● online
Menjaga Lisan di Era Digital

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di zaman yang disebut sebagai era digital. Zaman yang memungkinkan setiap orang dapat menggenggam dunia. Hal tersebut dikarenakan jarak yang jauh menjadi terasa dekat dan informasi yang dahulu sulit didapat kini bisa dalam sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan fitnah (ujian) yang luar biasa besar. Jika dahulu para ulama banyak mengingatkan tentang bahaya lisan, maka hari ini keselamatan kita tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang keluar dari mulut, melainkan juga oleh apa yang diketik oleh jari-jemari kita di layar ponsel. Al imam al Ghozali pernah mengatakan di dalam kitabnya Bidayatul Hidayah sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya:
القَلَمُ أَحَدُ اللِّسَانَينِ
“Pena adalah salah satu dari 2 lisan.”
Maksudnya, kebaikan ataupun keburukan yang disampaikan oleh seseorang tidak hanya keluar melalui lisannya, tetapi juga bisa disampaikan melalui tulisannya. Pada masa beliau, pena adalah alat untuk menulis di atas kertas. Tetapi pada masa kita, pena itu telah berubah bentuk menjadi papan ketik di ponsel dan layar sentuh yang setiap hari kita gunakan. Maka sebagaimana lisan bisa menjadi sebab kebaikan yang besar atau keburukan yang besar, demikian pula tulisan kita. Dikatakan bahwa :
اللِّسَانُ جِرْمُهَا صَغِير وَجُرْمُهَا كَبِير
“Lisan itu bentuknya kecil namun dampak darinya sangatlah besar”
Ia tidak lebih dari segumpal daging kecil di dalam mulut, namun dengannya seseorang bisa masuk surga atau terjerumus ke dalam neraka. Begitu pula jari-jemari kita. Ukurannya hanya beberapa senti, tetapi dampaknya bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Satu tulisan bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah, satu tulisan pula bisa menjadi sebab tersebarnya fitnah, kebencian, dan permusuhan. Karena itu, di era digital ini, menjaga diri tidak cukup hanya dengan menahan ucapan. Kita juga harus belajar menahan ketikan. Sebab setiap huruf yang kita tulis, setiap kalimat yang kita unggah, tidak hanya dibaca oleh manusia, tetapi juga tercatat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam firman-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan kepada kita:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَولٍ إلاَّ لَدَيهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (ق : ١٨)
“Tidaklah seseorang mengucapkan satu perkataan pun kecuali di kanan kirinya ada 2 malaikat yang mengawasi dan mencatat”. (QS. Qof : 18)
Maka setiap kata yang keluar dari lisan kita tidak pernah benar-benar hilang. Ia direkam, ia disimpan. Di kanan dan kiri kita ada dua malaikat yang tidak pernah lalai, tidak pernah salah tulis, dan tidak pernah tertukar. Kadang manusia lupa. Kadang orang yang kita sakiti sudah memaafkan. Kadang kita sendiri tidak lagi ingat apa yang pernah kita ucapkan. Tetapi catatan di hadapan Allah tidak pernah terhapus
Hendaknya kita belajar dari ayat ini. Jika ucapan saja begitu ketat penjagaannya, begitu teliti pencatatannya, lalu bagaimana dengan tulisan kita di media sosial? Bukankah tulisan itu lebih jelas, lebih nyata, dan lebih lama bertahannya? Ucapan mungkin didengar oleh beberapa orang lalu dilupakan. Tetapi tulisan bisa disimpan, di-screenshot, dibagikan kembali, bahkan bertahun-tahun kemudian masih bisa muncul dan dibaca ulang. Inilah yang disebut dengan jejak digital. Sesuatu yang sudah direkam hampir mustahil untuk benar-benar dihapus. Kita mungkin bisa menghapus sebuah postingan. Kita mungkin bisa menghapus akun. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu siapa saja yang sudah menyimpan, menyalin, atau menyebarkan kembali tulisan tersebut. Dan yang lebih penting dari itu semua, kita tidak pernah bisa menghapus catatan yang sudah tertulis di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beberapa prinsip yang harus kita miliki di zaman ini dalam bersosial media:
Pertama, jangan menjadi orang yang ikut-ikutan. Apa yang viral, apa yang sedang ramai tidak harus selalu menjadi tolok ukur. Manfaatkan sosial media dengan bijak untuk belajar dan mengakses informasi yang bermanfaat. Tapi jangan hanya sekadar ikut-ikutan. Jangan hanya scroll tanpa tujuan, tanpa nilai, tanpa manfaat. Apalagi jika media sosial digunakan untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya, bahkan berdampak keburukan. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
