddin Rumi telah mengajarkan kita tentang tingkatan cinta yang paling tinggi, yaitu Mahabbah Ilahiyah. Bagi mereka, cinta kepada manusia atau dunia hanyalah “jembatan” (majazi) untuk sampai pada cinta yang sejati (hakiki), yaitu cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rumi pernah berbisik dalam syairnya bahwa cinta adalah “astrolab” bagi rahasia-rahasia Tuhan. Artinya, dengan mencintai, manusia sebenarnya sedang belajar untuk mengenal penciptanya. Jika kita mencintai pasangan, anak, atau orang tua, seharusnya cinta itu membuat kita semakin sadar akan kebesaran Tuhan yang telah menitipkan rasa indah tersebut. Di titik inilah, nilai akademik dari ilmu agama yang kita pelajari bertemu dengan realitas kehidupan. Ilmu yang kita peroleh bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk mendudukkan kembali posisi dunia di bawah kendali akhirat.

Jika dunia modern menawarkan cinta yang melelahkan karena terus-menerus menuntut pemuasan ego, Islam menawarkan cinta yang memerdekakan. Cinta yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk menuju penghambaan kepada Sang Khalik. Inilah perspektif yang perlu kita suarakan di tengah hiruk-pikuk Februari: bahwa kasih sayang yang abadi adalah kasih sayang yang terbingkai dalam ketaatan.

Di sisi lain, bulan Februari tahun ini juga bertepatan dengan suasana bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Jika di luar sana orang sibuk merayakan kasih sayang dengan cara yang profan, kita di lingkungan pesantren dan akademisi Muslim punya cara sendiri yang lebih elegan. Sya’ban adalah bulan di mana amal-amal kita diangkat. Bukankah bentuk kasih sayang tertinggi kepada diri sendiri dan orang lain adalah dengan memastikan amal kita layak untuk dipersembahkan di hadapan Allah?

Mencintai sesama dalam perspektif Islam berarti menginginkan kebaikan akhirat bagi orang yang dicintai. Seorang ayah yang mencintai anaknya akan menjaganya dari api neraka. Seorang suami yang mencintai istrinya akan membimbingnya menuju surga. Inilah cinta yang “ilmiah” sekaligus “alamiah”. Ia memiliki landasan dalil yang kuat (aqidah) dan aplikasi sosial yang nyata (akhlak).

Oleh karena itu, daripada terjebak dalam polemik tahunan tentang “boleh atau tidaknya” merayakan hari tertentu, jauh lebih produktif jika kita mengedukasi masyarakat tentang bagaimana cara mencintai yang benar menurut tuntunan Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Kasih sayang dalam Islam itu manifes dalam bentuk penghormatan kepada orang tua, kepedulian kepada anak yatim, dan kerukunan antartetangga. Itulah rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya.

Sebagai penutup narasi ini, ingin mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk merenungkan kembali: di mana kita meletakkan hati kita selama ini? Apakah hati kita masih sering terombang-ambing oleh tren musiman yang datang dan pergi, ataukah ia sudah mulai menetap dalam ketenangan cinta kepada Allah?

Ilmu yang kita miliki, gelar yang kita sandang, dan jabatan yang kita pangku tidak akan ada harganya jika tidak melahirkan rasa kasih sayang kepada sesama makhluk. Sebab, “Orang-orang yang penyayang akan dingi oleh Sang Maha Penyayang (Ar-Rahman). Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.” (HR. At-Tirmidzi).

Mari kita jadikan momentum bulan-bulan ini bukan untuk sekadar mengikuti arus, tapi untuk menjadi arus itu sendiri arus kebaikan yang membawa pesan cinta yang suci, cinta yang mendidik, dan cinta yang menyelamatkan. Semoga cinta kita tidak berhenti di lembaran kalender Februari, tapi terus tumbuh hingga ke syurga nanti.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Bijak Memilih Lingkungan: Menjauhi Majelis yang Tidak Bermanfaat
2 March 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita melihat berbagai macam perkumpulan yang terjadi di dalam masjid. Beberapa di... selengkapnya

Beginilah Cara Ampuh Melawan Sifat Sombong Dalam Diri Kita
19 January 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sombong merupakan sebuah sifat tercela dimana seseorang memandang orang lain lebih rendah dan hina, dan hanya... selengkapnya

Kunci dari Tenangnya Jiwa Adalah Yakin Bahwa Takdir Allah Selalu Baik
20 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Takdir adalah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanu wa Ta’ala. Ketentuan ini tidak ada yang bisa mengubahnya,... selengkapnya

Telah Dibuka Kesempatan Emas Menjadi Pejuang Rasulullah!
1 December 2022

Pustaka Al-Bahjah kembali membuka kesempatan dan peluang kepada anda untuk berjuang bersama kami dalam menebarkan risalah dakwah Rasulullah Saw. Pustaka... selengkapnya

Bulan Ramadan Bulan Berbahagia
26 March 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap kali menjelang Ramadan, sahabat Nabi Saw selalu bergembira menyambut kedatangannya. Kegembiraan itu terpancar di wajah dan... selengkapnya

Esensi Isra’ Mi’raj yang Membawa pada Perubahan Diri
18 March 2021

Esensi Isra’ Mi’raj yang Membawa pada Perubahan Diri Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya

Mengenal Hukum dan Keutamaan Haji sebagai Rukun Islam yang Kelima
23 May 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Haji menurut bahasa haji adalah bermaksud. Adapun menurut istilah fiqih haji adalah bermaksud (dengan sengaja) menuju Baitulharam (Ka’bah)... selengkapnya

Terjadi Banyak Musibah dan Bencana, Apakah Karena Dosa dan Kemaksiatan Umat?
8 December 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini Indonesia tak henti-hentinya dilanda berbagai musibah seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir dan... selengkapnya

Masih Punya Utang Puasa Namun Tidak Ingat Jumlahnya, Apa Yang Harus Dilakukan?
20 March 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya

Terkuak! Buya Yahya dan Ippho Santosa Bongkar Rahasia Bisnis Sahabat Nabi, Ternyata Para Sahabat Itu…
8 May 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya bersama Ippho Santosa menggelar kajian yang bertajuk “Gebyar Dakwah Nabi Muhammad Saw Sebagai Pedagang:... selengkapnya

Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: