Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Menjaga Lisan di Era Digital

Menjaga Lisan di Era Digital

Diposting pada 3 Maret 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 182 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di zaman yang disebut sebagai era digital. Zaman yang memungkinkan setiap orang dapat menggenggam dunia. Hal tersebut dikarenakan jarak yang jauh menjadi terasa dekat dan informasi yang dahulu sulit didapat kini bisa dalam sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan fitnah (ujian) yang luar biasa besar. Jika dahulu para ulama banyak mengingatkan tentang bahaya lisan, maka hari ini keselamatan kita tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang keluar dari mulut, melainkan juga oleh apa yang diketik oleh jari-jemari kita di layar ponsel. Al imam al Ghozali pernah mengatakan di dalam kitabnya Bidayatul Hidayah sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya:

القَلَمُ أَحَدُ اللِّسَانَينِ

“Pena adalah salah satu dari 2 lisan.”

Maksudnya, kebaikan ataupun keburukan yang disampaikan oleh seseorang tidak hanya keluar melalui lisannya, tetapi juga bisa disampaikan melalui tulisannya. Pada masa beliau, pena adalah alat untuk menulis di atas kertas. Tetapi pada masa kita, pena itu telah berubah bentuk menjadi papan ketik di ponsel dan layar sentuh yang setiap hari kita gunakan. Maka sebagaimana lisan bisa menjadi sebab kebaikan yang besar atau keburukan yang besar, demikian pula tulisan kita. Dikatakan bahwa :

اللِّسَانُ جِرْمُهَا صَغِير وَجُرْمُهَا كَبِير

“Lisan itu bentuknya kecil namun dampak darinya sangatlah besar”

Ia tidak lebih dari segumpal daging kecil di dalam mulut, namun dengannya seseorang bisa masuk surga atau terjerumus ke dalam neraka. Begitu pula jari-jemari kita. Ukurannya hanya beberapa senti, tetapi dampaknya bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Satu tulisan bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah, satu tulisan pula bisa menjadi sebab tersebarnya fitnah, kebencian, dan permusuhan. Karena itu, di era digital ini, menjaga diri tidak cukup hanya dengan menahan ucapan. Kita juga harus belajar menahan ketikan. Sebab setiap huruf yang kita tulis, setiap kalimat yang kita unggah, tidak hanya dibaca oleh manusia, tetapi juga tercatat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Dalam firman-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan kepada kita:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَولٍ إلاَّ لَدَيهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق : ١٨)

“Tidaklah seseorang mengucapkan satu perkataan pun kecuali di kanan kirinya ada 2 malaikat yang mengawasi dan mencatat”. (QS. Qof : 18)

Maka setiap kata yang keluar dari lisan kita tidak pernah benar-benar hilang. Ia direkam, ia disimpan. Di kanan dan kiri kita ada dua malaikat yang tidak pernah lalai, tidak pernah salah tulis, dan tidak pernah tertukar. Kadang manusia lupa. Kadang orang yang kita sakiti sudah memaafkan. Kadang kita sendiri tidak lagi ingat apa yang pernah kita ucapkan. Tetapi catatan di hadapan Allah tidak pernah terhapus

Hendaknya kita belajar dari ayat ini. Jika ucapan saja begitu ketat penjagaannya, begitu teliti pencatatannya, lalu bagaimana dengan tulisan kita di media sosial? Bukankah tulisan itu lebih jelas, lebih nyata, dan lebih lama bertahannya? Ucapan mungkin didengar oleh beberapa orang lalu dilupakan. Tetapi tulisan bisa disimpan, di-screenshot, dibagikan kembali, bahkan bertahun-tahun kemudian masih bisa muncul dan dibaca ulang. Inilah yang disebut dengan jejak digital. Sesuatu yang sudah direkam hampir mustahil untuk benar-benar dihapus. Kita mungkin bisa menghapus sebuah postingan. Kita mungkin bisa menghapus akun. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu siapa saja yang sudah menyimpan, menyalin, atau menyebarkan kembali tulisan tersebut. Dan yang lebih penting dari itu semua, kita tidak pernah bisa menghapus catatan yang sudah tertulis di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa prinsip yang harus kita miliki di zaman ini dalam bersosial media:

Pertama, jangan menjadi orang yang ikut-ikutan. Apa yang viral, apa yang sedang ramai tidak harus selalu menjadi tolok ukur. Manfaatkan sosial media dengan bijak untuk belajar dan mengakses informasi yang bermanfaat. Tapi jangan hanya sekadar ikut-ikutan. Jangan hanya scroll tanpa tujuan, tanpa nilai, tanpa manfaat. Apalagi jika media sosial digunakan untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya, bahkan berdampak keburukan. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

