● online
Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap kali kalender Masehi memasuki lembaran Februari, atmosfer di sekitar kita seolah berubah warna menjadi merah muda. Di pusat-pusat perbelanjaan, media sosial, hingga percakapan anak muda, narasi tentang “Hari Kasih Sayangng” atau Valentine’s Day mendominasi ruang publik. Sebagai orang yang besar di lingkungan akademik dan kepesantrenan, sering kali merenung: apakah cinta yang sedemikian riuh dirayakan itu adalah “cinta” yang sebenarnya, ataukah ia hanya sekadar komoditas industri yang kehilangan ruhnya?
Di bangku kuliah, saat kita mempelajari filsafat atau ilmu agama Islam, kita mengenal istilah Mahabbah. Sebuah kata yang jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih sakral daripada sekadar pertukaran cokelat atau ucapan romantis setahun sekali. Namun, di era disrupsi digital ini, makna cinta sering kali mengalami penyempitan (reduksi). Ia dikerdilkan hanya sebatas perasaan sentimental antarmunusia, yang sering kali justru menjauhkan pelakunya dari hakikat kemanusiaan itu sendiri.
Jika kita melihat dengan kacamata kritis, perayaan cinta yang masif di bulan Februari sering kali terjebak dalam arus hedonisme. Cinta diukur dari apa yang bisa dipamerkan di layar ponsel, dari seberapa mahal kado yang diberikan, atau seberapa mewah makan malam yang dihabiskan. Dalam perspektif aqidah, ini adalah sebuah pergeseran nilai yang mengkhawatirkan. Cinta yang seharusnya menjadi energi untuk memberi dan berkorban, berubah menjadi ajang untuk memuaskan ego dan eksistensi diri di mata manusia.
Sebagai akademisi Muslim, kita perlu menawarkan alternatif pemikiran. Islam tidak pernah melarang cinta. Justru, Islam adalah agama yang dibangun di atas fondasi kasih sayang (rahmah). Namun, Islam meletakkan cinta pada tempat yang sangat terhormat. Cinta dalam Islam adalah sebuah getaran yang harus memiliki arah dan tujuan. Tanpa arah yang benar, cinta hanya akan menjadi nafsu yang dibungkus dengan kata-kata indah. Inilah yang perlu kita dekonstruksi: bahwa kasih sayang bukan hanya milik bulan Februari, dan ia tidak boleh berhenti pada dimensi materi semata.
Mari kita sejenak menoleh pada khazanah intelektual Islam. Para tokoh tasawuf seperti Rabiah al-Adawiyah atau Jalaluddin Rumi telah mengajarkan kita tentang tingkatan cinta yang paling tinggi, yaitu Mahabbah Ilahiyah. Bagi mereka, cinta kepada manusia atau dunia hanyalah “jembatan” (majazi) untuk sampai pada cinta yang sejati (hakiki), yaitu cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rumi pernah berbisik dalam syairnya bahwa cinta adalah “astrolab” bagi rahasia-rahasia Tuhan. Artinya, dengan mencintai, manusia sebenarnya sedang belajar untuk mengenal penciptanya. Jika kita mencintai pasangan, anak, atau orang tua, seharusnya cinta itu membuat kita semakin sadar akan kebesaran Tuhan yang telah menitipkan rasa indah tersebut. Di titik inilah, nilai akademik dari ilmu agama yang kita pelajari bertemu dengan realitas kehidupan. Ilmu yang kita peroleh bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk mendudukkan kembali posisi dunia di bawah kendali akhirat.
Jika dunia modern menawarkan cinta yang melelahkan karena terus-menerus menuntut pemuasan ego, Islam menawarkan cinta yang memerdekakan. Cinta yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk menuju penghambaan kepada Sang Khalik. Inilah perspektif yang perlu kita suarakan di tengah hiruk-pikuk Februari: bahwa kasih sayang yang abadi adalah kasih sayang yang terbingkai dalam ketaatan.
Di sisi lain, bulan Februari tahun ini juga bertepatan dengan suasana bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Jika di luar sana orang sibuk merayakan kasih sayang dengan cara yang profan, kita di lingkungan pesantren dan akademisi Muslim punya cara sendiri yang lebih elegan. Sya’ban adalah bulan di mana amal-amal kita diangkat. Bukankah bentuk kasih sayang tertinggi kepada diri sendiri dan orang lain adalah dengan memastikan amal kita layak untuk dipersembahkan di hadapan Allah?
Mencintai sesama dalam perspektif Islam berarti menginginkan kebaikan akhirat bagi orang yang dicintai. Seorang ayah yang mencintai anaknya akan menjaganya dari api neraka. Seorang suami yang mencintai istrinya akan membimbingnya menuju surga. Inilah cinta yang “ilmiah” sekaligus “alamiah”. Ia memiliki landasan dalil yang kuat (aqidah) dan aplikasi sosial yang nyata (akhlak).
Oleh karena itu, daripada terjebak dalam polemik tahunan tentang “boleh atau tidaknya” merayakan hari tertentu, jauh lebih produktif jika kita mengedukasi masyarakat tentang bagaimana cara mencintai yang benar menurut tuntunan Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Kasih sayang dalam Islam itu manifes dalam bentuk penghormatan kepada orang tua, kepedulian kepada anak yatim, dan kerukunan antartetangga. Itulah rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya.
Sebagai penutup narasi ini, ingin mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk merenungkan kembali: di mana kita meletakkan hati kita selama ini? Apakah hati kita masih sering terombang-ambing oleh tren musiman yang datang dan pergi, ataukah ia sudah mulai menetap dalam ketenangan cinta kepada Allah?
Ilmu yang kita miliki, gelar yang kita sandang, dan jabatan yang kita pangku tidak akan ada harganya jika tidak melahirkan rasa kasih sayang kepada sesama makhluk. Sebab, “Orang-orang yang penyayang akan dingi oleh Sang Maha Penyayang (Ar-Rahman). Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.” (HR. At-Tirmidzi).
Mari kita jadikan momentum bulan-bulan ini bukan untuk sekadar mengikuti arus, tapi untuk menjadi arus itu sendiri arus kebaikan yang membawa pesan cinta yang suci, cinta yang mendidik, dan cinta yang menyelamatkan. Semoga cinta kita tidak berhenti di lembaran kalender Februari, tapi terus tumbuh hingga ke syurga nanti.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Merekonstruksi Hari Kasih Sayang di Bulan Februari Menuju Mahabbah Ilahiyah
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada negeri dan bangsa ini sehingga saat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dikisahkan ada seseorang ahli ibadah yang bernama Barseso. Di setiap harinya ia selalu melakukan shalat hingga 1000... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa yang tidak mengenal kucing? Hewan yang satu ini terkenal menggemaskan dan menjadi salah satu hewan favorit... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Isu mengenai cadar selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan, terlebih bagi anak-anak muda yang baru mengetahui... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Syair atau puisi merupakan untaian kata-kata yang dibuat seseorang dan berisi ungkapan isi hati, pikiran, atau perasaan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mudik telah menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan masyarakat di Indonesia. Tak hanya bagi umat Islam, sering kali non-Muslim... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah kamar sempit berukuran 3×4 meter, pada sudut kampung yang sunyi dari suara berita dunia, Umar menatap... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam ajaran Islam, setelah seseorang meninggalkan alam dunia, dia memasuki fase yang disebut sebagai alam barzakh, yakni... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buku “Oase Iman: Refleksi Problematika Umat” merupakan salah satu buku terbaru karya Buya Yahya. Tidak seperti... selengkapnya
Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000
Saat ini belum tersedia komentar.