لا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلا تَظْلِمُوا (رواه الترمذي)
“Janganlah kalian menjadi orang yang ikut-ikutan, yang berkata: ‘Jika manusia berbuat baik, kami ikut berbuat baik; dan jika mereka berbuat dzalim, kami ikut berbuat dzalim.’ Tetapi mantapkanlah diri kalian: jika manusia berbuat baik, hendaklah kalian tetap berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, maka janganlah kalian berbuat dzalim.’” (HR. Tirmidzi)
Kalau ada orang berbuat baik, kita pun berbuat baik, bukan karena fomo atau ingin terlihat sama dengan yang lain, tapi karena memang kita ingin mencari pahala dari Allah Ta’ala. Sebab, ketika ada orang berbuat keburukan, apa alasannya kita ikut-ikutan dalam keburukan tersebut?
Kedua, kita hendaknya menjaga komentar di sosial media. Jika memang harus berkomentar, berkomentarlah dengan bijak. Jangan menyakiti perasaan siapa pun. Jangan merendahkan, menghina, dan mencela. Dalam sebuah hadits disebutkan:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ، إِلا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ (رواه ابن ماجه)
“Tidaklah ada yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka kecuali hasil dari lisan-lisan mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Di zaman ini, lisan itu bukan hanya yang terucap, tapi juga yang tertulis. Bisa saja seseorang terjerumus dalam lembah dosa, bahkan kelak menyeretnya ke dalam api neraka hanya karena komentar yang pernah ia tulis di media sosial.
Ketiga, bijaklah dalam menyaring berita. Jangan semua hal kita terima mentah-mentah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم)
“Cukuplah seseorang dianggap sebagai pendusta ketika ia mudah menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Maka ketika kita melihat atau membaca sebuah berita, hendaknya kita bijak. Jangan langsung percaya. Jangan langsung menyebarkan. Terlebih lagi jika itu menyangkut aib seseorang. Apa perlunya kita menyebarkan kembali aib tersebut? Jika kita ikut menyebarkannya, kita pun berpotensi mendapatkan bagian dari dosanya
Mudah-mudahan Allah menjaga hati, lisan, dan tulisan kita. Semoga apa yang kita lakukan di era ini menjadi amal yang bermanfaat, bukan justru menjadi beban yang harus kita tanggung akibat buruknya setelah kita meninggal dunia nanti.
Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Menjaga Lisan di Era Digital
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masalah waswas kerap dihadapi banyak orang tanpa pandang bulu. Satu hal yang pasti menurut Imam Al-Ghazali, orang... selengkapnya
Dzikrullah Luasnya bumi terhampar Indahnya langit terbentang Megahnya pegunungan kokoh ditinggikan Matahari pun dihangatkan Apalagi yang perlu diragukan?... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Syawal merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Buya Yahya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Senyuman merupakan sebuah hal lumrah dalam kehidupan manusia. Senyum mencerminkan rasa senang dan bahagia terhadap sesuatu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara hidup manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Di satu sisi,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pulau Kalimantan menjadi tujuan safari dakwah Buya Yahya selanjutnya setelah sebelumnya Buya melakukan safari dakwah di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada dua metode paling populer untuk menentukan awal bulan Hijriyah, yakni rukyat dan hisab. Perbedaan metode ini... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada penghujung tahun 2025 ini, banyak bencana terjadi di bumi pertiwi. Mulai dari tanah longsor, gunung meletus, dan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Al-Qur’an adalah firman Allah yang berisi berbagai macam persoalan yang dialami manusia. Baik itu berupa masalah kehidupan,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, terutama longsor dan banjir. Menurut berbagai sumber... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000
Saat ini belum tersedia komentar.