لا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلا تَظْلِمُوا (رواه الترمذي)

“Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan, yang berkata: ‘Jika manusia berbuat baik, kami ikut berbuat baik; dan jika mereka berbuat dzalim, kami ikut berbuat dzalim.’ Tetapi mantapkanlah diri kalian: jika manusia berbuat baik, hendaklah kalian tetap berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, maka janganlah kalian berbuat dzalim.’” (HR. Tirmidzi)

Kalau ada orang berbuat baik, kita pun berbuat baik, bukan karena fomo atau ingin terlihat sama dengan yang lain, tapi karena memang kita ingin mencari pahala dari Allah Ta’ala. Sebab, ketika ada orang berbuat keburukan, apa alasannya kita ikut-ikutan dalam keburukan tersebut?

Kedua, kita hendaknya menjaga komentar di sosial media. Jika memang harus berkomentar, berkomentarlah dengan bijak. Jangan menyakiti perasaan siapa pun. Jangan merendahkan, menghina, dan mencela. Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ، إِلا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ (رواه ابن ماجه)

“Tidaklah ada yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka kecuali hasil dari lisan-lisan mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Di zaman ini, lisan itu bukan hanya yang terucap, tapi juga yang tertulis. Bisa saja seseorang terjerumus dalam lembah dosa, bahkan kelak menyeretnya ke dalam api neraka hanya karena komentar yang pernah ia tulis di media sosial.

Ketiga, bijaklah dalam menyaring berita. Jangan semua hal kita terima mentah-mentah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم)

“Cukuplah seseorang dianggap sebagai pendusta ketika ia mudah menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Maka ketika kita melihat atau membaca sebuah berita, hendaknya kita bijak. Jangan langsung percaya. Jangan langsung menyebarkan. Terlebih lagi jika itu menyangkut aib seseorang. Apa perlunya kita menyebarkan kembali aib tersebut? Jika kita ikut menyebarkannya, kita pun berpotensi mendapatkan bagian dari dosanya

Mudah-mudahan Allah menjaga hati, lisan, dan tulisan kita. Semoga apa yang kita lakukan di era ini menjadi amal yang bermanfaat, bukan justru menjadi beban yang harus kita tanggung akibat buruknya setelah kita meninggal dunia nanti.

 

Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Menjaga Lisan di Era Digital

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Menjadi Pribadi yang Cerdas dalam Mengelola Keuangan
12 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di saat kita menaiki sebuah perahu, terkadang kita dihadapkan pada sebuah gelombang, angin yang kencang, hujan, terik yang... selengkapnya

Orang Yang Belum Akikah Tidak Boleh Berkurban, Benarkah?
31 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Pada bulan ini terdapat ibadah agung yang disyariatkan... selengkapnya

Pandai Menyikapi Kebencian sebagai Kunci Hidup Bahagia
18 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebencian adalah ketidaksenangan terhadap sesuatu yang bersemayam di hati. Kebencian yang menetap terlalu lama dalam hati seseorang akan... selengkapnya

Kamu Sedang Galau? Coba Amalkan 9 Cara Membenahi Hati Ini
29 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hati adalah cerminan diri kita sendiri. Ketika hati itu baik maka perilaku pun menjadi baik, begitu pun... selengkapnya

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir
10 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas... selengkapnya

Tahun Baru Islam sebagai Momentum Hijrahnya Kepemimpinan
23 Juni 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tahun Baru Islam 1448 H kembali mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam dari... selengkapnya

Agar Tidak Merugi di Sepuluh Hari Awal Bulan Haji
20 Juni 2023

Oleh: Ustadz Maulid Johansyah (Dewan Asatidz LPD Al-Bahjah) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah.... selengkapnya

Peran Orang Tua dan Masyarakat dalam Mencegah Kekerasan Terhadap Anak Menurut Maqashid Syariah
21 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kekerasan terhadap anak merupakan masalah yang sangat serius dan memerlukan perhatian mendalam dari berbagai pihak. Menurut data yang... selengkapnya

Amalan-Amalan Utama di 10 Hari Pertama Dzulhijjah
18 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan istimewa dalam Islam, terutama pada 10 hari pertamanya. Terdapat begitu banyak keutamaan... selengkapnya

Hakikat Ketakwaan
3 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Takwa merupakan inti dari perintah Allah Swt kepada hamba-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ‘yang paling... selengkapnya

Menjaga Lisan di Era Digital

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: